Menatap Senja

Menatap Senja
50


__ADS_3

Mertuaku datang dengan tergesa - gesa ke rumah kami sore hari.


"Sudah pulang si Lia?" tanya Mertuaku.


"Belum, kenapa Mak?" tanyaku.


Lia pergi dari pagi dan meminta izin kepadaku. Katanya ingin mengurus pendaftaran masuk SMK.


Saran dari kami semua dia melanjutkan sekolah ke SMK ambil jurusan tata busana. Tujuannya agar dia punya keahlian setelah tamat SMK dan bisa langsung bekerja.


Kalau dia masuk SMU kan harus kuliah sementara aku dan mertua belum mampu untuk itu. Kalau dia bekerja dengan tamatan SMU pasti akan sulit mendapat pekerjaan. Kalau pun dapat sebatas jaga toko atau buruh pabrik.


Saat ini tukang jahit prospeknya juga bagus dan kerjanya bisa di rumah. Itu juga salah satu tujuan kami mengingat Lia ini anak yang lasak dan suka keluar rumah.


Kalau dia bekerja di luar takutnya dia akan salah pergaulan. Tapi kalau di bekerja di rumah membuka peluang usaha sendiri pergaulannya akan mudah di pantau.


"Tadi siang dia pulang nangis - nangis" adu mertuaku.


"Lho tadi siang dia ke rumah Mamak? Dia gak ada pulang ke sini?" tanyaku terkejut.


"Iya dia pulang katanya hari ini adalah hari terakhir daftar online. Sedangkan dia sudah mencoba berulang kali dari ponselnya tapi gak masuk - masuk" Jawab mertuaku.


"Terus sekarang mana Lianya?" tanyaku.


"Dia pergi sama temannya. Katanya ada temannya yang bisa daftarin dia sekolah. Nah itu Lia, panjang umur" tunjuk mertuaku ke arah pintu masuk rumahku.


Aku melihat Lia masuk dengan mata basah.


"Gimana Lia, berhasil? bisa daftarnya?" tanya mertuaku khawatir.


Aku masih mendengarkan pembicaraan mereka sambil menyelesaikan pekerjaanku mencuci piring.


"Nggak Nek, aku belum bisa daftar" jawab Lia.


"Jadi tadi kamu dari mana?" tanya mertuaku.


"Dari rumah teman, di coba dari ponselnya gak bisa juga. Kalau aku gak bisa sekolah gimana nek?" tanya Lia merengek.


Inilah kebiasaan Lia, sudah berulang kali aku mengajak dia untuk terbuka padaku tapi tak pernah dia mau. Padahal aku sering memancing pembicaraan setiap kali kami duduk santai sambil menonton televisi atau saat makan bersama.


Buktinya hari ini. Bisa di bilang ini masalah yang sangat penting, dia sampai panik seperti itu takut tidak bisa sekolah lagi. Tapi dia tidak mau meminta bantuan padaku.

__ADS_1


Aku tidak tau siapa yang salah. Padahal aku sudah mencoba melakukan pendekatan kepadanya.


"Ya dicoba terus Lia" ujar Mertuaku.


"Udah lho Neeek. Nenek sibuk kali" bentak Lia tiba - tiba.


Sontak aku yang mendengar pembicaraan mereka langsung menghentikan kerjaanku dan menghampiri Lia.


Spontan aku jewer telinganya dengan sangat kuat. Baru kali ini aku memakai tanganku untuk mengajarnya.


"Lia kok bentak nenek? Nenek ini orang tuanya Mamak Lia. Nenek juga yang membesarkan Lia sampai sekarang ini? Tau kan dosanya seperti apa durhaka sama orang tua?" ucapku emosi.


Dia langsung terdiam dan menunduk. Dadaku terasa sesak karena menahan emosi.


"Minta maaf sama nenek" bentakku.


Dia langsung menangis.


"Maaf nek aku kelepasan karena aku kalut. Aku takut banget gak bisa daftar sekolah" ucapnya.


"Kenapa kamu gak cerita sama Bude. Pendaftaran kan bukan cuma satu hari Lia. Kalau dari kemarin kamu cerita sam Bude, pasti akan Bude bantu gimana caranya. Sudah berapa kali Bude ajak kamu untuk lebih terbuka. Kamu mau Bude anggap anak kan? Kalau mau jadi anak cerita apa aja sama Bude" pintaku.


Seperti biasa dia hanya bisa diam.


Dia langsung sigap memberikan link untuk pendaftaran online. Aku mulai mencoba langkahnya satu persatu. Memang sangat lambat sekali jalannya dan berujung eror. Akhirnya kami ulang kembali.


Hingga maghrib tak kunjung selesai. Ketepatan Mas Fadil sudah pulang. Tiba - tiba aku mempunyai ide. Aku segera menghubungi Rahmat adikku karena dia bekerja di perusahaan telekomunikasi. Aku yakin dia pasti mengerti dan punya fasilitas lengkap di rumahnya.


"Assalamu'alaikum Mat" ucapku memulai pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam Kak, ada apa?" sahut Rahmat.


"Ini Lia mau daftar online masuk SMK. Kami sudah coba dari sore tapi tetap tidak bisa masuk. Kata Lia hari pendaftaran terakhir, dari tadi dia sudah nangis karena takut gak lanjut sekolah" ucapku.


"Duh kenapa sudah hari terakhir baru bilang. Kan bahaya banget, bisa - bisa memang gagal?" tanya Rahmat.


"Itulah yang kakak katakan sama Lia. Dianya cuma diam saja. Gimana ya caranya agar kami bisa daftar online?" tanyaku pada Rahmat.


"Gini aja Kak, bawa semua data - data sekolahnya. Kakak bisa datang sama Mas Fadil ke sini? Biar kami bantu daftarin" jawab Rahmat.


Aku lihat sudah jam setengah delapan malam. Mas Fadil belum makan karena baru aja pulang.

__ADS_1


"Baik Mat, kami makan malam dulu ya baru ke rumah kamu" ucapku.


"Hati - hati Kak sudah malam soalnya. Rumah kalian kan jauh dari sini" ujar Rahmat.


"Iya mudah - mudahan gak apa - apa. Kasihan Lia kalau gagal" sambut ku.


Akhirnya aku dan Mas Fadil langsung bersiap - siap. Setelah makan malam kami langsunh pergi ke rumah Rahmat. Rumahku dan rumah Rahmat lumayan jauh. Dengan motor saja menempuh waktu empat puluh lima menit.


Karena ini akhir minggu jalanan macet menuju rumah Rahmat. Kami akhirnya sampai setelah satu jam perjalanan.


Sekitar jam setengah sepuluh kami tiba di rumah Rahmat. Rahmat langsung menyiapkan ponselnya.


"Mana berkasnya dan apa linknya?" tanya Rahmat.


Aku mengirimkan link pendaftaran online ke ponsel Rahmat dan istrinya.


"Ini kita pakai ponselku aja ya Kak. Di rumah ini, ini ponsel yang terbaru dengan aplikasi paling canggih. Letak kita juga saat ini gak jauh dari jangkauan internet. Mudah - mudahan bisa masuk" ucap Rahmat.


"Iya yang penting di coba sampai tetes darah terakhir" sambutku.


Rahmat mulai masuk ke dalam link dan mengikuti satu persatu langkah - langkah untuk daftar online masuk Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di kota kami.


Percobaan pertama gagal karena jaringan lambat dan berujung eror. Percobaan kedua kami sudah sampai ke tahap pengisian data dan memasukkan nilai - nilai Lia di SMP. Saat ingin upload ijazahnya jaringan eror dan gagal.


"Duh sudah dua kali gagal. Jaringannya padat" ucap Rahmat.


Perutku semakin sakit, sudah jam setengah sebelas malam. Itu artinya hanya tinggal satu setengah jam lagi kesempatan Lia untuk bisa masuk sekolah negeri.


"Kita coba lagi. Yang penting kita sudah mengerti langkah - langkahnya" ujar Rahmat.


"Iya" jawabku.


Kami memulai lagi dari awal. Masuk ke link pendaftaran, isi data pribadi Lia. Kemudian data sekolah SMP-nya. Setelah itu baru ketahap yang paling rumit.


Kami masukkan satu persatu nilai - nilai Lia setelah itu memotret bukti rapot dan ijazahnya. Baru setelah itu di upload. Tampak tulisan loading di ponsel Rahmat.


Kami menunggunya dengan penuh kesabaran hingga akhirnya.


"Alhamdulillah bisa masuk" ucap Rahmat.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2