Menatap Senja

Menatap Senja
61


__ADS_3

"Gimana yah? kita swab dimana?" tanyaku pada Mas Fadil.


"Udah Bun gak usah swab, kita kan gak merasakan apapun. Tubuh ayah Fit, tubuh Bunda gimana?" tanya Mas Fadil.


"Bunda juga fit banget malah yah. Tapi kan bisa saja kita tidak sakit malah jadi pembawa. Nanti bisa orang - orang terdekat yang kena, seperti kakek dan nenek Yah" jawabku.


"Berapa biaya swab?" tanya Mas Fadil.


"Sebentar Bunda tanya Arif dulu" jawabku.


"Rahmat sih enak semua dibiayai kantor, kita kan biaya sendiri. Kena berapa lagi nanti? Cari uang seratus ribu saja satu hari saat sekarang ini susah Bun, ni kita mau swab berdua sampai ratusan ribu" sambung Mas Fadil.


Aku mengirim pesan pada Arif.


Anggi


Dek dimana swab yang murah?


Arif


Di klinik ini kak.. Klinik xxx


Anggi


Berapa dek biayanya?


Arif


Dua ratus lima puluh ribu Kak


"Yah kata Arif di klinik xxx, biayanya perorang dua ratus lima puluh ribu" ucapku pada Mas Fadil.


"Jauh itu Bun dari rumah kita dan mahal. Berdua aja sudah kena lima ratus ribu" jawab Mas Fadil berat.


"Kita swab aja Yah biar tenang. Ada kok uang ditabungan" bujukku agar Mas Fadil mau swab.


Mas Fadil menarik nafas panjang. Fia langsung meraih ponselnya.


"Sebentar coba Ayah cek di googl* ya" jawab Mas Fadil.


Mas Fadil mencari informasi Rumah Sakit terdekat yang murah untuk melakukan swab.


"Ini Bun ada di RS. XXX. Kita ke sana saja, perorang biayanya seratus lima puluh ribu. Lumayan hemat dua ratus ribu" ucap Mas Fadil.


"Iya Yah, ya sudah yuuk.. lebih cepat lebih baik" ajakku.


"Sebentar harus daftar online pakai aplikasi biar dapat discount Bun. Kalau harga normal memang seperti yang Arif bilang" ujar Mas Fadil.


Aku menunggu Mas Fadil mengisi daftar.


"Mana KTP Bunda?" pinta Mas Fadil.


Aku langsung ambil tas dan buka dompet begitu juga Mas Fadil. Dia mengisi formulir melalui aplikasi.


"Udah keluar tagihannya, tinggal bayar" ujar Mas Fadil.


"Kemana Yah, biar Bunda kirim pakai mobile banking?" tanyaku.


"Nih transfer ke sini" Mas Fadil menunjukkan nomor rekening Rumah Sakit tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai transaksi aku dan Mas Fadil langsung bersiap menuju Rumah Sakit untuk melakukan swab.


Karena kamu daftar pakai aplikasi dan sudah melakukan pembayaran begitu sampai Rumah Sakit kami langsung melakukan tes.


"Silahkan tunggu di luar ya Pak, Bu. Setengah jam lagi hasilnya akan keluar" ucap perawat.


Aku dan Mas Fadil duduk di ruang tunggu sambil menunggu dengan sangat khawatir. Aku raba dadaku, alhamdulillah berdetak normal.


Aku sangat takut asam lambungku kumat karena stres.


"Kenapa Bun?" tanya Mas Fadil khawatir karena melihat aku jadi pendiam.


"Ah.. nggak Yah" sahutku.


Tiga puluh menit kemudian hasil pemeriksaan keluar.


"Bapak Fadil, Ibu Anggia" panggil petugas.


Jantungku berdetak sangat kencang. Aku dan Mas Fadil berdiri dan berjalan menghampiri pegawai Rumah Sakit.


"Ini Pak, Bu hasilnya" ucap pria yang ada di hadapan kami sambil menyerahkan dua lembar kertas.


Aku dan Mas Fadil menerima kertas tersebut dan membacanya.


Bismillah.. ucapku dalam hati.


"Alhamdulillah... " ucap Mas Fadil.


Aku langsung membaca lembar pemeriksaanku.


"Alhamdulillah hasilnya negatif Yah" sambut ku lega.


"Ya gak apa - apa Yah. Syukur negatif tapi kita kan jadi lega. Setidaknya kita tidak jadi pembawa untuk orang lain" sahutku.


"Jadi gimana sekarang Bun?" tanya Mas Fadil.


"Kita ke rumah Rahmat ya Yah. Katanya Arif mau ke sana antar obat - obat vitamin dan tabung oksigen buat persediaan mereka. Mau lihat Elda" jawabku.


"Ya sudah yuk kita ke sana" ajak Mas Fadil.


Kami pergi menuju rumah Rahmat dan di sana sudah terparkir mobil Arif di depan pagar rumah Rahmat. Rahmat dan Lili keluar dari rumahnya sedangkan Arif di luar pagar.


Oh ya Allah... penyakit itu nyata dan saat ini ada di depan mataku. Batinku.


"Elda... mau ikut Bunda nak" ucapku membujuk Elda.


"Gak mau Bunda, Elda mau sama Mama aja" jawab Elda tidak mengerti.


Hatiku sedih melihat pemandangan seperti ini. Mereka ada di depan mata tapi tak bisa disentuh dan dipeluk untuk memberikan semangat.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Mas Fadil.


"Lili dan Bibi mulai hilang penciuman Mas, aku masih meriang tapi penciuman dan rasa masih ada" jawab Rahmat.


"Kandungan Lili gimana?" tanyaku khawatir.


"Alhamdulillah gak ada masalah Kak. Dokter kandungan sudah kasih resep obat khusus buat aku" jawab Lili.


"Elda gimana? Sayaaaang sama Bunda yuk.. Bobok di rumah Bunda" bujukku lagi.

__ADS_1


"Gak mau Bunda, aku mau sama Mama saja" tolak Elda lagi.


"Gak apa - apa Kak biar tetap sama kami. Mudah - mudahan gak apa - apa" ujar Lili.


"Iya, yang semangat ya.. kalau mau makan apa bilang sama kami biar kami beli atau kakak buat nanti" ujarku pada Lili dan Rahmat.


"Kak aku pengen cake marmer resep Mama" pinta Rahmat langsung.


"Itu bukan karena pengen tapi emang doyan" potong Arif.


"Hahahaha... tau aja bro" jawab Rahmat.


Kami semua tertawa. Aku lihat Rahmat dan istrinya semangat jadi kami tidak terlalu khawatir.


"Maaf ya kalian gak bisa masuk" ujar Rahmat.


"Maaf juga kami datang tapi gak masuk" sambut Mas Fadil.


Kami kembali tertawa walau dalam hati tetap ada rasa sedih dan khawatir. Tiba - tiba ponselku berdering panggilan video dari Mama. Aku buka dan langsung terlihat wajah Mama yang sedang menangis.


"Gimana Elda?" tanya Mama langsung sambil menangis.


Aku tunjukkan wajah Elda kepada Mama.


"Elda ini Oma sayang" ucapku pada Elda.


"Lambaikan tangan sayang sama Oma" ucap Lili.


"Alhamdulillah mereka baik - baik saja Ma. Gejalanya tidak berat, nih Arif lagi bawa obat - obat, vitamin dan oksigen buat jaga - jaga" ucapku menenangkan Mama.


"Kalau ada apa - apa kabari Papa dan Mama ya" pinta Papa bergantian.


Ponsel Mama ternyata sudah dipegang Papa.


"Iya Pa" jawab Rahmat dari jauh.


"Kalian gimana Gi? Katanya kemarin malam tidur di rumah mereka?" tanya Papa.


"Alhamdulillah hasil swab kami negatif Pa" jawabku.


"Syukurlah, ini hanya ujian. Kita semua pasti bisa melewati nya" ucap Papa memberikan semangat kepada kami semua.


"Iya Pak" jawab kami kompak.


"Tetap jaga jarak ya. Semoga kita sehat" ucap Arif.


"Makasih ya Kak, Mas, Rif udah bantuin kami. Kami mau masuk dulu ya untuk istirahat" ujar Rahmat.


"Iya baik - baik ya" sahutku.


"Jangan lupa kalau ada keluhan apapun kabari aku Mas" potong Arif.


"Oke bro" jawab Rahmat.


Rahmat dan keluarganya masuk ke dalam rumah dan kami pun bubar pulang ke rumah masing - masing.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2