
Ridwan
Alhamdulillah operasi Mbak Wati berhasil.
"Alhamdulillah" ucap Mas Fadil.
Aku yang belum tau apa - apa tiba- tiba penasaran dengan apa yang Mas Fadil baca.
"Ada apa Yah?" tanyaku ingin tau.
"Alhamdulillah operasi Wati berhasil Bun" jawab Mas Fadil.
Aku manarik nafas lega.
"Alhamdulillah syukurlah, banyak hikmah yang harus kita ambil dari kisah hidupnya. Begitulah kalau kita berdosa pada orang tua, hidup pasti tidak bahagia. Dua kali dia menikah Bunda rasa dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Anak - anak lahir tanpa pernah dia bertanggungjawab full. Punya suami jangankan jadi imam dalam keluarga malah membuat merana istri dan anak - anaknya. Mungkin Allah masih beri dia kesempatan untuk menghapus dosa - dosanya" ujarku.
"Sebenarnya dia bukan wanita yang nakal yang suka bergonta ganti pria. Dia sebenarnya wanita setia, dua kali menikah punya suami yang suka main perempuan, suka bertindak kasar dan malas kerja. Tapi dia tetap cinta pada suaminya. Sesakit apapun yang dia terima dia tetap mencintai suaminya. Aku sering berpikir dia itu bodoh. Mencintai sampai mati, bahkan dia rela mati demi cinta" sambut Mas Fadil.
"Ini mungkin jalak terbaik yang Allah beri. Dengan cara seperti ini dia dan anak - anaknya semua bisa berkumpul" ucapku.
"Iya tapi bagaimana menghidupi enam anak - anaknya plus dia yang butuh perhatian khusus. Tiga anak teratas semua nakal - nakal. Sedangkan tiga anak yang dibawah masih kecil - kecil sekali. Kita saja hidup pas - pasan, begitu juga ayah dan mamak. Kasihan mereka kalau harus menanggung hidup Wati dan anak - anaknya" ujar Mas Fadil.
"Pasrahkan semua kepada Allah Yah.. semua pasti ada jalannya. Yakinlah Allah pasti akan rezeki pada kita semua kalau niat kita baik" sambungku.
"Sudah Bun, sudah malam lebih baik kita tidur. Besok Bunda mau kerja kan. Mari kita istirahat" ajak Mas Fadil.
Setelah selesai bersih - bersih kami pun beristirahat dan tidur.
Keesokan paginya Mas Fadil menghubungi adikku Arif untuk melaporkan keadaan Wati dan hasil operasinya.
"Itulah yang aku katakan tadi malam Mas. Tiga puluh lima persen itu kan prediksi secara kedokteran tapi semua itu akan kalah dengan kehendak Allah. Kalau Allah mengatakan belum waktunya Mbak Wati pergi Allah pasti akan kasih cara bagaimana pun itu yang penting Mbak Wati selamat. Hebat dia bisa bertahan seperti itu, dia wanita kuat. Kemarin mendengar penjelasan dokter sebenarnya sangat berat sekali peluang operasinya berhasil. Mukjizat Allah semua Mas, kita harus banyak - banyak bersyukur" ujar Arif.
"Iya Rif, perawat juga bilang kalau semangat hidup Wati sangat kuat. Walau kondisinya sedang koma tapi setidaknya dia bisa bertahan. Sekarang menunggu perkembangan dia pasca operasi" sambut Mas Fadil.
"Anak - anaknya bagaimana?" tanya Arif.
__ADS_1
"Hari ini kami akan bawa anak - anaknya dari rumah kontrakannya ke rumah Mamak. Lebih baik kalau semuanya berkumpul dari pada pikiran terbagi - bagi" jawab Mas Fadil.
"Iya Mas, turut prihatin ya Mas atas musibah yang menimpa adiknya Mas. Nanti kami akan mengirim sedikit bantuan untuk Mbak Wati ke rekening Kak Anggi ya" ujar Arif.
"Terimakasih ya Rif atas semua bantuan kamu" balas Mas Fadil.
"Sama - sama Mas" balas Arif.
Telepon terputus.
"Udah selesai Bun?" tanya Mas Fadil.
"Sudah yah" jawabku sambil meraih tas kerjaku.
"Apa rencana ayah hari ini?" tanyaku.
"Ayah mau ke kepling ngurus kartu keluarga Wati saat dia masih status janda dulu" jawab Mas Fadil.
"Iya ya Bunda lupa, dulu kan dia punya kartu keluarga bersama Hari, Lia dan Akbar. Tapi setelah menikah dengan Dana apa dia gak ganti kartu keluarga?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Wah gila dia, berani betul. Bisa bahaya tuh" sambutku.
"Makanya dasar brengse*. Kalau ketemu nanti mungkin akan kuhajar sampai puas" ucap Mas Fadil emasi.
"Hati - hati Yah jangan bertindak gegabah. Nanti gara - gara dia rusak masa depan kita" pesanku khawatir.
"Iya Bun, yuk kita pergi" sambut Mas Fadil.
Aku mengunci rumah lalu naik keatas motor ,kami pun pergi.
Sore harinya aku dijemput Mas Fadil dari kantor langsung menuju ke Rumah Sakit.
"Gimana yah?" tanyaku saat kami di dalam perjalanan.
"Alhamdulillah kartu keluarga dan KTP Wati bisa langsung selesai satu hari. Ayah urus di Dinas Kependudukan. Kalau BPJD Ketenagakerjaan ada fotocopy kartunya dan sudah diserahkan ke pabrik tempat Wati bekerja. Ayah mau ke kantor polisi untuk membuat laporan. SIM dan STNK Wati juga tidak ada. Gak tau apakah hilang di tempat kejadian atau hilang ditempat lain" jawab Mas Fadil.
__ADS_1
"Susah ya kalau semua administrasi nya gak lengkap. Ya Allah.. kok bisa segitunya kehidupan Wati" sambutku.
"Sebenarnya Ayah kesal dengan keadaan ini tapi tidak mungkin diabaikan. Dia sedang berjuang untuk hidup masak kita tak kasih kesempatan dia untuk hidup. Mungkin setelah dia sadar dia bisa bertaubat" ujar Mas Fadil.
"Aamiin... bantu lah dia Yah. Walau dia sudah membuat kita semua marah dan kesal dulu tapi bagaimana pun Wati itu adik ayah. Hubungan darah tidak akan bisa putus" ujarku.
"Kalau setelah ini dia masih ngeyel akan aku hajar dia" sambut Mas Fadil kesal.
"Huuus.. jangan gitu ah ngomong nya" bantahku.
Tak lama aku dan Mas Fadil sampai ke Rumah Sakit. Aku melihat kedua mertuaku terlihat sangat sedih.
"Gimana Mak keadaannya?" tanyaku.
"Belum sadar, Dokter juga tidak bisa memastikan kapan dia sadar. Menunggu mukjizat dari Allah. Tapi katanya keadaannya meningkat ke arah yang lebih baik. Dokter bilang semangat hidup Wati sangat tinggi. Teman - teman kerja dia juga bilang tadi. Kemarin setelah dia jatuh dia masih sadar dan memikirkan anak - anaknya saat dia mau dibawa ke Rumah Sakit. Dia ngeluh kepalanya pusing, kemudian dia muntah darah saat menuju rumah sakit" jawab Mamak mertua dengan mata berkaca - kaca.
Aku menarik nafas panjang. Begitulah hati orang tua. Walau sudah terluka berulang kali dibuat anaknya, walau mereka pernah sangat marah tapi rasa sayangnya tidak pernah putus.
Wati dulu salah bergaul saat sekolah, Bapak mertua juga dulu sempat memanjakannya karena dua anak sebelumnya laki - laki, baru dia dapat anak perempuan yaitu Wati.
Jadi saat kecil semua keinginan Wati selalu dikabulkan sama Bapak mertua. Tidak mengerti bagaimana keadaan orang tuanya Wati sering memaksa.
Persis seperti Lia saat ini. Aku melihat seperti itu juga kedua mertuaku mengasuhnya. Sering Mas Fadil dan adik iparku yang lain mengingtkan agar jangan sampai ada Wati kedua lagi yang membuat orang tua kecewa.
Musibah ini sangat memberi pelajaran yang sangat berarti bagi diriku sendiri. Selama ini aku selalu berprinsip tidak mau menyusahkan orang tua, agar kelak saat aku menjadi orang tua aku tidak susah mendidik anak - anakku.
Aku selalu berdoa kepada Allah agar hati anak - anakku lembut sehingga tidak sulit bagiku untuk mengarahkan dan mendidik mereka.
Ya Allah jadikanlah anak - anakku menjadi anak - anak yang soleh dan solehah. Aamiin...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1