
Sebelum pergi ke kantor aku singgah ke rumah mertua untuk melihat keadaan Wati pagi ini. Ternyata dia sudah bangun dan sudah menjerit - jerit.
"Ya Allah apa obat penenang nya gak mempan?" tanyaku terkejut.
"Dia cuma tidur dari jam sembilan sampai jam Iima pagi Mbak. Setelah itu seperti inilah dia dari pagi" jawab Tari.
Aku mencoba untuk kuat dan menyapanya. Aku mendorong pintu kamar nya.
"Assalamu'alaikum Wati" sapaku sambil membuka pintu kamar
"Mbaaak... Mbakku.. tolong aku Mbaaak. Tolong.. mereka mau aku mati" ucap Wati sambil menangis
"Siapa yang mau kamu mati Wat?" Tanyaku lembut.
"Hari... dia marah - marah padaku" jawab Wati.
"Mana ada yang mau kamu mati. Kami berjuang disini dan selalu berdoa kamu sembuh saat kamu masih di rumah sakit. Sekarang kamu sudah pulang ke rumah kami sangat senang sekali. Gak ada yang mau kamu mati. Kamu sabar ya, kalau kamu sabar dan tenang kami juga akan tenang juga mengurus kamu" nasehatku.
Dalam hati aku berdoa semoga Wati bisa mendengar ucapanku dan tidak marah.
"Iya Mbak.. maaf.. maaf.. maaf.. maaaf... " ucap Wati berulang - ulang.
"Hari anak durhaka tolong aku Mbak" ucapnya lagi.
"Sssst... Hari kan butuh istirahat juga. kita semua saling sabar. Kamu kalau minta sesuatu ditahan sebentaaaar saja. Kalau mau makan, minum kan harus diambil atau dibuat dulu. Gak bisa langsung jadi semua butuh proses. Jadi kamu harus banyak bersabar" ucapku lagi.
"Iya Mbaaak" jawab Wati patuh.
"Dan gak boleh marah - marah sama Mamak. Apalagi memamit, berdosa" nasehatku.
"Anak durhaka ya Mbak?" tanya Wati.
"Nah itu kamu tau" jawabku.
"Aku lapar Mbak" ungkap Wati.
"Iya Mbak tau tapi tangan Mamak dua. Mamak harus masak, urus kamu. Urus anak - anak kamu belum nyuci, belanja dan lainnya. Sabar ya, semu ini cobaan. Kalau lapar kamu ngaji aja biar gak terlalu lapar" ucapku.
"Gitu ya Mbak?" tanya Wati.
"Iya.. penglihatan kamu masih bagus kan?" tanyaku.
"Bagus, aku cuma gak bisa duduk dan jalan. Tanganku juga di ikat, tolong bukain Mbak" rengek Wati.
"Sabar ya ini cuma sementara nanti kalau kaki kamu sudah kering dan sembuh pasti di buka Mamak ikatannya. Kalau sekarang, kamu akan garuk lukanya bisa berbahaya. Kalau infeksi gimana?" tanyaku.
Aku mencoba memancing Wati untuk berpikir sampai sejauh mana dia mengerti kata - kataku.
"Kalau infeksi nanti aku demam ya Mbak?" tanya Wati.
__ADS_1
Alhamdulillah berarti dia mengerti. ucapku bersyukur dalam hati.
"Iya, kalau kamu demam kamu susah sembuh. Sabar ya, kalau capek doa aja dalam hati agar Allah angkat penyakit kamu" jawabku.
Wati melirik dan memperhatikan aku.
"Mbak mau kerja ya?" tanya nya.
"Iya" jawabku.
"Hati - hati ya Mbak. Sudah makan?" tanya Wati.
"Sudah tadi di rumah" jawabku.
"Aku belum Mbak, Mamak belum masak" ungkapnya.
Itulah keadaan Wati saat ini, dia suka mengulang - ulang cerita dan bertanya.
"Tanganku diikat Mamak Mbak, sakit" lapor nya lagi.
"Iya sementara sabar ya" jawabku.
"Kamu bisa baca kan?" tanyaku.
"Bisa Mbak" jawab Wati.
"Kalau Mbak kasih Al-Quran mau?" tawarku.
Ternyata dia mengerti tentang kebersihan.
"Allah Maha Tau Wat, saat ini Wati kan memang belum bisa turun dari tempat tidur. Tiap hari walau gak mandi kan tetap di lap Mamak. Pampers di ganti, shalat aja bertayamum. Tau kan tayamum?" pancingku.
"Tau, pakai debu dinding kan Mbak?" tanya Wati balik.
"Iya, dari pada kamu bicara kotor, Allah marah. Itu pantang dan berdosa. Lebih baik kamu ngaji, shalat dan berdoa kepada Allah. Doa orang - orang seperti kamu saat ini mustajab lho. Yakinlah Allah pasti dengar" pesanku.
"Iya ya Mbak.. Mbak mau kerja?" tanya nya berulang.
"Iya, udah dulu ya Mbak sudah telat. Mbak pergi ya Wat, Assalamu'alaikum" pamitku.
"Hati - hati Mbak, Wa'alaikumsalam" jawab Wati.
Aku segera keluar kamar sebelum dia bertanya berulang lagi.
"Bagus kok Tar dia. Mbak tanya dia jawab dan nyambung" ucapku pada Tari.
"Iya nyambung Mbak, tapi ya gitu. Sama Mbak mungkin dia segan kalau sama kami dia suka marah - marah dah bicara kotor" jawab Tari.
"Kenapa begitu ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Mungkin dalam memori Wati, Bunda itu baik. Dari dulu dia kan paling segan dah takut sama Bunda" jawab Mas Fadil.
Yah memang aku tidak pernah bicara kasar kepada Wati, walau dulu aku sangat kesal kepadanya. Paling aku cuma bilang sama Mas Fadil biar Mas Fadil yang bilang ke adiknya.
Aku sangat menjaga hubungan ipar diantara kami. Karena dalam rumah tangga hubungan beripar sangat sering sekali memanas dan ujung - ujungnya hubungan pasti akan tidak baik.
Kalau Mas Fadil dan Wati bertengkar mereka kan bersaudara. Emosi sesaat mereka akan bertengkar tapi kalau sudah hilang rasa marah mereka pasti akan berbaikan lagi. Tapi kalau sampai kami yang bertengkar akan sangat sulit bisa kembali seperti semula.
"Mudah - mudahan dia sabar ya. Kapan waktu kontrol ke Rumah Sakit?" tanyaku.
"Kamis ini Mbak, oh iya Mas, Mamak minta tolong carikan ambulance untuk bawa Wati ke Rumah Sakit. Dia gak bisa dibawa naik mobil karena luka kakinya masih basar gak mungkin kakinya di lipat" ucap Tari.
"Ya sudah nanti Mas coba cari - cari. Masih ada waktu tiga hari lagi" jawab Mas Fadil.
"Ya sudah yuk Yah kita pergi. Nanti Bunda telat sampai kantor" ajakku.
Aku menghampiri Mamak mertua yang sedang memasak di dapur.
"Mak kami pergi ya" ucapku pada Mamak mertua.
"Eh iya Gitu hati - hati" jawab Mamak mertua.
Dia berjalan mengantar aku sampai depan.
"Dil tolong carikan ambulance untuk bawa Wati ke Rumah Sakit ya. Nanti Mamak kasih uangnya" perintah Mamak Mertua.
"Iya Mak nanti aku cari" jawab Mas Fadil.
"Nanti ceritakan semua Mak pada dokternya bagaimana keadaan Wati. Dia sering ngamuk malam - malam. Sering berkata kasar dan kotor. Minta obat yang bisa menenangkan Wati" pesanku pada Mamak mertua.
"Iya Mamak akan bilang. Besok perawat juga harus di cari Dil untuk ganti perban kaki Wati" sambut Mamak mertua.
"Udah Mak, aku udah dapat perawatnya. Nanti dia akan datang ke sini dan ganti perban Wati" jawab Mas Fadil.
"Syukurlah ada kalian, kalau tidak Mamak gak tau bagaimana mengurus Wati" ungkap Mertuaku.
"Oh iya Mak, uang dari keluarga Anggi masih banyak sama Anggi. Mau Anggi pulangkan ya" ucapku.
"Gak usah Gi, kamu pegang aja. Nanti belikan aja pampers Wati, pampers anak - anaknya dan susu" jawab mertua.
"Baiklah nanti pulang kerja Anggi belikan ya Mak. Kami pergi dulu Mak. Assalamu'alaikum" ucapku pamit.
"Wa'alaikumsalam" jawab Mamak mertua.
Aku dan Mas Fadil keluar dari rumah Mamak dan berangkat ke kantor.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG