
"Jangan mau damai uang Pak, Bapak ini orang kaya cuma pura - pura susah aja. Dia punya toko buah di depan sana. Memang gayanya seperti ini pelit dan pura - pura susah tapi sombong sekali orangnya. Sudah jelas tadi dia yang salah. Aku yakin dia tidak punya SIM dan tidak ada surat - surat becaknya. Dibawa ke kantor polisi pasti dia kalah" ujar pria itu.
"Oh ya Allah.. " sahutku.
"Benar Bu, pura - pura susah dia untuk lepas tanggung jawab. Kalau tidak mau celaka harusnya dia hati - hati membaca becaknya" sambut yang lain.
Sepertinya memang benar Bapak yang melanggar kami ini orang sini. Banyak yang mengenal dia, tapi kalau semua pada tidak suka berarti benar kalau dia orang yang tidak baik.
"Gimana Yah?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Bawa ke bengkel itu aja Pak, ketepatan ada bengkel dekat sini" Mas Fadil langsung mendorong motornya menuju bengkel.
"Tanggung jawab donk Mas, kasihan Bapak ini kerjanya ojek. Kalau motornya tidak bisa jalan bagaimana dia mau mencari nafkah" ujar salah satu saksi mata.
"Orang lain tidak usah ikut campur. Ini kan antara saya dan Mas ini" ujar pria itu merasa tidak senang.
"Lho kami ini saksi mata. Kalau Mas ini mau bawa ke kantor polisi kami siap untuk jadi saksi" ucap salah satu orang yang ada di tempat kejadian.
"Sudah Pak.. kami mau damai tapi dengan syarat motor kami harus diperbaiki juga ponsel saya" ujar Mas Fadil sambil terus berjalan.
Aku mengikuti Mas Fadil sedangkan Bapak beserta anaknya mengikuti kami sampai di ke tukang bengkel.
"Pak tolong periksa apa saja kerusakan motor saya" ucap suamiku pada tukang bengkel.
"Wah lumayan parah ni Pak" sambut Bapak tukang bengkel.
"Halah dia mau ambil untung ini. Saya tidak mau di bengkel ini" ucap Bapak penabrak.
"Sepertinya Bapak ini banyak alasan Yah untuk mengelak" bisikku pada Mas Fadil.
"Bunda tenang aja" jawab Mas Fadil.
"Jadi Bapak maunya bagaimana?" tanya suamiku.
"Kita cari bengkel lain di sana" jawab si penabrak.
"Gimana bawa motornya Pak, ban motor saya saja sudah pecah begini?" tanya Mas Fadil masih berusaha menahan amarah.
"Bisa dinaikkan ke becak saja Mas. Ayo Bud bantu Bapak angkat motornya" perintah Bapak itu kepada anaknya.
Aku dan Mas Fadil naik becak untuk mengikuti motor kami yang diangkat dengan becak barang.
__ADS_1
"Mas kita belum shalat ashar" ucapku pada Mas Fadil.
"Oh iya sampai lupa. Coba tadi kalau Bunda mau singgah ke Mesjid pasti tidak begini" sambut Mas Fadil.
Nyeees... aku langsung merasa bersalah. Maafkan hamba ya Allah pertama lalai melaksanakan perintahMU, kedua aku tidak ikut perkataan suami.
Aku hanya diam tak berani menanggapi ucapan Mas Fadil. Tak jauh dari tempat kejadian tabrakan tadi kami berhenti di sebuah bengkel.
Sepertinya Bapak itu bisik - bisik dengan tukang bengkelnya mengenai keadaan motor Mas Fadil. Mas Fadil juga melakukan video call dengan temannya yang juga memiliki bengkel.
"Wah Fad berat juga kerusakan motor kamu. Body bagian depan motor kamu harus di ganti, bannya juga" ujar teman Mas Fadil.
"Iya Ded, untung kami tidak kencang tadi. Jadi aku dan istriku tidak ada luka apapun" sambut Mas Fadil.
"Minta ganti semuanya Fad jangan mau dipermainkan. Mahal itu kalau harus dibenerin semuanya" ujar teman Mas Fadil.
"Iya, makasih ya Ded. Udah dulu, aku mau bicara sama tukang bengkelnya" balas Mas Fadil.
Mas Fadil bicara dengan tukang bengkel.
"Jadi gimana Mas? bodynya kena semua ini" tanya Mas Fadil.
"Iya Mas semua diganti, bannya juga" jawab Tukang bengkel.
"Eh tunggu dulu donk Pak, jangan asal pergi aja. Ini gimana tanggung jawabnya?" tanyaku spontan.
Sejak tadi aku sudah tidak suka dengan pria itu. Gelagat tubuhnya sudah tidak baik.
"Lho saya kan sudah tanggung jawab bawa ke bengkel" jawab pria itu.
"Tapi tanggung jawab Bapak kan tidak sampai di sini saja. Biayanya bagaimana?" sambut Mas Fadil.
"Ya kalau saya yang bawa ke sini, saya yang bayar" ujar pria itu.
"Ya bilang donk dari tadi. Bapak kan bisa jelaskan kepada kami. Ini main pergi aja" jawab Mas Fadil.
"Lho gak bisa gitu donk Mas. Tahan KTP Bapak ini juga. Kalau besok dia tidak datang bagaimana urusan kita dengan Bapak tukang bengkel?" tanyaku.
"Masak Bapak dan Ibu gak percaya sama saya?" tanya pria itu.
"Gimana kami mau percaya Pak, dari tadi gelagat Bapak mau pergi dan lari dari tanggung jawab, wajarkan kalau kami curiga" jawab Mas Fadil mulai emosi.
__ADS_1
"Sudah Pak, saya kenal Bapak ini. Saya tau rumahnya dimana. Saya yang tanggung jawab dan saya yang berurusan dengan beliau mengenai semua biayanya" sambut si tukang bengkel.
"Bapak dan Ibu ini juga tidak salah mereka kan bingung karena Bapak ibu tidak mengucapkan akad perjanjiannya" potong seorang pria yang juga ada di bengkel.
"Kalau begitu kami pegang ucapan Bapak aja. Kami hanya terima motor dari Bapak dalam keadaan baik. Mengenai biaya Bapak yang berurusan dengan Bapak itu" ujar Mas Fadil.
"Iya Mas" jawab Tukang bengkel.
"Jadi ponsel Ayah gimana?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Iya Pak, ponsel saya yang rusak gimana?" tanya Mas Fadil.
"Ponsel lagi mau saya betulin, banyak banget. Udah syukur saya mau tanggung jawab biaya motor" sambut si penabrak.
"Ya Allah" sahutku langsung.
"Hei Pak.. kalau tidak mau tanggung jawab semuanya makanya hati - hati berkendara. Jangan karena gaya brutal Bapak merugikan orang lain. Sudah syukur saya tidak menuntut yang lainnya. Kalau saya menuntut biaya hidup saya selama tidak bekerja karena perbuatan Bapak yang menyebabkan motor dan ponsel saya rusak gimana? Belum lagi saya minta biaya pemeriksaan tubuh saya dan istri saya, siapa tau ada luka dalam?" ucap Mas Fadil emosi.
"Benar Bapak ini? Dia kan cuma minta tanggung jawab motor dan ponsel saja Pak" ujar pria yang ada di bengkel.
"Ya sudah besok kita bicarakan lagi di toko saya. Saya jualan buah di jalan XXX. Saat ini saya sedang buru - buru mau pulang ada keperluan lain" ucap pria itu tidak sopan.
"Emangnya Bapak saja yang punya keperluan lain. Gara - gara Bapak rusak semua urusan saya" sambut Mas Fadil semakin emosi.
"Udah Mas tenang.. istighfar" cegah ku mengingatkan.
"Sudah Mas biarkan saja dia pergi, besok datang aja ke toko buahnya lagi. Kalau dia tidak mau tanggung jawab bawa saja ke ranah hukum" ucap si tukang bengkel.
Bapak penabrak akhirnya pulang bersama anaknya.
"Dia memang sombong Mas, di daerah sini udah terkenal seperti itu. Dia itu pura - pura miskin, rumah sewanya banyak di sekitar sini. Rumahnya di Gang sono Mas, masuk ke dalam. Dia punya mobil dan tanahnya banyak" ucap Si tukang bengkel.
"Iya Pak, tadi di tempat kami tabrakan ada juga yang mengingatkan seperti itu. Ada ya manusia seperti itu" sambut Mas Fadil.
"Banyak Mas.. Suka hidup seenaknya dan merugikan orang lain. Besok kalau dia tidak mau tanggung jawab tekan aja Mas" saran si tukang bengkel.
"Iya Mas" jawab Mas Fadil.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG