Menatap Senja

Menatap Senja
84


__ADS_3

"Pakde.. Mamak udah sadar" telepon Hari pagi - pagi sebelum kami pergi kerja.


"Alhamdulillah... " sambut Mas Fadil gembira.


"Ada apa Yah?" tanyaku.


"Wati sudah sadar" jawab Mas Fadil.


"Alhamdulillah ya Allah.. setelah sebulan lebih ya Yah. Allah masih sayang Wati. Dia masih diberi kesempatan untuk hidup yang baru" sambut ku senang.


"Bagaimana keadaan Mamak kamu sekarang?" tanya Mad Fadil pada Hari.


"Mamak hanya bisa membuka mata dan menggerakkan tangannya Pakde" jawab Hari.


"Bersyukur Hari.. kamu masih punya Mamak. Urus Mamak kamu dengan baik. Inilah saatnya kamu berbakti pada Mamak kamu" pesan Mas Fadli.


"Iya Pakde" jawab Hari.


"Ya sudah nanti setelah antar Bude kamu ke kantor, Pakde akan singgah ke Rumah Sakit" ujar Mas Fadil.


"Iya Pakde. Kami tunggu ya" sambut Hari


Aku dan Mas Fadil berangkat menuju kantor. Semua berjalan seperti biasa. Tiba - tiba datang seorang pengacara yang mengaku pengacara dari seorang nasabah tapi tidak membawa berkas atau surat kuasa.


"Tolong kamu ceritakan apa yang terjadi dengan perusahaan ini?" tanya pengacara itu padaku.


Dengan berusaha setenang mungkin aku mencoba menjawab apa yang aku ketahui.


"Saya tidak ingat semua apa yang kamu katakan, coba kamu tuliskan dalam selembar kertas dan tulis siapa nama kamu" perintah pengacara itu.


Karena aku sudah merasa takut akhirnya aku mengikuti apa yang diperintahkannya tapi tiba - tiba aku teringat bahwa sesuatu.


"Maaf Pak, kalau Bapak seorang pengacara silahkan Bapak bicara dengan atasan saya saja langsung. Saya rasa dia lebih berhak untuk menjelaskan semuanya kepada Bapak. Apalagi perusahaan kami juga punya kuasa hukum" ucapku.


"Boleh, kalau begitu jumpakan saya dengan atasan kamu" pintanya.


"Baik Pak" jawabku.


Aku langsung berdiri dan berjalan ke ruangan kepala cabang. Aku ceritakan apa keinginan pengacara itu.


"Kalau begitu suruh dia masuk Mbak Anggi" perintah Kepala Cabang.


"Baik Pak" sambutku.

__ADS_1


Aku keluar lagu dan mempersilahkan pengaca itu masuk ke ruangan kepala cabang.


"Silahkan masuk Pak, sudah di tunggu sama Bapak Kepala Cabang" ucapku mempersilahkan.


Pria itu berjalan masuk ke ruangan Kepala Cabang. Ternyata apa yang sedang aku bicarakan tadi dengan pengacara itu diperhatikan oleh seniorku.


"Hati - hati dek dengan permintaan seperti itu tadi. Itu bisa menjebak. Bapak itu kan pengacara. Apa yang dia minta kalau kamu penuhi itu bisa jadi sebuah pernyataan. Mereka biasanya sangat pintar memutar fakta. Nanti bisa salah - salah kita yang dituntut secara pribadi. Padahal uang nasabahnya kan bukan kita makan" pesan seniorku.


"Iya Mbak, untung saja aku ingat makanya aku suruh ketemu sama Bapak kepala cabang" sambutku berusaha menenangkan diri.


"Kamu buang saja apa yang kamu tulis tadi. Kalau dia meminta lagi bilang saja kalau itu bukan tugas kamu" ucap seniorku.


"I.. iya Mbak.. terimakasih" jawabku.


Tanganku langsung berkeringat dan perut mules. Beginilah kalau aku sudah panik. Aku pun terus bersendawa seperti orang yang masuk angin.


"Waah udah kumat itu asam lambung kamu. Sudah jangan dipikirin" pesan seniorku.


"Iya Mbak.. " jawabku.


Aku langsung mengambil freshcar* di tasku dan mengoleskannya di perut dan kepalaku.


Sudah beberapa tahun ini bawannya seperti orang tua. Padahal kalau masih seusiaku ini biasanya menyimpan parfum di tasnya. Aku malah simpan minyak kayu putih, freshcar* atau minyak angin lainnya.


"Oh iya mana tadi catatan yang saya pinta?" tanya nya saat melewati mejaku.


"Maaf Pak saya rasa apa yang sudah dijelaskan Bapak Kepala Cabang di dalam tadi sudah cukup jadi saya tidak perlu menuliskannya lagi" jawabku hormat.


"Ya sudah kalau begitu" sambutnya. Kemudian dia berlalu pergi.


"Mbak Anggi masuk ke ruangan saya sebentar" perintah Kepala Cabang.


"Iya Pak" jawabku sigap.


Aku langsung masuk ke ruangan Bosku.


"Silahkan duduk Mbak Anggi" perintah atasanku.


"Iya Pak" sambutku.


Aku duduk di depan meja Kepala Cabang.


"Apa yang diminta Bapak itu tadi sebelum pergi?" tanya Bapak Kepala Cabang.

__ADS_1


"Dia minta saya menulis semua cerita tentang perusahaan kita Pak" jawabku.


"Lain kali jangan pernah memberikan apapun seperti itu Mbak Anggi. Bisa membahayakan kita secara pribadi" pesan Kepala cabang.


"Iya Pak, saya tadi sudah diingatkan Mbak Ika. Untung saya selamat kali ini Pak" sambutku.


"Terkadang orang seperti itu suka mencari kelemahan kita. Nanti pada akhirnya memberikan penekan. Kenapa dia tidak menekan perusahaan saja. Kita ini kan hanya pegawai biasa tidak punya hak apapun untuk menyelesaikan semua ini. Semua urusan diselesaikan di kantor pusat" ucap atasanku.


"Iya Pak, kalau masih lama seperti ini saya rasanya gak sanggup lagi Pak" ungkapku.


"Jangan menyerah Mbak Anggi" ucap Kepala cabang memberi semangat.


"Kalau ada penawaran pensiun muda akan saya ambil Pak. Saya tidak bisa lagi dapat tekanan berat seperti ini. Fisik saya sudah tidak kuat. Ini saja asam lambung saya langsung kumat Pak" ungkapku.


"Kalau penawaran tidak sesuai dengan undang - undang tenaga kerja jangan mau Mbak Anggi. Rugi kita" Sambut Bapak Kepala Cabang.


"Kurang sedikit tidak apa Pak agar hidup saya tenang" sahutku.


"Janganlah putus asa. Kalau kita dapat pesangon sesuai undang - undang kan lumayan untuk modal usaha. Saya dengar Mbak Anggi jualan cake malah saya dengar sudah jadi penulis?" tanya Kepala Cabang.


"Aaah .. mencari untuk memenuhi gaji yang kurang saja Pak. Yah walau kini saya punya cita - cita baru. Berdoa semoga novel saya booming di cetak jadi buku atau dilirik jadi film Pak. Tapi saya malu rasanya seperti tidak tau diri" jawabku malu.


"Ngapain malu punya mimpi seperti itu. Mimpi yang membuat kita semangat untuk mewujudkannya. Mbak Anggi hebat, multitalent. Apapun yang Mbak Anggi geluti bisa menghasilkan" puji atasanku.


"Saya hanya belajar Pak. Apapun jenis pekerjaan kita kalau kita lakukan dengan sungguh - sungguh pasti akan berhasil. Dan Allah pasti punya banyak pintu rezeki untuk kita Pak. Disaat gaji kita berkurang Allah kasih saya rezeki dari yang lain" jawabku.


"Benar apa yang Mbak Anggi katakan itu" sambut Bapak Kepala Cabang.


"Kalau begitu saya kembali ke meja saya ya Pak. Masih ada pekerjaan saya yang belum selesai" pamitku hormat.


"Iya silahkan - silahkan. Jangan lupa pesan saya tadi ya.. Hati - hati bertindak pada orang yang bergelut di bidang hukum. Jangan salah sikap bisa membahayakan kita" pesan Pak Kepala Cabang sebelum aku pamit.


"Iya Pak" sahutku.


Aku berdiri dan kembali ke meja kerjaku melanjutkan pekerjaanku yang masih belum selesai.


Allah Maha Baik, kali ini aku selamat dari satu masalah yang mungkin sangat berbahaya.


Terimakasih ya Allah. Ucapku dalam hati.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2