
Aku mulai menulis novel yang kedua. Kali ini kisahnya lebih ringan dan lucu. Tentang kisah anak remaja hingga akhirnya mereka dewasa dan menikah.
Tiba - tiba juga aku dapat ide untuk menulis cerita yang lucu. Novelku yang ini juga mulai ada pembacanya. Jumlah pendapatanku yang semula hanya ribuan setiap hari kini meningkat diatas sepuluh ribu.
Tapi masih sangat jauh dari syarat penarikan yang bisa aku ambil. Tak apalah toh tujuanku awal adalah untuk mencari kegiatan yang bermanfaat bisa mengisi kekosongan dan kesepianku di rumah.
Aku melakukan update bab setiap harinya dan novel kedua ku juga tamat hanya dalam waktu satu bulan. Novel ini juga mendapatkan bonus karya baru saat novelku tamat.
Pendapatanku bertambah tapi belum sampai satu juta. Masih jauh dari syarat penarikan yang bisa aku lakukan. Aku tidak patah semangat dan terus berusaha menghasilkan karya terbaru.
"Kak nonton film apa?" tanyaku pada Mbak Tyas teman kantorku.
Setiap waktu istirahat aku sering melihatnya menonton sebuah film. Dimana pemeran utamanya sangat tampan dan sang wanitanya juga sangat cantik.
"Film Turki dek. Filmnya bagus, aku suka. Dan setelah aku cari - cari informasinya film ini banyak memenangkan nominasi perfilman di sana" jawab Mbak Tyas.
"Apa judulnya Mbak?" tanyaku penasaran.
"Judulnya XXX" ungkap Mbak Tyas.
"Dimana nontonnya?" tanyaku.
"Aku coba cari di youtub* tapi tidak ada cerita yang lengkap. Akhirnya aku ikut group film itu di Faceboo* dan aku menemukan linknya. Hanya saja teksnya bahasa Inggris" jawab Mbak Tyas.
"Ah males deh Mbak nontonnya. Gak ngerti" sambut ku.
"Kalau filmkan sedikit - sedikit dimengerti dek dari feeling dan sedikit dari teksnya. Coba aja, kamu kan pintar bahasa Inggris" ujar Mbak Tyas.
"Nggak Mbak aku gak pinter. Lebih hebat Mbak deh" tolakku.
"Udah kamu pasti ngerti. Kamu itu pintar dek, tonton deh filmnya bagus siapa tau bisa jadi inspirasi kamu untuk tulis novel" sambung Mbak Tyas.
Iya juga ya, pikirku. Aku mulai mencari seperti yang Mbak Tyas ajarkan. Karena penasaran aku mulai menonton film itu. Walau banyak kata - kata dalam teks yang tidak aku mengerti tapi secara garis besar filmnya aku mengerti dan bisa mengikutinya.
Filmnya memang sangat bagus kisah percintaan dan persaudaraan yang sangat kental. Aku sampai menangis saat menonton film itu.
Walau episode nya panjang dan setiap episode durasinya panjang bisa sampai dua jam, film itu bisa aku selesaikan dalam waktu tiga hari.
Aku bahkan sampai begadang karena penasaran dengan film itu. Mas Fadil sampai heran melihat aku. Hanya saja dia sudah mengerti dengan keadaanku.
Kalau sesuatu yang aku suka dia tidak melarangnya lagi. Paling Mas Fadil hanya mengingatkan dan memberi nasehat agar aku tidak lupa makan dan istirahat.
Agar penyakitku tidak kambuh dan akhirnya aku sakit lagi. Kebiasaanku memang sering seperti itu. Aku jadi lupa makan dan begadang.
__ADS_1
Nonton drama Korea saja aku sering seperti itu. Mas Fadil sering mengingatkanku. Cuma aku saja yang masih sering bandel.
Akhirnya fimnya dapat aku selesaikan sampai akhir. Benar kata Mbak Tyas filmnya sangat bagus. Banyak manfaat dan pelajaran yang aku dapatkan dari film itu.
Bukan hanya kisah asmaranya yang membuat aku terhibur tapi kisah persaudaraannya membuat aku menangis karena kasih sayang antara saudara di film itu sangat luar biasa.
Aku jadi ingat dengan adik - adikku. Aku bersyukur berada dalam keluarga yang lengkap dan penuh kehangatan. Kisah di film itu sangat tragis, mereka bersaudara terpisah karena ada orang jahat yang punya niat buruk pada mereka.
Setelah selesai menonton film turki itu aku mendapatkan ide untuk membuat novel. Tentu saja ceritanya tidak sama hanya saja profile pemeran utamanya mirip.
Cerita tentang seorang pria dingin yang kurang kasih sayang keluarga tapi sebenarnya hatinya terluka karena itu. Novel ke tiga ini aku mulai mempelajari cara mempromosikan novelku.
Tapi karena novel ke tiga ini masih on going banyak pembaca yang mampir juga ke novel ke duaku yang sudah tamat. Alhasil novel ke duaku ikutan meledak.
Dan yang membuat aku sangat senang novel ke tigaku memenangkan lomba novel karya baru di bulan itu. Aku mendapatkan bonus sebesar tiga ratus ribu.
Aku mulai beranikan diri posting di sosial mediaku dan cerita ke teman - teman. Novelku meledak, bahkan aku pernah mendapatkan honor dua ratus ribu untuk satu hari.
Aku mengirim prestasi ku ini ke group keluarga inti. Adik - adikku sangat senang mendengarnya dan mereka terus mendukungku.
"Anggi katanya novel kamu dapat juara ya" ucap Mama yang khusus menghubungiku untuk menanyakan itu.
"Iya Ma alhamdulillah, dari mana Mama tau? Dari group keluarga inti kita?" tanyaku pada Mama.
"Bukan, tadi Mama ketemu saudara kita di pesta. Mereka cerita kalau kamu sudah jadi penulis hebat. Novel kamu dapat juara satu" lapor Mama.
"Novelku gak ikut lomba kok Ma. Hanya setiap bulan ada berbagai reward yang dibuat. Alhamdulillah novelku bulan ini mendapat juara satu untuk novel baru terbit" jawabku menjelaskan.
"Dapat hadiah?" tanya Mama penasaran.
"Alhamdulillah Maa dapat. Tapi belum bisa diambil. Nanti awal bulan baru bisa Ma" jawabku.
"Disimpan uangnya, kan lumayan bisa untuk tambah - tambah uang belanja kalian" pesan Mama.
"Iya Ma, alhamdulillah banget rezeki datang dari mana saja" sambutku.
"Ya sudah yang semangat ya, semoga novel kamu lebih terkenal lagi" doa Mama.
"Aamiin... makasih ya Ma" balasku.
Aku sangat gembira sekali, ternyata berita novelku sudah sampai di keluargaku di lampung. Aku tidak menyangka dapat sambutan seperti itu di kampung.
Satu bulan kemudian untuk pertama kalinya aku bisa melakukan penarikan honor pertamaku dari menulis. Jumlahnya lumayan empat juta lebih. Awalnya aku sedikit kecewa karena aku kira saat awal bulan melakukan penarikan tidak lama kemudian uangnya akan di transfer.
__ADS_1
Tapi ternyata masih butuh proses lagi dan prosesnya lumayan lama. Akhir bulan baru uangnya di transfer. Padahal itu honor pertama setelah empat bulan jadi penulis dan novelku sudah tiga.
Akhir pekan aku mendapat undangan makan di luar oleh adik - adikku. Aku dan Mas Fadil datang ke sebuah mall di kotaku.
Dua adik - adikku sudah berkumpul bersama keluarga mereka masing - masing. Kami yang terakhir tiba.
"Gimana nih udah bisa donk dapat traktiran honor pertama" goda Arif.
Aku tersenyum malu.
"Belum dulu ya dek, uangnya mau Kakak pakai untuk beli ponsel baru. Soalnya ponsel lama batre nya sudah lemah. Itu juga dari pemberian Rahmat. Ponsel lamanya Rahmat" jawabku malu.
Sebenarnya aku ingin berbagi dengan keluargaku tapi aku masih butuh barang yang sangat penting untuk mendukung pekerjaan baruku sebagai seorang penulis.
"Bagus itu Kak, Kakak memang sangat membutuhkan ponsel baru. Karena itu adalah alat terpenting dalam menjalankan pekerjaan baru kakak" sambut Rahmat.
"Ponsel apa saat ini yang bagus Mat?" tanya Mas Fadil.
Rahmat kan bekerja di Perusahaan Telekomunikasi tentu pengetahuannya tentang ponsel pasti lebih unggul dari kami.
"Budgetnya berapa?" tanya Rahmat.
"Honor pertama kakak sekitar empat juta lebih sedikit. Tapi kalau bisa jangan habis semua. Soalnya Kakak ada butuh uang untuk keperluan lain" jawabku.
"Jadi berapa budget hpnya?" tanya Arif.
"Tiga juta setengah aja. Kakak cuma butuh ponsel yang memorinya besar dan batre nya tahan lama. Model, merk dan tipenya sih bebas" jawabku.
"Nanti kami bantu cari Kak" sambut Rahmat.
Setelah makan, istri Rahmat dan Arif pergi berbelanja sedangkan aku bersama Mas Fadil, Rahmat dan Arif pergi ke counter ponsel untuk mencari ponsel baru.
Setelah memilih dan membandingkan beberapa ponsel akhirnya Rahmat dsb Arif merekomendasikan sebuah ponsel dengan harga empat juta seratus. Memang ponsel tersebut persis seperti yang aku butuhkan tapi danaku tidak cukup.
"Bulan depan aja deh Mat. Uang Kakak tidak cukup" tolakku.
Rahmat dan Arif saling lirik.
"Beli aja Kak, nanti kami akan tambahin dananya" ucap Rahmat.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG