Menatap Senja

Menatap Senja
56


__ADS_3

Paginya aku lihat Lia sudah bersiap - siap. Hatiku semakin geram melihatnya. Tanpa perlu dibangunin seperti setiap paginya dia sudah bangun dan mandi.


Dia memang benar - benar ingin pergi dari rumah ini.


"Makan dulu Lia, mungkin ini sarapan dan makan terakhir kamu di rumah Bude" jawabku dingin.


Lia segera keluar dari kamar.


"Bude masih berbaik hati pada kamu. Kamu kan bukan siapa - siapa Bude lagi. Jadi Bude anggap kamu tamu Bude hari ini. Pantang bagi Bude tamu datang tidak dipersilahkan makan" sambungku.


Aku dan keluarga kecilku sudah duduk di meja makan.


"Mbak Lia mau kemana?" tanya Rayyan bingung.


"Mulai hari ini Mbak Lia gak tinggal di rumah kita lagi. Dia pulang ke rumah nenek" jawab Mas Fadil.


"Jadi nanti siapa teman kami di rumah saat Ayah dan Bunda pergi kerja?" tanya Shifa.


"Nanti gantian ya Nak, kalau Bunda kerja Ayah yang jagain kalian" jawab Mas Fadil.


Aku lihat Lia makan tanpa beban. Tidak ada rasa segan atau takut. Kalau aku jadi dia mungkin sesuap nasi pun tak sanggup aku telan. Memang keras sekali hati anak ini.


"Ingat Lia, jangan kamu kira kamu akan lepas dari pantauan Bude. Karena Bude tidak mau kehilangan uang Bude lagi. Kamu kan punya hutang sama Bude jadi Bude harus pastikan kamu akan membayar hutang kamu. Bude siap menjadi orang yang paling kamu benci di dunia ini. Mungkin dengan kamu membenci Bude kamu bisa bersikap lebih baik, karena kamu ingin menunjukkan kepada Bude bahwa kamu bisa berhasil tanpa bantuan kami. A.. taaaau satu kemungkinan lain. Kamu merasa bebas hidup tanpa pengawan kami dan bersikap sesuka hati kamu. Kalau sampai itu terjadi dan hidup kamu hancur. Bersiaplah Bude yang akan menjadi orang pertama yang bertepuk tangan dihadapan kamu. Saat itu terjadi dengan senang hati Bude akan berkata, selamat datang kehidupan pahit" ancam ku.


Lia terdiam sesaat. Aku masih berharap dia mengerti perkataan aku dengan baik. Semoga dia memilih kemungkinan yang pertama. Biarlah dia membenciku.


Semoga kebenciannya memotivasi dia untuk hidup lebih baik. Tapi jika tidak yah itu memang jalan hidup yang dia pilih.


"Kamu harus berkaca pada kehidupan Mamak kamu. Karena melawan perkataan orang tua hidupnya jadi susah. Dalam kasus kamu, orang tua itu bukan hanya Mamak kamu. Pakde, Bude, Nenek, Kakek dan Bu Tari adalah orang tua kamu. Nanti kalau kembali ke rumah Nenek dengarkan perkataan Nenek, Kakek dan Bu Tari. Jangan pernah Pakde dengar kamu melawan ucapkan Nenek dan Kakek ya. Pakde tidak terima kamu berkata kasar atau membentak mereka. Mereka orang tua Pakde. Pakde yang anak kandung mereka saja tidak pernah melawan mereka. Jangan malah kamu yang membuat mereka susah. Kalau sampai hal itu terjadi, Pakde sendiri yang akan antar kamu ke rumah Bapak kamu. Biar kamu tinggal bersama Ibu tiri kamu. Atau ke rumah Mamak kamu juga boleh biar kamu dihajar sama Bapak tiri kamu. Tinggal pilih yang mana kamu mau" ancam Mas Fadil.


Lia hanya menundukkan wajahnya sambil meneruskan makannya.


Setelah Mas Fadil selesai makan dia bersiap - siap hendak pergi kerja. Aku membantu Mas Fadil menyiapkan semua kebutuhannya kerja seperti mantel, minum, jaket dan lainnya.


Lia keluar dari kamarnya sambil membawa tas dan pakaiannya. Kemudian berjalan ke teras depan rumah. Dia naik keatas boncengan Mas Fadil. Sebelum pergi dia mencium tanganku.


"Dengar semua pesan - pesan Bude. Bude harap kamu bisa bersikap dewasa" pesanku terakhir.

__ADS_1


"Iya Bude" jawabnya.


Setelah itu Mas Fadil dan Lia pergi meninggalkan rumah kami. Kini hanya tinggal aku dan anak - anak saja di rumah.


Tiba - tiba ponselku berdering. Aku melihat nama Mamaku yang tertera di layar handphone ku. Mama melakukan panggilan video.


"Assalamu'alaikum Gi, gimana kabar kalian?" sapa Mama.


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah sehat Ma. Mama dan Papa gimana keadaannya?" tanyaku balik.


"Alhamdulillah sehat. Kapan Shifa libur?" tanya Mama.


"Senin besok dia ujian Ma setelah itu sudah bisa libur. Ujian juga di rumah, nanti Anggi yang antar lembar jawabannya ke sekolah" jawabku.


"Mana mereka, Mama mau bicara" pinta Mamaku.


Aku memanggil Shifa dan Rayyan.


"Assalamu'alaikum Oma" sapa anak - anak dengan ceria.


"Wa'alaikumsalam. Lagi ngapain kalian?" tanya Mamaku.


"Oma.. Omaa... Mbak Lia sudah tidak tinggal di rumah ini lagi. Tadi dia diantar Ayah pulang ke rumah Nenek" lapor Rayyan.


"Lho kenapa begitu? Mana Bunda, nenek mau bicara" pinta Mamaku.


Anak-anak mengembalikan ponsel kepadaku.


"Ya Ma" sahutku.


"Apa benar Lia gak tinggal di rumah kalian lagi?" tanya Mama.


"Iya Ma, aku males didik dia lagi. Aku dan Mas Fadil sepakat untuk memulangkan dia ke rumah Mamak" jawabku.


"Jadi siapa yang jaga anak - anak saat kalian kerja?" tanya Mama.


"Ya gantian dulu Ma. Kalau aku kerja Mas Fadil yang jaga mereka" jawabku.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu setelah ujian kami akan jemput Shifa dan Rayyan. Biar mereka kami bawa saja ke kampung. Lagian kan Shifa sekolahnya daring. Bisa belajar dari kampung. Kamu siapkan saja semua barang - barang mereka. Minggu depan kami akan datang" ucap Mama.


"Horeeee nenek mau datang. Kamu akan pulang kampung" teriak anak - anak senang.


"Aku bicarakan dulu sama Mas Fadil ya Ma. Harus izin dia dulu, gak mungkin Mama bawa begitu saja anak - anak" jawabku.


"Iya, minta izin suami kamu. Tapi dia pasti akan setuju. Anak - anak juga kan sudah sering kami bawa ke kampung" sambut Mama.


"Tapi ini kan waktunya lama Ma. Kalau kami kangen gimana?" tanyaku pada Mama.


"Ya gantian kalian yang datang lihat anak - anak ke kampung" jawab Mama.


Aku pandangi kedua anakku.


"Kalian mau ke kampung?" tanyaku.


"Mau Bun.. dikampung enak. Sore - sore Opa akan bawa kami jalan - jalan naik mobil. Kalau Opa selesai panen kami pasti dibawa ke indomare* beli es krim" jawab Rayyan senang.


"Kakak?" tanyaku pada Shifa.


"Mmm.. mau Bun, gak apa - apa kan kalau kami ke kampung?" pinta Shifa.


"Minta izin Ayah dulu ya.. Kalau Ayah izinkan baru kalian boleh ikut Oma ke kampung" jawabku.


"Horeee... Ayah pasti akan kasih izin" teriak mereka.


Mereka tau kalau Ayahnya selalu mengabulkan setiap permintaan mereka. Terkadang aku takut melihat cara didik Mas Fadil.


Aku trauma dengan Lia ataupun Mamaknya, seperti itulah didikan Mamak dan Ayah mertuaku. Lemah terhadap kasih sayang kepada anak.


Akibatt sangat fatal. Sang anak salah mengartikan kasih sayangnya dan jadi manja. Mereka mendapatkan dunia yang lebih indah di luar rumah. Sehingga tidak betah kalau tinggal di rumah. Ingin bebas berkumpul bersama teman - temannya.


Ya Allah jadikan lah anak - anakku ini anak - anak yang soleh dan solehah. Pembelaku dunia dan akhirat. Doaku dalam hati.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2