
Aku, Mas Fadil, Tari dan Syahrul temannya Tari langsung berangkat menuju Kantor Polisi untuk melaporkan status Dana di Facebo**.
"Sore Pak, kami mau melapor" ucap Mas Fadil.
"Bapak yang kemarin adiknya tabrakan di dekat pabrik kan?" tebak Polisi langsung.
"Iya Pak. Kami bawa kabar berita kepada Bapak kalau truk yang menabrak adik kami sudah ditahan di Kantor Polisi kota XX" ungkap Mas Fadil.
"Dari mana Bapak tau?" tanya Pak Polisi.
"Kami baru saja melihat status mantan suami dari adik saya di sosial media. Saat ini ternyata dia berada di Kota XX dan kemarin terjadi banjir di Kota itu Pak sehingga jalanan macet. Menurut pengakuannya kalau dia saat itu sedang dalam perjalanan menuju ke sini Pak. Tanpa sengaja dia melihat plat nomor kendaraan truk yang dia lihat juga dari sosial media. Dia melapor ke Kantor Polisi setempat dan katanya saat ini supir dan truknya sudah ditahan di kota itu. Kalau sampai besok belum ada laporan dari sini, supir akan di lepas Pak" jawab Mas Fadil.
"Tunjukkan Mas status Dana" ucapku.
Mas Fadil menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan status Dana mantan suami Wati yang ada di sosial media.
"Ini Pak truknya dan ini supirnya" ucap Mas Fadil.
"Waah mukjizat ini Pak bisa ketepatan sekali seperti ini" ucap Pak Polisi terkejut.
"Kami juga sangat terkejut Pak. Mungkin Allah tau bagaimana penderitaan adik saya. Sampai saat ini dia masih berjuang untuk hidup" ujar Mas Fadil.
"Bagaimana operasinya tadi malam Pak, apakah berhasil?" tanya Polisi.
"Alhamdulillah berhasil Pak, tapi kondisinya masih koma. Kalau supir dan truk ini dapat kan kita bisa minta biaya kehidupan enam orang anaknya Pak. Kalau biaya rumah sakit kan memang sudah di tanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Nasib enam orang anaknya yang harus kami perjuangkan Pak. Dokter mengatakan kepada kami, kalaupun adik saya ini nanti sadar dia tidak akan bisa kembali normal seperti semula. Karena pendarahan di otaknya, tapi kami tidak berhenti berdoa Pak semoga adik kami ini sembuh dan sehat seperti semula demi anak - anaknya" sambut Mas Fadil.
__ADS_1
Polisi terlihat menarik nafas panjang.
"Melihat keadaan Bu Wati kemarin memang sangat berat ya Pak. Apalagi dari cerita Bapak kalau dia punya enam orang anak. Apakah ada surat cerai dari suaminya Pak?" tanya Pak Polisi.
"Tidak ada Pak, mereka baru beberapa bulan ini bercerai, dan cerai pun secara agama" jawab Mas Fadil.
"Surat nikah ada?" tanya Pak Polisi.
"Ada Pak, Wati pernah bilang kepada saya kalau dia punya surat nikah" jawabku.
"Tidak Mbak, Mbak Wati pernah bilang kepadaku kalau mereka hanya nikah siri. Surat nikah mereka itu palsu untuk menutupi omongan para tetangga. Lagian mana mungkin ada surat nikah asli, surat cerai Mbak Wati sama suami pertama aja gak ada" potong Tari.
"Berat sekali hidup Bu Wati ini ya" ujar Pak Polisi.
"Sudah habis badan adik saya di pukul, bahkan kata anaknya yang paling besar adik kami Wati pernah di cucuk tangannya pakai pisau sama suaminya" sambung Mas Fadil.
"Kenapa gak dilaporkan Pak ke kami?" tanya Pak Polisi.
"Bagaimana kami mau melaporkannya Pak, adik kami ini masih mau menerima suaminya walau sudah diperlakukan seperti itu. Kami sudah pernah memanggil mereka dan menasehati suaminya tapi adik kami malah membela suaminya di depan kami. Kami pernah memukulnya Pak dan lapor ke Kantor Polisi terdekat. Tapi pihak kepolisian menyuruh kami berdamai karena ini masalah keluarga. Akhirnya adik saya Wati pergi menjauh dari kami Pak, tinggal di daerah dekat sini. Kami bahkan tidak tau jelas dimana rumahnya" jawab Mas Fadil.
Pak Polisi menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar cerita Mas Fadil.
"Hebat banget ya Ibu itu mencintai suaminya" hanya itu yang bisa Polisi itu katakan.
"Cinta mati Pak, mati pun dibuat laki - laki brengse* itu tidak apa - apa. Sampai saat ini keluarga suaminya bahkan suaminya sendiri tidak ada yang datang untuk melihat keadaan adik saya atau bertanya bagaimana atau dimana anak - anaknya. Padahal menurut putra sulung Wati keluarga mantan suaminya berada di daerah sini Pak. Kakak kandungnya ada yang tinggal dekat dari rumah kontrakan Wati. Tapi niat baik mereka, rasa kekeluargaan mereka tidak ada. Adik saya meminjam uang ke rentenir untuk modal usaha suaminya eh ternyata suaminya lari bawa uangnya ke luar kot untuk menikah lagi di sana " ungkap Mas Fadil.
__ADS_1
"Kurang ajar sekali laki - laki itu" sahut Pak Polisi geram.
"Mungkin kalau saat ini saya bertemu suaminya Pak akan saya tonjok itu wajahnya biar saya puas. Saya sudah kesal sekali melihatnya" sambut Mas Fadil.
Pak Polisi terdiam sesaat dan sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah Pak, atas laporan Bapak kamu akan segera membuat surat jalan dan melaporkannya kepada atasan kami. Malam ini juga kami akan berangkat ke Kota XXX untuk menjemput supir dan truk yang menabrak adik Bapak" ucap Pak Polisi.
"Terimakasih atas bantuannya Pak. Kami berharap Bapak mau membantu dan memperjuangkan nasib adik saya beserta enam orang anaknya Pak. Hanya itu yang kami harapkan" sambut Mas Fadil.
Aku, Mas Fadil, Tari dan temannya Syahrul berdiri dari kursi kami dan menjabat tangan Pak Polisi dan berpamitan.
"Kalau begitu kami pamit pulang ya Pak. Kami mau membawa tiga anak Wati dari pernimt kedua ke rumah orang tua saya. Di rumah kontrakan ini tidak ada yang bisa mengurus mereka karena Kakaknya mau sekolah. Tidak mungkin terus - terusan libur" ungkap Mas Fadil.
"Baik Pak, turut prihatin Pak dan bersabar ya. Kami akan melakukan apa yang kami bisa Pak" jawab Pak Polisi.
"Sekali lagi terimakasih Pak. Kami permisi, selamat sore" ujar Mas Fadil.
"Sore Pak" balas Pak Polisi.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1