Menatap Senja

Menatap Senja
54


__ADS_3

"Lia memilih untuk kembali ke rumah nenek" jawab Lia.


Seeer.. hatiku berdesir, rasanya sakit sekali. Berarti selama ini kasih sayang yang aku berikan padanya tidak ada menyentuh hatinya.


Aku menarik nafas panjang. Kini tiba saatnya aku kasih pelajaran kepada Lia agar dia tidak segampang itu berpikir dan lari dari setiap masalah.


"Baik.. kalau Lia memilih kembali ke rumah Nenek. Kemarin Bude udah bilang kan. Kalau Lia mau tinggal di rumah Bude, Bude akan menganggap Lia sebagai anak Bude sendiri. Sekarang Lia memilih keluar dari rumah ini, Bude akan anggap Lia sebagai orang lain" ucapku.


"Kalau Lia adalah orang lain, Bude tanya bagaimana tanggung jawab Lia yang sudah menghilangkan motor Bude? Bude gak mau hanya ucap kata maaf. Sekarang Lia kan orang lain. Misal Bude anggap anak tetangga. Kalau anak tetangga menghilangkan motor Bude otomatis Bude akan minta ganti rugi. Beda kalau sama anak sendiri. Orang tua mana yang tega meminta ganti rugi pada anaknya sendiri" ancamku.


Aku melihat wajah Lia mulai tegang.


"Gimana Lia? Lia yang memilih, Bude juga gak mau terima Lia di sini lagi karena Lia sendiri sudah memutuskan untuk pergi. Untuk apa Bude menahan Lia untuk tetap tinggal di sini sementara Lia sudah tidak betah. Bude gak mau memaksa Lia. Karena sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik hasilnya" sambungku.


Lia terdiam, terlihat sedang berpikir.


"Nanti akan di cicil" jawab Lia.


Aku terkejut dengan jawaban Lia. Berani benar dia menjawab seperti itu. Darahku rasanya mendidih karena emosi.


"Siapa yang bayar dan berapa jumlah bayarannya? waaah lumayan bisa beli motor baru" ucapku sengaja memanas - manasi Lia.


"Nenek yang bayar" jawab Lia.


"Oh ya? kok nenek gak ada cerita sama Bude? Okey sekarang Bude sudah lega. Nanti Bude akan tanya sama Nenek berapa Nenek mau nyicil motor Bude perbulan" balasku.

__ADS_1


Kulihat wajah Lia semakin tegang tapi masih berani berkata seperti itu. Tidak ada niat dia untuk meminta maaf atas semua kesalahannya.


"Tapi gimana kalau Bude gak mau diganti? Bude laporin aja ke kantor polisi kalau kamu yang hilangin motor Bude. Bisa aja kan Bude bilang yang bawa motor Bude itu pacar kamu. Mending kamu aja Bude laporin biar di tangkap polisi. Mungkin kalau kamu di penjara pergaulan kamu akan terjaga. Di sana kan tidak ada laki - laki" ancamku.


Wajah Lia semakin tegang, aku lihat dia ketakutan dan akhirnya dia menyerah.


"Jangan Bude... Lia minta maaf, Lia janji akan membayar motor Bude yang Lia hilangkan" tangisnya pecah.


"Lia.. Liaaaaa... Kemarin Bude nasehati Lia dengan lembut. Bude coba sentuh hati Lia. Bude yang nangis berharap tergetar hati Lia. Tapi apa? Ternyata sekeras itu hati Lia. Bude malah seperti mengiba kepada Lia agar Lia mau tinggal disini. Sombong sekali Lia? Nah sekarang saat Bude ancam Lia dengan laporan polisi baru Lia memohon dan minta maaf pakai tangisan. Sudah terlambat, sudah tergores hati Bude, Lia buat. Lia menangis karena takut dipenjara kan? Bukan karena tangisan penyesalan dan rasa bersalah. Berapa kali Bude suruh Lia sabar.. nanti kalau keadaan ekonomi Bude membaik, pasti Lia akan kecipratan. Bude akan perhatikan Lia juga. Tapi saat ini belum bisa. Bude ajak Lia untuk mengerti, kesulitan rumah tangga Bude juga kan salah satu penyebabnya adalah Lia. Kalau motor Bude gak hilang mungkin Bude tidak serepot ini" ucapku.


Aku menarik nafas panjang dan memanggil mertuaku dan Mas Fadil.


"Ada apa?" tanya suamiku.


"Bunda sudah tanya Lia, jadi Kek.. Lia tadi bilang sama Anggi kalau Lia gak mau lagi tinggal disini. Dia mau kembali ke rumah Kakek dan Nenek. Anggi dan Lia sudah pernah buat kesepakatan, kalau Lia tinggal di rumah ini Lia akan Anggi anggap anak sendiri tapi karena Lia memilih keluar berarti antara Lia dan Anggi adalah orang asing bukan siapa - siapa. Nah karena kami bukan siapa - siapa Anggi bertanya pada Lia bagaimana cerita kereta Anggi yang dia hilangkan. Nenek yang akan menyicilnya" ucapku.


"Kapan nenek bilang begitu Lia?" tanya Ayah mertua.


Lia tertunduk sambil menangis.


"Kamu itu cucu Kakek, hak kamu sama seperti cucu - cucu kakek yang lain. Kakek tidak bisa bertanggungjawab seperti itu kepada kamu karena orang tua kamu masih ada, masih lengkap. Di rumah ada anak Bu Tari, anak Yatim karena ayahnya sudah meninggal. Harusnya dia yang lebih berhak Kakek bantu. Jadi kamu jangan bicara sesuka kamu" ucap Ayah mertua.


"Mungkin Mamak sudah bilang sama dia Yah" sambut Mas Fadil.


Mas Fadil menatap ke arahku, aku memberikan isyarat kepadanya. Sebelum Lia pulang aku dan Mas Fadil kan sudah sepakat untuk memberi Lia pelajaran kali ini. Setidaknya memberikan shock therapy, agar Lia tidak bersikap seenaknya saja kemudian hari.

__ADS_1


"Nanti malam Anggi dan Mas Fadil akan ke rumah Ayah dan Mamak. Anggi akan tanya sama Mamak apa betul Mamak ada berjanji seperti ini dengan Lia. Biar semua jelas. Jangan sampai kita di kacau Lia, akhirnya hubungan kami dengan Ayah dan Mamak rusak" ujarku.


"Iya betul itu, lebih baik kita bicarakan saja nanti di rumah dengan Mamak" sambut Mas Fadil.


"Ya sudah kalau begitu Ayah pulang dulu ya. Ayah tunggu kalian di rumah nanti malam" jawab Ayah mertuaku.


Malam harinya setelah selesai shalat Isya aku dan Mas Fadil pergi ke rumah mertuaku. Disana aku, Mas Fadil, Tari berkumpul bersama Mamak dan Ayah mertua.


"Jadi begini Mak, tadi Anggi sudah tanya Lia. Dia tidak mau tinggal di rumah kami lagi. Katanya dia mau kembali ke rumah Mamak" ucapku.


"Jangan Mak, lebih baik dia tinggal sama Mas Fadil dan Mbak Anggi. Disana dia rajin shalat, rajin bekerja dan rajin belajar. Di sini semua kita sibuk, dia kurang diperhatikan. Nanti dia hanya sibuk main HP atau seperti kemarin pasti akan terulang lagi. Dia akan sering menginap di rumah temannya berhari - hari" potong Tari.


"Sudahlah.. Mamak capek memikirkannya. Lagian dia cucu Mamak, kenapa kalian larang - larang dia kalau mau datang ke sini" ucap mertuaku.


Aku menatap Mas Fadil, terus terang aku sakit hati dengan ucapan mertuaku. Mengapa saat seperti ini Mamak mertua malah membela Lia yang jelas - jelas salah.


"Kami tidak melarangnya ke sini Mak tapi kami buat peraturan biar Lia lebih disiplin. Dia boleh ke sini saat Anggi libur hari sabtu dan minggu" jawab Mas Fadil.


"Sudah Mas gak usah dipersoalkan lagi, Lia kan sudah memilih pulang ke rumah Mamak. Tapi Mak, saat Anggi tanya tanggung jawab Lia yang telah menghilangkan motor Anggi dia bilang motor Anggi akan dicicil. Mamak yang cicil kereta Anggi. Apa benar begitu Mak?" tanyaku pada Mamak mertua.


"Ma.. mamak gak pernah bicara begitu pada Lia" tolak mertuaku.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2