
"Yah Bunda baru ditelepon Tari. Katanya Wati tabrakan di dekat pabrik tempat dia kerja" ucapku saat menghubungi Mas Fadil.
"Ya Allah... jadi gimana keadaannya Bun?" tanya Mas Fadil khawatir.
"Katanya harus segera dioperasi. Gak tau gimana keadaan dia disana tadi Tari dapat telepon dari teman kerja Wati. Katanya perwakilan keluarga harus segera datang untuk menyetujui tindakan operasi yang akan dilakukan dokter. Ayah bisa kesana kan?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Ayah lagi di tempat kursus mengemudi Bun mau bayar uang pendaftaran" jawab Mas Fadil.
"Sudah Mas besok - besok kan bisa, ini ada masalah yang lebih penting dan memang butuh bantuan segera" sambutku
"Iya iya untung belum bayar. Di rumah sakit mana dia di rawat biar Ayah langsung ke sana?" tanya Mas Fadil.
"Di RS. Mun. Ayah duluan ke sana, Ridwan tadi juga sudah di suruh pulang untuk bawa Kakek ke RS, biar Bunda sama Nenek nanti naik motor. Tari pergi sama temannya. Lia juga berangkat bersama temannya" balas ku.
"Ya sudah ayah langsung ke sana" jawab Mas Fadil.
"Hati - hati ya Yah" pesanku.
Telepon terputus, aku dan mertua juga adik - adik iparku segera musyawarah di rumah bagaimana mengurus Wati juga anak - anaknya.
Itulah namanya keluarga sampai kapanpun hubungan darah tidak akan pernah putus. Walau kedua orang tuaku pernah marah pada anaknya itu tapi kalau sudah mendengar kabar seperti ini kedua mertuaku langsung lemas.
"Bagaimana anak - anaknya di rumah?" tanya Bapak mertua.
"Hari kan ada di sana Yah, jaga tidak adiknya. Nanti Hari kita suruh ke Rumah Sakit biar Lia yang jagain adik - adiknya di rumah. Yang penting kita secepatnya sampai rumah sakit untuk melihat keadaan Wati. Lia kamu langsung ke rumah Mamak kamu ya jagain adik - adik kamu di sana jangan main - main lagi. Ini masalah penting tidak ada waktu untuk bersantai - santai" ucapku pada Lia.
"Iya Bude" jawab Lia.
Akhirnya kami pergi ke Rumah Sakit. Karena jaraknya jauh dari rumahku dan rumah mertua akhirnya kami sampai di Rumah Sakit hampir tiba waktu Isya. Padahal kecelakaan terjadi sekitar jam lima sore saat Wati pulang kerja di pabrik.
Sesampainya di Rumah Sakit Mas Fadil sudah menyambut kami dengan tangisannya.
"Ada apa Fad?" tanya Mamak mertua khawatir melihat wajah Mas Fadil.
"Wati sudah tidak sadar Mak. Kata dokter dia koma karena ada pendarahan di kepalanya" jawab Mas Fadil langsung memeluk Mamaknya.
"Kok bisa begitu Fad, tadi katanya kakinya yang patah, mengapa sekarang kepalanya yang pendarahan?" tanya Mamak mertua sambil menangis.
Aku melihat Bapak mertuaku sudah lemas dan pucat pasi. Begitu juga dengan adik - adik iparku. Baru kali ini mereka mengalami hal seperti ini. Mertuaku berasal dari keluarga sederhana, keadaan seperti ini pasti sangat membuat Bapak mertua khawatir.
Apalagi kondisi Wati koma dan harus operasi, pasti butuh biaya yang sangat besar.
__ADS_1
"Dia kecelakaan di dekat pabrik, dia dilanggar truk besar Mak. Dan terseret sepanjang lima meter. Ada benturan di kepalanya yang menyebabkan pendarahan dan harus segera di operasi. Dia baru keluar dari ruangan pemeriksaan. Setelah itu dia kejang - kejang dan tak sadarkan diri. Dokter bilang itu karena pendarahan di kepalanya. Kemungkinan berhasil hanya tiga puluh lima persen" ungkap Mas Fadil.
"Oh ya Allah.... " tangis kami semua pecah.
Hari anak paling besar, Kakaknya Lia yang paling besar langsung menangis memeluk Mas Fadil.
"Gimana nasib kami Pakde? Maaak kenapa secepat itu Mamak pergi. Bagaimana aku membesarkan lima adik - adikku Mak. Maaaak tega Mamak tinggalkan aku seperti ini. Aku gak sanggup Mak" ucap Hari.
Kami langsung memenangkan Hari.
"Doakan Mamak Har, doa seorang anak akan didengar Allah. Saat ini Mamak kamu sedang berjuang untuk bertahan hidup" ucapku.
"Bagaimana biayanya Fad?" tanya Bapak mertua.
"Katanya akan di biayai oleh jasa raharja dan BPJS Tenaga kerja Yah. Tadi aku minta bantuan sama teman Tari untuk melapor ke kantor polisi. Karena ini kasus tabrak lari" jawab Mas Fadil.
"Jadi yang menabrak Wati lari Yah?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Iya, banyak saksi mata yang melihat di lokasi kejadian. Mereka bersedia membantu" jawab Mas Fadil.
"Dana mana?" tanyaku pada Hari.
"Mamak sudah beberapa bulan pisah sama Bapak tiriku Bude. Makanya aku tinggal sama Mamak sekarang untuk jaga adik - adik" jawab Hari.
"Lia sudah sampai rumah Har?" tanya Bapak mertua.
"Udah Kek, makanya aku bisa ke sini karena adik - adik Lia yang jaga" jawab Hari.
Tak lama perawat datang.
"Keluarga Ibu Susilawati" panggilnya.
"Ya... " sambut Mas Fadil.
"Dokter mau bicara dengan perwakilan keluarga ya Pak. Untuk menjelaskan apa yang sedang diderita pasien. Tolong tetap patuhi protokol kesehatan dan jaga jarak. Karena ini Rumah Sakit peraturan sangat ketat" ucap perawat.
"Baik Suster, saya perwakilan dari keluarga" jawab Mas Fadil.
"Harus dua orang Pak" ujar Dokter.
Mas Fadil menatap ayahnya.
__ADS_1
"Yaaah" panggil Mas Fadil.
"Ayah gak ngerti Fad dan ayah juga gak kuat" jawab Bapak mertua.
"Ridwan yuk temani Mas" Mas Fadil mengajak adiknya yang nomor empat.
"Baik Mas" jawab Ridwan.
"Yah hubungi Arif, dia pasti mengerti apa yang dokter katakan. Biar Arif dengar apa penjelasan dokter. Nanti Arif kan bisa jelaskan pada kita" usulku.
"Eh iya Bun, ayah sampai lupa" sambut Mas Fadil.
Mas Fadil dan Ridwan pergi menemui Dokter untuk membicarakan operasi kepala Wati sekaligus kakinya. Operasi harus segera dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Wati.
Aku, mertua dan adik - adik iparku hanya bisa menunggu di luar UGD karena kami tidak boleh masuk semua ke dalam rumah sakit.
"Maaak jagain Wati, temani dia Mak" panggil Mas Fadil.
"Yuk Gi temani Mamak" ajak Mamak mertua.
"Maaf Mak, aku gak kuat. Lututku dari tadi sudah lemas. Mamak ajak Hari saja biar dia bisa menjaga Mamak nya sambil mendoakan Mamaknya" jawabku.
"Ayo Har kita jaga Mamak kamu" ajak mertua.
Mamak mertua dan Hari masuk ke dalam UGD. Dari kejauhan aku melihat wajah Wati yang pucat dan sudah banyak selang yang dipasang di tubuhnya.
Sudah lama aku tidak bertemu dengan Wati. Dulu sebenarnya aku sempat kesal dengannya karena dia menikah lagi dan meninggalkan tiga anak dari pernikahan sebelumnya pada mertuaku. Kedua mertuaku yang mengasuh dan menyekolahkan anak - anaknya.
Baik Wati ataupun mantan suaminya tidak perduli dengan kehidupan anak - anak mereka. Mereka sibuk mengejar cinta dunia sampai lupa pada cinta akhirat.
Anak - anak adalah harta yang akan kita bawa ke akhirat. Kalau kita berhasil mendidik mereka di dunia pasti anak - anak bisa menolong kita kelak di akhirat.
Tapi aku teringat Lia, bagaimana dulu aku lelah mengajarnya untuk menjadi anak yang baik. Sampai akhirnya aku menyerah dan mengembalikannya kerumah mertuaku.
Kini melihat Wati terbaring tak berdaya, rasa kesalku hilang. Aku berharap dia bisa bertahan hidup. Bagaimana nasih ke enam anak - anaknya dari dua pernikahannya yang keduanya gagal.
Apakah dunia ini kejam? Siapa yang patut disalahkan atas kejadian ini.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG