Menatap Senja

Menatap Senja
22


__ADS_3

"Dok kemarin ada nasabah saya yang menangis di hadapan saya karena perusahaan saya. Saya merasa sangat berdosa sekali mendzolimi orang - orang yang tidak bersalah. Apa gaji yang saya dapatkan halal ya Dok? Saya sering berpikir, mungkin sumpah serapah mereka yang membuat saya sakit seperti ini?" tanyaku sambil menangis kembali.


"Bu Anggii... jangan berpikiran seperti itu. Langsung tukar pola pikir negatif Ibu menjadi positif. Ibu cukup kerjakan tugas Ibu di kantor dengan benar. Setelah itu bekerja, Ibu berhak mendapatkan upah atau gaji dari hasil kerja Ibu. Jadi pikirkan saja seperti itu. Ibu mendapat gaji karena Ibu bekerja sesuai dengan tugas Ibu. Yang lain jangan dipikirkan lagi" pesan dokter.


Dokter menyodorkan kotak tempat tisu dihadapanku.


"Bu Anggi ternyata lebih nyaman curhat saat Bapak tidak ada" goda dokter.


Aku menatap dokter bingung.


"Buktinya sekarang curhatnya sampai nangis - nangis. Kalau ada suaminya Bu Anggi malu ya" ledek Dokter.


"Ah Dokter bisa aja" sahutku sambil tersenyum.


"Ada keluhan lain?" tanya Dokter.


"Gak ada Dok" jawabku.


"Jangan lupa berusaha untuk bahagia. Kerjakan apa yang Ibu inginkan dan Ibu sukai. Buat diri Ibu sesibuk mungkin sehingga tidak sempat memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat atau membuat hati Ibu bersedih. Teruslah berpikiran positif dan usahanya selalu enjoy dalam melakukan suatu aktivitas. Ini resep obat minggu ini ya" pesan dokter sambil menyerahkan resep obat kepadaku.


Aku menerima dan membaca isinya.


"Masih ada obat tidurnya Dok?" tanyaku.


"Tidak apa, buat jaga - jaga aja" jawab Dokter.


"Baik Dok, terimakasih ya" sahutku.


Aku langsung pamit dan keluar lalu menebus resep yang diberikan Dokter. Kemudian aku kembali ke kantor untuk kembali bekerja.


******


Kunci rumah sudah diserahkan kepada kami. Suami sedang sibuk mencari tukang bangunan untuk membangun dapur di rumah baru kami. Dan perjalanan pembangunan rumah impian pun di mulai.


Suami sudah belanja semua bahan - bahan bangunan sementara aku menyusun keuangannya sesuai budget. Orang tuaku, mertua dan adik - adik sangat membantu dalam pembangunan rumah kami.


Semua ikut senang melihat rencana masa depan. Bahkan Papa dan Mertua laki - lakiku turut serta memantau pembangunan rumahku.

__ADS_1


Rumah harus selesai dalam waktu tiga bulan ini. Karena rumah kontrakan aku akan habis tiga bulan lagi. Pembangunan sudah dimulai, dinding dapur sudah berdiri tegak.


Untung saja saat idul adha kemarin aku menjual empat lembuku di kampung orang tua. Lumayan bisa mencapai lima puluh juta aku gunakan untuk membangun dapurku.


Saat kami sedang memantau pembangunan dapur rumah kami tiba - tiba teman sekolah suamiku dulu saat SMU datang melihat rumah baru kami. Ketepatan sekali rumahnya juga tak jauh dari rumah baru kami.


"Wah hebat ya Fad rumah kamu, luas dibanding rumah yang lain. Kelebihan tanahnya lumayan ini?" tanya pria yang bernama Heri.


"Alhamdulillah rezeki seperti itu" sambut suamiku.


"Wah kalian buat kamar mandi lagi? Kan rumah ini sudah ada kamar mandinya?" tanyanya memeriksa pembangunan rumah kami.


"Kamar mandi yang ini nantinya akan menjadi kamar mandi di kamar kami nanti. Walau katanya belum bisa di bangun dulu tunggu tiga tahun lagi. Tapi tak ada salahnya dibangun mulai sekarang. Jadi kamar mandinya ada dua" jawab suamiku menjelaskan.


"Aku lihat sepertinya kalian masih kekurangan batu bata ya? Aku juga lagi bangun rumah. Gimana kalau kita saling bantu, kita kongsi beli batu batanya. Kalau jumlahnya banyak kan harganya lebih murah. Tapi gini Fad, bisa tidak duluankan nanti aku cicil dua kali. Aku bayar setiap bulan" ucap Heri pada suamiku.


"Nanti aku musyawarahkan dulu sama istriku ya. Karena dananya kan dia yang atur. Aku tanya dia dulu cukup atau tidak uangnya" jawab suamiku.


Heri memberi pinjaman kepada kami beberapa alat - alat bangunan. Karena memang dia juga sedang membangun rumahnya yang sudah hampir selesai. Ada beberapa alat bangunan yang sudah tidak dia butuhkan lagi.


Malam harinya Mas Fadil mengajakku bercerita.


"Emangnya bisa murah kalau beli berapa Mas?" tanyaku.


"Kita harus beli lima ribu batu bata bisa dapat harga empat ratus rupiah per batu bata" jelas Mas Fadil


"Berarti semuanya dua juta?" tanyaku.


"Iya" jawab Mas Fadil.


"Emangnya kita butuh batu bata sebanyak itu?" tanyaku sambil menghitung pengeluaran uang pembangunan rumah.


"Kita kan mau bangun pagar Bun, butuh batu bata lagi" ujar Mas Fadil.


"Tapi uang delapan ratus ribu lho Yah uang untuk batu bata Heri. Kita aja saat ini butut dana malah mau bantuin orang" elakku.


"Kalau ayah hitung - hitung gak jauh beda Bun. Kalau dibawah lima ribu batu bata harganya jadi lima ratus rupiah 1 batu bata. Kalau kita butuh tiga ribu batu bata uangnya satu juta lima ratus ribu rupiah. Udah gak apa - apa Bun, hitung - hitung bantu teman. Mudah - mudahan Allah lancarkan rezeki kita " bujuk Mas Fadil.

__ADS_1


"Tapi dia bisa dipercaya gak Yah? Bukan gak mau kasih bantuan ya tapi biasanya kalau orang berhutang, nanti susah sekali nagihnya. Bunda gak mau hubungan kita nanti jadi gak baik sama Mas Heri" ucapku khawatir.


"Bunda ini selalu mikir negatif duluan" ujar Mas Gadot mengingatkan.


"Bukan khawatir Yah tapi mencegah terjadinya hal - hal yang tidak baik dikemudian hari" jawabku.


"Selama ini dia baik kok, tak apalah kasih dia kesempatan sekali. Lagian dia sudah baik pinjamin kita alat - alat bangunannya. Gak enak kalau kita menolak dia yang meminta tolong kepada kita" Mas Fadil masih berusaha membujukku.


"Ya sudah deh kalau begitu, nih dua juta. Pesan batu batanya besok. Tapi urusan nagih uangnya Ayah ya.. Bunda gak mau tau, bulan depan dia harus mulai nyicil" ucapku.


"Iya" balas suamiku.


Aku memberikan uang untuk membeli batu bata kepada suamiku.


"Besok kita arisan SMU ayah Bun" ujar Mas Fadil mengingatkan.


"Sudah waktunya ya?" tanyaku.


"Iya, giliran kita yang terakhir. Sekitar tiga bulan lagi" jawab suamiku.


"Pas banget waktunya. Nanti sekalian acara pindahan rumah baru aja kita buat arisan di rumah" sambutku.


"Boleh juga tuh" ujar Mas Fadil.


Esok harinya kami datang ke acara arisan SMU Mas Fadil yang rutin dilakukan tiap bulan. Tujuannya untuk menjalin silaturahmi sekalian reunian. Tiap anggota wajib membawa keluarganya.


Entah mengapa aku kurang nyaman dan tidak suka setiap pergi arisan ini. Aku merasa bukan menjalin silaturahmi tapi malah dijadikan ajang pamer dan menceritakan keburukan orang lain.


Sebenarnya aku sering protes pada Mas Fadil. Aku mengajaknya berhenti saja. Karena istri teman - temannya suka bergosip. Tapi kata Mas Fadil nanggung, kalau sudah selesai satu putaran arisan, putaran selanjutnya kami tidak ikut lagi.


Di acara itu aku hanya diam mendengarkan mereka bercerita, seperti biasa siapa yang tidak hadir dalam acara itu yang dijadikan topik pembicaraan mereka.


Astaghfirullah... ampuni dosaku ya Allah. Doaku dalam hati.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2