
"Hari, besok coba intip ke rumah Bapakmu apa Lia datang ke sana? Kalau memang Lia tinggal di sana, Mamak datangi Bapaknya dan ceritakan semua yang sebenarnya. Agar Bapaknya tau ceritanya, jangan sampai Bapaknya menyalahkan kita karena pengaduan palsu Lia" perintah Mas Fadil.
"Iya Pakde" jawab Hari.
"Kita bagi tugas hari ini, aku dan Mamak akan antar Wati ke Rumah Sakit untuk check leher Wati yang luka. Hari lihat Lia di rumah Bapak kamu, Tari kamu dan Sahrul bawa anak - anak Wati ke rumah keluarga Dana. Semua harus kita lakukan bersama - sama supaya semua jelas dan membuat kita semua tenang dan lega " perintah Mas Fadil.
"Ayah ikut ke Rumah Sakit sama kalian. Nanti malam Ayah libur tugas jaga malam" sambut Bapak mertua.
"Oke Yah, kalau begitu kami balik dulu ya, aku mau siap - siap. Anggi juga mau pergi kerja" ujar Mas Fadil.
Kami pulang ke rumah dan bersiap - siap. Aku berangkat ke kantor dan Mas Fadil pergi menjemput ambulance yang akan membawa Wati ke Rumah Sakit.
Masalah keluarga suami terasa sangat berat tapi tidak mungkin aku tinggal diam dan cuek pada apa yang terjadi. Bagaimanapun mereka adalah keluargaku. Mau tidak mau aku harus ikut campur.
Kalau mereka butuh saran, tidak jarang aku memberikan saranku. Tapi aku juga punya keterbatasan. Penyakit yang aku derita untung sudah dimengerti oleh semua keluarga Mas Fadil.
Mereka tau aku tidak bisa punya beban pikiran, tidak bisa mendengar berita yang buruk dan juga tidak kuat melihat hal - hal yang mengerikan seperti leher Wati yang terluka.
Aku tidak akan sanggup, lututku langsung lemas, perutku sakit dan aku akan lari ke kamar mandi. Lebih parah lagi jantungku bisa berdebar kencang dan aku jadi sesak nafas.
Aku hanya menunggu kabar dari Mas Fadil bagaimana perkembangan kesehatan Wati.
Pulang kantor aku langsung singgah ke rumah Mertua karena penasaran dengan apa yang terjadi di rumah ini. Ternyata semua sedang berkumpul.
Adik Mas Fadil, Ridwan dan istrinya juga datang ke rumah mertua dan sedang bercerita tentang keadaan Wati dan anak - anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana hasil pemeriksaan Wati Yah?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Alhamdulillah keadaannya semakin baik. Setelah di cek dokter tenggorokan Wati tidak perlu lagi dipasang alat. Lehernya hanya tinggal luka biasa nanti juga akan menyatu kembali seperti luka - luka biasa. Dahak di lehernya juga tidak ada dan suaranya sudah mulai normal. Wati juga sudah lebih tenang hanya saja kita harus sabar menghadapinya, apalagi kalau dia bertanya berulang - ulang karena itu adalah dampak dari operasi otaknya kemarin. Secara keseluruhan perkembangan Wati semakin baik" ungkap Mas Fadil.
"Alhamdulillah, lalu gimana gimana dengan anak - anaknya Tari?" tanyaku pada Tari.
"Sudah aku antar Mbak ke rumah budenya" jawab Tari.
"Apa yang Tari katakan pada Budenya?" tanyaku.
"Keluarga kami sedang fokus untuk penyembuhan Wati. Anak - anak itu kan masih punya Bapak, orang yang lebih berhak mengurus anak - anak itu karena Ibu mereka tidak mungkin untuk mengurus mereka dengan kondisi seperti ini. Alhamdulillah Budenya mau mengerti" jawab Tari.
"Ya harus, kalau dia tidak mengerti juga dengan keadaan kita itu namanya sudah kelewatan. Mau dibawa ke pengadilan pun keadaan seperti ini keputusannya pasti hak asuh anak - anaknya akan jatuh kepada Bapaknya" sambut Mas Fadil.
"Iya, aku rasa Bude nya mengerti hukum Mas makanya dia gak bisa menolak anak - anak itu. Katanya Dana sudah diusir sama mertuanya karena dia tidak punya kerja" ungkap Tari.
"Aku tadi lihat Lia Mak" ucap Ana istri Ridwan.
"Dimana Na?" tanyaku.
Jujur aku masih sangat kesal dengan Lia karena peristiwa motorku yang dia hilangkan. Tidak ada rasa bersalah ketika bertemu denganku, seolah semuanya tidak pernah terjadi.
"Di jalan Mbak, wajahnya menor sekali, pakai lipstik tebal" jawab Ana.
"Lho dia kan masih sekolah mana boleh pakai make up apalagi tebal?" tanyaku.
__ADS_1
"Kurasa dia udah jadi wanita gak beres itu. Karena belakangan ini aku lihat dia punya pacar. Dan pacarnya itu sering pesan - pesan makanam secara online untuk Lia. Dia makan sendiri di kamar. Dia juga sering pesan - pesan barang di shop** beli - beli pakaian. Dari mana coba uangnya. Ayah cuma kasih uang jajan sedikit dan ongkos bus dia untuk ke sekolah" jawab Tari.
"Entahlah.. sebenarnya hariku sangat sakit mendengarnya. Mengapa anak itu bisa seperti itu?" ucap Bapak mertua.
"Itu karena lemahnya peraturan dan pengawasan ayah dan mamak di sini. Dulu waktu tinggal di rumah kami, kalian bilang kami terlalu ketat mendidik dia. Selama tinggal dengan kami mana pernah dia keluar dan pulang sampai larut malam. Bahkan bisa tidak pulang dia entah tidur dimana. Mana bisa dia berbuat seperti itu di rumah kami. Makanya dia ingin keluar dari rumah kami biar dia bisa bebas. Dan sekarang dia merasa di rumah ini sudah tidak nyaman karena dia punya tugas baru mengurus Mamaknya dan adik - adiknya" jawab Mas Fadil.
Bapak dan Mamak mertua terdiam menunduk.
"Jadi dimana dia tidur Hari, apa sudah jadi kamu datang ke rumah Bapak kamu?" tanyaku.
"Sudah Bude, kata istri Bapak Lia memang datang ke sana antar baju - bajunya. Tapi katanya Lia pamit seminggu tidur di rumah temannya karena mamak temannya sedang keluar kota. Temannya tidak punya teman di rumahnya, jadi Lia yang temani selama seminggu" jawab Hari.
"Sebaiknya Mamak besok temani ibu tirinya dan jelaskan kejadian sebenarnya pada Ibu tirinya. Biar mereka tau bagaimana sifat Lia. Semoga mereka bisa mendidiknya jadi anak yang lebih baik. Walau bagaimanapun kita harus tetap mendoakan yang baik untuknya" ujar Mas Fadil.
"Iya Mak, menurutku juga harus ada serah terima kita pada Ibu tiri Lia. Seperti Tari tadi ke kakaknya Dana. Agar tanggung jawab kita berpindah ke mereka. Setelah itu apapun yang terjadi dengan Lia bukan lagi karena kesalahan kita dan semoga kita tidak mendapatkan dosa dari apa yang Lia lakukan" sambutku.
"Iya Mak, besok akan Ayah temani Mamak ke sana" sahut Bapak mertua.
"Iya Yah" jawab Mamak mertua.
"Satu persatu permasalahan selesai, rumah ini lebih lengang terasa. Tidak terlalu penuh, dan kita bisa berpikir sedikit lebih jernih karena beban hidup sedikit berkurang. Selanjutnya kita tinggal fokus untuk kesembuhan Wati. Hari ingat ya, tinggal kamu yang bantuin Nenek, kamu juga Rajak hal - hal kecil yang bisa kalian lakukan bantulah Nenek. Setidaknya jangan tambah beban pikiran Nenek kalian. Nenek bertahan sekuat itu hanya karena kasih sayang pada anak dan cucunya. Kami kasihan melihat kalian, kalian juga harus kasihan melihat kami. Marilah kita saling membantu" ujar Mas Fadil kepada dua anak Wati yang tinggal di rumah mertua.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG