
"Ada apa Bun?" tanya Maa Fadil.
"Ini Papa dan adek - adek kirim pesan" jawabku.
"Pesan apa?" tanya Mas Fadil penasaran.
"Mak, Papa, Rahmat, Arif dan Putri ada kirim uang ke rekening Anggi. Mereka titip salam, semoga uangnya bisa bermanfaat untuk Wati dan anak - anaknya" ungkap ku pada Mamak Mertua.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Gi. Sampaikan kepada keluarga kamu. Kamu pegang aja untuk keperluan anak - anak Wati selama Mamak di rumah sakit. Nanti kalau Tari butuh apa - apa kamu kasih saja sesuai kebutuhan Tari. Biar uangnya gak langsung habis atau hilang " ucap Mamak Mertua.
"Iya Mak, nanti Anggi kasih aja ke Tari sesuai kebutuhan mereka" sambutku.
"Ya sudah kami pulang ya Mak" pamit Mas Fadil pada Mamak dan Ayahnya.
Kami pun pergi menuju parkiran. Saat hampir menuju mobil Syahrul Tari bicara kepadaku.
"Mbak tolong belikan pampers anak - anak Wati juga susu mereka. Kasihan Mbak yang paling kecil kan masih ASI sebenarnya. Lihat lah tubuh mereka kurus seperti kurang gizi. Di rumah juga ada anak - anakku. Kalau mereka tidak pakai pampers mana sanggup aku mengurus semuanya Mbak. Aku juga kan masih harus urus loundryku. Kalau tidak bagaimana aku membiayai anak - anakku " ungkap Tari.
Sejak suaminya meninggal aku membantu Tari untuk membuka usaha loundry agar dia bisa membiayai kedua anaknya. Alhamdulillah sekarang dia bisa mengelola sendiri usahanya dan berjalan dengan baik.
Aku tidak bisa meminjamkan uang setiap saat jika Tari butuh uang untuk biaya anak - anaknya. Makanya aku bantu diawal usahanya, kini dia sudah menjalankan sendiri usaha itu tanpa modal dariku lagi.
"Iya Tari, nanti di jalan pulang Mbak akan singgah ke swalayan untuk membeli kebutuhan anak - anak ini" jawabku menyanggupi permintaan Tari.
"Kalau begitu kami duluan ya Mbak bawa anak - anak ini" pamit Tari.
"Iya, Mbak dan Mas Fadil nyusul aja naik motor" jawabku.
Kami berpisah di parkiran. Aku naik ke atas motor yang dikemudian Mas Fadil. Di jalan kami singgah ke ATM untuk mengambil uang dan membeli pampers juga susu untuk anak - anak Wati.
Sampai di rumah mertua, Tari lebih dulu sampai. Aku menyerahkan semua barang - jarang yang aku beli untuk anak - anak Wati kepada Tari.
"Ini Tari pampers dan susu mereka ya. Ini juga uang belanja kalian untuk seminggu. Biar gak repot Mbak kasihnya perminggu saja ya. Nanti kalau habis bilang sama Mbak, biar Mbak kasih lagi" ucapku.
"Iya Mbak, makasih ya" balas Tari.
__ADS_1
"Mbak pulang ya" ucapku.
Aku dan Mas Fadil pulang ke rumah.
"Emangnya berapa Bun uang yang terkumpul untuk Wati dan anak - anaknya?" tanya Mas Fadil ingin tau.
"Alhamdulillah lima juta Yah" jawabku.
"Wah alhamdulillah banyak itu. Itulah ya rezeki mereka. Saat seperti ini rezeki dari Allah tetap tidak berhenti" ujar Mas Fadil.
"Allah kan sudah berjanji Yah... begitu kita lahir ke dunia ini Allah tidak memberikan rezeki dalam berbagai bentuk. Rezeki kan bukan hanya uang dan harta. Udara untuk bernafas juga merupakan rezeki untuk kita manusia. Karena kalau Allah sudah menarik rezeki itu berarti sudah habis waktu kita di dunia ini" sambutku.
"Jangan lupa Bun di catat berapa uang mereka dan berapa pengeluaran yang sudah keluar. Jangan sampai uang mereka terpakai kita" pesan Mas Fadil.
"Iya Yah, Bunda ngerti kok. Bunda juga sangat takut uang mereka ke pakai. Mereka sedang dapat musibah mana mungkin kita mengambil keuntungan. Sudah syukur kit tidak diberatkan. Kalau uang ini tidak ada dari mana coba kita memenuhi semua kebutuhan anak - anak Wati" ujarku.
"Itu dia, makanya dari tadi Ayah tak henti - hentinya bersyukur. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. DIA tau apa yang dibutuhkan umatNya" sambung Mas Fadil.
Sesampai di rumah aku langsung mencatat daftar belanjaan untuk anak - anak Wati tadi. Aku takut lupa dan akhirnya uang mereka terpakai. Aku juga tidak mau keluarga Mas Fadil berpikiran kalau aku mengambil keuntungan dari musibah Wati.
Walau aku yakin mereka tidak akan berpikiran seperti itu lebih baik sejak awak aku harus membuat semuanya jelas agar tidak ada prasangka buruk mereka atau perselisihan di kemudian hari.
"Alhamdulillah supir dan truknya sudah ditahan di kantor polisi sini Bun" lapor Mas Fadil saat dia menjemputku pulang kerja.
"Alhamdulillah, Bunda masih belum percaya Yah bisa terjadi seperti ini. Ini rasanya sangat luar biasa. Allah memperlihatkan kuasa-Nya pada keluarga kita" sambutku.
"Besok Ayah dan Syahrul akan ke kantor polisi. Sedangkan Ridwan ke pabrik tempat Wati bekerja untuk melengkapi berkas - berkas BPJS Ketenagakerjaan yang masih kurang" ujar Mas Fadil.
"Kalau begitu besok Bunda pulang sendiri aja Yah" ucapku.
"Sejak Wati kecelakaan Ayah belum sempat gojek Bun. Beberapa hari ini penghasilan tipis sekali. Bunda sabar ya, Ayah masih sibuk dan capek sekali mengurus semua urusan Wati ini" ungkap Mas Fadil.
"Iya Yah gak apa - apa. Bunda mengerti,. semua memang harus dilakukan bersama - sama. Mana mungkin Kakek yang urus semua ini, mana bisa dia. Syukur Ridwan juga mau bantuin jadi bisa bagi kerja" sambutku.
"Iya harus itu, mana bisa Ayah kerjakan semua sendiri. Ayah kan juga punya batas" jawab Mas Fadil.
__ADS_1
"Alhamdulillah ada yang pesan tart ulang tahun. Lumayan yah buat tambah - tambah uang belanja di rumah" ucapku setelah mendapat pesan teman yang meminta dibuatkan tart untuk anaknya ulang tahun.
"Alhamdulillah, semoga Allah beri kita rezeki juga ya. Kita kan sudah membantu urusan Wati agar semua lancar. Semoga Allah juga melancarkan rezeki kita" sambung Mas Fadil.
"InsyaAllah Yah, yakinlah kalau niat kita baik Allah akan balas dengan yang lebih baik lagi. Besok pulang kerja Bunda mau belanja bahan cake dan tartnya" ungkap ku.
"Bunda naik apa?" tanya Mas Fadil.
"Naik angkot" jawabku.
"Jangan, Bunda bawa aja motor ini. Besok Ayah sama Ridwan ke Rumah Sakit ambil motor Ayah" cegah Mas Fadil.
"Nanti Hari dan Kakek butuh motor di sana yah?" tanyaku.
"Kalau sehari kan gak apa - apa Bun" jawab Mas Fadil.
"Terus nanti gimana Ayah pulang?" tanyaku lagi.
"Ya pulang bareng Ridwan lagi. Kan bisa janjian. Atau nanti Ayah pulang sama Syahrul juga bisa" jawab Mas Fadil.
Tiba - tiba ponsel Mas Fadil berdering tanda panggilan masuk. Mas Fadil langsung mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum" ucap Mas Fadil.
"Iya Wak nanti aku akan kirim nomor rekening ku. Terimakasih sebelumnya ya Wak, sampaikan salam kami seluruh keluarga kepada keluarga besar. Semoga Allah membalas kebaikan semuanya" sambung Mas Fadil.
Telepon terputus.
"Siapa yang telepon Yah? Uwak mana?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Uak Mono Bun, Kakaknya Mamak yang paling besar. Katanya seluruh keluarga besar dari Mamak sudah mengumpulkan dana untuk membantu Wati. Mereka akan mengirimkan uangnya ke rekening Ayah. Nanti baru Ayah kasih ke Mamak semua uangnya" jawab Mas Fadil.
"Alhamdulillah... " sambutku.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG