
"Mbak, Ayah dan Mamak gak keberatan kalau aku pindah dari sini. Lagian juga gak jauh dan aku bisa mendiri" ucap Tari saat aku pulang dari kantor.
"Syukurlah, rumah depan juga ternyata bisa lebih murah harga sewanya karena Mas Fadil bilang kalau adiknya yang mau menyewa. Kalau begitu kita mulai cari kios Tari" jawabku.
"Ada Mbak kemarin waktu aku antar pakaian anak - anak pesantren ada kios sebesar tiga kali empat di kontrak kan di depan pesantren" ungkap Tari.
"Wah lumayan besar itu. Daerah pesantren itu juga kan ramai. Ya sudah coba kamu cari tahu berapa harga sewa kios nya?" tanyaku.
"Iya Mbak" jawab Tari.
Keesokan harinya Tari datang ke rumah kami.
"Mbak aku sudah dapat informasi nomor ponsel pemilik kios, Mbak aja yang hubungi orangnya biar jelas" ujar Tari.
"Mana nomornya biar Mbak hubungi" pintaku.
Tari memberikan sebuah nomor. Aku langsung menghubungi nomor itu.
"Bismillah... " ucapku.
Telepon tersambung.
"Assalamu'alaikum Pak.. Maaf apakah Bapak pemilik kios yang berada di depan pesantren XXX?" tanyaku.
"Wa'alaikumsalam. Iya Bu" jawab pria yang ada di seberang.
"Saya lihat ada pamflet di kontrakkan Pak di depan. Kalau boleh tau berapa ya Pak harga sewanya pertahun?" tanyaku.
"Enam juta Bu" jawab pria itu.
"Gak bisa kurang sedikit Pak harganya, maklumlah Pak modalnya pas - pasan" pintaku ngeles.
"Waaaah gimana ya Bu" sambut Pria itu.
"Tolong lah Pak.. kalau serasi kami juga berniat akan lanjut sewanya Pak" bujukku.
"Ya udah deh Bu lima juta aja, gak kurang lagi ya" jawab pria itu.
Alhamdulillah.. ucapku dalam hati.
"Kapak kita bisa ketemu Pak? Rumah Bapak jauh tidak dari pesantren?" tanyaku.
"Rumah saya lumayan jauh Bu dan saat ini saya juga sedang keluar. Bagaimana kalau ketemunya besok saja?" tanya pria itu.
"Boleh Pal, besok saya dan suami saya akan datang. Jam berapa kita bisa ketemu?" tanyaku.
__ADS_1
"Ba'da dzuhur bisa Bu?" tanya pria itu balik.
"Jam satu ya Pak, lewat makan siang dulu" pintaku.
"Boleh Bu, boleh" balasnya.
"Oke Pak, terimakasih banyak ya Pak" ucapku.
"Sama - sama Bu. Assalamu'alaikum" ujar pria itu.
"Wa'alaikumsalam" jawabku.
"Alhamdulillah Mbak bisa dapat harga segitu. Di sana rame lho Mbak. Nanti langganan kita bisa anak - anak pesantren itu" ucap Tari yang tampak senang mendengar perbincangan ku tadi dengan pemilik kios.
"Mudah - mudahan langkah awal yang baik. Kita juga dapat lokasi kios yang bagus di depan pesantren" sambut ku.
"Mbak mau lihat gak kiosnya? lebih baik kita lihat dulu biar Mbak lebih puas" ujar Tari.
"Boleh" jawabku.
Aku dan Tari pergi melihat kios yang Tari bilang tadi. Keadaan kios bagus sepertinya juga baru di cat.
"Tinggal buat pamflet besar aja nih, Laundry Nazwa" ujarku.
"Gak apa - apa Mbak tetap pakai nama laundry ku?" tanya Tari.
"Aamiin.. " sambut Tari.
Aku melihat di sekitar situ memang belum ada laundry yang buka.
Bismillah ya Allah permudahlah usaha kami ini. Aku bergantung kepadaMU ya Allah. Hanya kepadaMU aku menyembah dan hanya kepadaMU aku meminta pertolongan. Doaku dalam hati.
"Nanti Mbak suruh Mas Fadil cetak brosur yang banyak buat di sebar ke komplek - komplek sekitar sini. Kan lumayan banyak ni. Di jalan ini saja ada sekitar tujuh atau delapan komplek belum lagi jalan sebelah" ujarku.
"Iya Mbak" balas Tari.
"Yuk kita pulang" anakku.
Kami kembali pulang ke rumah. Setelah Tari mengantarku pulang aku mulai menghitung modal awal yang di butuhkan.
"Sewa rumah dua juta tujuh ratus lima puluh ribu. Sewa kios lima juta, mesin cuci tambah satu aja dulu sementara. Mesin cuci Tari kan ada dua. Nanti kalau pesangonku sudah keluar baru aku beli lagi beberapa mesin cuci lagi, setrika uap dan mesin pengering. Becak motor juga nanti saat dapat pesangon aja. Sementara bisa diantar pakai motor Tari dan Mas Fadil. Aku juga masih beberapa bulan lagi bekerja sebelum berhenti kerja" gumamku sendiri.
Tiba - tiba ponselku berdering, aku melihat nama mama yang tertera di layar ponselku. Segera aku terima panggilan telepon itu.
"Assalamu'alaikum Ma" ucapku memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Gi. Lagi dimana kamu?" tanya Mama.
"Di rumah Ma" jawabku.
"Lho kamu gak kerja?" tanya Mama lagi.
"Hari ini jadwal WFH Ma. Anak - anak mana?" tanyaku.
"Anak - anak. lagi ngaji di rumah si Nur" jawab Mamaku.
"Ma aku, Mas Fadil dan Tari sudah mulai bergerak untuk buka usaha. Tari akan pindah di rumah depan. Kami sewa aja rumah depan. Kami juga sudah dapat kios depan pesantren yang ada di dekat rumah" ungkapku pada Mama.
"Wah bagus itu Gi, anak - anak. pesantren bisa jadi langganan laundry kalian" sambut Mama.
"Selama ini juga beberapa dari murid pesantren udah jadi langganan Tari Ma. Pesantrennya kan gak begitu besar dan hanya pesantren putri saja. Tapi nanti kami akan coba ajukan proposal ke pesantren putra yang ada di belakangnya" jawabku.
"Lho di belakangnya ada pesantren juga?" tanya Mama.
"Ada Ma, pintu masuknya dari jalan belakang. Setelah jalan rumah Anggi ada jalan lagi, nah dari situ masuknya" ucapku menjelaskan.
"Semoga lancar ya Gi, awal yang baik" Doa Mama.
"Oh iya Ma, kalau nanti Tari udah pindah ke rumah depan, anak - anak aku bawa pulang ya. Kalau Tari di rumah depan aku udah berani meninggalkan anak - anak berdua di rumah. Kan ada yang lihatin mereka di rumah. Makan kami kan tantangan sama Mamak mertua. Jadi aku bisa kerja juga. Kami bisa berkumpul kembali" pintaku.
"Yaaah sedih deh rumah sepi karena mereka akan pulang" jawab Mama sedih.
"Ma.. tidak mungkin mereka di sana terus. Ini juga sudah mulai new normal. Sebentar lagi anak - anak akan normal sekolah kembali" ungkapku.
"Mereka pindah sekolah aja Gi ke sini. Kalau ada mereka rumah jadi ramai. Lagian anak kamu gak nakal kok, mereka baik budi dan tidak suka bertengkar. Papa dan Mama sangat senang melihat mereka saling menyayangi. Kadang kami suka lucu karena si Kakak suka jahil suruh - suruh adiknya. Walau adiknya kesal tapi tetap dia jalankan perintah Kakaknya" sambut Mama.
"Jangan pindah sekolah donk Ma. Aku merasa bersalah sebagai orang tua menitipkan anak - anakku pada Mama. Mereka masih tanggung jawabku. Aku dan Mas Fadil akan menyekolahkan dengan usaha kami sendiri Ma" ujarku.
"Iya deh Gi, Mama kan gak bisa memaksa. Mereka anak - anak kamu" balas Mama.
"Lagian kalau mereka sekolah di sana Ma nanti kalau Mama mau ke sini jadi berat karena harus meninggalkan mereka berdua di sana. Nanti itu jadi alasan Mama gak datang ke sini. Arif dan Rahmat bisa marah karena mereka merasa kalau anak - anakku memberatkan langkah Mama dan Papa untuk jalan - jalan bertemu cucu. Cucu Mama kan bukan hanya Shifa dan Rayyan saja Ma. Ada anak - anak Arif dan Rahmat juga" ungkapku.
"Iya Gi. Ya sudah nanti kalau Tari sudah pindah kamu kabari Mama ya biar Mama dan Papa antar mereka ke sana" Jawab Mama.
"Iya Ma, makasih ya Ma. Jangan lupa do'ain kami terus ya Ma.. " pintaku.
"Mama selalu mendoakan semua anak - anak Mama. Nama kalian selalu Mama sebut di setiap shalat Mama" ungkap Mama.
"Makasih Ma" balas ku haru.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG