Menatap Senja

Menatap Senja
31


__ADS_3

"Dia bilang batu bata nya belum dipakai. Katanya kalau mau uang ambil saja batu batanya lagi toh juga belum ada yang dipakai. Kan bisa dijual lagi" jawab suamiku.


"Astaghfirullah.... " ucapku sambil menghapus dadaku mencoba menahan emosi.


"Tega banget Mas Heri, coba dia berkata seperti itu di toko bangunan. Mana ada toko bangunan yang mau diperlakukan seperti itu. Kalau dia sudah membeli dipakai atau tidak ya wajib di bayar. Lagian dia sudah tidak tepat janji. Janjinya kan akan dicicil selama dua bulan tapi saat ini sudah empat bulan sekalipun belum pernah di cicil" ucapku.


"Katanya pekerjaannya lagi sulit karena pandemi" sambut Mas Fadil.


"Lah saat ini ayah lebih parah yah. Ayah tidak kerja bahkan tidak bisa jalan dan butuh duit untuk berobat. Ayah gak bilang tadi sama dia butuh uang untuk urut kaki ayah yang terkilir?" tanyaku semakin emosi.


"Sudah Bun tapi yaaah begitulah manusia kalau saat butuh memang pinter kali ambil hati. Sekarang ditagih hutang aja mangkir" jawab suamiku.


"Kalau gak bunda datang ke rumah dia sekarang ya Yah. Bunda gak takut, apalagi dalam keadaan seperti itu. Kita sangat butuh uang" ucapku.


"Jangan Bun.. gak enak dilihat orang. Lagian Ayah gak mau Bunda hadapin dia sendiri. Ayah gak bisa temani Bunda saat ini" cegah suamiku.


Dadaku rasanya sesak mendengar penjelasan suamiku.


"Coba ayah hubungi dia lagi minta uang arisan. Kita kan arisan bulan ini dan karena pandemi tidak bisa makan - makan dirumah. Gak ada salahnya kan kita minta hak kita. Kita sudah bayar penuh semuanya. Ini tinggal kita yang terakhir masak gak bisa minta uang kita" ucapku pada suami.


Aku tidak mau meminjam kepada siapapun. Karena entah mengapa dari dulu harga diriku terlalu tinggi dalam hal meminjam uang. Walau pada keluargaku sendiri.


"Bunda lupa siapa ketua arisannya? Gayus Bun. Dia pasti senang melihat kita kesusahan seperti ini setelah Ayah ditendangnya dari kantor" jawab suamiku.


"Astaghfirullah mereka dzolim Yah pada kita. Dosa mereka membuat kita seperti ini" ucapku sambil menangis.


"Ayah pernah tanya sama Heri mengenai arisan. Katanya tidak bisa dikasih karena pandemi kita tidak bisa kumpul dan kedua saat anggota lain diminta uang arisan semua mengelak alasan dampak pandemi" ujar suamiku.


"Jadi kita ini apa? Emangnya mereka saja yang kena pandemi? Mereka enak masih punya pekerjaan. Ayah? Sudah dipecat sekarang lagi sakit? Dimana tanggungjawab mereka. Setidaknya bayar uang arisan itu adalah kewajiban mereka karena selama ini mereka sudah mendapatkan hak mereka. Giliran kita sekarang malah mereka mangkir" sahutku penuh emosi.


Dadaku rasanya sakit sekali dapat perlakuan tidak adil seperti ini.


Ya Allah selama sembilan tahun menikah dengan Mas Fadil saat inilah saat - saat terberat dalam rumah tangga kami. Benar - benar masalah datang bertubi - tubi dalam waktu yang hampir bersamaan.

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau aku menghubungi adikku Rahmat dan menceritakan apa yang sedang kami alami.


"Kaaak coba deh ingat - ingat Kakak punya hutang gak sama seseorang?" tanya adikku.


"Hutang? Kakak tifak punya hutang Rahmat sama siapapun. Kalian kan tau bagaimana sifat kakak. Kakak hanya punya kredit kantor, bank dan cicilan rumah. Kakak gak pernah berhutang sama seseorang" jawabku.


"Mungkin Kakak punya hutang janji?" tanya Rahmat lagi.


"Janji, janji apa?" tanyaku tak mengerti.


"Yah siapa tau Kakak punya nazar. Ini misalnya ya Kak.. Kakak dulu punya niat, nanti kalau aku pindah rumah aku mau nazar ini, nazar itu? Soalnya cobaan kalian berat banget rasanya dan datang sekaligus langsung tidak sampai satu bulan? Pasti ada yang terlupa atau ada yang salah. Mungkin Allah menegur atau mengingatkan kalian?" tanya Rahmat hati - hati.


Tiba - tiba tubuhku kaku, aku terdiam sesaat.


"Coba Kakak ingat - ingat dulu ya Mat. Kakak punya janji apa" jawabku.


Aku kemudian menutup teleponku. Dan menghampiri Mas Fadil sambil menangis.


"Kenapa Bun?" tanya suamiku.


"Bisa jadi Bun perkataan Rahmat benar" sambut Mas Fadil.


Aku terdiam dan mencoba mengingat - ingat semuanya.


"Astaghfirullah oh ya Allah.. maafkan hamba" ucapku tegang.


"Ada apa Bun?" tanya Mas Fadil.


"Bunda pernah berbuat yah tapi baru di dalam hati. Belum pernah Bunda ucapkan" jawabku.


"Apa itu?" tanya Mas Fadil penasaran.


"Kalau pindah rumah Bunda mau kasih sedekah ke panti asuhan" jawabku.

__ADS_1


"Ya Allah Bunda kenapa bisa lupa punya nazar seperti itu?" tanya suamiku ikutan pamit.


"Bunda lupa karena begitu kita pindah, Bunda langsung dapat kabar Ayah berhenti kerja. Terus motor Bunda hilang dan sekarang Ayah jatuh. Semua masalah ini membuat Bunda lupa Yah" jawabku.


"Bunda niatnya mau kasih berapa?" tanya suamiku.


"Waktu itu Bunda niat kasih uang lima ratus ribu ke panti asuhan. Tapi saat ini uang kita hanya delapan ratus ribu Yah. Sementara gajian masih seminggu lagi. Gimana makan kita nanti" ucapku khawatir.


Tiba - tiba aku teringat pesan Fatimah saat bertelepon kemarin. Sedekah ekstrim, pasrahkan semua kepada Allah dan hanya bergantung padaNYA.


Tidak ada salahnya aku mencoba beramal seperti itu. Toh saat kita lahir kedunia ini juga tidak membawa apapun juga. Sebenarnya semua ketakutan - ketakutan seperti ini hanyalah bisikan setan yang ingin menggangguku berbuat baik.


"Yah Bunda izin pegi dulu ke panti asuhan ya" ucapku sama Mas Fadil.


"Mau ngapain?" tanya suamiku.


"Mau bayar nazar Bunda" jawabku.


"Katanya uang tabungan kita tinggal sedikit lagi. Beberapa hari lagi Ayah juga harus di urut lagi, belum makan kita. Sementara gajian Bunda seminggu lagi?" tanya suamiku khawatir.


"Bunda lebih takut marah Allah Yah.. ini adalah teguran Allah kepada kita hanya karena Bunda lalai dan lupa. Bunda tidak mau kita mendapat cobaan yang lebih besar lagi. Coba Ayah hitung kerugian yang kita dapat. Hanya karena janji Bunda lima ratus ribu kita kehilangan lebih banyak. Ayah berhenti kerja, motor Bunda hilang dan sekarang Ayah sakit tidak bisa jalan" jawabku.


"Tapi sekarang sedang mendung Bunda, sebentar lagi hujan. Apa harus sedekah ke panti asuhan? Kasih saja uangnya kepada Okta, dia kan anak yatim" perintah suamiku.


Okta adalah ponakan suami, anak dari adiknya suami yang janda karena suaminya meninggal dunia.


"Maaf Yah kali ini gak bisa sedekah ke Okta. Bunda janjinya ke panti asuhan itu. Bunda tidak berani lagi mangkir dari janji Bunda" ucapku pada Mas Fadil.


"Ya sudah terserah Bunda, hati - hati ya Bun, pelan - pelan saja naik motornya. Sebentar lagi akan turun hujan" pesan suamiku.


"Iya Yah... " aku pergi setelah mencium tangan suamiku.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2