
Akhirnya sekitar jam setengah dua belas semua pengisian data Lia untuk masuk SMK Negeri selesai.
"Seminggu lagi Kak pengumumannya. Mudah - mudahan Lia lulus" ucap Rahmat.
Adik - adikku sudah tau bagaimana latar belakang hidup Lia. Beberapa kali aku sering cerita tentang sikap Lia. Sebenarnya adik - adikku kurang setuju aku mengajak Lia tinggal di rumahku.
Mereka semata - mata melarang karena mengetahui penyakitku yang sudah tidak bisa mendapatkan beban pikiran yang berat.
"Dari pada Kaka stres lebih baik lepaskan saja Lia. Lagian dia masih punya orang tua, mereka yang lebih berhak mengurus anaknya. Kalau mau bantu ya kasih saja uang setiap bulannya" ucap Rahmat pernah suatu hari.
"Bapak dan Mamaknya tak peduli dengan hidupnya. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak ada mau memikirkan anak - anaknya" sambutku.
"Enak benar jadi orang tua. Taunya cuma produksi aja. Giliran anak lahir gak mikir bagaimana membesarkan, mendidik dan menyekolahkannys" ujar Rahmat.
"Yah begitulah kalau tidak pernah mendengarkan perkataan orang tua. Hidupnya akan susah apalagi selalu melawan dan membangkang" sambungku.
"Tapi kalau dia buat ulah terus Kakak yang sakit akhirnya. Kakak kan gak bisa punya banyak pikiran, nanti kumat lagi asam lambungnya. Dari pada tambah penyakit lebih baik di lepas" pesan Arif yang juga ikut nimbrung waktu itu.
"Biarlah Kakak coba dulu mendidiknya sampai batas kemampuan Kakak. Nanti kalau sudah tidak sanggup lagi baru Kakak lepas. Mudah - mudahan Kakak bisa mendidiknya jadi orang yang berguna setidaknya untuk dirinya sendiri. Kalau bisa lebih mungkin nanti dia bisa membantu Neneknya menyekolahkan adiknya" jawabku.
Akhirnya aku dan Mas Fadil bisa juga bernafas lega malam ini. Setidaknya perjuangan kami malam - malam ke rumah Rahmat tidak sia - sia. Dan kami pulang dengan membawa kabar bahagia.
Mas Fadil menghubungi Mamaknya dan memberi kabar baik ini. Rupanya mertuaku masih menunggu di rumah kami sambil menemani anak - anak itu di rumah. Setelah mendengar berita ini Mamak mertua pulang ke rumahnya.
Sekitar jam satu malam kami sampai di rumah. Anak - anak sudah pada tidur. Aku dan Mas Fadil juga langsung bergegas istirahat karena sudah larut malam.
Seminggu kemudian..
"Bude alhamdulillah aku lulus" ucap Lia.
"Alhamdulillah.. syukurlah. Kamu ucap syukur kepada Allah Lia. Allah memberi kamu kesempatan untuk bisa hidup lebih baik lagi. Inilah saatnya kamu serius jangan main - main lagi. Karena ilmu yang kamu dapatkan di SMK nanti itu nanti yang akan kamu praktekan di dunia nyata" pesanku.
"Iya Bude" jawab Lia
"Kapan daftar ulangnya?" tanyaku.
"Sebentar Bude aku cek dulu" jawab Lia.
Dia kemudian memeriksa data - data yang ada di ponselnya.
__ADS_1
"Jadwal ku hari Jumat Bude" ucap Lia.
"Wah pas banget itu. Pakde kalau jumat kan kerja ojeknya setelah shalat jumat. Jadi paginya kita bisa pakai motor Pakde buat antain kamu ke sekolah. Biar Bude yang temani" sambutku.
Mungkin dengan begitu kami bisa lebih dekat. Lia juga lebih semangat daftar sekolah karena merasa punya orang tua dan ditemani oleh orang tuanya.
Tibalah hari Jumat, setelah sarapan pagi kami sudah berangkat dari rumah. Lia membawa semua berkas - berkas yang dibutuhkan untuk daftar ulang. Sebelum sampai ke sekolahnya kami memfoto copy beberapa berkas yang diperlukan.
Lia juga mencuci kan pas photonya untuk syarat daftar ulang.
"Lia apa kamu sudah minta uang sama nenek? Maaf Bude gak bisa bantu kamu semua. Kamu kan tau keadaan Bude saat ini bagaiman?" tanyaku.
"Sudah Bude, kemarin nenek sudah kasih uang untuk biaya sekolah Lia" jawab Lia.
"Saat ini memang Bude belum bisa bantu penuh tapi kamu doakan Pakde segera dapat kerja ya. Nanti baru Bude sekolahkan kamu" janjiku pada Lia.
Aku menerima Lia untuk daftar ulang. Aku juga yang bertanggungjawab sebagai wali nya. Pihak sekolah meminta data - dataku sebagai data orangtuanya.
Sebelum shalat jumat semua sudah selesai. Kami langsung pulang ke rumah karena motor akan dipakai Mas Fadil untuk kerja.
"Sudah selesai daftar ulangnya?" tanya Mas Fadil saat kami makan siang setelah Mas Fadil pulang dari Mesjid.
"Tuh Lia ingatlah perjuangan kamu masuk sekolah ini. Agar kamu tidak lupa bahwa begitu sulit perjuangan kamu untuk sekolah. Jadi nanti kalau sudah mulai sekolah jangan banyak main - main. Yang serius sekolahnya apalagi kamu sekolah di SMK. Ilmu yang kamu pelajari nanti itu juga yang akan kamu praktekkan dalam dunia kerja. Kalau bisa malah sebelum tamat sekolah kamu sudah bisa menjahit. Kan lumayan itu bisa dapat uang tambahan untuk biaya sekolah" pesan Mas Fadil pada Lia.
"Iya Pakde" sahut Lia.
"Do'ain Bude dan Pakde dapat rezeki ya.. nanti kita cari mesin jahit yang second tapi kondisinya masih bagus. Biar kamu bisa langsung praktek jahit" ucapku pada Lia.
"Iya Bude" jawab Lia.
"Mbak Lia mau jadi tukang jahit? Waah hebat donk nanti kalau ada pakaianku yang rusak bisa dibenerin kan Mbak?" tanya Shifa.
Lia tersenyum kepada Shifa. Aku merasa hatiku menghangat karena interaksi kami yang sudah seperti keluarga. Mudah - mudahan Lia juga merasakan seperti itu dihatinya.
Dua minggu kemudian.
"Bude, Lia boleh ikut perpisahan di sekolah?" tanya Lia.
"Kapan acaranya?" tanyaku balik
__ADS_1
"Besok" jawab Lia.
"Boleh, asalkan kamu bisa jaga jarak dan jaga diri kamu Bude izinkan. Itukan memang acara sekolah. Lagian itu kesempatan kamu untuk bertemu terakhir dengan teman - teman sekolah kamu. Tapi sampai jam berapa selesai acaranya?" tanyaku.
"Sampai jam tiga Bude" Jawab Lia.
"Ya sudah Bude kasih kamu waktu untuk ketemu dengan teman - teman kamu tapi sebelum maghrib harus sampai rumah ya" ujarku.
"Iya Bude" jawab Lia.
"Besok biar Pakde yang antar kamu ke sekolah, pulangnya pulang naik angkot ya" pesanku.
"Iya Bude" jawab Lia.
Esok harinya sebelum Lia pergi aku memberikan jajan dan ongkos naik angkot Lia nanti saat pulang. Dia pergi diantar Mas Fadil sampai ke sekolahnya.
Sore harinya sudah hampir maghrib tapi Lia tak kunjung pulang. Aku mencoba untuk menghubunginya, tapi ponselnya mati.
Sudah berapa kali seperti ini? Aku merasa ini bukan habis baterai tapi Lia memang sengaja mematikan ponselnya agar tidak bisa dihubungi.
Aku coba tanya ke rumah mertua, apa Lia ada singgah ke sana? Tapi kata mertua seharian ini Lia tidak ada datang ke rumah mereka.
Aku mencoba bertanya pada Mas Fadil.
"Yah tadi pagi Ayah antar Lia kemana?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Kenapa Bun?" Mas Fadil balik bertanya.
"Sampai saat ini Lia belum pulang padahal janjinya sebelum maghrib harus sudah sampai rumah. Bunda tidak suka dia tidak disiplin seperti ini. Dia bilang hari ini ada perpisahan disekolahnya" jawabku.
"Tadi Lia minta antara sampai depan gang rumah temannya. Katanya ada yang ingin dia ambil di rumah temannya" ujar Mas Fadil.
"Ayaaaah kenapa mau aja dengar permintaan Lia seperti itu? Kenapa gak diantar langsung ke sekolah. Biasa aja kan dia gak jadi ke sekolah malah main sama temannya. Udah tau anak itu suka keluyuran sama teman - temannya. Udah hampir malam begini anak perempuan belum pulang juga. Ampuuun deh lihat Lia ini" omelku.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1