
Sudah seminggu lebih setiap aku pulang anak - anak berada di rumah mertuaku. Setiap pulang kerja Mas Fadil antar aku ke rumah setelah itu baru dia menjemput anak - anak ke rumah mertua.
"Kalian ngapain Nak ke rumah Nenek?" tanyaku pada Shifa.
"Kami di ajak Mbak Lia Bunda. Katanya dia mau bantuin nenek" jawab Shifa.
"Bantuin apa, dia cuma tiduran aja di rumah nenek" potong Rayyan.
"Lianya mana Yah?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Katanya nanti belakangan Bun. Masih ada kerjaan dia" jawab Mas Fadil.
Aku langsung menghubungi Tari, adik ipar yang juga tinggal di rumah mertua.
"Assalamu'alaikum Tari" sapaku.
"Wa'alaikumsalam Mbak" sambut Tari.
"Lia ngapain di rumah Mamak sampai larut malam Tar. Kata Naila ada bantuin Mamak, apa betul?" tanyaku.
"Gak ada Mbak, mana mau dia bantuin Mamak. Kerjanya cuma main HP aja di kamar. Ni disuruh pulang ke rumah Mbak gak mau" jawab Tari.
"Kenapa begitu? Sudah seminggu Mbak perhatikan dia selalu seperti ini. Tau gaj Tari sudah seminggu Mbak gak bicara sama dia. Setiap Mbak pulang dia masih di sana dan larut malam baru diantar pulang. Nanti kalah pagi Mbak pergi kerja dia belum bangun. Padahal sejak kejadian dia pulang malam dari rumah temannya sudah Mbak nasehati. Katanya mau berubah, kok malah tambah parah" ucapku.
"Iya Mbak di sini juga sudah aku nasehatin. Sama Mamak juga aku udah bilangin. Mending dia di rumah Mbak Anggi aja, disana dia jadi tau kerja dan tanggung jawab. Kalau di sini gak tau apa - apa, cuma di kamar aja main HP" ujar Tari.
"Terus Mamak bilang apa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Karena selama ini semua kemauan Lia itu selalu dituruti mertuaku. Lia adalah cucu pertama perempuan. Jadi sejak kecil sudah tinggal sama mertua. Sehingga mertuaku sangat sayang padanya.
Akibatnya jadi seperti ini, suka membangkang dan tidak tau kerja. Setiap di tegur siapapun selalu di bela sama mertua perempuanku.
Kemarin sebelum dia kami ajak tinggal di rumah aku sudah buat perjanjian pada mertua. Kalau mau Lia berubah biar kami yang mendidiknya seperti cara kami, jangan dicampuri. Kalau dia tinggal di rumah kami dia ikut peraturan di rumah kami.
Aku kecewa dengan sikap mertuaku yang seperti ini. Kalau begini sikap mertuaku akan sulit mendidik Lia. Dia akan bersikap mengadu domba dan selalu lari dari tugasnya.
Nanti kalau setiap kami tegur dia pasti lari ke rumah mertua. Seperti itu selanjutnya.
"Baiklah Tari gak apa - apa malam ini. Kalau dia mau tidur di sana juga gak apa - apa. Besok Mbak akan bicara sama Mamak tentang Lia. Gak mungkin selamanya kita ikutin kemauan Lia. Bisa rusak semuanya" ujarku.
Malamnya aku lebih dulu tidur dibanding anak - anak. Aku merasa kurang enak badan dan sangat letih. Seperti biasanya Lia diantar mertua laki - laki pulang ke rumah di saat aku sudah tidur.
Besoknya aku kembali memanggil Lia saat kami sudah selesai sarapan pagi.
Lagi - lagi Lia diam dan menunduk. Dia memang bukan tipe anak yang berontak secara langsung. Kalau diajak bicara seperti ini dia lebih banyak diam. Tapi apa yang ada dalam pikirannya itu yang tetap dia jalankan.
Beberapa bulan tinggal bersamanya aku mulai mempelajari sifatnya. Ini sudah panggilan ke dua. Sepertinya aku akan sedikit keras. Agar dia tau kalau aku memang sedang marah.
"Bude sebenarnya gak mau marah sama Lia. Tapi kalau di diamkan Lia tidak tau perbuatan Lia salah. Lia ngapain ke rumah nenek setiap hari? Kalau jawaban Lia ingin membantu nenek, Bude sudah tanya sama Bu Tari. Setiap hari Lia hanya tiduran di kamar nenek sambil main HP. Kalau alasan Lia mau belajar, di rumah ada wifi Lia bebas mau zoom. Lagian kan sudah tidak ada aktivitas di sekolah. Lia kan sudah selesai ujian akhir?" tanyaku.
Dia hanya diam dan masih tetap menunduk.
"Lia gak suka Bude tegur minggu lalu? Bude gak marah lho saat itu? Bude hanya mengajak Lia berfikir dan memberikan Lia kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang. Bude tau hidup Lia tidak sempurna seperti teman - teman Lia yang lain. Tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua secara lengkap. Bude dan Pakde memberikan penawaran untuk bersedia menjadi pengganti orang tua Lia. Tapi melihat cara Lia yang seperti ini, Bude gak yakin Lia akan melakukan hal yang seperti Bude lakukan" ujarku.
"Bude tau Lia sudah punya pacar. Bude sebenarnya tidak setuju. Umur Lia belum cukup untuk mengenal hubungan yang seperti itu. Sekarang umur Lia sudah lima belas tahun. Bisa gak sabar tunggu sampai umur dua puluh tahun. Kalau Lia mau menikah, Bude dan Pakde siap untuk menikahkan Lia dengan pria mana pun. Asalkaaaan... seakidah, soleh, bertanggung jawab dan baik. Bude tidak mau Lia bernasib sama seperti Mamak Lia. Dapat suami yang malas bekerja, maunya makan enak dan kalau tidak ada makanan di rumah kerjanya suka memukul Mamak Lia. Lia... Lia itu anak perempuan. Makanya Bude jaga dengan sangat ketat. Kalau terjadi suatu hal yang buruk apapun dan di manapun itu selalu wanita yang di rugikan. Para pria akan dengan mudahnya lari jika sudah mendapatkan apa yang paling berharga pada diri kita. Coba pikirkan apa yang Bude katakan. Bude juga pernah muda, pernah mengalami hal yang seperti Lia rasanya. Suka sama seseorang, tapi perasaan itu juga bisa di tahan Lia, jangan diikutkan. Baginana caranya? Ya dengan shalat dan berdoa kepada Allah, minta agar kita selalu berjalan di jalan yang lurus" sambung ku.
__ADS_1
"Kita bukan dari keluarga kaya, tapi kita harus bisa memiliki sesuatu yang berharga. Apa itu? Harga diri. Lia harus bisa menjadi wanita yang punya harga diri tinggi, bukan wanita murahan yang mau di jemput di tengah jalan dan pulang sampai larut malam. Kalau memang pacar Lia itu laki - laki baik dia pasti datang dengan baik - baik ke sini menjemput Lia. Meminta izin pada Bude dan Pakde untuk membawa Lia. Bukan malah main kucing - kucingan. Lia pikir Bude gak tau kalau Lia kemarin itu tidak naik angkot? Lia di jemput kan di ujung komplek? Kita hidup bertetangga Lia, ada tetangga yang melihat dan mengadukannya kepada Bude" ungkapku.
"Berteman boleh saja tapi jangan ada komitmen pacar. Dosanya banyak Lia, kalau iman tidak kuat Lia bisa tergelincir ke lobang kemaksiatan" pesanku.
Lia terus menunduk, aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Apakah dia mengerti dan mau menerima nasehatku atau malah benci dan kesal kepadaku.
Aku tidak perduli yang penting saat ini tujuan dan niatku ingin menjaga dan mendidiknya.
"Sekarang Bude tanya pada Lia, agar kita lebih jelas ke depannya Lia mau gimana. Lia masih mau tinggal sama Bude dan Pakde?" tanyaku.
Lama dia terdiam dan akhirnya menjawab juga walau hanya dengan anggukan.
"Baik kalau begitu ikuti peraturan di rumah ini. Bude tidak melarang Lia pergi ke rumah nenek, menginappun boleh tapi hanya boleh saat weekend. Hari sabtu dan minggu saat Bude tidak bekerja. Senin sampai jumat di rumah aja sama adik - adik. Belajar dan shalat yang tertib. Lia mau?" tanyaku.
Dia diam sesaat kemudian kembali menganggukkan kepalanya.
"Baik sudah cukup pembicaraan kita untuk saat ini. Bude akan lihat dari sikap Lia, apakah Lia benar - benar ingin tinggal di sini atau tidak. Sudah sana kerjakan tugas Lia seperti biasa" perintahku.
Dia pun pergi dari hadapanku. Aku menarik nafas yang terasa berat.
Ya Allah bantulah aku mendidiknya menjadi anak yang solehah. Doaku dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1