Menatap Senja

Menatap Senja
6


__ADS_3

Aku terbaring lemah di tempat tidur. Aku menghitung - hitung sudah berapa kali aku dibawa ke Rumah Sakit dalam waktu enam bulan ini.


Sebenarnya aku lelah, setiap ke Rumah Sakit aku hanya diberi obat asam lambung. Walau memang sembuh tapi kumat lagi setelah beberapa waktu.


"Bun lagi mikirin apa sih?" tanya suamiku.


"Sebenarnya aku sakit apa ya Yah" jawabku.


Suamiku menghampiri dan duduk di pinggiran tempat tidur tepat disampingku. Dia kemudian mengelus lembut kepalaku.


"Bunda itu gak sakit apa - apa. Hanya sakit asam lambung. Jangan terlalu dipikirkan. Karena akan memicu penyakitnya kumat lagi" nasehat suamiku.


"Ya namanya hidup Yah, mana mungkin tidak memikirkan apapun. Aku pengen sembuh Yah. Gak mungkin begini terus. Aku sedih melihat tatapan anak - anak setiap kali melihat aku sakit" ungkap ku.


"Kalau ingin sembuh semangat donk, jangan banyak pikiran, makan teratur dan dijaga makannya. Jangan makan makanan atau minuman yang bisa memicu asam lambung kumat" nasehat suamiku.


Aku terdiam sesaat. Kalau makan tanpa cabe mana aku sanggup. Aku suka minuman yang asem - asem. Aku juga suka minum kopi, suka tape ketan, suka durian. Apakah bisa aku menahan selera? tanyaku dalam hati.


"Eh besok kit pergi lihat rumah yuk.. Kata Mamak si Dani baru beli rumah subsidi dekat rumah Mamak. Siapa tau sesuai dengan budget kita" ajak suamiku.


"Dekat rumah Mamak ya.. oh iya ketepatan dekat situ Mbak Nelly teman kantorku kemarin kasih selebaran. Ada perumahan juga yang baru dibuka di sana Mas. Tapi katanya rumah komersil, bukan rumah subsidi Yah. Kita lihat aja sekalian" sambutku semangat.


"Ya sudah kita lihat keduanya. Jadi kita bisa jalan - jalan lihat - lihat banyak perumahan untuk bahan pertimbangan" ujar suamiku.


Sudah beberapa dua tahun ini kami menabung dan berencana untuk membeli rumah. Hanya saja belum ada yang sesuai dengan keinginan kami berdua.


Nanti aku yang suka, suami gak suka. Atau sebaliknya, tapi kata teman - temanku itu berarti belum jodoh. Karena beli rumah ini juga ada jodoh - jodohannya. Seperti menikah, kalau sudah jodoh pasti ada aja caranya memperlancar semuanya.


****


Keesokan harinya karena hari ini adalah weekend aku dan suami pergi ke rumah mertua. Anak - anak kami tinggal sebentar di rumah mertua, aku dan suami pergi melihat perumahan.


Rumah yang aku lihat di dalam brosur yang diberi teman kantorku ternyata belum dibangun. Baru berupa tanah kosong yang baru diratakan. Ukuran tanah 6 x 15 m dengan DP 20jt. Cicilannya tidak flat selama sepuluh tahun.


"Berapa Bun cicilan perbulan?" tanya suamiku.


"Dua jutaan Yah, tapi tergantung suku bunga. Kalau suku bunga naik cicilannya juga akan naik" jawabku.


"Apa kita sanggup? rumah contohnya juga belum ada. Bagaimana kita mau lihat dan beli?" sambung suamiku.


"Kita kan cuma lihat - lihat saja Yah" balasku.


"Kita lihat perumahan yang dibeli Dani yuk?" ajak suamiku.


Dani itu adalah saudara jauh suamiku dari mertuaku yang perempuan. Aku naik diboncengan suami dan kami berjalan pelan - pelan.


Sampailah kami di Perumahan Subsidi yang dikatakan mertuaku. Ternyata semua rumah sudah selesai dibangun dan masih banyak yang kosong. Aku dan suami langsung jatuh hati dengan rumah ini.

__ADS_1


Rumah dengan bentuk couple dan ada kelebihan tanah sekitar satu meter di samping. Aku suka karena bisa nambah satu pintu lagi disamping. Aku tidak suka rumah yang hanya punya satu pintu untuk akses keluar rumah.


Aku ngebayangin kalau ada acara di rumah seperti pengajian, arisan dan kumpul keluarga. Rasanya ribet banget kalau cuma ada satu pintu.


Tanpa sengaja kami malah bertemu Dani yang saat itu sedang berada di rumah yang sudah dia beli.


"Ngapain Dan?" tanya suamiku.


"Ini Mas mau buat dapur" jawab Dani.


"Lho rumahnya gak ada dapurnya?" tanyaku heran.


"Gak ada Mbak. Kalau rumah subsidi emang gak ada dapurnya. Tipe 36 Mbak, hanya ada dua kamar, ruang tamu plus ruang keluarga dan kamar mandi saja. Masuk aja Mbak lihat - lihat" ajak Dani.


Aku dan suami masuk ke dalam rumah Dani.


"Lumayan bangunannya Yah dari pada rumah subsidi yang kita lihat tadi sebelum ke sini" ujarku.


"Berapa ukuran tanahnya Dan?" tanya suamiku.


"7 x 14 m Mas" jawab Dani.


"Berapa DP dan cicilannya perbulan?" tanyaku.


"DP 7 jt dan cicilannya perbulan satu juta tiga ratua ribu per bulannya" Dani menjelaskan.


"Boleh juga yah.. ukuran tanahnya hampir sama seperti rumah komersil tadi. DP dan cicilan perbulannya jauh banget. Dan yang ini flat lagi" jawabku.


"Tapi gak ada dapurnya Bun" sambut suamiku.


"Kan masih ada sisa tabungan kita Yah, bisa kita bangun dapurnya langsung" jawabku.


"Masih ada yang kosong gak Dan?" tanya suamiku.


"Nah kalau soal itu gak tau Mas, coba aja lihat - lihat dulu, mau yang mana" ujar Dani.


Kami berjalan keliling perumahan itu. Dan aku berhenti di depan rumah tunggal yang berada disudut. Aku melihat disamping rumah itu masih banyak kelebihan tanahnya. Tiba - tiba hatiku mengatakan "Ini nih rumah yang aku cari".


"Yah yang ini aja, Bunda suka yang ini" ujarku.


"Tapi banyak kelebihan tanahnya Bun" jawab suamiku.


"Gak apa - apa, malah bagus. Kedepannya kita bisa renovasi nambah kamar atau garasi mobil. Siapa tau nanti kita punya mobil" ucapku semangat.


Suamiku menatap wajahku yang terlihat cerah.


"Ya sudah kalau Bunda suka yang ini nanti kita tanya. Ayo kita balik ke rumah Dani. Kita minta nomor telepon marketingnya" ajak Suamiku.

__ADS_1


Kami kembali ke rumah Dani, minta nomor yang bisa dihubungi untuk perumahan ini. Setelah itu baru kami pulang.


****


Keesokan paginya aku menghubungi Mamaku dikampung dan bercerita tentang apa yang kami lihat kemarin. Kedua orangtuaku sangat mendukung niat kami dan menyuruh kami untuk segera mencari informasi rumah tersebut.


Karena tidak sabar, begitu sampai kantor aku langsung menghubungi nomor yang kemarin diberikan Dani kepada kami.


"Halo selamat pagi. Benar ini dengan marketing perumahan XXX?" tanyaku.


"Iya benar Bu, ada yang bisa saya bantu?" sambut pria yang menerima teleponku.


"Saya berminat ingin membeli rumah di Perumahan itu, apakah masih bisa?" tanyaku.


"Aduh maaf Bu rumahnya semua sudah penuh" jawab pria itu.


Seketika hatiku merasa sedih.


Ya Allah mengapa sulit sekali mendapatkan apa yang aku mau. Untuk mencari rumah yang sesuai keinginan aku dan suami saja bertahun - tahun tidak ketemu.


Adikku hanya satu bulan mencari rumah langsung cocok dan jadi dibeli. Mengapa setiap aku punya keinginan harus benar - benar berjuang dulu untuk mendapatkannya? tanyaku dalam hati.


"Jadi apakah saya tidak punya kesempatan lagi?" tanyaku.


"Ada sih Bu, saat ini kan semua rumah sedang pengajuan KPR di Bank. Nah kalau ada yang batal baru Ibu bisa menggantikannya" jawab pria itu.


"Waduh kalau begitu doa saya jahat donk. Harus do'ain orang batal biar saya punya rumah" sambutku.


"Yah memang begitu keadaannya Bu" balas pria itu.


"Ya sudah Mas, tolong catat nomor saya ya. Kalau ada berita gembira tolong hubungi saya" ujarku.


"Baik Bu" jawab pria itu.


Telepon terputus, hatiku sangat kecewa sekali. Aku segera mengubungi suamiku. Tanpa terasa air mataku menetes meratapi hidupku.


Mengapa tidak seberuntung adik - adikku. Kehidupanku jauh dibawah dua adikku. Soal rezeki dan kesempatan mengapa aku tidak bisa seperti mereka. Kalau mereka mengapa rasanya dengan mudah bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan? Astaghfirullah... aku langsung tersadar dan istighfar.


"Assalamu'alaikum Bun, gimana sudah telepon pihak perumahan itu?" tanya suamiku.


"Wa'alaikumsalam Yah, sudah. Rumahnya sudah habis semua" jawabku sambil menangis.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2