
Hari ini Wati dibawa ke Rumah Sakit untuk rawat jalan. Dengan menggunakan ambulance yang disewa Mas Fadil dari salah satu klinik dekat rumah mertua.
Biaya ambulance antar jemput saja sudah kena lima ratus ribu rupiah karena jarak Rumah Sakit sangat jauh dari daerah rumah kami.
Mas Fadil, Hari dan Mamak mertua ikut mendampingi Wati.
"Dok seminggu ini keadaan adik saya tidak terkendali. Dia suka marah - marah dan memaki. Kami sudah berikan obat penenang tapi tidak lama pengaruhnya. Dia hanya bisa tidur dari jam sembilan malam sampai jam tiga subuh" ungkap Mas Fadil.
"Itu bisa terjadi karena efek samping operasi otak yang kami lakukan Pak. Ditambah lagi adik Bapak mendapatkan donor darah yang cukup banyak saat operasi. Bisa jadi karena efek sambung darah yang dia terima. Butuh adaptasi untuk menerima darah asing yang masuk ke dalam tubuhnya dalam jumlah yang cukup banyak. Saya harap Bapak dan keluarga bisa bersabar mengurus Ibu Wati. Sejauh ini keadaan kesehatannya semakin membaik" jawab Dokter setelah melakukan pemeriksaan pada Wati juga luka kakinya.
"Oh iya Dok kenapa bisa lama ya luka kakinya kering?" tanya Mas Fadil.
"Daya tahan tubuh orang beda - beda Pak. Kondisi fisik Ibu Wati juga sangat lemah. Kami akan berikan obat dan salep untuk mempercepat kering lukanya" ungkap Dokter.
"Kami minta obat penenang juga ya Dok agar adik saya setidaknya bisa tidur dengan tenang di malam hari" pinta Mas Fadil.
"Baik Pak, ini saya kasih resep obatnya" Dokter memberikan resep obat untuk Wati.
Mas Fadil langsung pergi ke apotek yang ada di dalam rumah sakit untuk menebus obat - obat Wati.
"Jangan lupa ya Bu bersihkan dahak di leher Ibu Wati setidaknya seminggu sekali" pesan perawat.
"Iya Suster" jawab Mamak mertua.
"Terimakasih.. terimakasih suster" ucap Wati berulang.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya Bu dan Ibu harus tetap semangat dan bersabar. Ibu hebat dan sangat kuat" sambut perawat memberikan semangat kepada Wati.
Setelah semua selesai Mas Fadil, Mamak Mertua dan Hari kembali membawa Wati masuk ke dalam mobil ambulance kemudian kembali pulang ke rumah Mamak mertua.
Aku, Tari, Lia dan anak - anak Wati lainnya menunggu dan menyambut kepulangan mereka. Setelah Wati diangkat kembali ke kamarnya semula. Aku lihat kondisinya sudah tenang.
"Gimana Mak keadaan Wati?" tanyaku pada Mamak mertua.
"Wati sedang tidur" jawab Mamak mertua.
"Apa penyebab Wati jadi tak terkendali?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Kata dokter itu pengaruh dari operasi otaknya ditambah lagi Wati banyak sekali menerima darah orang lain, jadi seperti sedang beradaptasi dengan tubuhnya" jelas Mas Fadil.
"Kita tidak tau, dokter juga tidak bisa memastikannya. Kita harus bersabar dan banyak - banyak berdoa. Kalian Lia, Rajak, Hari.. kalian bertiga sudah besar. Sudah mengerti keadaan saat ini sedangkan tiga adik kalian yang lain masih sangat kecil. Kalian doakan Mamak kalian ini semoga bisa pulih. Kalian juga tolong sama - sama bantu Nenek di sini mengurus Mamak kalian. Kan bisa berbagi tugas. Nenek dan Hari urus Mamak kadang bisa gantian sama Lia. Tapi kalau misalnya Hari yang urus Mamak. Lia dan Rajak urus adik - adik yang lain. Tidak mungkin semuanya Nenek yang mengerjakannya. Kalau sama - sama kita saling bantu pasti akan lebih ringan. Lagian inilah saatnya kalian berbakti kepada Mamak kalian. Walau mungkin dulu dia tidak seratus persen mengurus kalian dan walau bagaimanapun dulu sikapnya pada nenek, Mamak kalian tetap orang tua kalian yang harus kalian hormati. Kalau kalian tidak mau mengurusnya itu sama artinya kalian mau jadi anak durhaka. Ingat ridho orang tua itu adalah ridho Allah. Jangan sakiti orang tua kalian yakinlah kalau kalian perlakukan hidup Mamak kalian dengan baik, Allah akan balas untuk kehidupan kalian kelak" pesan Mas Fadil.
Hari, Lia dan Rajak tertunduk mendengarkan ucapan Mas Fadil. Entah apa yang sedang mereka pikirkan hanya mereka dan Allah yang tau.
"Kalian harus lebih mengerti, keadaan Mamak kalian sepet ini butuh biaya yang cukup besar. Jangan kalian fikir uang yang Nenek pegang itu sudah banyak sekali. Pakde dengar Hari minta beli motor, Lia dan Rajak minta HP baru?" tanya Mas Fadil.
Mereka bertiga terdiam dan masih menunduk. Aku sempat terkejut mendengar ucapan Mas Fadil. Aku sama sekali tidak menyangka dan tidak pernah mendengar cerita seperti ini. Apa iya anak - anak ini menuntut hal seperti pada Neneknya.
Tega benar, disaat orang tua masih sakit seperti ini punya permintaan sebesar itu? Astaghfirullah... aku mengelus dadaku.
"Karena kalian dengar nenek pegang uang kalian lebih sepuluh juta kalian langsung merasa berhak untuk memakainya dengan alasan kalian adalah anak Mamak kalian? Hebat sekali kalian berpikir seperti itu. Jangan ada lagi Pakde dengar perkataan seperti itu ya? Jangan ada kalian desak Nenek dan Kakek untuk memenuhi keinginan kalian. Siapa yang tidak terima berhadapan sama Pakde. Sedikitpun tidak ada niat kami ingin menguasai uang Mamak kalian. Kami tulus memikirkan bagaimana masa depan kalian nanti. Uang sekitar dua puluh juta tidak cukup untuk menghidupi dah menyekolahkan enam orang anak. Kalian jangan berpikiran untuk berfoya - foya" sambung Mas Fadil.
__ADS_1
"Astaghfirullah... " ucapku.
"Tega sekali kalian. Lihat Mamak kalian itu terbaring lemah tak berdaya. Melakukan apapun saat ini dia tidak sanggup. Kalian masih memikirkan untuk bermewah - mewah? Ya Allah.. Bude benar - benar tidak menyangka kalian punya niat seperti itu" sambutku.
"Hari juga suka main tangan pada Mamaknya Mas" lapor Tari.
"Kamu Hari?" Mas Fadil menunjuk jarinya ke arah Hari dengan geram.
"Jangan beraninya pada wanita lemah yang tak punya tenaga lagi. Bahkan untuk duduk saja dia tidak sanggup. Sini hadapi Pakde kalau berani. Kalau ingin main tangan ayo Pakde akan ladeni" ancam Mas Fadil.
"Pantas saja Wati menangis dan mengatakan kalau Hari ingin dia mati. Astaghfirullah Hari.. itu sudah perlakuan anak durhaka" ucapku semakin terkejut.
"Kalau kalian tidak bisa diatur di rumah ini, silahkan kalian keluar dari rumah ini. Pintu keluar terbuka lebar. Pakde bisa pastikan tidak akan ada yang akan menahan kalian. Tapi ingat, sekali kalian tinggalkan rumah ini jangan harap kalian bisa kembali lagi. Kalian mau jadi apa diluar sana Pakde tidak akan peduli lagi. Kali ini Pakde akan tindak tegas. Pakde akan tahan Kakek dan Nenek untuk tidak menahan kalian pergi. Silahkan pergi dari rumah ini. Mungkin itu lebih baik karena akan mengurangi beban di rumah ini. Sudah merasa hebat silahkan angkat kaki" ancam Mas Fadil lagi.
"Awas kalau Pakde dengar lagi kamu main tangan pada Mamak kamu. Pakde akan bawa kamu ke kantor polisi. Walau itu ibu kandungmu sendiri tapi satu pukulan saja sudah cukup untuk membawa kamu ditahan di penjara. Kalau sudah kuat silahkan coba. Jangan kalian pikir ini hanya ancaman di mulut saja. Ayo kita buktikan, kali ini Pakde akan tindak tegas" sambung Mas Fadil.
Hari semakin terdiam dan menundukkan kepalanya.
Ya Allah mau jadi apa anak - anak ini. Bagaimana cara mengatur dan mendidik mereka untuk jadi anak yang lebih baik lagi. Bantu kami ya Allah.. Doaku dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1