Menatap Senja

Menatap Senja
74


__ADS_3

Setelah keluar dari kantor polisi kami singgah ke rumah kontrakan Wati. Rumah yang sangat sederhana sekali dan sempit. Disana sudah menunggu Lia bersama adik - adiknya.


Aku pandangi dua anak paling kecil. Anak ke enam berusia satu setengah tahun dan saat ini masih ASI pada Mamaknya. Anak kelima berusia dua setengah tahun dan tubuhnya sangat kurus.


Tatapan mereka seperti bingung, pasti saat ini mereka tidak tau apa yang terjadi dengan Mamaknya saat ini.


"Kalian sudah makan?" tanyaku.


"Sudah Bude, tadi siang sudah. Makan malam yang belum" jawab Lia.


"Nanti kita makan malam di rumah nenek aja ya" jawabku.


"Sudah siap semua barang - barang adik - adik kamu Lia?" tanya Tari.


"Sudah bulek" jawab Lia.


"Ya sudah sini biar Om angkat" ujar Syahrul.


Syahrul dan Mas Fadil mengangkat tas plastik yang berisi pakaian adik - adiknya Lia.


"Sasa sekolah?" tanyaku pada anak Wati nomor empat.


"Sekolah Bude, kelas tiga. Tapi kan sekarang lagi pandemi" jawab Lia.


"Ada kok Bude nomor ibu guru di HP mamak" ujar Sasa.


"Ya sudah bawa buku - buku dan baju sekolah kamu" perintah Tari.


"Udah bulek" jawab Sasa.


"Ayo Lia kunci pintu rumahnya" perintah Mas Fadil.


Aku dan Tari menggendong dua anak Wati paling kecil dan membawa mereka naik ke mobil Sahrul. Kemudian kami singgah ke Rumah Sakit sebentar karena Mas Fadil ingin mengambil motor.


Kedua mertuaku keluar dari dalam rumah sakit. Mereka ingin melihat anak - anak Wati. Sudah lama mereka tidak bertemu dengan anak - anak Wati.

__ADS_1


Mamak mertua mencium mereka sambil menangis.


"Mak kalau Anggi boleh bertanya, apa rencana Mamak untuk mereka? Apa bisa kita membesarkan dan menyekolah kan mereka semua? Sementara kita sama - sama tau Mak keadaan kita semua belum ada yang mapan. Kami juga masih terseok - seok. Mas Fadil belum dapat kerja lagi. Kantor Anggi juga sedang terguncang. Paling kami hanya bisa bantu - bantu dikit. Begitu juga dengan adik - adik yang juga gak beda jauh. Sedangkan Dokter sudah berkata kalau Wati tidak akan bisa kembali pulih seperti semula. Kita juga masih butuh dana untuk pemulihan Wati?" tanyaku pada Mamak Mertua.


"Sudah Mak kalau keluarga Dana datang suruh Dana menjemput anak - anaknya. Dia lebih wajib membesarkan anak - anaknya. Dia orang tuanya, mana bisa lepas tanggung jawab. Kita fokus pemulihan Wati saja" sambut Mas Fadil.


"Tapi nanti Fad kalau mereka tinggal sama Dana, bagaimana hidup mereka?" tanya Mamak mertua.


"Ya itu terserah Dana Mak mau membesarkan anak - anaknya dengan cara apa. Harusnya dia berpikir sebagai orang tua jangan taunya cuma yang enak - enaknya saja. Hidup Wati begini juga karena dia kok. Tadi kan teman - teman Wati cerita kalau Wati sedang banyak pikiran. Itu juga mungkin yang membuat dia melamun di jalan sehingga tertabrak truk" jawab Mas Fadil.


"Ayah juga masih takut mengenai biaya rumah sakit. Semua belum jelas siapa yang menanggungnya. Tadi Ayah suruh Hari bertanya sudah berapa biayanya. Kata Hari sudah tujuh puluh lima juta. Dalam dua hari sudah segitu biaya Rumah Sakitnya. Dari mana uang kita membayarnya?" tanya Bapak mertua khawatir.


"Kalau masalah itu Ayah jangan khawatir semua sudah ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan" jawab Mas Fadil.


"Iya Yah, Anggi sudah cari - cari informasi juga. Semua akan di tanggung BPJS Ketenagakerjaan karena kecelakaan terjadi tepat setelah Wati pulang kerja dan tempat kejadian juga masih di lingkungan pabrik" sambungku.


"Tapi sebelum semua jelas Ayah masih takut sekali. Ayah hanya punya rumah yang kalau dijual mungkin juga tidak akan cukup membayar biaya pengobatan Wati. Bukan Ayah gak sayang sama Wati. Tapi kalau Ayah jual rumah kami semua akan tinggal dimana? Anak - anak Wati juga akan tinggal dimana? Kalau Ayah harus memilih terpaksa Ayah mengambil keputusan Wati kita bawa pulang" ungkap Bapak mertua pasrah.


"Jangan Pak, kalau Wati kita bawa pulang selesai semuanya. Semua selang harus di copot sementara Wati hidup saat ini bersandarkan dari semua selang - selang itu Pak" cegahku.


"Ya sudah Mak, Yah. Kalau begitu kami bawa saja anak - anak ini pulang ya. Biar nanti aku yang urus mereka sementara. Lia kan juga ada dan saat sekarang ini belum full sekolah. Kami bisa bergantian menjaga anak - anak ini" sambut Tari.


"Iya Tari Mamak belum bisa berfikir saat ini" jawab Mamak Mertua.


"Tapi jangan lupa Mak. Kalau Kakaknya Dana datang menjenguk suruh dia ketemu dengan kita semua. Kita harus bicarakan tentang anak - anak mereka. Jangan dia lari dari tanggung jawabnya" ujar Mas Fadil.


"Iya nanti kalau Kakaknya Dana datang akan Mamak suruh mereka datang ke rumah kita" sambut Mamak Mertua.


"Kalau Dana, Ayah yakin dia tidak akan berani datang. Mungkin kalau dia datang Ayah takut Ayah akan lepas kendali. Bisa - bisa Ayah pukul dia nanti" ujar Ayah mertua geram.


"Hati - hati yah jangan bertindak sembarangan. Sekarang semua bisa saja terjadi. Nanti dia bisa menuntut Ayah karena sudah melakukan tindakan kekerasan" ucap Tari mengingatkan.


"Ayah sama Mamak masih menunggu di sini? Ada yang ingin dibawakan besok? Biar nanti Mas Fadil yang bawa ke Rumah Sakit?" tanyaku.


"Bawakan saja baju Ayah dan Mamak ya Tari. Kasih ke Mas Fadil biar dia bawakan" perintah Mamak mertua.

__ADS_1


"Iya Mak" jawab Tari.


"Kalau begitu kami pulang ya Mak. Mamak dan Ayah yang kuat ya di sini dan hati - hati tetap sesuai protokol keset jaga jarak" pesanku.


"Iya Gi" sahut Ayah dan Mamak Mertua.


Tari dan Syahrul bersama anak - anak Wati berangkat naik mobil pulang ke rumah mertua sedangkan Aku dan Mas Fadil pulang dengan mobil.


Tiba - tiba ponselku bergetar tanda pesan masuk. Aku buka ponselku dan ku baca.


Mama


Gi barusan tadi Papa ada kirim uang untuk bantu - bantu biaya Wati selama di Rumah Sakit. Salam buat mertua kamu ya.


Arif


Kak, Tia juga tadi ada kirim uang dari kami dan juga mertua Arif. Mereka titip salam sama keluarga Mas Fadil.


Rahmat


Kak kami juga barusan kirim uang. Semoga bisa bermanfaat ya.


Diluar grup aku lihat ada pesan masuk dari Putri sepupuku yang tempat kerjanya tak jauh dari pabrik tempat Wati bekerja. Dia mendengar kecelakaan Wati dan mengumpulkan bantuan bersama teman - teman kantornya.


Putri


Kak ini ada sumbangan tak seberapa dari aku dan teman - teman kantor untuk Wati adiknya Mas Fadil. Semoga lekas sembuh.


"Alhamdulillah ya Allah... " ucapku.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2