Menatap Senja

Menatap Senja
29


__ADS_3

"Mbaaaak... tadi Lia baru hubungi aku. Katanya motor Mbak hilang di indomare*" ucap adik iparku.


"Apa, motor Mbak hilang?" tanyaku terkejut.


Aku langsung lemas dan pucat.


"Bun..... " Panggil suamiku.


Aku terduduk lemas, langsung aku raba dadaku. Perutku mules, aku langsung pergi ke kamar mandi. Lututku masih bergetar.


Aku dengar suamiku yang gantian mengangkat teleponku. Dikamar mandi aku terus memegang dadaku dan menyelesaikan sakit perutku dengan cepat.


Hatiku berkata ini sudah mulai tanda - tandanya penyakit itu datang lagi. Tidak.. aku tidak mau.. aku sudah sembuh. Aku tidak mau dia datang lagi


Setelah keluar dari kamar mandi aku langsung rebahan di kamar.


"Bun.. bunda gak apa- apa? Ayah ke indomare* dulu ya mau susul Lia. Ayah mau dengar cerita secara langsung sama mau cek CCTV di indomare*. Shifa jaga bunda dulu ya.. " ucap suamiku.


"Iya yah.. Bunda masih lemas butuh waktu untuk terima semua ini" jawabku.


"Ayah pergi ya Bu, gak apa - apa kan Ayah tinggal" bujuk suamiku.


"Iya yah" jawabku.


Suamiku langsung pergi ke indomare* terdekat. Tiba - tiba aku ingat adikku Rahmat, dia punya banyak teman dan kenalan.


Aku langsung meraih ponselku dan menghubungi adikku.


"Assalamu'alaikum Mbak" ucapnya lebih dulu.


"Wa'alaikumsalam Mat. Kamu lagi dimana?" tanyaku.


"Lagi di jalan pulang?" jawabnya.


"Sendirian?" tanyaku lagi. Kalau adik iparku ada pasti mereka buru - buru pulang.


"Iya sendiri, kenapa Kak?" tanya adikku.


Aku langsung mengeluarkan emosiku yang dari tadi aku tahan.


"Mat motor Kakak hilang" ungkapku sambil menangis.


"Lho kok bisa, gimana ceritanya?" tanya nya terkejut.


"Tadi Lia pinjam motor mau beli masker ke indomare* terdekat, gak tau gimana ceritanya tiba - tiba dapat telepon dari Tari kalau motornya hilang di indomare*. Ada teman polisi gak? Kakak mau buat laporan malam ini juga" ucapku.


"Mas Fadil mana?" tanya Adikku.

__ADS_1


"Lagi nyusul Lia ke Indomare*" jawabku sambil terisak.


"Ada, ya sudah kalau begitu Kakak tenang dulu, Rahmat ke rumah Kakak langsung" balas adikku.


"Iya, Kakak tunggu" balasku.


Aku langsung menutup telepon dan menangis terisak. Kedua anak - anakku ikut menangis karena melihat aku menangis.


Motor yang baru beberapa bulan aku beli, itu juga karena kemarin kami gak bayar rumah kontrakan, meneruskan rumah kontrakan adikku.


Saat seperti ini terus terang aku begitu gamang menjalani hari esok. Tabunganku sangat menipis, suami berhenti kerja dan sekarang motorku hilang. Semua terjadi hanya dalam hitungan minggu.


Ya Allah rencana apa lagi yang KAU gariskan untukku? tanyaku dalam hati.


Tiba - tiba ponselku berdering lagi. Kali ini Arif yang menghubungiku.


"Assalamu'alaikum Rif.. " aku masih menangis.


"Kak, barusan Mas Rahmat telepon. Katanya motor Kakak hilang ya dibawa Lia ke Indomare*?" tanya adik bungsuku khawatir.


"Iya Rif. Huhuhu... Kakak harus gimana?" tanyaku bingung.


"Kakak dimana sekarang?" tanya Arif.


"Di rumah, Mas Fadil nyusul ke indomaret*" jawabku.


"Sama anak - anak. Sekarang Kakak lagi tiduran, lemas dan keringat dingin" jawabku lemah.


"Kak tenangkan diri ya, aku akan ke sana. Ini lagi dalam perjalan pulang dari praktek. Kakak sabar, harta itu bisa dicari tapi kesehatan yang paling penting. Kalau Kakak gak sehat gimana mau mencari rezeki. Semua pasti ada hikmahnya" pesan adikku.


"Iya, Kakak mengerti" balasku.


Telepon terputus, aku berjalan pelan - pelan ke dapur untuk mengambil air hangat kemudian meminumnya. Aku ingin sekali tidak memikirkan semuanya tapi rasanya tidak mungkin.


Satu jam berlaku rasaku benar - benar sebuah penyiksaan. Aku hanya tiduran sambil menunggu kabar. Tak lama kemudian Mas Fadil datang bersama Lia dan mertuaku. Aku juga melihat adik - adikku datang. Mungkin mereka sudah saling berkomunikasi sebelumnya.


Aku melihat Lia menangis masuk ke dalam rumah karena rupanya mertua perempuanku sudah memarahinya.


"Cepat minta maaf sama Bude. Tadi sebelum pergi Mamak sudah melarang karena sudah malam tapi dia gak mau terima" ucap mertuaku merasa bersalah.


Lia adalah anak adik suamiku. Ibu dan Bapak Lia sudah bercerai dan masing - masing sudah menikah lagi, sehingga dari kecil Lia bersama dua saudaranya tinggal dan dibesarkan oleh mertuaku.


Kehidupan yang broken home karena kurang kasih sayang orang tua membuat anak - anakku memang sulit diatur. Sebenarnya sebelumny aku juga berat memberi izin tapi karena alasannya tadi untuk membeli perlengkapan sekolah makanya aku izinkan.


Lia masih menangis menyesali semuanya. Sedangkan aku tidak tau harus berbuat apa dengan Lia. Dia ponakan suami keadaan orang tuanya juga susah tidak mungkin kalau aku minta ganti motorku.


"Sudahkah Kak ikhlaskan saja. Aku tadi sudah menghubungi temanku yang sebelumnya dia kapolsek daerah sini tapi sudah pindah ke luar kota. Ternyata daerah sini memang sangat rawan pencurian. Dia sudah membantu membuat laporan, kita tinggal menunggu kabar" ucap Rahmat.

__ADS_1


Arif segera menghampiriku dan melihat kondisiku yang masih lemas dan berkeringat.


"Kaaak tenang, pasrahkan semua pada Allah. Kalau memang masih rezeki pasti akan kembali" pesan Arif.


"Papa Mama tau? Kalian sudah cerita pada mereka?" tanyaku.


Aku khawatir dengan keadaan Orang tuaku. Karena Papa punya penyakit jantung dan sudah pernah pasang ring. Aku ingat dulu waktu Arif kuliah di luar kota dia kehilangan motor, Papaku sangat shock. Aku takut dia akan mengalami hal yang sama.


"Belum Papa belum tau, kami belum mengabarinya" jawab Arif.


"Sebaiknya gak usah kabari Papa. Nanti dia terkejut dan shock. Kita tidak tau apa yang terjadi selanjutnya" sambut Rahmat.


"Jadi nanti kalau mereka tau kenapa motor kakak gak ada lagi gimana?" tanyaku.


Aku melihat kedua mertuaku juga merasa bersalah. Memang keadaan keluargaku lebih berada dibanding mertua. Mereka sangat sungkan dengan orang tuaku. Apalagi peristiwa ini bisa dibilang dari pihak suami yang melakukannya.


Mereka takut Papaku marah, apalagi saat ini suamiku sedang tidak kerja. Kami sudah susah malah diberatkan lagi dengan peristiwa ini.


"Sudah Bun.. nanti kita bilang aja motornya dijual buat modal usaha. Ayah kan mau buka usaha" ujar suamiku.


"Iya lebih baik begitu saja" sambut Rahmat dan Arif.


Sampai saat ini Lia tidak berani mendekatiku. Mungkin dia takut aku marah dan memukulnya. Kalau mengikuti amarahku rasanya ingin sekali aku melakukannya. Tapi untuk apa aku lakukan semua itu.


Toh motorku juga tidak akan kembali dan semua sudah terjadi. Penyesalan tidak ada gunanya.


"Kalau kami satu motor gimana nanti anak - anak di rumah. Kalau aku kerja diantar Mas Fadil, anak - anak hanya tinggal berdua di rumah?" tanyaku.


Aku tidak mau menitipkan anak - anak di rumah mertua setiap hari karena disana banyak sekali anak - anak adik ipar yang juga tinggal bersama mereka.


Menurutku sangat tidak kondusif terhadap perkembangan mereka. Karena ponakan - ponakan disana hidupnya menurutku sedikit kasar. Suka bertengkar dan berkata kotor. Aku tidak mau anak - anakku terikut dan terbiasa berkata seperti itu juga.


Suamiku mengerti kekhawatiranku karena aku sudah pernah mengatakan keberatanku saat kami pindah ke rumah ini. Dulu di rumah lama selalu mertua yang datang ke rumahku untuk menjaga anak - anakku tapi sekarang karena rumah kami dekat anak - anak yang di suruh titip ke rumah mereka.


Ketepatan saat kami pindah suami tidak kerja dan Shifa libur karena wabah pandemi. Jadi sementara memang masalah anak - anak belum jadi persoalan.


"Ya sudah kalau nanti kamu kerja diantar Fadil biar Lia yang jaga anak - anak di rumah. Ini hukuman buat dia, kan dia yang sudah membuat kalian jadi susah" ucap mertuaku.


"Ya sudah sementara masalah selesai. Kakak yang sabar ya.. ingat apa yang aku katakan kesehatan Kakak lebih penting. Walau ikhlas itu berat tapi memang harus kita lakukan. Kalau memang motor itu masih rezeki Kakak yakinlah pasti akan kembali" pesan Rahmat.


"Iya" sahutku.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2