
Mas Fadil sibuk mengurus pengiriman barang berupa sarung tangan satu ton ke Kota A. Aku tak berhenti bersyukur karena Mas Fadli tidak jadi pergi dan tidak ada kerugian besar yang kami alami.
Hari ini aku membuat cake marmer favorit keluarga. Sambil menikmati sore hari aku duduk di teras rumah dengan hidangan teh hangat dan beberapa potong cake untukku makan.
"Lia tinggalin cake untuk Pakde ya" pesanku pada anak - anak.
"Iya Bude" jawab Lia.
Aku menatap senja dengan perasaan lega. Hari ini langit sangat cerah, walau sudah menjelang senja tapi warna langit masih sedikit bersinar.
Aku mengkilas balik kehidupan kami sejak pindah rumah. Semoga bukan pertanda buruk kami mulai pindah rumah langsung mendapatkan cobaan bertubi-tubi.
Bahkan sampai saat ini masalah masih saja datang silih berganti. Aku tidak mau kalau rumah ini dikatakan sial. Karena tidak ada sesuatu hal yang sia - sia Allah ciptakan.
Aku kembali teringat niatku yang ingin hijrah sebenar - benarnya. Bukan hanya pindah rumah tapi benar - benar ingin pindah ke kehidupan yang lebih baik.
Mungkin Allah mencuci semua hal yang kotor yang kami miliki di awal agar nanti hidup kami lebih bersih. Aku yakin Allah pasti sedang menaikkan derajat keimanan kami agar kami lebih mendekatkan diri lagi kepadaNYA dan hanya berharap kepadaNYA tidak ada yang lain.
Tak henti - hentinya aku mengucapkan syukur kepada Allah walau berat tapi satu persatu masalah selesai dengan baik. Aku harus mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Harus mendengar nasehat yang baik dari siapa saja. Kembali aku teringat pesan Fatimah tentang suamiku. Sejauh ini aku memang melihat usahanya untuk bangkit kembali.
Aku tahu kekecewaannya pada teman - temannya dulu seperti Gayus dan Heri sangat dalam. Sampai saat ini dia tidak mau diajak bertemu oleh Heri. Karena dia masih belum sanggup untuk bertemu Gayus.
Begitu juga dengan Gayus yang selalu mengelak setiap kali suamiku menuntut haknya di arisan sekolah. Sudah lewat beberapa bulan tidak ada juga itikad baik mereka untuk memberikan uang arisan yang menjadi hak kami.
Terkadang kalau ingat mereka hatiku juga ikut sakit. Aku berteman di sosial media dengan istri Gayus dan Heri. Mereka sering memposting sedang jalan - jalan bareng bersama keluarga. atau sedang makan makanan yang mewah bersama.
Mereka terlihat sangat bahagia dan terlihat sangat mewah. Mengapa Heri tidak mau membayar uang batu bata yang hanya delapan ratus ribu, sementara jalan - jalan seperti itu mereka bisa. Mereka bisa makan makanan mewah sedangkan ada kami di sini yang sangat mengharapkan uang delapan ratus ribu.
__ADS_1
Begitu juga dengan Gayus, dimana tanggung jawab dia sebagai ketua arisan. Seandainya dia punya dendam pribadi dengan Mas Fadil mengapa harus dibawa masalah pribadi ke dalam urusan arisan.
Cicilan seratus lima puluh ribu dengan anggotan sekitar lima belas orang. Kalau aku hitung - hitung uangnya lebih satu juta setengah. Kami sudah membayar lunas setiap orang - orang yang duluan keluar namanya saat arisan.
Giliran kami mengapa malah tersendat seperti ini. Tidak kah mereka berpikir betapa besar dosanya menahan hak orang lain apalagi orang tersebut sangat membutuhkan.
Kalau tidak ingat malu dan harga diri, rasanya ingin sekali aku mendatangi rumah Heri dan Gayus. Tapi Mas Fadil melarang karena itu adalah urusan mereka. Perempuan tidak perlu ikut campur.
Air mataku menetes perlahan, aku sangat larut dalam jeritan hatiku yang terluka sampai tidak sadar kalau Mas Fadil pulang.
"Assalamu'alaikum.. Bun" ucap Mas Fadil.
Aku hanya diam saja.
"Bun... Bunda... Assalamu'alaikum" ucap Mas Fadil sekali lagi.
"Eh.. Wa'alaikumsalam. Lho Mas udah pulang?" tanyaku terkejut.
"Ah iya" Aku segera menghapus air mataku.
"Nih ada sedikit rezeki" Mas Fadil memberikan dua lembar uang seratus ribu kepadaku.
"Dari mana Yah? Apakah ini halal?" tanyaku.
Aku sering bertanya seperti itu kepada Mas Fadil kalau dia memberi uang. Apalagi setelah dia berhenti bekerja.
Bukan karena apa - apa. Tapi aku takut Mas Fadil gelap mata melakukan apa saja demi mendapatkan uang termasuk cara yang tidak halal.
"Halal donk Bun... " sambut Mas Fadil tersenyum.
__ADS_1
Aku melihat wajahnya terlihat lelah.
"Duduk dulu yah makan kue, biar Bunda buatkan minum untuk Ayah" ucapku.
Aku menerima uang yang diberikan Mas Fadil kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat teh hangat. Tak lama kemudian aku kembali dengan secangkir teh di tangan ku dan menyerahkan nya kepada Mas Fadil.
"Nih Yah minumannya" ucapku.
Mas Fadil meminum teh yang aku buat.
"Sruuuup... aaah.. Alhamdulillah nikmatnya minuman yang dibuat istriku" puji nya.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar candaannya sore ini. Sepertinya hati Mas Fadil lagi senang.
"Dari mana uangnya Yah?" tanyaku lagi.
"Tadi saat mau pulang Ayah ketemu Heri di simpang. Dia yang kasih uang itu. Katanya di cicil dulu, uangnya cuma ada segitu. Lagian batu bata belum terpakai semua" jawab Mas Fadil.
"Teman Ayah itu emang aneh ya.. Masih saja seperti itu pikirannya. Pantas saja dia tidak mau membayar uang batu batanya karena alasan batu bata belum terpakai. Padahal dulu waktu mau memesan batu kita tidak ada memaksa dia untuk ikut gabung bersama kita. Dia malah yang menawarkan" sambutku.
Mas Fadil menarik nafas panjang.
"Yaaah terkadang memang ada sifat manusia yang seperti itu Bun dan kita baru saja bertemu dengan manusia seperti dia. Dibilang aneh tapi nyata, ada di depan mata kita. Tapi Ayah senang, mungkin saat ini kehidupan kita sedang dibawah tapi Ayah tidak malu mengangkat wajah Ayah dihadapannya. Justru dia yang selalu mengelak setiap kali kami bertemu. Dia kira baru tadi saja Ayah melihat dia. Dia salah, Ayah sering memergoki dia pergi mengelak untuk bertemu Ayah. Dan Ayah selalu tersenyum setiap kali melihat dia lari" ungkap suamiku.
"Itu juga bisa kita jadikan pelajaran Yah pada hidup kita. Tidak enak meminjam uang kepada orang lain. Kita tidak akan bisa memandang wajah orang itu dengan lantang. Apalagi saat kita tak bisa membayar hutang. Satu lagi pelajarannya berhati - hati juga saat membantu orang lain. Bukan Bunda bilang itu tidak baik. Tapi kita lihat dulu keadaan dia bagaimana, sifatnya bagaimana. Kalau Heri menurut Bunda dia sanggup membayar uang batu bata itu Yah. Karena di sosial media istrinya selalu memposting kehidupan yang mewah. Tapi memang dianya yang tidak punya niat untuk membayarnya. Sudah lebih enam bulan kan batu bata di pesan tapi dia baru sekali membayar. Padahal dulu janjinya dua bulan lunas" ujarku.
"Biar sajalah Bun begitu hidup mereka. Yang penting kita hanya mengharap pahala dari Allah karena niat baik kita yang ingin menolongnya dulu. Kalau dia membalasnya seperti itu, kita serahkan saja semua kepada Allah" sambut Mas Fadil.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG