Menatap Senja

Menatap Senja
39


__ADS_3

"Bunda, ada teman Ayah menawarkan bisnis kepada Ayah" ucap Mas Fadil saat kami sedang menemani Lia, Shifa dan Rayyan menonton televisi.


"Bisnis apa Yah? Saat pandemi seperti ini bisnis apa yang bisa berjalan?" tanyaku pada Mas Fadil.


"Sarung tangan Bun. Ayah sudah survei beberapa pabrik sarung tangan yang ada di kota ini. Ayah juga sudah dapat channel dari Jakarta. Di sini ada teman Ayah yang mau menampung sarung tangan dalam jumlah yang banyak" jawab Mas Fadil.


"Gimana cara kerjanya Yah?" pelajaran mengajarkanku tentang sifat Mas Fadil. Dia sangat gampang sekali terbujuk ajakan teman - temannya.


Sudah berapa kali Mas Fadil bekerja sama dengan teman - temannya dengan ajakan bisnis dan berujung kebohongan. Dulu waktu Rayyan lahir dia sudah pernah tertipu dan tabungan kami hampir habis semua, kemudian baru - baru ini menyewa kios yang rawan banjir.


Untung saja ada orang setempat yang mau menggantikan kios itu. Dia terima dengan keadaan kios itu dan sudah tau kalau memang di tempat itu memang rawan banjir.


Allah masih sayang kepada kami sehingga kami tidak rugi. Bapak tersebut mau melanjutkan sewa kami yang tinggal sembilan bulan lagi dan membayar sewanya kepada kami. Walau tidak untung setidaknya kami tidak rugi.


"Yaaah, ayah kan tau penyakit Bunda. Bunda tidak bisa lagi mempunyai beban pikiran yang berat. Bunda takut terjadi sesuatu lagi pada bisnis Ayah. Ayah gak kapok di bohongin terus sama orang?" tanyaku pada Mas Fadil.


"Bun kalau kita terus - terusan takut kita tidak akan maju Bun. Gagal sudah biasa dalam berdagang" ujar Mas Fadil.


"Iya Bunda tau, tapi Ayah pikirkan dulu baik - baik gimana cara menjalankan bisnisnya. Saat ini tabungan kita sangat tipis Yah. Kalau ada apa - apa mau kemana lagi kita cari uangnya?" tanyaku pada Mas Fadil.


"Bisnisnya gak pakai modal Bun. Teman Ayah sudah menyiapkan modalnya. Ayah hanya sebagai perantara, mengenalkan mereka dan ayah hanya minta selisih harga saja dari penjual" jawab Mas Fadil.


Sejujurnya aku sangat takut, tapi mau melarang Mas Fadil bekerja tentu itu salah. Aku hanya bisa berdoa dalam hati semoga semua baik - baik saja.


Sejak saat itu aku lihat dan dengar Nas Fadil sering bertelepon dengan teman - temannya. Membicarakan tentang rencana pembelian sarung tangan.


"Bun udah dapat sarung tangannya dari Jakarta, satu ton" ucap Mas Fadil.


"Banyak sekali yah?" tanyaku.


"Iya jadi ini ceritanya ini barang kualitas nomor dua di pabrik. Kalau kualitas pertama tentu udah di sortir dan langsung masuk box. Kalau barang ini Bun diangkat langsung hitungan kiloan. Nanti sampai di sini baru di sortir lagi. Delapan puluh persen masih bagus. Pihak sana sudah bicara sama ayah pakai video call. Mereka juga sudak kirim barangnya. Nih contohnya, bagus kan?" Mas Fadil menjelaskan bagaimana jalan cerita bisnisnya.


Dia menyerahkan sample sarung tangan yang di kirim dari Jakarta.

__ADS_1


"Kalau sample pasti orang kirim yang paling bagus Mas untuk menarik kita membelinya. Lah kalau ternyata dalam satu ton itu banyak yang rusak bagaimana? Apa gak rugi?" tanyaku khawatir.


"Mereka menjamin delapan puluh persen bagus" jawab Mas Fadil.


"Satu ton berapa harganya?" tanyaku.


"Lima puluh juta" jawab Mas Fadil.


"Mas itu bukan uang yang sedikit lho.. Kalau Mas beli barang zonk terus teman Mas nuntut bagaimana?" tanyaku khawatir.


"Teman Mas gak nuntut, kami kan sama - sama men- deal kan barang itu. Dia lihat kok video call ayah dengan pihak Jakarta. Mas hanya jadi pihak ke tiga, perantara saja" jelas Mas Fadil.


"Perasaan Bunda kok gak enak ya Mas" ucapku lagi.


"Itu karena Bunda terlalu khawatir. Kalau begitu terus ya kita gak maju - maju. Takut terus kapan mulai buka usahanya Bun" jawab Mas Fadil.


Keesokan harinya.


"Bun lihat barangnya sudah dikirim via bus, tiga hari lagi sampai" lapor Mas Fadil.


"Sudah, teman Mas yang di sini punya saudara di Jakarta. Jadi sebelum barang di kirim dia udah lihat ke gudang mereka" jawab Mas Fadil.


Aku hanya diam tidak bisa berkata apa - apa lagi. Tapi setiap memikirkan semua kemungkinan yang terburuk perutku selalu sakit.


Tiba - tiba Arif meneleponku.


"Kak, kita buka usaha yuk?" ajak Arif.


"Usaha apa dek?" tanyaku pada adik bungsuku.


Dia memang bekerja sebagai dokter tapi sangat suka berminat membuka usaha lain apalagi dibidang makanan dan minuman. Saat dia kuliah di Jawa dulu dia sering memperhatikan usaha pinggir jalan yang ramai di tempat dia kuliah. Dan dia bercita - cita ingin membuka usaha seperti itu di kota tempat kami tinggal.


"Kita jualan susu segar, di Kota ini aku lihat baru satu Mbak yang jual. Harganya lumayan mahal. Kita nanti jualnya dibawah harga mereka untuk penarik" ucap Arif.

__ADS_1


Jualan seperti ini lebih masuk akal menurutku dari pada bisnis Mas Fadil.


"Boleh dek, Kakak tau dimana mencari susu segarnya. Di dekat rumah Kakak ada peternakan sapi perah, yang jual orang Manggali" sambutku.


"Naaah pas banget kan, bisa minta tolong Mas Fadil yang beli. Mas Fadil kan lagi gak ada kerja. Nanti sekalian aja Mas Fadil yang jaga Kak. Kita sistem bagi hasil aja" ujar Arif.


"Nanti Kakak bilang sama Mas Fadil ya" jawabku.


Setelah selesai bertelepon aku cerita kepada Mas Fadil. Dia menyambut ceritaku dengan baik.


"Boleh Bun, sambil usaha itu Mas kan bisa tetap bisnis sarung tangan. Bisnis itu bisa hanya lewat telepon kalau transaksi kami pertama ini berhasil" sambut Mas Fadil.


Akhirnya ide Arif kami jalankan. Mas Fadil sudah survei langsung ke peternakan sapi perah dan membeli susunya untuk sample minuman.


Arif dan Mas Fadil menggabungkannya dengan bubuk minuman kekinian segala rasa. Ada rasa coklat, matcha, moca, taro, melon, strawberry dan lainnya.


Ters rasa, semuanya enak baru kami cari peralatan berjualan dan lokasi jualannya. Seiring sejalan bisnis Arif, sarung tangan sudah sampai di kotaku.


Mas Fadil meminta izin untuk bareng temannya pergi mengambil barang itu di stasiun Bus. Hatiku rasanya sangat khawatir dan takut.


Sesampainya disana Mas Fadil menghubungiku lewat video call dan menunjukkan kepadaku bukti nyata bahwa barangnya memang benar - benar sampai agar aku tidak khawatir dengan usahanya.


Mereka mengantarkan barang itu ke gudang temannya untuk di sortir. Sampai disana sudah bukan pekerjaan Mas Fadil lagi. Urusan dia sudah selesai. Mas Fadil hanya perantara barang pesanan sampai barang tersebut sampai di kota kami.


Untuk sementara Mas Fadil baru mendapatkan fee satu juta dari selisih ongkos kirim dan dia memberikan uang itu langsung kepadaku. Tapi aku masih belum lega menerimanya. Aku masih sangat takut terjadi sesuatu dengan usaha Mas Fadil. Oleh sebab itu uang yang dia berikan tidak aku pakai, masih aku simpan dengan baik.


Keesokan harinya Mas Fadil mendapat telepon dari temannya.


"Apa? Barangnya sudah di sortir? Hanya empat puluh persen yang bagus?" tanya Mas Fadil.


Seeer... jantungku rasanya mau copot mendengar suara Mas Fadil bertelepon dengan temannya.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2