
Empat bulan kemudian..
Pesangonku sudah masuk rekening dan hari ini adalah hari terakhir aku bekerja. Ini adalah perpisahan aku dengan teman - teman di kantor.
"Semoga sukses dengan usaha barunya ya Mbak Anggi" Ucap Pak Bambang.
"Aamiin.. Terima kasih Pak" sahut ku.
Aku menjabat tangan Pak Bambang, setelah itu aku memeluk Ibu Riska atasanku di bagian administrasi.
"Sehat dan semangat terus ya Gi. Ibu yakin kamu pasti berhasil karena kamu adalah wanita yang kuat" ujar Bu Riska.
"Aamiin.. Ibu juga ya semoga semua sehat dan sukse" balasku.
Terakhir aku memeluk Mbak Yuli rekan kerjaku.
"Deek sedih banget gak ada kamu lagi. Biasanya kita saling curhat, cerita dan bercanda bersama. Besok semua itu sudah tidak ada. Kamu gak ngantor lagi" ucap Mbak Yuli sedih.
"Kalau aku kangen aku boleh datang kan?" tanyaku.
"Datang aja dek, kamu akan selalu menerima kedatangan kamu" jawab Mbak Yuli.
Kami berpelukan lama dan saling meneteskan air mata. Dua belas tahun aku bekerja di Perusahaan ini. Dari saat perusahaan ini masih jaya dan sehat hingga empat tahun terkahir yang menyedihkan.
Hingga akhirnya aku lebih memilih mundur karena itu merupakan hal terbaik yang harus aku ambil demi masa depanku dan keluargaku.
Semua teman - teman kantor tau kalau aku sudah membuka usaha laundry. Aku juga tetap menulis novel di sela - sela aktivitasku.
Hanya tinggal tiga rekan kerja karena teman - teman yang lain adalah para agent yang hanya karyawan kontrak. Dengan keadaan perusahaan yang seperti ini. Banyak agent yang tidak memperpanjang kontrak mereka. Karena mereka takut dengan kejaran nasabah.
Sebenarnya aku sangat sedih hari ini karena harus berpisah dengan teman - teman kerja yang sudah aku anggap keluarga.
Aku melangkah kan kakiku dengan berat tapi ini adalah awal masa depanku. Aku harus menyambutnya dengan penuh semangat.
Aku berpamitan dengan para satpam, OB dan beberapa agent. Dengan membawa beberapa barang - barang yang tersisa karena sebelumnya aku sudah menyicil membawa pulang barang - barangku. Aku berjalan keluar dari gedung kantorku.
Selamat tinggal.. terimakasih karena sudah memberikan pengalaman dan kenangan yang sangat berarti dalam hidupku. Walau mungkin akhirnya sesedih ini tapi aku tidak akan menampik di tempat inilah aku tumbuh dewasa dan jadi kuat.
Semua memang berat tapi buah kesabaran aku bisa melewati semuanya walau mungkin penuh darah dan air mata.
Mas Fadil sudah menunggu aku di parkiran. Setelah dari kantor kami akan langsung pergi ke Bank untuk melunasi rumah kami.
__ADS_1
Kami membawa semua berkas - berkas kelengkapan untuk pelunasan rumah. Karena hari sebelumnya Mas Fadil sudah menanyakannya.
Kami disambut dengan baik oleh pegawai bank.
"Kalau ingin melunasi rumah Bapak dan Ibu tinggal membayar sisa pinjaman pokok yaitu harga rumahnya. Di awal akad kredit kan sudah kami jelaskan. Kalau rumah Bapak dan Ibu masuk dalam program rumah subsidi BP2BT. Dimana kalau surat tanah sudah dipegang oleh Bank maka kalau pemilik rumah bisa melakukan pelunasan kalau ingin melakukannya. Dimana pelunasan dihitung hanya tinggal sisa pokok pinjaman" ungkap karyawan Bank.
"Jadi berapa jumlah yang harus kami bayar untuk melunasi rumah kami Bu?" tanya Mas Fadil.
"Sebentar ya Pak" ucap Wanita itu ramah.
Wanita ini mencetak daftar perhitungan pelunasan dan memberikannya kepada kami.
"Ini Pak" ucap wanita itu.
Mas Fadil meraih kertas yang diberikan wanita itu. Aku dan Mas Fadil langsung melihat besar jumlah uang yang harus kami lunasi.
"Sembilan puluh lima juta lagi ya Bu?" tanya Mas Fadil.
"Iya Pak" jawab wanita itu.
"Apakah kami harus membawa uang cash?" tanyaku.
"Tidak Bu. Ibu hanya tinggal transfer aja uang tersebut ke rekening biasa nanti biar pihak Bank yang menariknya" jawab wanita itu.
"Ya bisa" jawab wanita itu.
"Kalau begitu kami harus ke Bank XXX dulu karena disana tabungan saya. Kalau sebanyak ini tidak bisa transfer langsung dari ATM" ujarku.
"Silahkan Bu" sambut Wanita itu.
"Ayah di sini aja. Nanti kalau proses transfer nya sudah selesai tinggal di proses di sini. Kan rumah kita atas nama Ayah. Biar Bunda aja yang ke Bank XXX" ujarku.
"Bunda bisa sendirian?" tanya Mas Fadil.
"Bunda gak apa - apa kok Yah sendirian. InsyaAllah Bunda bisa dan aman. Kan uangnya gak Bunda bawa, cuma proses transfer aja" jawabku.
"Ya sudah hati - hati ya.. " sambut Mas Fadil.
Aku langsung keluar dari Bank naik motor menuju Bank tempat aku menabung. Di sana aku langsung proses pindah buku ke rekaning Mas Fadil.
Satu jam kemudian aku kembali lagi ke Bank tempat kami kredit rumah. Ternyata Mas Fadil juga sedang proses pelunasan rumah.
__ADS_1
Kami menandatangi beberapa berkas yang diperlukan untuk pelunasan. Alhamdulillah ya Allah hanya dalam waktu tiga tahun setengah rumah kami sudah lunas.
Aku benar - benar lega sekali karena kini kami tidak punya hutang apapun. Kredit pinjaman di Bank tempat aku menabung juga sudah lunas beberapa bulan yang lalu. Pinjaman kantor sudah lama lunas nya.
Setelah tiga jam berada di Bank akhirnya kami bisa pulang dengan perasaan yang sangat lega.
"Gini ya yah rasanya gak punya hutang. Legaaaa sekali" ucapku pada Mas Fadil di jalan.
"Iya Bun, alhamdulillah. Ternyata jumlahnya juga tidak sampai seratus juta" sahut Mas Fadil.
"Iya Yah, kita kan sudah pakai DP di awal. Rumah kita juga dapat subsidi dan kita sudah menyicil nya selama tiga setengah tahun. Wajar kalau sisa pelunasannya segitu" jawabku.
"Iya Bun.. rasanya plong sekali hidup tanpa beban seperti ini" ujar Mas Fadil.
"Modal laundry juga Bunda budget kan seratus jut ternyata hanya habis lima puluh juta. Sisa tabungan kita masih ada seratus juta lebih Yah. Gimana kalau uang itu kita daftarin haji Yah. Sisanya baru untuk tabungan kita untuk sekolah anak - anak. Kalau untuk makan dan lainnya kan kita bisa dari pendapatan laundry " ucapku.
"Bunda ikhlas? Itu kan semua uang Bunda?" tanya Mas Fadil.
"Ya ikhlas banget Yah, kan untuk beribadah kenapa gak ikhlas?" sambutku.
"Alhamdulillah ya Allah.. semoga Allah mendengar dan melihat niat baik kita ini ya Bun" jawab Mas Fadil.
Akhirnya kami sampai di rumah, disambut oleh anak - anak. Sekarang anak - anak sudah full sekolah. Pulang sekolah mereka langsung pulang ke rumah karena sekarang mereka sudah berani di rumah saja berdua. Terkadang anak - anak Tari main ke rumah untuk bermain.
Alhamdulillah penghasilan laundry saat ini melebihi gajiku di kantor. Honor novelku juga semakin meningkat karena sudah ada dua novel yang di kontrak cetak.
Beban hutang semua sudah lunas. Kami bisa fokus untuk mengembangkan usaha dan memperbesar laundry kami. Sekarang sudah ada tujuh mesin cuci yang kami gunakan. Dua mesin cuci Tari dan empat mesin cuciku plus satu mesin pengering pakaian.
Setrika uap ada dua dan tiga setrika biasa. Kami sudah punya empat karyawan yang mencuci dan menyetrika. Tari hanya bertugas memantau jalannya pencucian dan setrika pakaian.
Hanya saat - saat sibuk dan penting saja baru dia ikutan menyetrika. Selebihnya semua di kerjakan karyawan. Mas Fadil yang bertugas antar jemput pakaian. Sedangkan aku menjaga di kios menunggu pelanggan datang yang ingin mengantar langsung pakaian mereka.
Senja itu langit sangat cerah.. secerah hatiku dan Mas Fadil. Tak henti - hentinya aku merasa bersyukur karena Allah telah sangat banyak memberikan kami kemudahan dan rezeki yang berlimpah.
Kini rumah kami sudah siap secara keseluruhan. Kami bisa melunasinya, bisa mendaftar haji , punya usaha yang masih dalam tahap pengembangan tapi sudah berjalan lebih baik. Dan kami juga masih punya tabungan di bank untuk sekolah anak - anak. Seluruh hutang sudah lunas.
Terimakasih ya Allah.. terimakasih atas nikmat yang telah KAU berikan kepadaku dan keluarga kecilku ini. Ucapku dalam hati.
Sambil menatap senja tanpa terasa air mataku mengalir. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia. Ini hasil dari kesabaran dan kerja keras kami selama ini.
.
__ADS_1
.
TAMAT