Menatap Senja

Menatap Senja
76


__ADS_3

Keesokan harinya aku membawa motor sendiri ke kantor. Sepulang dari kantor langsung belanja bahan - bahan cake ke toko bahan kue.


Teman yang order, pesan tart gambar forzen. Sebelumya aku cetak topper cakenya dulu karena anaknya gemar sekali dengan pemeran film kartun frozen. Aku sudah cari gambar - gambar nya di goog** dan sudah di pilih sama temanku mana yang dia suka.


Setelah itu aku cetak di tempat cetak foto. Baru setelah itu baru ke toko bahan kue membeli kelengkapan lainnya. Tak lupa aku beli landasan dasar cake dan kotaknya. Untuk lilin aku tidak menyediakannya.


Sepulang kerja aku langsung bersih - bersih dan beresin rumah. Setelah rumah rapi dan aku selesai mandi baru aku mulai membuat bahan cake dasar.


Seperti biasa aku lebih suka memakai based cake brownies kukus karena lebih lembut tekstur cakenya kalau di makan. Terlebih anak - anak memang lebih suka brownies yang mengandung coklat.


Setelah cake di kukus aku mulai menyiapkan butter creamnya. Aku membagi dua butter creamnya, warna putih dan biru muda. Setelah selesai aku menyimpannya di kulkas. Karena besok pagi sebelum pergi kerja baru aku hias.


Tidak sampai satu jam based cake sudah masak. Wanginya hemmmm.... menggugah selera. Aku jadi teringat anak - anak. Kalau mereka ada pasti rame.


Mereka pasti merengek minta cakenya langsung di potong. Jadi kangen mereka. Eh panjang umur ponselku berdering dan aku lihat yang tertera di layar hpku nama Mama. Pasti anak - anak yang menghubungi pakai nomor Oma nya.


"Assalamu'alaikum Bunda" sapa mereka dengan ceria


"Wa'alaikumsalam sayang" jawabku.


"Bunda lagi ngapain?" tanya Rayyan.


"Bunda lagi buat kue" jawabku sambil memperlihatkan layar monitor ke arah cake yang baru masak.


"Huwwaaaaaaah.... enaknyaaaa.." teriak si kecil.


"Bunda.. bunda kapan ke sini?" tanya si Kakak.


"Belum tau sayang, Bulek Wati kan lagi sakit di Rumah Sakit. Jadi ayah sama Bunda lagi repot ngurusin bulek" jawabku.


"Nanti kalau Bunda datang bawa bolu ya kesukaan adek" pinta si kecil Rayyan.


"Oke sayang... " jawabku.


"Kalau Kakak mau donut Bunda. Oma juga minta dibelikan Dunki* donut yang triple coklat" ujar Si Kakak Shifa.


"InsyaAllah nanti Bunda belikan juga ya. Do'ain ayah dan Bunda sehat - sehat dan banyak rezeki ya sayang" sambutku.


"Aamiin... " sahut mereka.

__ADS_1


"Bunda kapan sih kami pulang? Adek kan udah pengen sekolah. Opa suruh adek sekolah di sini tapi adek gak mau" cerita si kecil.


"Ya gak apa - apa sayang sekolah dulu di sana nanti baru lanjutin di sini. Kan bisa pindah sekolah" ujarku.


"Adek gak mau. Kata Oma kami ngaji aja di sini sama Wak Inur. Ngajinya setiap sore dari jam lima sampai jam enam. Adek udah iqro dua" ungkapnya.


"Wah hebat donk adek. Nanti sampai di sini lanjut ngaji lagi di mesjid dekat rumah kita ya" sambutku.


"Kakak juga sudah Al-Quran Bunda. Sudah juz tiga. Kata Oma nanti kalau Kakak juz 15 akan dimasakin pulut kuning pakai inti kelapa. Kalau sudah hatam alquran baru pakai opor ayam" cerita si Kakak.


"Iya yang rajin ngajinya ya nak, jangan lupa do'ain Ayah dan Bunda terus" jawabku dengan mata berkaca - kaca.


"Kami mau kasih Bunda dan Ayah mahkota kalau sudah hapal alquran" sambung si Adek.


"Subhanallah.. senangnya Bunda Nak" ujarku sambil meneteskan air mata bahagia.


"Bunda nangis? Kenapa?" tanya mereka dengan wajah polos.


"Bunda nangis karena bahagia lihat anak - anak Bunda udah pinter - pinter ngajinya. Yang sehat ya nak, semangat ngajinya biar jadi anak soleh dan solehah" ucapku memberi semangat.


"Iya Bunda. Bunda mau buat tart ya? Gambar apa tartnya Bunda?" tanya si Kakak.


"Frozen" jawabku.


"Nanti kalau adek ulang tahun mau tart gambar apa?" tanyaku.


"Mmm... sound the sheep aja ya Bun" pinta si Adek.


"Oke nanti Bunda buatkan ya saat adek ulang tahun" jawabku.


"Kalau kakak mmm... Kakak mau gambar bunga - bunga aja deh Bun. Kemarin Kakak ada lihat di instagra* keunya cantik - cantik" pinta si Kakak.


"Iya nanti Bunda buatkan ya" balasku.


"Udah dulu ya Bun, sudah mau maghrib kami mau sholat sama Opa dan Oma" pamit mereka.


"Iya sayang, baik budi ya disana" ujarku.


"Iya Bunda. Eh ayah mana?" tanya mereka.

__ADS_1


"Ayah masih di Rumah Sakit urusin Bulek Wati" jawabku.


"Jadi Bunda sendirian ini di rumah?" tanya Si Kakak.


"Ih hati - hati Bunda nanti ada setan. Bunda gak takut?" tanya si Adek dengan mata bersinar.


Aku jadi tersenyum melihat tingkah dua anakku itu.


"Bunda kan bisa baca ayat Al-Quran pasti setannya takut" jawabku.


"Shifaaa.. Rayyaaan.. yuk kita shalat" panggil Mamaku dari jauh.


"Udah dulu ya Bunda Oma sudah memanggil kami. Salam sama ayah ya Bunda. Assalamu'alaikum" ucap Si Kakak.


"Dada Bunda" sambung si Adek.


"Wa'alaikumsalam.. dah sayaaaang" jawabku kembali dengan mata berkaca - kaca.


Hatiku terasa menghangat karena melihat mereka sehat - sehat dan ceria. Anak - anakku tidak kekurangan kasih sayang. Walau saat ini berada jauh dari Ayah dan Bunda mereka tapi mereka tetap ceria dan sehat.


Sebenarnya hati ini sangat rindu tapi mau gimana lagi saat ini tidak mungkin rasanya menjenguk mereka ke kampung. Mas Fadil sudah seminggu tidak bekerja. Itu artinya tidak ada uang harian yang dia kasih padaku.


Dalam keadaan seperti ini aku tau dia sebenarnya trauma. Apalagi melihat adiknya tabrakan sampai seperti itu. Mas Fadil jadi lebih berhati - hati saat berkendara.


Aku juga merasakan hal yang sama. Saat di jalan raya dan melihat ada truk besar aku langsung teringat Wati. Sungguh sebuah mukjizat Wati bisa selamat dari kecelakaan itu. Walau saat ini dia sedang berjuang untuk hidup.


Kalau dari gajiku sejak awal bulan semua langsung habis untuk membayar kredit rumah, pinjaman kantor dan pinjaman bank yang kemarin sengaja aku ambil untuk tambah - tambah DP rumah.


Belanja bulanan, sekolah shifa, biaya listrik dan kewajiban lainnya di komplek. Hanya sisa tak sampai satu juta untuk makan sehari - hari aku dan Mas Fadil. Biasanya uang harian dari Mas Fadil bisa jadi peganganku perharinya.


Kalau lebih bisa aku tabung kalau tidak setidaknya bisa cukup untuk keperluan sehari - hari sampai gajian bulan berikutnya. Keadaan kantor yang semakin gawat membuat gajiku tidak full seratus persen. Alasannya covid padahal memang karena keadaan perusahaan yang sudah goyang.


Untung ada honor novel yang bisa dibilang sangat lumayan membantu. Jumlahnya juga lumayan sekali. Pelan - pelan aku jadi punya tabungan lagi sedikit demi sedikit.


Haaaaah... walau berat akhirnya semua bisa terlewati. Sudah lebih satu tahun pandemi tapi semua bisa berjalan dengan baik.


Alhamdulillah ya Allah... ucapku dalam hati.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2