Menatap Senja

Menatap Senja
45


__ADS_3

Akhirnya setelah menitipkan motor kepada tukang bengkel aku dan Mas Fadil shalat ashar di dekat bengkel tersebut.


Karena hari semakin gelap aku mempercepat shalatku. Aku dan Mas Fadil segera pulang dengan naik becak ke rumah.


Hujan pun turun deras ketika kami sudah berada di atas becak. Aku merasa sangat sedih sekali. Sejak menikah baru kali ini aku dan Mas Fadil naik becak bersama.


Harusnya terlihat romantis kan. Naik becak berdua saat hujan turun. Tapi sore ini hatiku rasanya sangat hancur.


"Yaah maafin Bunda ya. Bunda sudah salah tadi gak mendengarkan perkataan Ayah. Mungkin kalau tadi kita singgah dan shalat di Mesjid kecelakaan ini tidak akan terjadi" ucapku sambil menangis.


"Sudahlah Bun, semua sudah terjadi tidak ada yang bisa dielakkan lagi. Sudah ketentuan Allah dan begitulah jalannya. Kalau memang musibah akan datang bagaimanapun caranya itu pasti terjadi. Kita tidak akan bisa lari" jawab Mas Fadil.


"Bunda juga merasa bersalah pada Allah akhirnya shalat ashar kita juga telat. Udah mau maghrib saat ini" sambungku.


"Sudah.. sudah.. jangan nangis. Allah itu Maha Pengampun Bun. Allah pasti mau memaafkan kesalahan kita" ujar Mas Fadil.


Mas Fadil menggenggam tanganku yang terasa sangat dingin. Hujan deras dan angin kencang membuat aku kedinginan.


"Tapi kok begini banget hidup kita ya Yah.. Masalah rasanya tak henti - henti datang menghadang kita. Rasanya sangat berat sekali Yah" ucapku.


"Tapi semua selesai satu persatu kan? Yakinlah kita sanggup dan kita akan semakin kuat karena semua masalah ini" ujar Mas Fadil menenangkanku.


Benar memang, kalau diingat - diingat semua memang sangat berat sekali tapi kalau dijalani akhirnya bisa juga diatasi dengan baik. Malah semua selesai dengan baik sangat jauh dari perasaan yang menakuti hati.


Mungkin sudah sifat manusia yang selalu sering merasa takut lebih dahulu. Ditambah lagi bisikan setan yang suka meracuni hati agar selalu berpikiran negatif memandang masa depan.


Itu yang membuat diri jadi semakin cemas. Padahal kalai berpikir dengan kepala dingin dan berpikiran positif. Apa yang kita takutkan tidak terjadi.


Masalah yang mendera belakangan ini perlahan - lahan mengajarkan aku untuk kuat. Kalau aku sudah tidak sanggup lagi untuk memikirkannya aku hanya pasrah dan jalani.


Seperti saat ini, aku tidak tau lagi harus berbuat apa. Aku pasrahkan semua pada Allah. InsyaAllah kami akan bisa melaluinya.


Sesampainya di rumah anak - anak sangat terkejut melihat kami pulang dengan mengendarai becak motor.


"Ayah Bunda pulaaaang. Lho kok naik becak. kereta Ayah mana?" tanya Shifa.


"Gak hilang lagi kan Yah?" tanya Rayyan dengan polosnya.


"Tidak sayang.. Ayo menjauh dulu. Ayah dan Bunda baru saja pulang. Kami mandi dulu ya, nanti baru kita cerita lagi" jawab Suami ku.


"Lia tolong ambilkan handuk Bude dan Pakde" pintaku pada Lia.


Aku dan Mas Fadil mandi dan segera berganti pakaian. Sore itu terasa sangat sendu ditambah cuaca yang sangat mendukung.

__ADS_1


Tapi rumah dan sambutan anak - anak memberikan kehangatan di hati kami. Membuat kami semangat dan berusaha lebih kuat demi anak - anak.


Setelah mandi kami shalat maghrib berjama'ah. Aku kembali meneteskan air mata saat berdoa. Tak henti - hentinya aku meminta kepada Allah untuk diberi kekuatan agar sanggup menjalani hidup ini bagaimanapun keadaannya.


"Bude tadi nenek ada antar makanan" ucap Lia.


"Alhamdulillah syukur lah, tadi bude gak sempat belanja. Bude dan Pakde tadi tabrakan saat mau pulang. Motornya masih di bengkel" jawabku.


"Ayah dan Bunda tabrakan?" tanya Shifa terkejut.


"Iya sayang. Tapi Ayah dan Bunda gak apa - apa kok. Hanya motor Ayah saja yang cidera" jawab suamiku sambil bercanda.


"Emangnya motor bisa cidera Yah?" tanya Rayyan polos


"Hahaha mana bisa dek. Ada juga motor Ayah rusak makanya masuk bengkel" sambut Shifa lucu karena dia sudah mengerti kalau Ayahnya hanya bercanda.


"Benar Yah?" tanya Rayyan masih tidak percaya


"Iya sayang, motor Ayah sedang diperbaiki di bengkel" jawab Mas Fadil.


"Jadi nanti gimana Ayah dan Bunda kerja, naik motor siapa?" tanya Rayyan.


"Untuk sementara pinjam motor kakek dulu. Doain ya Ayah dan Bunda punya rezeki biar bisa beli motor yang baru" jawabku.


Seperti biasa mereka langsung mengangkat kedua tangan mereka dan berdoa.


"Ya Allah berilah Ayah dan Bunda rezeki biar bisa beli motor baru ya Allah. Aamiin" ucap mereka kompak.


Mataku berkaca - kaca. Apa yang ada di dalam pikiran anak - anak ini. Sedihkah atau senang dengan keadaan kami saat ini. Tak tampak raut wajah takut atau kekhawatiran, yang mereka tau mereka hanya meminta kepada Allah agar Ayah dan Bunda punya banyak uang untuk beli motor baru.


Kami makan malam bersama - sama sambil berbincang - bincang dengan anak - anak. Mereka dengan semangat bercerita apa saja tadi yang mereka lakukan di rumah.


Si Kakak juga bercerita tadi dia mengikuti daring di sekolah memakai ponselku yang lama. Untung saja kemarin Rahmat memberikan ponsel lamanya kepadaku karena dia beli ponsel baru.


Jadi ada ponsel yang bisa ditinggal di rumah untuk dipakai anak - anak belajar. Dan untung saja kami berbagi wifi dengan tetangga. Sehingga bayarannya lebih murah karena bayarnya bagi dua.


Walau berat benar kata Mas Fadil, alhamdulillah semua bisa kami lalui walau dengan terseok-seok. Tapi yang penting kami bisa menghadapi semua masalah ini.


Keesokan harinya aku dan Mas Fadil pergi kerja dengan meminjam motor mertua. Kabar kecelakaan kami ini tidak aku beritahukan kepada keluargaku. Aku tidak mau mereka khawatir.


Disamping itu aku juga takut mereka salah duga. Karena dulu Mas Fadil pernah kecelakaan karena ngantuk. Sehingga sejak itu kalau dengar kami kecelakaan mereka sering berpikir itu salah Mas Fadil yang suka ngantuk berkendara.


Kalau sudah seperti ini aku bingung membela siapa? Di satu sisi suamiku memang salah lalai berkendara tapi tak selamanya dia penyebab kecelakaan itu karena lalai. Buktinya kemarin kami memang tertabrak.

__ADS_1


Aku melihat sendiri bagaimana becak itu dengan sangat kencang dan tanpa aba - aba belok dan langsung menabrak kami.


Pulang kerja kami singgah ke toko buah orang yang menabrak kami kemarin. Aku dan Mas Fadil sudah mempersiapkan kata - kata kalau seandainya Bapak itu hendak mangkir dari janjinya.


"Pak kami datang sesuai dengan janji kita kemarin. Mengenai ponsel saya ini bagaimana kelanjutannya?" tanya Mas Fadil.


Terlihat wajahnya mulai melunak.


"Maaf ya Mas kemarin saya juga sangat terkejut karena kecelakaan itu. Saya benar - benar tidak sengaja menabrak motor Mas" ujarnya.


Dalam hatiku sedikit lega dan berharap pria yang dihadapanku ini berbaik hati juga menyelesaikan semua ini dengan baik - baik.


"Kalau soal itu kami sudah memaafkan Bapak. Kami hanya ingin bertanya kelanjutan biaya perbaikan ponsel saya. Lihatlah Pak layarnya pecah. Hari ini saya tidak bekerja karena ponsel saya mati. Saya mengharapkan pengertian Bapak. Kami tidak ada niat mengambil keuntungan dari musibah ini. Kami hanya ingin perbaikan saja" ujar Mas Fadil.


"Baiklah, apa Bapak tau berapa harga memperbaiki layar ponsel Bapak ini?" tanya pria itu.


"Saya sudah tanya counter ponsel. Katanya tujuh ratus ribu Pak, sudah sama ongkos pasang" Jawab Mas Fadil.


"Tapi saya juga kan sudah menanggung perbaikan motor Bapak" ujar Pria itu.


"Ya kan itu memang sudah jadi tanggung jawab Bapak" desak Mas Fadil.


"Begini sajalah Mas, kita damai saja. Saya juga sudah kena banyak biaya perbaikan motor Mas. Saya kasih lima ratus ribu saja ya untuk perbaikan ponselnya. Sekali lagi mohon maaf sekali, keadaan seperti ini pembeli sepi Mas. Pendapat juga menurun" ujar Bapak itu memelas.


"Gimana Bun?" tanya Mas Fadil.


"Ya sudah lah Yah biar cepat urusannya. Memang mana ada namanya ganti untung, yang ada juga ganti rugi. Ya sudah lah terima aja, yang penting ada itikad baik dari Bapak ini untuk perbaiki ponsel Ayah" ucapku.


Aku juga tidak mau berlama - lama di sini karen hari juga sudah mulai gelap. Hujan sepertinya akan turun lagi. Aku tidak mau dua hari berturut-turut basah kehujanan.


Saat pandemi seperti ini imun tubuh harus dijaga. Jangan sampai sakit demam dan flu karena kena hujan dicurigai covid kalau berobat ke Rumah Sakit.


"Ya sudah Pak kami terima" jawab Mas Fadil.


Pria itu mengeluarkan uang lima lebar uang seratus ribu dan menyerahkannya kepada Mas Fadil. Kami saling berjabat tangan sebagai tanda perdamaian.


Sebelum pulang dia memberikan kami pisang satu sisir sebagi buah tangan untuk dibawa pulang. Aku dan Mas Fadil pun pulang ke rumah setelah itu.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2