
Dua hari setelahnya...
"Gi tart kamu enak lho, anakku sangat suka. Biasanya dia kurang doyan makan kue seperti itu. Apalagi kalau pakai cream tart gitu. Tapi cream kamu lembut, enak dan tidak enek. Manisnya pas" puji teman kantorku yang memesan Tart kemarin.
"Alhamdulillah sukurlah kalau Mas dan keluarga suka" sambutku senang.
"Tuh dek.. apa aku bilang. Masakanmu enak - enak. Jadi percaya diri aja dan mulai merintis buka usaha. Siapa tau nanti perusahaan kita tutup kamu sudah punya usaha" sambut Mbak Tyas.
"Tapi Mbak.. aku sepertinya tidak bisa mendapat tekanan yang berat. Mbak kan tau kalau Mas Boy punya banyak permintaan dan ceriwis. Saat menghias tartnya aku sangat tertekan dan akhirnya lama banget baru selesai" jawabku.
"Itu biasanya dek, namanya kan kamu masih pemula. Wajar itu, pasti banyak kendala dan kamu belum tau trik - trik cepat menghias kue" sambut Mbak Tyas.
"Aku masih memikirkannya Mbak" jawabku.
*****
Beberapa hari kemudian tibalah jadwal aku berobat ke Dokter Jiwa. Seperti sebelumnya suamiku masih setia menemaniku. Aku lebih dulu tiba di Rumah Sakit mengambil nomor antrian.
Saat sedang menunggu panggilan di depan ruangan praktek Dokter Jiwa aku bertemu dengan seorang pria paruh baya.
"Bapak mau berobat ke Poli Jiwa juga?" tanyaku.
"Iya Nak. Kamu juga sama? Sakit apa?" tanya Bapak itu.
"Saya sakit asam lambung Pak tapi jadinya saya seperti kena serangan jantung. Tiba - tiba saya merasa sesak dan jantung saya berdetak sangat kencang. Bapak sakit apa?" Aku balik bertanya.
"Biasalah Nak, sakit karena pikiran" jawab pria itu.
"Sama Pak, saya juga seperti itu. Dokter bilang saya terkena serangan panik" sambutku.
"Kamu masih lumayan, Bapak sudah tingkat stres Nak. Sudah tiga tahun Bapak sangat sulit tidur" jawab pria itu.
"Oh ya...? Maaf boleh tau apa penyebabnya Pak?" tanyaku ingin tau.
Mungkin penyakit Bapak ini sama dengan yang aku rasakan.
"Saya dulu seorang kontraktor sukses, tiba - tiba usaha saya bangkrut, rumah saya berantarakan. Saya bercerai dengan istri saya dan anak - anak saya ikut dengan istri. Saya tinggal sendiri sampai saat ini" jawab pria itu.
"Bapak sudah lama berobat dengan Dokter ini?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Sudah 2 bulan. Saya cocok dengan dokter ini, dia orangnya baik, sabar dan lembut. Saya nyaman berobat dengan dia. Dengan dokter - dokter sebelumnya saya merasa kurang cocok" ungkapnya.
"Apa yang diresepkan Dokter pada Bapak sehingga bisa tidur?" tanyaku.
"Biasalah Nak obat tidur. Kamu gak dikasih itu?" tanya pria itu balik.
"Ada Pak, awal - awal berobat saya minum tapi sudah beberapa hari ini saya cari metode lain agar saya bisa tidur" jawabku.
"Dapat?" tanyanya ingin tau.
"Alhamdulillah dapat Pak. Sebelum tidur saya dengarkan murottal Alquran" jawabku.
"Syukurlah kamu sudah menemukan caranya. Untuk penyakit kita ini selain berobat dengan Dokter harus di iringi dengan ilmu agama. Karena penyakit kita ini sangat dekat dengan bisikan setan" nasehat Bapak itu.
"Benar juga ya Pak, saya sering berpikir yang tidak - tidak. Mungkin berita - berita di televisi seperti seorang ibu tega membunuh anak - anaknya karena sakit seperti kita ini ya Pak?" sambutku.
"Iya bisa jadi seperti itu. Mereka tidak kuat dan tidak didampingi orang - orang terdekat. Kamu ke sini sama siapa?" tanya Bapak itu.
"Sama suami Pak" jawabku.
"Masalah kamu karena masalah rumah tangga?" selidiknya.
"Nggak, karena masalah pekerjaan dan perekonomian salah satunya" ungkap ku.
"Sebentar lagi datang Pak, dia ke kantor dulu. Ni lagi di jalan menuju kemari" jawabku.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga kamu dan suami kuat menjalani cobaan rumah tangga ini. Karena dalam pernikahan cobaan itu bukan berasal dari orang ketiga saja. Tapi cobaan dari dalam seperti yang kamu alami ini bisa jadi membuat rumah tangga kamu juga hancur" nasehat pria paruh baya itu.
"Iya Pak" balasku.
"Bapak Pramono" panggil seorang perawatan.
"Saya Sus. Nak Bapak duluan ya" ucap pria itu pamit.
"Silahkan Pak" jawabku.
Pria itu bangkit dari tempat duduk dan berjalan masuk ke ruangan praktek Dokter. Aku menatapi punggung Bapak itu dengan penuh pemikiran yang berkecamuk dalam kepalaku. Aku menarik nafas panjang.
Ya Allah ternyata bukan aku saja yang mempunya pemikiran berat seperti ini. Tapi memang semua orang pasti punya masalah masing-masing. Berat tidaknya masalah yang dihadapi disesuaikan dengan kekuatan orang tersebut. Pikirku dalam hati.
__ADS_1
"Maaf ya Bun ayah telat sampainya. Tadi apel pagi dulu" ucap suamiku menyadarkanku dari lamunan.
"Ah iya Yah, gak apa - apa kok. Belum giliran Bunda juga" jawabku.
Tak lama kemudian pria yang tadi berbicara denganku keluar dari ruangan Dokter dan berjalan menghampiriku.
"Maaf Nak siapa nama kamu?" tanyanya.
"Saya Anggia Pak. Panggil saja Anggi" jawabku.
"Kamu mau ikut sebuah perkumpulan orang - orang yang mengalami penyakit yang sama dengan kita. Nanti di sana kita akan curhat dan saling menguatkan?" ajak Pria yang aku dengar tadi dipanggil Pramono oleh perawat.
Aku melirik suamiku.
"Kamu suaminya ya?" tanya Pak Pramono.
"Iya Pak, perkenalkan nama saya Fadil" jawab suamiku.
"Tadi saya dan Nak Anggi sudah cerita tentang penyakit masing - masing. Saya baru masuk ke dalam perkumpulan orang - orang yang bisa dibilang sudah stres dan dalam tahap pemilihan seperti kami ini. Bukan gila tapi masih stres. Jadi nanti setiap bulan akan bertemu di suatu tempat. Bisa di caget, bisa juga di tempat wisata yang tenang. Kami akan berkumpul dan saling bertukar cerita. Boleh bercerita apa saja, nanti kita akan saling sharing dan saling mendukung. Saya sudah enam bulan ikut dalam perkumpulan tersebut, rasanya sangat membantu. Saya sangat lega bertemu dengan orang - orang yang punya penyakit sama seperti saya. Saya tidak merasa sendiri dan kesepian. Nak Anggi erkadang kalau kita curhat dengan orang yang sehat mereka tidak mengerti dengan apa yang sedang kita rasakan. Bahkan mereka menganggap kita bodoh memikirkan hal yang aneh - aneh. Tapi kalau curhat dengan teman - teman group kita seperti menemukan teman senasib sepenanggungan. Orang - orang di dalam teridiri dari berbagai umur. Ada yang setua saya, sedang bahkan masih muda sepet Nak Anggi ini" ungkap Pak Pramono.
"Bagaimana Mas?" tanyaku pada suami.
"Kalau Bunda suka silahkan saja. Menurut ayah gak ada salahnya kan dicoba. Katanya mau sembuh, kita tempuh segala cara. Nanti akan ayah antar kamu setiap ada pertemuan" dukung suamiku.
"Nah suami kamu sudah setuju itu dan sudah memberi izin" sambut Pak Pramono.
"Baik Pak saya ikut" jawabku.
"Ini kartu nama saya, nanti hubungi saya ya" pintanya.
"Iya Pak" ucapku singkat.
Pak Pramono menepuk bahu suamiku.
"Kamu harus jadi suami yang kuat ya dan dengarkanlah semua keluhan istri kamu. Dia tidak meminta kamu untuk menyelesaikan semua masalahnya. Cukup dengarkan saja dan dukung dia. InsyaAllah dia akan sembuh" ucap Pak Pramono.
"Baik Pak" balas suamiku.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG