Menatap Senja

Menatap Senja
23


__ADS_3

Tiba jadwal kunjungan aku ke dokter. Hari ini aku kembali ditemani oleh suamiku. Setelah absen pagi di kantor dia langsung datang ke Rumah Sakit.


Minggu ini aku tidak ketemu dengan Pak Pramono, mungkin dia sibuk dengan bisnisnya. Sehingga ganti jadwal.


Perawat memanggil namaku, aku dan suami masuk ke ruangan Praktek bersamaan.


"Selamat siang Pak.. Bu.. Kali ini datang berdua lagi ya.. Silahkan duduk" sapa Dokter ramah.


"Iya Dok, suami saya hari ini kerjaannya longgar jadi bisa temani saya" sambutku.


"Padahal kalau Bapak gak ada Ibu lebih seru lho Pak curhatnya, sampai pakai air mata" ungkap dokter sambil tersenyum ramah.


"Oh ya? Apa dia cerita tentang saya Dok? Makanya dia nangis?" tanya suamiku curiga.


Tawa Dokter pecah.


"Hahaha... tidak Pak, Ibu curhat tentang temannya dan beban pekerjaannya" jawab Dokter.


"Istri saya ceriwis kalau di rumah aja Dok. Tapi kalau sama orang lain dia lw jg memilih mengalah dan diam setiap ada pertengkaran" ungkap Mas Fadil.


"Benarkah begitu Bu?" selidik Dokter.


"Iya Dok, saya sungkan sekali mengeluarkan isi hati saya, takut menyinggung perasaan orang lain. Jadi kalau ada pertengkaran saya lebih memilih diam dan memendamnya di dalam hati. Saya tidak sanggup kalau besok - besok di kantor suasananya jadi gak enak dan diem - dieman sama teman saya" ungkap ku.


Dokter tersenyum sambil menarik nafas panjang.


"Belajar ungkapkan isi hati Bu, jangan pendam sendiri, nanti itu penyebab rusaknya pikiran Ibu. Masih ada yang mengganjal di dalam hati Ibu. Kalau memang Ibu tidak suka katakan saja tidak suka. Jangan menyiksa hati Ibu sendiri dengan berusaha menyukai pilihan atau keputusan orang lain. Utarakan saja apa yang Ibu pikirkan, kalau memang terjadi selisih pendapat itu wajar. Berusaha gunakan kata - kata yang sopan agar teman Ibu tidak tersinggung. Dari pada Ibu pendam dan saat Ibu tidak tahan lagi Ibu keluarkan dengan cara meledak - ledak. Itu akan lebih berbahaya " jelas Dokter.


"Gitu ya Dok? Saya kira keputusan saya mengalah untuk menang selama ini sangat baik" ucapku.

__ADS_1


"Terkadang orang yang berbuat salah itu harus diperingatkan kalau perbuatan dia salah Bu, jangan malah didiamkan. Dia akan merasa semua yang dia lakukan benar" nasehat Dokter.


"Di kantor saya karyawan paling junior rasanya gak enak banget mengoreksi pekerjaan mereka. Saya selalu ikut apapun keputusan mereka" ujarku.


"Untuk kedepan berusahalah mengutarakan pendapat dan keinginan Ibu. Itu akan membuat hati Ibu lebih lega" sambung Dokter.


"Baik Dok" jawabku.


"Benar kan Bun. Bunda selalu mengalah di kantor tapi nanti saat di rumah curhat sama ayah dengan nada kesal dan marah dengan perbuatan mereka. Satu lagi Dok, dia sering seperti ketakutan setiap mendapat telepon atau pesan dari nasabah saat di rumah. Menurut saya apakah tidak salah kalau saat sekarang ini istri saya mengganti nomor ponselnya untuk mencegah teror nasabah yang berakibat pada kejiwaan istri saya di rumah. Dia pasti marah gak jelas sama saya dan anak - anak kalau dapat pesan yang tidak enak juga" ungkap suamiku.


"Mmmm.... saya rasa tidak masalah" jawab dokter.


"Tujuan saya agar masalah kantor tidak dibawa ke rumah Dok. Urusan kantor biar diselesaikan dikantor. Kalau sudah diluar jam kantor itu waktu untuk keluarga dan untuk diri sendiri. Kapan lagi hidup damai kalau setiap saat setiap waktu dapat pesan tak sedap dari nasabah" sambung Mas Fadil.


Aku hanya diam mendengarkan penjelasan suamiku. Dia memang pernah mengutarakan hal itu tapi aku belum mau dengan alasan nomor ponselku yang lama nomornya sangat bagus.


"Baik Dok akan saya lakukan" jawabku cepat.


Suamiku tersenyum sambil menggenggam tanganku dibawah meja kerja Dokter. Dia ingin memberi kekuatan padaku dengan cara seperti itu.


"Apa ada keluhan lainnya?" tanya Dokter.


"Saya sedang belajar mengenali tubuh saya dok. Ternyata kalau saya terlalu bahagia tidak bisa, terlalu sedih, terlalu marah juga tidak bisa. Semua bisa memancing dada saya menjadi sesak. Satu lagi saya juga harus mempelajari apa yang hati saya inginkan. Harus selaras dengan pikiran saya. Saya merasa lebih tenang saat hati saya mengakui secara akal pikiran saya bahwa saya mempunyai keterbatasan. Selama ini saya selalu merasa diri saya hebat dan bisa melakukan apapun. Ternyata saya hanya manusia biasa yang punya banyak kekurangan" ungkapku.


"Syukurlah kalau Ibu bisa mengambil hikmah dari penyakit Ibu ini" sambut Dokter.


"Saya sering mengalami perang batin saat menghadapi sebuah masalah. Saat itu terkadang sangat butuh pengakuan dalam hati saya bahwa saya memang tidak mampu. Menerima kekurangan diri ternyata bisa membuat saya lebih tenang" sambungku.


"Yang penting jangan lakukan satu hal apapun dengan berlebihan. Bukankah sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik? " pesan Dokter.

__ADS_1


"Iya Dok... Kini beban di hati saya rasanya plong sekali. Saya akan menyerah dengan keadaan disaat saya memang menemukan jalan buntu. Saya serahkan semua kepada Allah, saya percaya Allah akan membantu saya untuk menyelesaikannya. Dan lagi saya sekarang memberanikan diri untuk membuka usaha Dok. Minggu ini saya akan membuat sebuah minuman untuk acara pesta anak dari teman kerja saya. Siapa tau usaha ini punya prospek yang bagus kedepannya" ucapku.


Dokter tersenyum penuh ramah tamah.


"Ibu sudah mengalami banyak kemajuan. Semoga usahanya berjalan lancar ya Bu. Sesuatu hal positif yang Ibu lakukan akan sangat membantu kesembuhan Ibu. Ini resep obat untuk satu minggu ini ya" ucap Dokter menyerahkan selembar kertas.


Aku langsung meraih kertas itu.


"Terimakasih ya Dok" sahutku.


Aku dan Mas Fadil bergantian berjabat tangan dengan Dokter untuk berpamitan. Kemudian kami keluar dari ruangan praktek Dokter.


Mas Fadil merangkul bahuku sambil menuntunku menuju tempat menebus obat.


"Bunda hebat.. Bunda punya semangat kuat untuk sembuh. Ayah bangga pada Bunda. Bunda wanita istimewa dan beruntungnya ayah punya istri seperti Bunda" ucap suamiku.


"Terimakasih Mas.. Mas sudah setia menemaniku sampai sejauh ini" jawabku dengan mata berkaca - kaca.


"Semua demi anak - anak kita kan?" sambut suamiku.


"Iya" jawabku sambil tersenyum.


Kami ikut antrian menunggu untuk menebus obat yang diberikan dokter tadi kepadaku.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2