Menatap Senja

Menatap Senja
67


__ADS_3

Esok harinya kami bersiap - siap untuk menghadiri pernikahan Dara sepupuku. Kalau keluarga dekat biasanya pesta seperti ini memberikan sumbangan atau bantuan untuk pesta.


Aku menyimpang minuman yang biasa aku jual. Alhamdulillah banyak penggemarnya. Semua keluarga besar sangat menyukainya.


Walau ini keluarga dari Mama tapi banyak keluarga Papa yang diundang juga di acara ini. Saatnya bertegur sapa dengan keluarga yang aku temui dalam pesta.


Sebenarnya hal ini paling membuatku malas karena aku merasa tidak percaya diri. Biasanya aku bersama Mas Fadil sering duduk menepi tidak bergabung dengan keluarga lainnya.


Tapi kali ini kami keluarga inti bersama Papa dan adik - adikku duduk berdekatan. Sehingga setiap keluarga yang datang otomatis aku dan Mas Fadil juga ikutan berjabat tangan.


"Hai Anggi.... udah hebat sekarang ya" sapa salah seorang anak dari sepupu Papa.


"Hebat apa Mbak?" tanyaku bingung.


"Hebat kamu... pintar banget bisa jadi novelis. Mbak baca lho novel kamu dan bagus ceritanya" puji Kakak yang bernama Fitri.


"Oh itu ah biasa aja kak. Cuma ingin menulis sesuatu dan gak nyangka banyak yang baca" jawabku masih tidak percaya diri.


"Ih hebat itu, mana bisa semua orang punya bakat seperti kamu. Hebat Om Anggi bisa jadi penulis. Novelnya bagus - bagus ceritanya, aku sudah baca semua" ujar Mbak Fitri kepada Papa.


Aku hanya bisa tersenyum menanggapi pujian Mbak Fitri. Aku melihat wajah Papa tersenyum bersinar. Sudah lama aku tidak melihat seperti itu wajah Papa kepadaku.


Dulu saat aku sekolah ke kota Papa sangat bangga dan saat aku masuk perguruan tinggi negeri di kota Papa juga sangat bangga padaku.


Kini aku melihat lagi aura bangga dari wajah Papa. Hatiku sangat tersentuh. Aku tidak butuh pengakuan dari orang lain, aku hanya ingin Papa melihatku. Aku masih putrinya dulu yang bisa membanggakannya.


Ingin sekali saat itu aku memeluknya dan berkata.


Pa... aku masih memiliki sinar. Mungkin aku permata yang terlalu lama terpendam di dasar lumpur Pa. Tapi saat tanpa sadar karena tetesan hujan aku naik kepermukaan dan aku masih bersinar. Aku masih bisa membuat Papa bangga dengan caraku. Ucapku dalam hati.


Tak lama datang suadara yang lain.


"Anggi benar-benar multitalenta ya.. buat apa aja bisa. Masak oke kerja oke, buat novel juga ok" ujar Mbak Fina.


"Biasa aja Mbak" jawabku merendah.

__ADS_1


"Gimana sih kelebihan seperti itu kamu bilang biasa" ujarnya.


Aku hanya menjawa dengan senyumanmu.


"Bagaimana cara bacanya?" tanya nya lagi.


"Mbak download aplikasinya trus search ketik nama saya Anggia Permata" jawabku.


"Oke nanti di rumah Mbak coba ya" sambutnya.


"Jualan kamu juga laku. Banyak lagi yang dijual" ucap


Setelah itu saudara - saudaraku itu mencari tempat duduk mereka dan bersalaman dengan pengantin.


"Wah hebat kak ternyata banyak juga yang bacaik novel Kakak" puji Arif.


"Iya alhamdulillah... " sambut ku.


"Anak Papa ternyata sudah jadi penulis" ujar Papa ku sambil tersenyum.


Sebelum pulang Mbak Fitri kembali menghampiriku. Dia duduk tepat disampingku.


"Gi gimana ceritanya kok bisa kamu jadi penulis? Apa kamu sudah punya bakat dari dulu? " tanya Mbak Fitri.


"Gak tau ya Mbak, ada bakat atau tidak tapi sejak SMU aku memang suka membaca komik dan novel. Terkadang aku sering mampir ke Gramedi* sepulang sekolah untuk membaca komik di sana. Atau aku berlangganan sewa komik dan novel di tempat - tempat penyewaan buku - buku bacaan" jawabku.


"Apa yang membuat kamu tiba - tiba menulis?" tanyanya ingin tau, aku yakin dia penasaran denganku.


"Anak - anak kan di kampung kak sejak covid jadi di rumah sepi. Aku gak ada kerjaan, gak ada yang di urus. Kerja kan juga gak setiap hari. Jadi aku kembali lagi pada hobby lama membaca. Kemarin Anggi sakit Mbak. Asam lambung akut sampai ke dokter jiwa" ungkapku.


"Oh ya? Kenapa malah berobat ke dokter jiwa? Emang ada hubungannya?" tanya Mbak Fitri.


"Ada Mbak, karena pemicu sakit asam lambung adalah pikiran Kalau stres asam lambungnya pasti kumat" jawabku.


"Apalah yang kamu stres kan Gi" sambut Mbak Fitri.

__ADS_1


"Namanya hidup pasti ada aja Mbak yang dipikirkan dan dilalui. Mungkin aku tidak kuat dan akhirnya menyerang sisi lemah tubuhku. Ketepatan dulu waktu SMU dan Kuliah aku sering telat makan. Dan sejak itu aku memang udah sakit asam lambung. Sekarang jadi lebih parah karena dipicu pikiran" jelasku.


"Iya kondisi seperti sekarang ini kita parno gara - gara covid, jadi stres di rumah terus" ungkap Mbak Fitri.


Aku hanya tersenyum tidak mau melanjutkan ucapan aku tadi. Karena masalah keuangan rumah tanggaku tidak perlu semua orang tau.


"Iya Mbak, pesan dokter cari kegiatan yang Anggi suka. Makanya Anggi mulai membaca lagi. Tiba - tiba muncul ide untuk buat cerita dan alhamdulillah di dukung sama suami dan adik - adik. Mereka bantu promosiin dan semuanya terus berlanjut" ungkapku.


"Dapat hasil dari situ?" tanya Mbak Fitri.


"Alhamdulillah Mbak dapat. Lumayan buat tambah - tambahan gaji" jawabku.


"Hebat kamu, sudah kerja jualan lagi dan sekarang jadi penulis. Mbak salut banget sama kamu. Bangga rasanya punya saudara seperti kamu. Mbak kasih tau juga ke group teman - teman. Mbak suruh teman - teman baca novel kamu. Mbak bilang yang nulis ini adikku" ujar Mbak Fitri.


Aku sangat terkejut mendengar ucapan Mbak Anggi. Ternyata aku bukan hanya membuat Papa, Mama, suami dan adik - adikku bangga. Ada juga keluargaku yang bangga mempunyai saudara sepertiku. Aku sangat terharu mendengar perkataan Mbak Fitri.


Saudara dekat aja banyak yang menganggap aku sebelah mata. Tapi Mbak Fitri yang bisa di bilang hubungannya lebih jauh dengan tulusnya mau mempromosikan novel ku pada teman - temannya.


"Makasih ya Mbak Fitri udah mau promosiin novel ku" sambutku bahagia.


"Iya dek Mbak suka lihat saudara seperti kamu. Mbak sangat suka baca novel, suka salut lihat para penulis yang bisa mempunyai ide - ide bagus untuk membuat cerita yang sangat menarik. Termasuk novel kamu, Mbak suka semua novel - novel kamu" ujar Mbak Fitri.


"Anggi juga terinspirasi sama novel - novel yang bagus - bagus Mbak. Di ponsel Anggi banyak Anggi download berbagai aplikasi novel tapi kebanyakan pakai poin untuk bisa baca sampai tamat. Seratus ribu gak berasa bisa habis satu hari karena penasaran udah baca dari awal. Tapi sejak Anggi kenal aplikasi ini yang bisa baca gratis Anggi jadi betahnya di sini. Untuk nulis novel juga aplikasinya gak ribet" ungkapku.


"Iya deh, semangat terus ya Gi.. Mbak do'ain kamu sukses. Mbak pulang dulu ya Gi, tuh Mas Khoir sudah memanggil" ujar Mbak Fitri.


"Iya Mbak sekali lagi terimakasih ya Mbak.. " jawabku.


Kami saling berpelukan erat dan hatiku sangat senang sekali bertemu Mbak Fitri hari ini. Aku pandangi kepergiannya yang membuat rasa percaya diriku semakin bertambah.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2