
Aku semakin semangat menulis novel karena keluarga ku mendukungku melakukan sesuatu yang menurut mereka positif.
Papa dan Mama datang ke kota kami sekalian membawa anak - anakku yang sudah rindu kepada kami. Seperti biasa kami berkumpul di rumah Rahmat dan menginap disana.
Papa terlihat sering memperhatikanku yang selalu tidak bisa lepas dari ponsel. Dari dulu Papa selalu marah jika kami terlalu aktif memakai ponsel.
"Apa yang kamu lakukan Anggi. Dari tadi kamu tidak pernah lepas dari ponsel kamu. Apa saja yang kamu lihat di situ?" tanya Papa.
Selain untuk pekerjaan kantor Papa sangat marah kalau kami terlalu sering memegang ponsel. Apalagi untuk bermain game sampai larut malam.
Rahmat, Arif dan Mas Fadil pernah dimarahin Papa karena begadang gara - gara mabar. Mereka menjelaskan kepada Papa kalau itu hanya dilakukan mereka sekali - kali untuk melepaskan kepenatan setelah bekerja.
Walau begitu Papa tetap marah karena gara - gara itu mereka begadang dan akhirnya sangat sulit untuk bangun shalat subuh.
Kali ini aku yang ditegur. Saat aku hendak memberi penjelasan tiba - tiba Rahmat datang membelaku.
"Kakak sedang membuat novel Pa" jawab Rahmat.
"Novel apa?" tanya Papaku penasaran.
"Novel, cerita yang biasanya di buku - buku. Tapi Kakak menulisnya di aplikasi yang bisa di download di ponsel" jawab Rahmat menjelaskan.
"Apa gunanya seperti itu" ujar Papa.
Papaku memang termasuk terlambat menerima perkembangan zaman. Contohnya ponselnya. Dulu saat orang - orang baru memakai ponsel Papa dibelikan ponsel oleh kepala kantornya.
Tapi Papa tidak mau memakainya dia malah memberikan ponsel itu kepadaku yang saat itu baru masuk kuliah. Alasan Papa memberikan aku ponsel agar Papa dan Mama mudah menghubungiku.
Kalau menghubungi ke kos pemilik kos selalu mengatakan aku tidak ada di kamar karena dia malas memanggilku. Alhasil aku sering kena marah Papa karena selalu tidak pernah ada di kosan.
Tapi Papa tidak pernah melarang kami untuk mengikuti zaman. Apalagi yang namanya untuk kepentingan pendidikan. Papa selalu mendukung kami dan berusaha untuk memenuhinya.
__ADS_1
Seperti komputer, motor dan ponsel. Sejak kuliah aku sudah memilikinya. Disaat teman - teman masih banyak tidak mempunyai benda - benda itu aku sudah memakainya.
Hanya saja Papa marah kalau kami terlena dengan perkembangan zaman dan melupakan atau lalai pada waktu shalat apalagi tidak melaksanakan shalat.
Oleh sebab itu kalau Papa datang kami anak - anaknya sampai sekarang walau kami semua sudah menikah. Kami tetap menjaga aktivitas kami memakai ponsel di hadapan Papa.
Kecuali untuk alasan pekerjaan Papa bisa memaklumi nya. Itulah salah satu kedisiplinan yang Papa ajarkan kepada kami. Sampai kami menikah dan punya anak kami tetap patuh pada peraturan Papa itu.
"Banyak gunanya Pa, kalau novel Kakak banyak yang baca dan Kakak jadi terkenal, novelnya bisa dijadikan buku dan akan terbit dan dijual di toko-toko buku atau Gramedi*. Kalau kakak lebih beruntung bisa jari novelnya di jadikan film. Kan kakak bisa dapat yang" sambung Arif.
"Emang bisa menghasilkan uang?" tanya Papa.
"Bisa donk Pa... nih penghasilan ku selama dua bulan menulis. Memang masih sedikit dan belum bisa diambil karena ada syarat penarikan yang harus aku penuhi. Tapi sebuah kesuksesan kan berasal dari sebuah mimpi Pa. Gak ada salahnya Anggi mencoba keberuntungan menjadi seorang novelis. Dulu mimpi Anggi menjadi seorang Dokter tidak tercapai, Arif yang menjadi dokter. Belum terlambat kan Pa punya mimpi baru" jawabku sambil menunjukkan aplikasi novel yang ada di dalam ponselku.
Aku perlihatkan novel yang sudah aku buat dan sudah di kontrak dan mendapatkan penghasilan. Memang masih sedikit tapi aku sangat senang karena hobby ku yang selama ini hanya suka membaca bisa aku kembangkan dan salurkan menjadi pembuka rezekiku yang lain.
Papa meraih ponselku dan membacanya.
"Bagaimana cara mendapatkan royalti nya?" tanya Papa semakin penasaran.
"Kalau dari youtube* itu dari jumlah penonton setia mereka Pa, begitu juga dengan Novelis dari jumlah pembaca setia yang membaca novel kit dari awal sampai akhir. Dibayarny berdasarkan banyaknya pembaca" jawabku menjelaskan.
"Bagaimana cara kamu menarik para pembaca?" tanya Papa semakin ingin tau.
"Awalnya aku promosikan ke lingkungan kerja, kata Anggi pembaca novelnya semakin banyak dan dia mulai mendapatkan royalti" jawab Rahmat.
"Sekarang apapun jenis pekerjaannya Pa asalkan dilakukan dengan sungguh - sungguh bisa kok mendapatkan rezeki" potong Arif.
"Seperti kamu, seorang dokter malah jualan susu segar" sindir Papa.
Papa memang sejak dulu tidak mendukung Arif untuk berjualan.
__ADS_1
"Capek - capek Papa menyekolahkan kamu sampai menjadi dokter ujung - ujungnya malah berjualan. Kalau dari dulu kamu maunya berjualan lebih baik Papa kasih modal kamu untuk berjualan tidak perlu kuliah" sambung Papa.
"Pa sembilan dan sepuluh pintu rezeki kata Rosul berasal dari berdagang. Jadi Dokter memang pekerjaan yang sangat mulia. Bisa berguna dan bermanfaat untuk orang banyak, aku bisa membantu dan menyembuhkan orang - orang yang sakit apalagi seperti keinginan Papa bagi orang yang tidak mampu aku akan memberikan pengobatan gratis. Tapi kan gak ada salahnya aku buka pintu rezeki yang lain. Tujuan Arif itu untuk Tia nantinya. Kalau usaha kami berjalan dengan baik, Tia gak perlu bekerja lagi. Jadi dia bisa menjaga anak - anak sambil memantau usaha kami. Usaha ini juga bisa membantu keuangan kami saat aku nanti mengambil spesialis. Karena kalau aku sudah sekolah lagi aku akan berhenti bekerja Pa dan tidak punya penghasilan" jawab Arif menjelaskan.
Papa terdiam mendengar jawaban - jawaban kami.
"Begitu juga dengan usaha Anggi ini Pa. Siapa tau di novel ini nasib Anggi bisa berubah. Masa depan tidak ada yang tau Pa. Seperti kata Rahmat tadi, kalau novel Anggi bisa menjadi buku bahkan di filmkan Anggi akan dapat rezeki yang lain Pa" ujarku.
"Wah hebat donk Pa, nanti anak Papa terkenal jadi artis kayak film Layangan Putus itu kan? Katanya diambil dari sebuah novel dan kisah nyata dari pengarang novelnya yang rumah tangga nya di ganggu sama pelakor" potong Mama.
"Mama tau juga film itu?" tanyaku terkejut.
Aku tidak menyangka Mamaku malah tau perkembangan berita terkini.
"Tau karena teman - teman Mama sibuk cerita tentang film itu tapi Mama gak tau bagaimana cara menontonnya" jawab Mama.
"Nanti Anggi ajari cara Mama lihat filmnya ya" sambut ku.
"Kalau novel kamu sepet itu Papa kan bisa bangga Pa anaknya jadi penulis terkenal. Di kampung Mama bisa cerita sama teman - teman Mama kalau anakku sudah jadi artis" sambung Mama.
"Hahaha... " kami semua tertawa.
"Masih jauh Ma. Novelnya aja masih sedikit pembacanya" jawabku.
"Ya kan dimulai dari nol kalau sudah full baru bayar seperti ini bensin" potong Mama sambil bercanda.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1