
Satu tahun kemudian..
"Selamat ya Gi, Fad kalian bisa beli mobil baru" ucap Bapak Mertua.
"Alhamdulillah usaha kalian semakin maju. Kini sudah punya dua kios" sambut Papaku.
"Iya akhirnya rumah depan juga sudah kalian beli" ujar Mamaku.
"Mamak sangat senang sekali. Kalian adalah anak pertama Mamak sebagai contoh kepada adik - adik kalian kalau kalian telah berhasil dengan penuh kesabaran dan kerja keras memulai usaha dari nol" sambung Mamak mertua.
Hari ini kami syukuran kecil - kecilan karena sudah selesai merenovasi rumah depan yang telah kami beli. Tari sudah menikah dengan Syahrul dan pindah rumah tak jauh dari perumahan kami.
Alhamdulillah rumah depan sudah aku renovasi jadi dua lantai. Lantai satu
untuk tempat mencuci dan menyetrika pakaian - pakaian laundry. Sedangkan lantai dua untuk tempat menjemur pakaian.
Kalau ada pelanggan yang ingin cuci ekspres baru kami gunakan mesin pengering dan penghangat yang bisa langsung kering. Baru setelah itu di setrika.
Penghasilan kios pertama hasilnya kami bagi dua dengan Tari. Karena begitu perjanjian awal. Tapi kios yang kedua sudah untuk kami keuntungannya.
Tari dan Syahrul juga sudah membeli rumah sendiri walau masih menyicil tapi semua berkat usaha kami bersama.
Wati kini kondisinya semakin membaik. Memang dia belum bisa berjalan tapi dia sudah bisa bangun dari tidurnya dan duduk perlahan di tempat tidur.
Dia juga sudah bisa duduk di kursi roda. Semua masih butuh proses dan latihan. Hari sudah bekerja di luar kota. Dia ikut ujian persamaan SMA dan mendapatkan ijazah untuk bekal dia bekerja.
Rajak juga sudah masuk SMA. Dia yang membantu Mamak mertua mengurus Wati di rumah. Lia kami dengar sudah putus sekolah dan bekerja entah dimana. Itupun kami dengar dari teman sekolahnya dulu.
Mudah - mudahan dia menyesali semua perbuatannya dulu dan memperbaiki diri jadi wanita yang lebih baik lagi. Sedangkan tiga anak - anak Wati lainnya hidup bersama Bapak kandungnya dan ibu tirinya. Kami tidak mencampuri hidup mereka lagi.
Anakku Shifa sudah kelas satu SMP. Dia sekolah fullday di SMPIT karena saat aku tawari masuk pesantren dia tidak mau. Katanya dia gak kuat pisah dengan Ayah dan Bunda. Tapi Shifa berjanji tidak akan berhenti hapalan Alquran nya.
Rayyan sudah kelas dua sekolah dasar yang tak jauh dari rumah kami. Setiap pagi Mas Fadil mengantar anak - anak sekolah, aku membuka kios.
Kios pertama Tari yang jaga sedangkan kios yang baru aku yang jaga. Setelah Mas Fadil pulang kami bergantian jaga kios. Aku pulang ke rumah dan memasak untuk makan siang kami.
Setiap hari kami makan siang bersama di kios. Setelah itu Mas Fadil mulai keliling untuk mengantar pakaian yang akan diantar setiap harinya.
Pelanggan kami semakin banyak. Alhamdulillah kepuasan pelanggan adalah motto kamu untuk berusaha lebih baik.
Mesin cuci kini sudah ada sepuluh unit, 2 mesin pengering dan penghangat. Lima setrika uap dan tiga setrika biasa. Kami sudah memiliki lima karyawan yang bekerja di rumah produksi yaitu rumah depan.
Kami sudah punya dua becak barang yang akan antar jemput pakaian ke rumah para pelanggan.
Minggu lalu kami baru membeli mobil second yang kami beli secara cash. Melalui Rahmat yang lebih mengerti mengerti mobil dan mempunyai banyak relasi jual beli mobil. Kami membeli mobil Xpander dengan harga lebih murah dari harga pasar.
Bos kantor Rahmat menjual mobil anaknya dengan harga miring karena Rahmat yang membeli. Alhamdulillah walau tidak mobil baru tapi mobilnya masih sangat bagus.
__ADS_1
Syukuran kali ini sedikit lebih besar. Aku mengundang keluarga besar para Tante - Tante, sepupu dan juga keluarga mertua.
"Masuk tante... " ucapku pada salah satu adik papa yang baru datang.
"Wah hebat juga kamu ya Gi, diam - diam ternyata sekarang berisi. Katanya rumah ini sama rumah depan sudah kamu beli?" tanya Tante yang selama ini memang sering aku elakkan untuk bertemu.
Entah mengapa aku tidak begitu dekat dengannya karena dia selalu menilai dari apa yang dimiliki orang lain. Tapi tak mungkin rasanya kalau aku tidak mengundangnya datang.
"Alhamdulillah Tante, belum seberapa semua ini dibandingkan anak - anak Tante. Rumahku jauh di kampung dan kecil" jawabku merendahkan.
"Udah besar ini Gi, lebar sembilan panjang lima belas. Dua rumah lagi depan - depanan. Kamu sudah punya dua kios laundry" potong Tante yang lain memuji.
"Kios nya masih sewa Tante. Masih merintis" sambutku.
"Kamu selalu saja merendah dan menghilang tiba - tiba kami dengar kamu udah punya dua rumah" ujar Tante lainnya.
Aku hanya tersenyum menjawab perkataan mereka.
"Mbak Anggi itu ruang perpustakaan ya?" tanya salah seorang sepupuku.
"Iya" jawabku.
"Apa aja isinya?" tanyanya lagi.
"Novel - novel koleksi Mbak Anggi sejak SMU dulu" jawabku
"Ada" jawabku ramah.
"Mbak Anggi novel yang terbaru udah di cetak belum? Aku mau donk?" pinta sepupuku yang lain.
"Udah baru aja. Kemarin Mbak udah pesan seratus buku untuk dibagi - bagi ke keluarga dan teman - teman. Kalau kalian mau boleh ambil kok. Tapi maaf ya satu keluarga cuma dapat satu" jawabku.
"Asiiik dapat buku gratis langsung dari pengarang nya" teriak sepupuku itu.
"Dapat tanda tangan kan Mbak Anggi?" tanya yang lainnya.
"Dapat, sabar ya nanti sebelum pulang akan Mbak Anggi bagikan" balasku.
"Yeaaaay asiiik... aku penggemar novel - novel Mbak Anggi. Teman - teman kuliahku banyak yang suka baca novelnya Mbak Anggi. Mereka gak percaya kalau aku bilang Mbak Anggi itu sepupuku. Nanti kita foto ya Mbak Anggi biar mereka percaya kalau Mbak Anggi itu kakak sepupuku" rengek sepupuku yang lain lagi.
"Iya boleh.. sekarang pada makan semua ya" ujarku.
Seluruh keluarga makan siang bersama di rumahku. Karena tidak muat sebagian duduk di rumah depan. Setiap hari libur laundry kami memang tutup jadi rumah depan memang kosong kalau hari libur.
Sore harinya saat mereka pulang semua kebagian novel aku yang baru lengkap dengan tanda tangannya.
"Makasih jamuan makannya ya Mbak Anggi semoga sukses terus" ucap adik sepupuku.
__ADS_1
"Terimakasih novelnya Mbak Anggi. Oh iya yuk kita selfie" Sepupuku yang tadi ingin berfoto bersama akhirnya mengeluarkan ponselnya.
Dia bergaya disampingku sambil memegang novelku.
Cekreeeeek...
"Aku langsung posting di statusku aaah" teriaknya senang.
Akhirnya satu persatu keluarga sudah pulang. Adik - adikku juga pulang semua. Kini tinggal Papa dan Mama yang tinggal di rumah kami. Mas Fadil sedang mengantar Mamak, Bapak mertua dan Wati ke rumah mertuaku.
"Apa yang kamu rasakan sekarang nak?" tanya Papa.
"Aku sangat bersyukur Pa.. Allah ternyata sangat sayang padaku. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan jadi seperti ini. Aku benar - benar lega dan bahagia saat ini" ungkapku.
"Jangan pernah merasa tinggi dengan keberhasilan yang kamu dapatkan sekarang. Tetaplah rendah hati dan selalu menolong orang yang membutuhkan" pesan Papa.
"Iya Pa, InsyaAllah semua pesan - pesan Papa dalam hidup akan selalu aku ingat. Terimakasih atas doa - doa Papa dan Mama yang tidak pernah berhenti mendoakan keluarga Anggi" ucapku.
"Kami sangat bahagia dan lega melihat kehidupan kamu yang sekarang. Kamu adalah anak perempuan kami satu - satunya tapi kamu tumbuh jadi wanita yang kuat dan tidak pernah patah semangat. Bahkan saat terendah dalam hidup kamu sekalipun kamu tidak pernah mengadu kepada kami. Kamu anak yang kuat sayang, anak yang hebat" Papa memelukku erat.
Aku jadi meneteskan air mata.
Terimakasih ya Allah.. terimakasih atas semua yang telah KAU berikan kepadaku. Jadikan aku insan yang selalu tidak lupa dari mana asalku dan tidak melupakanMU. Tuntunlah aku kejalan yang benar dan tegur aku jika aku sudah berada di jalan yang salah. Doaku dalam hati.
.
.
SELESAI
Hai para pembacaku yang setia.. akhirnya novel kesembilanku ini selesai juga. Sebenarnya perasaanku campur aduk.
Ini adalah novel pertama yang aku buat berdasarkan kehidupan nyata dari orang - orang terdekat ku. Benar - benar cerita real.. bukan khayalan tapi sayang ini novel yang kurang mendapat banyak pembaca.
Aku gak tau apakah karena bukan cerita percintaan yang penuh dengan khayalan yang indah - indah. Tapi ya sudahlah...
Dari awal aku menulis novel ini karena benar - benar ingin membuat satu novel yang mungkin sangat berguna untuk para pembaca. Karena kisah - kisah di novel ini banyak terjadi dalam kehidupan nyata.
Semoga novel ini banyak memberikan manfaat bagi para pembaca. Walaupun pembacanya sedikit tapi aku sangat lega novel ini bisa aku selesaikan sampai akhir.
Karena jujur semangatku jatuh bangun saat mengetik novel ini. Hari ini aja aku kecewa karena tiba - tiba novel ini bisa dua kali turun level di hari yang sama. Padahal menurut ketentuan tidak bisa seperti itu tapi ya sudahlah aku ikhlas.
Akhir kata, mohon maaf kalau dalam cerita di novelku ini ada yang tidak berkenan di hati para pembaca.
Dan jangan lupa terus mampir di novel - novelku selanjutnya ya.. dan mohon dukungannya. Agar aku tetap semangat dalam menghasilkan karya yang lebih baik.
Wassalam...
__ADS_1
Winda Siregar