Menatap Senja

Menatap Senja
90


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Bagaimana keadaan Wati, Tari?" tanyaku pada Tari.


"Alhamdulillah Mbak sudah mulai tenang" jawab Tari.


"Iyalah kalau anak - anaknya semua pada kerjasama saling membantu dan mendoakan semua pasti bisa berubah" ujarku.


"Apa yang berubah Mbak, Mamak semua yang kerjakan. Mamak harus marah dulu sama mereka baru mau mereka membantu Mamak kasih makan Mbak Wati, ganti pampers dan urus adik - adik mereka. Kemarin yang ustadz suruh aja gak ada yang mau ngerjain. Si Lia alasannya datang bulan. Kalau Hari dan Rajak apalagi mana bisa di harap, susah banget di suruh shalat" ungkap Tari.


Hatiku rasanya sangat marah mendengarnya.


"Gimana lah cara merubah mereka?" tanyaku antara marah dan kesal tapi bingung mau berbuat apa.


Di rumah ini aku hanya menantu, kalau aku kasih ide untuk memulangkan mereka semua pada Bapak kandung mereka. Aku punya kekuatan apa? Sementara Mamak mertua saja masih mau mengasuh dan menerima mereka di sini.


"Mamak sebenarnya sudah letih Mbak tapi mau gimana lagi. Mereka cucu - cucu Mamak. Katanya gak tega kalau mereka diusir dari rumah ini" ujar Tari.

__ADS_1


"Tapi kalau pada akhirnya mereka malah membuat Mamak sakit bagaimana? Mamak sudah tua, tenaganya sudah tak sekuat dulu. Kekuatan fisik dan mentalnya juga harus kita pikirkan. Gara - gara mereka Mamak sakit kan lebih fatal. Siapa coba yang mengurus Wati dan rumah ini? Saat ini kondisi di rumah ini sangat berat. Semua bergantung pada Mamak. Kalau Mamak sakit rusak semuanya" ucapku.


"Tapi Mamak gak mau memilih Mbak. Padahal terkadang aku lihat Mamak sudah sangat kerepotan. Bahkan Mamak marah - marah pun mereka tidak takut lagi. Kemarin Lia saja ditendang Yusuf (adik iparku paling kecil)" ungkap Tari.


"Lho kenapa?" tanyaku penasaran.


"Mamak minta tolong cucikan piring tapi dia pura - pura tidur. Yusuf melihat Mamak sangat kerepotan sementara tidak ada yang membantu. Aku kan sibuk urus loundry Mbak. Akhirnya Yusuf masuk ke kamar dan menendang Lia. Baru Lia buru - buru bangun dan pergi ke dapur bantuin Mamak" jawab Tari.


Aku menarik nafas panjang, dadaku berat sekali rasanya.


"Oh ya Allah.. harus kah pakai kekerasan mengajar mereka? mau jadi apa mereka besar nanti? Mereka belum tau beratnya hidup ini. Ah tidak.. tidak.. mereka sebenarnya sudah tau. Apalagi kalau mereka mau berkaca dengan hidup Mamaknya yang sulit karena dulu tidak mau mendengar nasehat orang tua. Apa mereka tidak berpikir dan bertekad. Aku tidak mau seperti Mamak, hidupku harus lebih baik dari Mamak?" tanyaku.


"Menyesal kemudian tidak ada guna Tari. Sebelum semua terjadi kita harus mencegahnya. Harusnya Lia berkaca pada hidup Mamaknya, hidup Tari dan hidup Hari yang putus sekolah. Wati putus sekolah karena menikah muda, Tari putus kuliah karena kondisi keuangan. Sedangkan Hari putus sekolah karena kenakalan remaja. Apa yang kalian alami sekarang? Semua sulit hidup kan? Harusnya lebih masih bersyukur dia masih bisa sekolah di SMK Negeri. Kalau dia mau benar - benar belajar dan dia punya keahlian. Setelah tamat sekolah dia bisa langsung bekerja dan buka usaha. Dia bisa langsung menghasilkan uang. Bukan kita minta dia balas budi, kita hanya berharap hidupnya berubah. Satu saja yang berhasil akan bisa membantu adik - adiknya kelak. Tapi membesarkan mereka benar - benar sangat berat. Tidak ada pengertian mereka sedikitpun. Padahal Lia dulu waktu tinggal di rumah Mbak sering lho Mbak ajak cerita tukar pikiran seperti ini. Mbak harap pola pikirnya terbuka dan dia merubah cara pandangnya lebih baik lagi tentang kehidupan. Tapi lihatlah sekarang dia malah semakin parah" ungkap ku kesal.


"Mbak tau, aku berulang kali kehilangan pakaian loundry. Bulak balik aku ganti rugi. Aku heran kenapa baju pada hilang. Ternyata tanpa sengaja aku mencari sesuatu di lemari Lia, satu persatu aku temukan baju - baju yang hilang. Pinter sekali dia Mbak melihat barang bagus dan bermerk" lapor Tari kesal.


"Astaghfirullah.. itu mencuri namanya Tari" ucapku terkejut.

__ADS_1


"Aku emosi Mbak, aku marah. Aku jambak rambutnya dia hanya diam. Aku ambil semua pakaian - pakaian itu dan aku pulangkan. Aku capek Mbak tinggal di rumah ini. Ingin rasanya aku pindah tapi usahaku masih pas - pasan. Gak cukup membayar rumah sewa. Terpaksa aku pertahankan tinggal di sini dengan keadaan seperti ini. Kadang kalau aku letih aku hanya menangis meminta Allah memberikan kesabaran dan rezeki untukku. Aku punya dua anak yatim yang harus aku besarkan. Aku harus kuat, harapanku tinggal anak - anak Mbak. Tapi membesarkan mereka dalam lingkungan seperti ini sangat berat. Anak - anak Wati ada enam di sini. Belum lagi Fitri anak Mas Ridwan yang di titip di sini. Ada sembilan orang anak, enam masih kecil - kecil Mbak. Setiap hari mereka bertengkar saling pukul, menangis dan berkelahi. Kata - kata anak Wati juga kotor - kotor akhirnya anak - anakku jadi terikut berkata kotor seperti mereka. Aku stress Mbak" ungkap Tari sambil menangis.


"Sabar Tari, pasrahkan semua pada Allah. Itu juga alasan Mbak mengirim anak - anak Mbak ke kampung di rumah Opa dan Omanya. Agar mereka lebih diperhatikan. Kalau mereka juga ikut dititip di sini gak bisa Mbak bayangkan adan sebelas orang anak yang tinggal di sini setiap harinya. Udah kayak panti asuhan. Akan sulit sekali kita mendidik mereka. Makanya Mbak tahan kan menahan rasa rindu, biarlah mereka sementara tinggal di kampung. Demi kebaikan semuanya" sambutku.


"Aku pasrah Mbak. Aku serahkan semua kepada Allah. Mudah - mudahan semua ini bisa kita lewati bersama - sama" ujar Tari.


"Aamiin" jawabku.


"Mudah - mudahan Wati keadaannya semakin membaik. Mamak juga sehat - sehat agar semuanya bisa dilalui. Mbak akan bantu setiap bulannya, kalau ad rezeki Mbak akan beli susu dan pampers anak - anak Wati. Maklumlah dulu ya.. Mas Fadil kan belum punya pekerjaan tetap. Keadaan perusahaan tempat Mbak bekerja juga sedang dalam keadaan tidak baik. Bersyukur sedikit - sedikit Mbak masih dapat tambahan dari novel dan jualan cake dan lainnya. Bisalah di sisihkan sebagian untuk membantu di rumah ini" ucapku.


"Iya Mbak, itu saja kami sudah sangat berterimakasih. Mbak dan keluarga Mbak juga sudah sangat banyak membantu kan waktu Wati di rumah sakit kemarin" sambut Tari.


"Itu bentuk kepedulian dan keprihatinan keluarga Tari. Namanya kita bersaudara sudah selayaknya saling bantu. Mari kita sama - sama kuat dan sama - sama sehat agar semua ini bisa kita lalui dengan baik" ajakku.


"Aamiin... " jawab Tari.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2