Menatap Senja

Menatap Senja
97


__ADS_3

Keesokan harinya aku kembali menghadap Kepala Cabang di kantorku.


"Pagi Pak" ucapku ketika masuk ke ruangannya.


Aku sengaja masuk lebih cepat sebelum banyak tamu. Agar aku bisa berbicara lebih lama dengan beliau sambil bertukar pikiran.


"Eh Mbak Anggi. Masuk.. masuk" sambut Pak Bambang.


Aku masuk dan berdiri di depan mejanya.


"Silahkan duduk" perintah Pak Bambang.


Aku duduk di kursi tepat di depan Pak Bambang.


"Bagimana Mbak Anggi, ingin beri keputusan perihal semalam?" tanya Pak Bambang to the point.


"Iya Pak" sahutku.


"Ya.. ya.. bagaimana keputusan Mbak Anggi?" tanya Pak Bambang penasaran.


"Bismillah.. Saya tetap pada keputusan saya sebelumnya Pak, saya akan masuk daftar pegawai yang kena PHK. Tapi beneran kan Pak saya dapat hak - hak saya?" tanyaku meyakinkan.


"Pasti Mbak Anggi. Saya akan perjuangkan. Beberapa tahun yang lalu kan teman - teman kita yang pindah ke anak perusahaan juga dapat perlakuan yang sama. Mereka saja waktu itu dapat pesangon seratus tiga puluh juta. Mbak Anggi kan gajinya sudah naik beberapa tahun ini, dapat tunjangan jabatan juga, hak cuti besar, semua akan diperhitungkan. Saya sudah diskusi ke Serikat Pekerja mereka akan mengawal hak - hak pegawai yang di PHK" jawab Pak Bambang.


"Ya sudah Pak kalau bagitu saya ikut Pak. InsyaAllah ini adalah keputusan terbaik saya" tegasku.


"Sebenarnya saya sangat kecewa Mbak Anggi. Saya berharap Mbak Anggi akan mengurungkan niat Mbak Anggi. Tapi karena ini sudah jadi keputusan Mbak Anggi saya akan jalankan permintaan Mbak Anggi. Mungkin Mbak Anggi akan menjadi karyawan termuda yang kena PHK. Saya sudah diskusikan dengan serikat pekerja, mungkin surat kesehatan Mbak Anggi bisa jadi pertimbangan manajemen untuk memasukkan nama Mbak Anggi dalam daftar. Karena sebenarnya lebih diutamakan karyawan yang sudah tua hanya saja Mbak Anggi mungkin bisa jadi pengecualian" ungkap Pak Bambang.


"Kapan saya dapat hasilnya Pak, apakah nama saya diterima atau tidak?" tanyaku.


"Tunggu satu bulan lagi ya. Proses ini tidak akan bisa sebentar Mbak. Manajemen akan menghitung semuanya. Mereka juga akan memeriksa prestasi dan kerja Mbak Anggi selama ini. Kalau ada penyimpangan atau kasus akan diperhitungkan dengan jumlah pesangon" jawab Pak Bambang.


"InsyaAllah saya tidak pernah ada kasus keuangan Pak di Perusahaan ini" sambutku.

__ADS_1


"Saya percaya itu Mbak Anggi" balas Pak Bambang.


"Baiklah Pak, saya bertambah lega. Alhamdulillah suami saya mendukung, keluarga saya juga bisa menerima dan mendukung keputusan saya ini" ungkapku.


"Mudah - mudahan ini adalah jalan terbaik untuk Mbak Anggi" sahut Pak Bambang.


"Terimakasih Pak, saya pamit dulu" ucapku.


Aku keluar dari ruangan Kepala Cabang.


"Dek benar gosip yang beredar, kalau kamu mau masuk daftar pegawai PHK?" tanya Mbak Yuli.


"Iya Mbak, manajemen memberi penawaran. Aku sudah tidak kuat lagi Mbak bekerja dengan keadaan seperti ini" jawabku.


"Kamu sih enak Gi udah ada batu loncatan. Novel kamu sudah bisa menghasilkan pendapatan. Kalau aku mau gimana? Walau keadaan seperti ini aku akan tetap bertahan dek" ujar Mbak Yuli.


"Ya gak apa - apa Mbak. Semua kan tidak ada paksaan. Dan sesuai dengan kekuatan masing-masing. Aku memilih mundur lebih dulu Mbak. Mungkin rezeki bukan di sini lagi. Semoga perusahaan kita semakin baik dan kembali sepet dulu. Kalau semua itu terjadi kan pegawai sejahtera seperti dulu" doaku.


"Aamiin.. kamu juga semoga sukses karir di novel nya ya" ucap Mbak Yuli.


*****


Satu bulan kemudian aku mendapat kabar dari Kepala Cabangku namaku masuk dalam daftar pegawai yang akan di PHK. Itu artinya hanya tinggal enam bulan lagi aku terima gaji sebagai karyawan.


Aku dan Mas Fadil mulai cari - cari ruko atau kios yang akan kami sewa untuk buka usaha laundry.


"Bun rumah di depan di sewakan lho. Murah hanya tiga juta tapi ya masih seadanya belum diapa - apain" ucap Mas Fadil.


"Wah cocok itu Yah" sambutku.


"Cocok gimana?" tanya Mas Fadil.


"Kita sewa aja buat Tari dan anak - anaknya tinggal di situ. Halaman depan kan sama luasnya dengan rumah kita bisa muat banyak untuk jemuran. Gak apa - apa belum ada dapurnya. Tari kan hanya tinggal bertiga sama anak - anaknya" jawabku.

__ADS_1


"Iya juga ya, Ayah gak kepikiran sampai ke situ" sambut Mas Fadil.


"Kamar yang belakang sementara kan bisa dibuat Tari sebagai dapur yah. Jadi kita gak perlu cari ruko Yah, kita cari kios aja yang lebih kecil tapi buat pamflet yang besar. Rumah produksinya di depan aja" ungkapku.


"Iya Bun, bicarakan aja sama Tari. Mamak sama Ayah kan harus tau juga kalau Tari mau pindah" sambut Mas Fadil.


"Nanti Bunda akan ke rumah Mamak dan cerita sama Tari Yah" ujarku.


"Kalau begitu Ayah pergi dulu ya Bun. Assalamu'alaikum" sambutku.


Aku mencium tangan Mas Fadil sebelum dia pergi. Setelah pekerjaan rumah selesai aku pergi ke rumah mertuaku.


"Tari kata Mas Fadil di depan rumah kami di kontrakkan. Tari mau gak pindah ke sana?" tanyaku.


"Mau lah Mbak, mau banget. Yang penting kami tinggal sendiri. Di sini juga kami tidur di luar, kamar sudah penuh semua" sambut Tari setuju.


"Mamak gimana? Keberatan gak kalau kalian pindah. Selama ini kan ada yang bantuin Mamak di rumah?" tanyaku.


"Aku rasa Mamak gak akan keberatan Mbak. Mbak Wati sekarang sudah jauh lebih tenang. Anak - anak dia juga kan hanya tinggal Hari dan Rajak. Gak ada anak kecil yang harus di urus lagi. Lagian ada Yusuf dan istrinya sebentar lagi melahirkan" jawab Tari.


"Coba Tari bicarakan baik - baik sama Mamak. Kalau sama - sama enak kan lebih berkah usaha kita. Udah gitu Tari setuju gak kalau keuntungan kita nanti bagi dua. Modal dari Mbak gak apa - apa lebih besar tapi kan Tari yang jalankan. Kalau Mbak dapat kerja Tari tinggal yang awasi nanti kita cari pegawai tambahan. Kalau Mbak gak dapat kerja biar Mbak yang jaga di kios sambil ketik novel Tari urus semua cucian di rumah. Gimana?" tanyaku pada Tari.


"Aku sih setuju - setuju aja Mbak. Yang penting aku pindah dari rumah Mamak. Sebenarnya sudah lama aku ingin mandiri. Mungkin dengan begini caranya" sambut Tari.


"Yah mudah - mudahan hidup kita semuanya ke depan lebih baik lagi ya. Usaha bersama ini kan kita bangun atas dasar niat yang baik. Semoga hasilnya baik nanti yang kita terima" ungkapku.


"Aamiin.. aku dan Sahrul juga sudah serius Mbak hubungannya. Mudah - mudahan kami berjodoh ya Mbak. Biar hidupku juga semakin berubah" ujar Tari.


"Aamiin.. yakinlah dan husnuzon pada Allah. InsyaAllah Allah akan kasih kita yang terbaik" sambutku.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2