Menatap Senja

Menatap Senja
96


__ADS_3

"Mbak Anggi seperti berita yang sudah tersebar beberapa bulan ini. Memang benar akan ada pengurangan jumlah karyawan di Perusahaan kita. Saya ingat permintaan Mbak Anggi beberapa bulan yang lalu. Apakah Mbak Anggi tetap ingin mendaftarkan diri?" tanya Kepala Cabang.


"Kalau di tanya kata hati saya, saya ingin Pak minta langsung di masukin daftar nama saya. Tapi kalau boleh saya minta waktu sampai besok Pak. Saya mau bicarakan hal ini pada suami saya dan keluarga besar saya" jawabku.


"Baik Mbak Anggi. Saya beri Mbak Anggi waktu sampai besok. Manajemen hanya memberi kuota sedikit se Indonesia. Jadi tidak banyak juga yang punya kesempatan. Saya melakukan ini karena saya mengingat perjuangan Mbak Anggi, kekuatan Mbak Anggi, permintaan Mbak Anggi dan juga kesiapan Mbak Anggi. Saya tau perjuangan Mbak Anggi setelah penyakit yang Mbak Anggi derita, saya tau Mbak Anggi sepertinya sudah mempersiapkan segala sesuatunya kalau Mbak Anggi berhenti tapi saya masih berharap Mbak Anggi mengurungkan niat Mbak Anggi. Karena Mbak Anggi masih muda dan punya karir yang masih panjang" pesan Kepala Cabang.


"Terimakasih Pak atas perhatian Bapak. Saya akan musyawarah kan hal ini pada keluarga saya agar tidak ada penyesalan di kemudian hari" balasku.


"Iya Mbak Anggi" sambut Pak Bambang.


Malam harinya aku melakukan panggilan video call pada keluargaku. Papa, Mama dan adik - adikku semua.


"Assalamu'alaikum Pa, Ma" ucapku.


"Wa'alaikumsalam Gi" jawab Papa dan Mama.


Tak lama Arif dan Rahmat masuk.


"Ada berita apa ini Kak, tumben video call group?" tanya Rahmat.


"Mau diskusi sedikit" jawabku.

__ADS_1


"Masalah apa?" tanya Arif.


"Anggi tadi di panggil sama Kepala Kantor. Katanya bakal ada pengurangan pegawai. Dulu Anggi pernah minta kepada beliau kalau memang ada pengurangan pegawai tolong masukan nama Anggi. Jadi dia kembali menanyakan keputusan Anggi dulu apakah masih tetap sama" jawabku.


"Kamu serius mau berhenti kerja Gi?" tanya Papa serius.


"Pikirkan baik - baik Kak. Banyak pertimbangannya?" sambut Rahmat.


"Benar, semua juga berdampak lho pada kesehatan Kakak?" ujar Arif.


"Anggi sudah bicara tadi dengan Mas Fadil. Kami sudah musyawarah dan merencanakan bagaimana masa depan kami. Anggi benar - benar tidak bisa lagi kerja di bawah tekanan. Anggi merasa semakin banyak dosa bekerja di sana. Melihat kekecewaan para nasabah, mendzolimi orang banyak, hidup tidak akan bisa tenang. Anggi pasrahkan semua pada Allah, Anggi tinggalkan kerjaan untuk bisa lebih dekat kepada Allah. Semoga Allah buka pintu rezeki yang lain untuk kami" ungkap ku.


"Anggi... pada dasarnya kami semua mendukung kamu. Yang paling utama bagi adalah kesehatan kamu. Kalau menurut kamu bekerja di sana memberikan tekanan berarti bagi kamu, oke Papa setuju kamu berhenti. Tapi masalah tidak akan berhenti sampai di situ nak? Kamu sudah terbiasa bekerja, terbiasa terima gaji dan terbiasa keluar rumah ketemu teman - teman. Kalau kamu berhenti kerja semua itu tidak akan kamu temukan lagi. Apa kamu sudah siap? Apa rencana kamu setelah kamu berhenti bekerja. Dulu kalian berdua bekerja saja keuangan kalian sangat pas - pasan. Kalau hanya tinggal Fadil yang kerja bagaimana dengan kehidupan kalian?" tanya Papa dengan bijak.


"Ini memang keputusan berat Pa. Tapi Anggi harus berani ambil keputusan. Menurut informasi dari Kepala Kantor Anggi kami diberikan waktu enam bulan untuk bekerja setelah nama masuk daftar PHK. Selama enam bulan itu Anggi punya kesempatan untuk mencari kerja baru dan Anggi juga akan terima pesangon dalam waktu paling lama enam bulan itu. Anggi sudah bicarakan pada Kepala Cabang berapa besar pesangon yang nantinya akan Anggi dapatkan. Sekitar dua ratus juta belum ditambah dengan tabungan di BPJ* Ketenagakerjaan sekitar lima puluh juta. Anggi lunasi rumah kami ke Bank untuk mengurangi cicilan perbulan. Pinjaman Kantor Anggi juga lunas setelah potong pesangon. Pinjaman di Bank Anggi juga akan lunas karena Anggi di PHK. Karena saat akad kredit kemarin kan judul pinjamannya adalan kredit pegawai, mereka minta SK Pegawai Anggi dan perjanjiannya kalau Anggi di PHK semua kredit akan lunas. Anggi sudah tanya pada pihak Bank. Sisa pesangon Anggi ada sekitar seratus lima puluh juta lagi dan Anggi tidak punya hutang apapun lagi. Anggi akan kerja sama dengan Tari untuk membuat laundry yang lebih besar. Mencari ruko yang lebih besar, tambah lima unit mesin cuci dan setrika uap, becak barang dan menambah karyawan. InsyaAllah usaha akan semakin berkembang. Sekarang saja Tari hanya modal dua mesin cuci dan satu karyawan bisa menghasilkan pendapatan kotor enam juta. Kalau Anggi tambah lima unit mesin cuci dan dua karyawan kan bisa lebih banyak penghasilannya Pa. Langganan sudah ada dan kami akan buka sistem laundry siap antar jemput dan bisa pilih parfum sesuai keinginan langganan. Anggi hanya targetkan di awal saja dapat lima juta perbulan bersih itu sudah bisa mencukupi Pa. Karena Anggi juga masih dapat honor menulis " ungkapku.


"Bagus juga kak ide kakak itu" sambut Arif.


Arif background keluarga mertuanya adalah pengusaha sehingga kalau bicara usaha dia pasti langsung semangat.


"Didaerah rumah Anggi banyak sekali perumahan, target satu perusahaan dapat lima rumah saja langganan bulanan. Cuci gosok empat ratus ribu sebulan. Satu komplek aja udah dapat dua juta. Kalau dapat lima atau sepuluh komplek udah berapa Pa. Di sini usaha laundry maju lho karena air di daerah kami kurang bagus. Orang lebih suka mencuci ke laundry karena memakai air PDAM. Kalau modal Anggi habis seratus juta masih ada simpanan Anggi lima puluh juta lagi Pa. Anggi juga tetap usaha kue dan lain - lainnya" sambungku.

__ADS_1


"Kamu sudah pikirkan matang - matang?" tanya Mama serius.


"InsyaAllah sudah Pa, Ma. Ini masa depan Anggi. Nanti Mas Fadil yang akan antar dan jemput pakaian selama kami masih merintis. Kalau pemasukan sudah stabil baru cari orang lain. Saat ini kami hanya butuh dukungan dari Papa, Mama dan seluruh keluarga. Doakan usaha kami maju. Percayalah kami akan berjuang untuk kehidupan kami" ucapku dengan mata berkaca - kaca.


"Kalau Rahmat yakin sama Kak Anggi. Kak Anggi selama ini kan gak pernah main - main dan selalu serius jika melakukan sesuatu, buktinya novelnya berjalan semakin baik sampai saat ini" dukung Rahmat.


"Aku juga mendukung, masakan Kak Anggi juga enak - enak. Cuma kurang promosi aja" goda Arif.


"Yah kalau itu memang benar Rif, waktu Kakak gak cukup karena Kakak harus bagi waktu untuk ketik novel" jawabku.


"Baiklah Nak.. Papa dan Mama pada perinsipnya hanya bisa mendukung keputusan kamu. Kamu yang menjalani hidup kamu. Kalian yang tau mana yang terbaik untuk kehidupan kalian masing - masing. Papa dan Mama selalu mendoakan anak - anak Papa dan Mama, semoga kalian semua sukses. Selamat dunia akhirat" ungkap Papa.


"Aamiin.. " jawab kami semua.


"Terimakasih Pa, Ma.. adik - adik semua" ucapku sambil menangis haru.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2