Menatap Senja

Menatap Senja
36


__ADS_3

Tibalah bulan Ramadhan. Seminggu lagi akan tiba bulan puasa. Tabungan semakin menipis, sementara keperluan lebaran pasti lebih banyak.


"Bun kita mulai saja yuk buka usahanya. Ini kan bulan Ramadhan pasti banyak pembeli" ajak suamiku.


"Ayah sudah tau apa yang akan ayah jual?" tanyaku.


"Sudah, ayah sudah lihat - lihat youtube. Hari ini ayah akan belanja untuk beli beberapa tempat minuman yang akan dijual. Ayah juga akan beli peralatan yang lain" jawab suamiku.


"Tapi kan masih covid Yah" ujarku khawatir.


"Kita takut buka usaha karena takut mati terkena covid tapi kalau kita gak buka usaha perlahan - lahan kita juga mati kelaparan. Mau pilih mana? Gak mungkin ayah berdiam diri terus seperti ini" ucap Mas Fadil.


Iya juga. Batinku.


"Ya sudah terserah ayah saja tapi tetap sesuai prokes kesehatan ya. Kita jualan tetap pakai masker, pakai sarung tangan,uang dari orang masukin ke plastik lalu nanti kita semprot hand sanitizer. Pulang ke rumah kita langsung mandi walau malam hari" pintaku pada suami.


"Iya" sambut suamiku cepat.


Sesuai rencananya keesokan harinya Mas Fadil belanja semua peralatan jualan. Dia juga beli buah, sirup, gula dan bubuk - bubuk minuman yang sedang viral saat ini.


Dia mencoba membuat minuman di rumah dan kami cicipi.


"Gimana rasanya?" tanya Mas Fadil.


"Enak Yah" jawabku dan anak - anak.


"Ayah mau jualan? Kok banyak banget belanjaannya?" tanya Shifa.


"Iya, nanti Ayah mau jualan di bulan ramadhan" jawab Mas Fadil.


"Dimana jualannya Yah?" tanya Rayyan.


"Jauh dek dari rumah kita, do'ain ya semoga jualan ayah laku" jawab Mas Fadil.


"Iya Ayah.. Ya Allah semoga jualan ayah laku" Rayyan langsung mengangkat tangannya berdoa.


Kami juga datang ke kios yang disewa Mas Fadil. Satu tahun dia sudah bayar sepuluh juta tapi sudah satu bulan sejak di bayar belum juga buka usaha apapun karena covid.


Kami membersihkan kios itu dibantu oleh ponakan Mas Fadil. Ada beberapa tempat yang dibenahi Mas Fadil sedikit. Tapi lumayan baiklah keadaannya.


Tiba - tiba ponselku bergetar tanda pesan masuk. Banyak pesanan masuk untuk bakso dan nuget frozen dari teman - temanku di kampung. Mereka memesan untuk stok selama bulan Ramadhan.


"Alhamdulillah banyak pesanan masuk yah" ucapku pada Mas Fadil.


"Pesanan apa Bun?" tanya Mas Fadil.

__ADS_1


"Bakso dan Nuget Yah dari kampung" jawabku.


"Gimana cara kirimnya?" tanya suamiku.


"Banyak Yah, bisa pakai bus atau kereta" jawabku.


"Iya juga ya, kok ayah gak kepikiran" sambut suamiku.


"Nanti bakso dan nugetnya dibekukan dulu terus disimpan di styrofoam, mudah-mudahan sampai kampung masih beku" ucapku.


"Ya sudah Bun terima saja" perintah Mas Fadil.


"Memang mau Bunda terima tapi gimana nanti ayah jualannya?" tanyaku Pada suamiku.


"Ayah bisa dibantu Tama. Mamak juga katanya mau bantu. Mamak kan suka jualan seperti ini" jawab Mas Fadil.


"Oke deh Yah, siapa tau dua - duanya rezeki kan yah" sambutku semangat.


Keesokan harinya aku langsung memesan ayam filet dan belanja bahan - bahan yang dibutuhkan untuk membuat bakso dan nuget.


Aku dibantu Lia membuat bakso dan buget pesanan teman - teman setelah itu kami masukkan ke dalam freezer. Alhamdulillah aku bisa menabung kemarin untuk beli freezer khusus menyimpan jenis makanan frozen.


Di bulan ramadhan risoles juga laku untuk menu berbuka para langgananku. Semakin lama semakin banyak jenis makanan yang bisa aku buat dan setiap aku tawarin ke teman - teman mereka juga menyukainya.


Aku membuat risol dengan isian ayam, keju, susu, dan sayur begitu juga dengan nuget. Sehingga saat bulan Ramadhan aku mendapatkan banyak pesanan.


Alhamdulillah omset lumayan selama bulan Ramadhan aku bisa mendapatkan penghabisan bersih dua juta. Walau dalam keadaan seperti ini aku tidak tega kalau tidak membelikan anak - anak baju lebaran.


Setiap tahun mereka selalu dibelikan baju lebaran. Rasanya sangat sedih jika tahun ini tidak aku berikan. Ternyata benar apa yang selama ini aku dengan dari ceramah ustadz, nasehat keluarga juga kata - kata suami. Rezeki datang dari arah mana saja dan dari pintu mana pun.


Aneh memang secara tertulis gajiku tidak cukup untuk membayar dan membeli semu kebutuhan hidup kami. Tapi Allah memberi rezeki yang cukup sehingga semua bisa terpenuhi.


Saat pesanan sepi aku membantu suami berjualan minuman kekinian. Seminggu pertama Ramadhan jualan habis bersih. Rasanya sangat senang luar biasa.


"Yah hujan.. gimana jualan kita?" tanyaku pada suami.


"Ayo cepetan Bun kita pindahin ke dalam" ajak suami.


Meja jualan biasanya lebih dimajukan kedepan agar orang yang lewat di depan kios bisa melihatnya dan singgah untuk membeli tapi karena hujan kami mundur ke dalam kios.


Hujan ternyata turun dengan derasnya dan kami tidak pernah mengalami hal seperti ini. Air mulai masuk dari segala arah.


"Yah banjir" teriakku.


"Duh kenapa begini ya" ujar suamiku panik.

__ADS_1


"Sudah yaaah kita tutup saja dari pada airnya semakin tinggi" ucapku.


"Tapi kita baru buka Bun, belum juga ada yang laku" sambut Mas Fadil.


"Yah mau gimana lagi Yah, dalam keadaan banjir dan hujan deras seperti ini juga tidak akan ada orang yang beli" sambungku.


"Ya sudah ayo Bun kita bungkus saja semuanya ke dalam plastik nanti sampai rumah kita masukkan ke dalam freezer" perintah Mas Fadil.


"Iya Yah" sambutku.


Kami memasukkan satu persatu minuman yang baru saja satu jam kami buat. Setelah semua selesai ada sepuluh pelastik besar hasilnya.


"Banyak Yah, rugi donk kita hari ini" ujarku.


"Nanti sebagian kita titip saja ke mesjid buat berbuka orang - orang di Mesjid. Untung belum dicampur es ya. Jadi rasanya tidak berubah dan tidak dingin. Hujan begini kan biasanya orang takut minum - minuman dingin" jawab Mas Fadil.


Hatiku tiba - tiba melo.


Ya Allah beginilah ternyata nasib orang yang berjualan ya. Terkadang jualan bisa laku dan untung, terkadang malah rugi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi beginilah hidup. Terkadang kita bisa berada di atas roda kehidupan terkadang bisa dibawah. Seperti saat ini.


"Yaaah airnya semakin tinggi, bagaimana besok?" tanyaku.


"Besok kita datang lebih cepat untuk membersihkan tempat ini" jawab Mas Fadil.


"Saat Mas membayar kios ini dulu apa Mas tidak menanyakan hal seperti ini?" tanyaku.


"Ayah gak berpikiran seperti ini Bun, biasanya kan daerah sini tidak banjir. Ayah tidak menyangka akan seperti ini" jawab Mas Fadil.


"Tapi kan dulu kios ini dipakai oleh teman Ayah, masak dia tidak kasih tau kekurangan tempat ini? Dia kan teman Ayah, harusnya kalau teman pasti mau kasih tau setidaknya memberi peringatan" ucapku sedih.


"Ayah juga gak mengerti Bun" balas Mas Fadil.


Aku melihat kekecewaan di wajahnya tapi dia tidak bisa marah karena itu adalah kesalahannya. Kami pulang dengan membawa semua jualan kami.


Hujan deras kami jalani hanya dengan memakai mantel hujan seadanya. Saat di dalam boncengan Mas Fadil diam - diam aku menangis.


Ya Allah untuk mencari nafkah halal begini sulitnya. Apakah karena hal seperti ini banyak orang yang berpikiran pendek dan nekat mencari nafkah dengan cara tidak halal? Bantulah kami ya Allah untuk selalu berada di jalan yang benar. Mencari nafkah dengan cara yang benar dan halal. Serta lancarkan lah semua usaha kami ini. Doaku dalam tangisan dan derasnya hujan menjelang senja.


Aku menatap langit yang gelap, menatap senja yang sebentar lagi akan berganti malam. Air mataku menyatu bersama curahnya air hujan.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2