Menatap Senja

Menatap Senja
91


__ADS_3

"Mas kalian harus datang cepat ke rumah" pinta Tari saat bertelepon pagi - pagi.


"Ada apa Tari?" tanya Mas Fadil terkejut karena Tari berbicara seperti tergesa - gesa.


Aku yang punya penyakit serangan panik langsung mules mendengar nada suara Mas Fadil.


Apakah terjadi sesuatu kepada Wati? Pikirku.


Aku langsung mendekati Mas Fadil untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


"Wati menarik selang yang ada di lehernya" jawab Tari.


"Astaghfirullah.. kenapa bisa begitu Tari? Kapan kejadiannya?" tanya Mas Fadil dengan nada terkejut.


"Tadi malam Mas disaat semua sedang tidur" jawab Tari.


"Apa Hari gak jagain Mamaknya?" tanya Mas Fadil lagi.


"Tadi malam Hari pulang larut malam Mas, main sama teman - temannya. Jadi begitu pulang dia langsung tidur. Pagi - pagi tadi Mamak masuk ke kamarnya dan lihat keadaan Wati, selangnya sudah di copot sama Wati" ungkap Tari.


"Berdarah tidak?" tanya Mas Fadil.


Mendengar pertanyaan Mas Fadil perutku semakin sakit dan aku langsung berlari ke kamar mandi.


"Berdarah Mas tapi gak banyak. Seperti luka biasa, cuma kalau lihat lobang di lehernya seram banget jadinya" jawab Tari.


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar ya, Mas akan ke sana" ujar Mas Fadil.


Sayup - sayup aku dengar dari kamar mandi suara Mas Fadil. Aku segera buru - buru untuk bersih - bersih.


"Bun ayah mau ke rumah Mamak" ucap Mas Fadil.


Aku langsung keluar karena penasaran akan rasa ingin tahuku.


"Ngapain Yah? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Wati?" tanyaku khawatir.


"Tadi malam dia menarik selang di lehernya" jawab Mas Fadil.


"Oh ya Allah, jadi gimana yah keadaannya?" tanya ku.


"Belum tau, ini ayah mau lihat ke sana. Bunda mau ikut?" tanya Mas Fadil mengajakku.


"Maaf Yah, Bunda gak kuat. Ini aja perut Bunda udah mules karena dengar kabar itu" sambut ku.


"Ya sudah Ayah pergi dulu ya" Pamit Mas Fadil.


Mas Fadil menyalakan sepeda motor dan langsung bergerak menuju rumah orang tuanya. Sesampainya di sana Mas Fadil mendengar suara Wati menjerit.


"Assalamu'alaikum... " ucap Mas Fadil saat masuk.


"Maaaaskuuuuu... toloooong" sambut Wati dengan teriakan.


Mas Fadil langsung masuk ke dalam kamar Wati untuk melihat keadaannya. Luka di leher Wati sudah di tutup kain kasa dan dikasih betadin*.


"Masih berdarah?" tanya Mas Fadil pada Hari.

__ADS_1


"Sudah nggak lagi Pakde" jawab Hari.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa kecolongan begini Hari?" tanya Mas Fadil.


"Aku ketiduran Pakde. Saat aku terbangun aku lihat tangan Mamak yang terikat sudah lepas. Dan Mamak sudah memegang kasa dan perban penutup selang di lehernya" jawab Hari menjelaskan.


"Tolooong Maaas" ucap Wati.


"Wati kenapa kamu lakukan itu? Itu sangat membahayakan kamu?" tanya Mas Fadil lembut.


"Sakit Mas dan gatal" jawab Wati.


"Eh tapi suaraWati jadi kembali seperti dulu, gak terdengar seperti suara robot" ucap Mas Fadil terkejut.


"Tolong aku Maaaas" pinta Wati.


"Iya Mas akan tolong kamu asalkan kamu janji mau bersabar dan semangat. Sabar ya sebentaaaar saja sampai luka di kaki kamu kering nanti tangannya di lepas Mamak" ujar Mas Fadil lembut.


"Iya Mas aku janji... " jawab Wati.


Mas Fadil segera menghubungi Arif dan melakukan panggilan video call.


"Assalamu'alaikum Mas" ucap Arif.


"Wa'alaikumsalam" Jawab Mas Fadil.


"Ada apa Mas?" tanya Arif.


"Rif tolong lihatin luka Wati. Tadi malam gak ada yang tau, semua pada tidur, Wati tarik selang yang ada di lehernya" ujar Mas Fadil.


"Ada sedikit" jawab Mas Fadil.


"Coba aku lihat" punta Arif.


Mas Fadil mengarahkan kamera ke arah leher Wati.


"Luka sedikit ya.. tapi itu gak boleh terbuka Mas dan harus steril. Kapan jadwal berobat jalan?" tanya Arif.


"Besok" jawab Mas Fadil.


"Ya sudah coba di tutup kain kasa yang sudah di kasih betadine dan di perban dulu sementara ya. Besok ceritakan sama dokter bagaimana cara mengibatinya. Apakah di pakai selang lagi atau dibiarkan terbuka sepet itu saja sampai akhirnya lukanya bersatu kembali" perintah Arif.


"Baik Rif terimakasih. Tapi sepertinya keadaan Wati jadi lebih baik. Dia tidak merasa sesak karena tidak ada dahak di lehernya dan suaranya juga sudah seperti dulu, terdengar normal" ungkap Mas Fadil.


"Mudah - mudahan ya Mas lebih baik. Tapi besok lebih baik ceritakan semua pada dokternya biar jelas" sambut Arif.


"Iya Rif sekali lagi terimakasih" ujar Mas Fadil.


"Hari ini hati - hati kalau ngasih makan dan minum Mbak Wati, takut dia tersedak" pesan Arif.


"Iya nanti Mas bilang sama Mamak" balas Mas Fadil.


"Ya sudah dulu ya Mas, aku mau kerja dulu. Assalamu'alaikum" ucap Arif.


"Wa'alaikumsalam" jawab Mas Fadil.

__ADS_1


"Siapa itu Mas?" tanya Wati kepada Mas Fadil.


"Arif adiknya Mbak Anggi. Kamu ingat?" tanya Mas Fadil.


"Ingat yang kuliah dokter kan?" jawab Wati.


"Iya dulu itu, sekarang dia sudah jadi dokter. Dia juga sudah menikah" sambut Mas Fadil.


Wati memang lebih sering mengingat kejadian dulu. Karena efek benturan dan operasi di kepalanya.


"Cepat banget Mas, dia kan masih kecil. Dulu tinggal di rumah Mas dan Mbak Anggi dia masih sekolah" ujar Wati.


"Itu sudah sepuluh tahun yang lalu Wati. Sekarang dia sudah jadi dokter, sudah menikah dan sudah kerja" sambung Mas Fadil.


"Ooo" ucap Wati seolah dia mengerti.


"Kamu sudah makan?" tanya Mas Fadil pada Wati.


"Belum" jawab Wati.


"Lho kok belum tadi kan sudah Mamak kasih sarapan?" potong Mamak mertua.


"Aku masih lapar Mak" rengek Wati.


"Banyak dia makannya Mak?" tanya Mas Fadil kepada Mamaknya.


"Banyak Fad, dia seperti tidak mengerti kapan perutnya kenyang. Kalau terlalu banyak makan nanti dia bulak balik buang air besar. Mamak repot ganti pempersnya. Mamak juga harus masak, ini aja belum belanja" jawab Mamak mertua.


"Oh ya Allah.. sabar ya Mak. Kita semua harus sabar merawat Wati seperti ini" ucap Mas Fadil.


"Lia kasih roti aja Mamak" perintah Mamak mertua kepada Lia.


"Iya Nek" jawab Lia patuh.


"Kamu gak sekolah hari ini?" tanya Mas Fadil pada Lia.


"Nggak Pakde" jawab Lia.


"Kalau gak sekolah bantu nenek di rumah. Lihat nenek kerepotan seperti itu. Kalian harus pengertian sama nenek. Nenek sudah tua, sebenarnya sudah tidak waktunya lagi dia bekerja keras seperti itu. Tapi karena Mamakmu anak Nenek dan kalian adalah cucunya itu yang memaksakan Nenek harus kuat bekerja dalam usianya yang sudah tua. Harusnya kalian bersyukur masih punya Nenek, kalau tidak kalian mau tinggal dimana?" nasehat Mas Fadil pada Lia.


"Iya Pakde" jawab Lia.


"Ini anak durhaka Mas.. dia jahat padaku.. Dia gak peduli padaku. Dia gak mau gantiin pampers ku" teriak Wati gak suka melihat Lia.


Lia terdiam kaku dan menunduk.


"Mamak kalian ini kembali seperti anak kecil. Dia akan berulang kali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dia bisa merasa, kalau orang tidak suka padanya dengan sikap kalian. Makanya Mamak kamu berkata seperti itu. Ikhlaslah merawat Mamakmu agar hidupmu nanti bahagia dan sukses. Kunci kesuksesan itu adalah dengan berbakti kepada orang tua. Inilah saat nya kamu berbakti kepada Mamakmu. Bukan nenek yang harusnya melakukan semua itu" ucap Mas Fadil tegas.


Lia hanya diam sambil menyodorkan roti ke mulut Wati.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2