
"Bude gak tau lagi harus bagaimana untuk menyentuh hati kamu. Apa Bude harus melakukan cara kekerasan untuk mendidik kamu? Harus pakai tangan, pukulan, jewer dan cubitan?" tanyaku.
Dia masih diam menunduk.
"Jawab Lia jangan diam saja. Besok - besok kamu ulang lagi apa yang Bude dan Pakde tidak suka. Kamu langgar semua peraturan yang kami buat" bentakku sambil memukul meja.
Terlihat tubuh Lia bergetar karena terkejut.
"Apa kamu mau Bude pukul?" tanyaku lagi dengan suara yang tinggi.
"Ng.. gak Bude" jawab Lia akhirnya.
"Kamu kan sudah besar, harusnya dengan kata - kata saja kamu sudah mengerti. Jangan sampai Bude bicara berulang - ulang. Selalu itu - itu saja yang kamu lakukan" ucapku.
"Ini ancaman terakhir dari Bude ya.. Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini Bude akan anggap kamu sebagai anak Bude sendiri. Tapi jika kamu memilih keluar dari rumah ini berarti kamu bukan siapa - siapa Bude. Pikirkan itu, bukan hanya kamu saja yang harus Bude pikirkan. Masih banyak persoalan yang lain. Bude juga masih punya anak - anak yang harus Bude besarkan dan Bude didik" tegasku.
Aku sudah menyentuh hatinya dengan tetesan air mataku tapi sepertinya hatinya tidak juga tersentuh. Dia hanya diam tanpa kata dan rasa penyesalan.
Mungkin di dalam hatinya sudah membangkang dan melawan. Sepertinya cara terakhirku untuk mendisiplinkan nya harus seperti ini. Karena kalau aku lemah lembut dia semakin menjadi - jadi.
"Kamu Bude hukum. Sampai masuk sekolah baru Bude gak kasih kamu keluar. Kemanapun, termasuk ke rumah nenek. Itu hukuman buat kamu" ucapku.
"I.. iya Bude" jawabnya.
"Ya sudah sana kamu beresin rumah. Bude mau buat pesanan tart ulang tahun hari ini" perintahku.
Lia pergi dari hadapanku. Aku menatapnya dari belakang. Sudah hampir habis kesabaranku menghadapinya. Ini kali terakhir aku mencoba mendidiknya, aku lihat Mas Fadil juga sudah angkat tangan. Jadi untuk apa aku paksakan Lia tetap di sini.
Kalau masalah anak - anak nanti aku pikirkan siapa yang jaga mereka saat aku dan Mas Fadil pulang kerja. Kalau titip di rumah mertua aku tidak mau. Karena di sana banyak anak - anak dari para adik iparku berkumpul.
Jika setiap hari bertemu nanti jadi susah, yang ada aku dan adik iparku yang bertengkar karena anak - anak.
Setelah selesai buat tart aku dan Mas Fadil pergi mengantarkan pesanan hari ini. Saat pulang sekolah alangkah terkejutnya kami melihat anak - anak hanya tinggal berdua saja di rumah.
"Mana Mbak Lia?" tanya Mas Fadil pada Shifa.
__ADS_1
"Mbak Lia katanya ke rumah nenek Yah" jawab Shifa.
"Jadi kalian ditinggal dari tadi?" tanya Mas Fadil emosi.
"Iya, katanya dia cuma sebentar tapi ternyata lama" jawab Shifa lagi.
"Ya sudah tidak apa - apa nanti biar ayah hubungi Kakek" ujar Mas Fadil.
Mas Fadil tau hukuman yang aku buat untuk Lia. Dengan kepergiannya ini, otomatis Mas Fadil jadi semakin marah. Dia segera menghubungi nomor Ayahnya.
"Yah Lia ada di sana?" tanya Mas Fadil.
"Ada" jawab Mertua laki - laki.
"Ngapain dia di sana?" tanya Mas Fadil.
"Gak ada dia cuma tidur di kamar" jawab Ayah mertua.
"Tega benar anak itu ya.. Saat aku dan Anggi pergi dia malah pergi dan meninggalkan anak - anakku berdua saja di rumah" ucap Mas Fadil marah.
"Tidak ada dia izin, percuma saja punya HP tapi gak tau bagaimana cara mengirim pesan" sindir Mas Fadil.
"Ya sudah Ayah antar dia sekarang pulang" ujar Ayah mertua.
Tak lama telepon terputus.
"Bunda tanya dia untuk terakhir kalinya apa dia masih mau tinggal di sini atau tidak. Jangan sampai Ayah yang turun tangan bisa habis dia Ayah buat. Dari tadi Ayah sudah tahan emosi. Ayah takut silap dan memukul dia, bisa bahaya jadinya" ujar Mas Fadil.
"Kalau tidak mau tinggal di sini lagi bagaimana Yah?" tanyaku.
"Biarkan dia pergi untuk apa mengurus anak seperti itu. Bikin tambah pikiran saja. Kita mati - matian mendidiknya untuk jadi anak yang benar, Bapak dan Mamaknya di sana enak - enakan lepas tanggung jawab. Dia masih punya orang tua, mereka lebih berhak untuk tanggung jawab pada anak - anaknya" jawab Mas Fadil.
Kalau sudah marah seperti ini Mas Fadil tidak akan bisa dibujuk lagi. Walau itu ponakannya sendiri. Berarti batas kesabaran Mas Fadil sudah habis.
"Jadi anak - anak bagaimana Yah? Senin besok mereka ujian lho? Kan harus daring, mana bisa ujian dari rumah mamak, disana tidak ada wifi?" tanyaku.
__ADS_1
"Biar selama semingu ini kita gantian jaga anak - anak. Saat Bunda kerja ayah yang jaga mereka di rumah. Nanti Bunda pulang baru Ayah yang kerja. Kalau Bunda WFH anak - anak sama Bunda di rumah, ayah kerja di luar" jawab Mas Fadil.
"Baiklah kalau begitu nanti Bunda tanya sama Lia. Kalau kata - kata Bunda nanti sedikit kasar maaf ya Yah. Bagaimanapun Lia itu kan ponakan Ayah" ujarku.
"Itu memang permintaan dia. Di lembutin malah nginjak mending sekalian dikasarin" balas Mas Fadil.
Ya Allah Mas Fadil benar - benar marah. Batinku.
Tak lama Bapak mertua datang bersama Lia. Lia langsung masuk ke dalam rumah dan terus masuk ke kamar. Diluar Bapak Mertua sedang bicara dengan Mas Fadil. Mungkin sedang membicarakan tentang Lia.
Aku memanggil Lia ke ruang TV. Lia duduk di sofa. Sementara Shifa dan Rayyan aku suruh bermain di depan rumah.
"Lia kenapa tinggalin adik - adik berdua aja di rumah?" tanyaku.
Dia diam dan menunduk, kali ini tidak membuatku iba malah membuat aku semakin geram.
"Dimana tanggung jawab Lia. Pakde dan Bude kan kasih kamu amanah buat jaga adek - adek. Bisa - bisanya kamu pergi dan tinggalkan mereka berdua saja di dalam rumah. Apalagi alasan kamu kali ini ke rumah nenek? Kamu sengaja kan berbuat seperti itu sebagai tanda bahwa kamu membangkang pada peraturan Bude dan Pakde?" tanyaku marah.
Kali ini sulit sekali bagiku menahan amarah. Ingin sekali aku main tangan padanya tapi untuk saja masih bisa aku cegah.
"Kalau kamu tida suka dengan peraturan yang Bude buat kami silahkan pilih keputusan yang tegas untuk masa depan kamu. Bude tidak bisa memaksa kamu untuk tetap tinggal di sini Sekarang kamu jawab dan pilih. Kamu masih mau tinggal di sini apa tidak? Masih mau Bude dan Pakde didik tidak? Masih mau berbagi kasih sayang tidak?" tanyaku.
Lia menundukkan wajahnya seperti bisanya membuat aku muak.
"Jawab.... !!! jangan diam saja" bentakku
Perlahan dia mengangkat kepalanya dan berkata.
"Lia memilih untuk kembali ke rumah nenek" jawab Lia
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1