
"Sudah malam Tante, kami janji mau tidur di rumah Rahmat. Kami pamit dulu ya Tante" ucapku pada Tante Emi dan Tante Lizar juga pada suami mereka.
Aku dan Mas Fadil segera meninggalkan rumah Orang tua Papa dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Rahmat.
Di dalam perjalanan aku merasa baru saja mendapatkan ilmu yang sangat berarti. Ilmu menjadi orang tua yang baik. Pelajaran ini tidak akan aku dapatkan di bangku sekolah atau kuliah.
Dengan saling bertukar kisah hidup dan belajar dari hidup orang lain seperti ini ambil lah hikmah yang baiknya. Itu yang sering aku lakukan sekarang.
Sesampainya di rumah Rahmat ternyata mereka sudah menunggu kedatangan kami dari tadi.
"Kok lama banget datangnya Kak? Kami sudah pulang dari tadi lho?" tanya Rahmat.
"Iya tadi di rumah Oma rupanya ada Tante Lizar. Kata Tante Emi sudah hampir satu bulan Tante Lizar tinggal di sana. Katanya dia sakit dan takut tinggal di rumahnya. Tante Lizar seperti stres, menurut Tante Emi" jawabku.
"Lho kok bisa begitu?" tanya Rahmat terkejut.
"Tante Lizar tadi cerita pada kami tentang kisah hidupnya. Menurut Mas sakit Tante Lizar itu lumayan serius lho. Kalau Bunda kan cemasnya serangan panik. Tapi Tante Lizar ada unsur dendam di sana. Sepertingat luka hatinya sangat dalam" potong Mas Fadil.
"Luka hati? Apa maksudnya?" tanya Rahmat bingung.
"Tante Lizar katanya kecewa pada Opa" jawabku sambil menceritakan isi percakapan aku dan Tante Lizar juga Tante Emi tadi.
"Memang aku sudah dengar ceritanya dari Ayu Kak. Kemarin kan Ayu aku masukkan kerja ke perusahaan rekanan di kantor. Tapi setelah beberapa bulan kerja Ayu mengadu padaku kalau Papa dan Mamanya butuh dia untuk mengurus mereka. Ayu memilih mundur dan berhenti bekerja demi orang tuanya" ujar Rahmat.
"Memang kata Tante Lizar hanya Fiza yang jadi tulang punggung mereka saat ini" sambutku.
"Tapi kan Papa dan adik - adiknya yang lain tidak tinggal diam. Mereka tidak pernah merasa kesulitan setidaknya untuk makan dan kalau Tante Lizar sakit yang lain juga peduli dan bawa dia berobat" ujar Rahmat.
"Itulah tapi terkadang Tante Lizar tidak mau Mengakuinya. Dia terus - terusan merasa seperti tidak diperhatikan dan kecewa" balasku.
"Kita kan kalau sudah menikah punya masalah rumah tangga masing - masing. Tidak bisa ikut campur begitu saja dengan rumah tangga orang lain walau itu saudara sendiri. Paling hanya bisa membantu sebisanya saja" jawab Rahmat.
"Sudah.. kita doakan sama semoga Tante Lizar bisa segera sembuh" sahut Mas Fadil.
Lili istri Rahmat baru saja keluar dari kamar. Aku lihat wajahnya seperti tidak sehat.
"Kenapa Li? Kok kayaknya lemas banget?" tanyaku khawatir karena saat ini Lili sedang hamil tujuh bulan.
"Demam Kak, tapi demamnya aneh. Kalau minum obat sembuh, nanti kalau sudah habis waktunya naik lagi panasnya" jawab Lili.
"Sudah berapa hari seperti ini?" tanyaku.
"Susah dua hari" jawab Lili.
"Penciuman dan rasa gimana?" selidikku.
"Bagus Kak" jawabnya.
"Apa tuh yank?" tanya Rahmat saat melihat isi gelas yang dibawa Lili.
"Bubur kacang ijo tadi dibuat Bibik" jawab Lili.
"Minta donk" pinta Rahmat.
Rahmat makan dari sendok yang ada di dalam gelas Lili. Tak lama kemudian Bibik yang bekerja di rumah mereka membawakan dua gelas bubur yang sama untukku dan Mas Fadil.
Kami berbincang-bincang sambil menikmati bubur kacang ijo yang dimasak bibik.
"Kak aku pamit istirahat duluan ya, badanku rasanya makin gak enak" pamit Lili.
"Iya Lo, istirahat saja" jawabku.
Lili pergi dan masuk ke dalam kamar mereka.
"Mat kamu temani Lili saja di kamar. Lihat keadaannya, kalau mengkhawatirkan bawa saja berobat. Perasaan kakak kok gak enak ya. Yaaah takut penyakit yang ada saat ini. Lili kan lagi hamil" ujarku.
"Kemarin sudah tanya dokter kandungan Kak apa saja obatnya. Tapi kalau besok gak sembuh juga rencana nya kami memang akan pergi ke Rumah Sakit untuk periksa" jawab Rahmat.
__ADS_1
Rahmat kemudian menyusul Lili masuk ke kamar mereka. Sedangkan aku dan Mas Fadil masuk ke kamar tamu.
Besok paginya saat sarapan pagi aku melihat wajah Rahmat juga mulai tidak sehat.
"Kamu kenapa Mat?" tanyaku.
"Badanku meriang Kak. Tiba - tiba saja menggigil" jawab Rahmat.
"Wah ketularan Lili tuu kamu. Apalagi tadi malam makan bubur dari sendok milik Lili" ujarku.
"Periksa aja Mat, biar lebih jelas" sambut Mas Fadil.
"Iya nanti jam sepuluh kami mau ke Rumah Sakit periksa" jawab Rahmat.
"Kalau begitu saat kalian pergi kami juga pamit pulang ya. Gak enak ah kalau hanya kami saja yang di sini" ujarku.
"Iya" jawab Rahmat.
Setelah sarapan aku dan Mas Fadil sepakat untuk pulang lebih cepat karena perasaan kami tidak enak dengan Lili dan Rahmat.
Aku terus teringat ucapan nasabah yang aku temui di kantor. Dia baru saja sembuh dari covid. Saat dia sakit gejalanya persis sama seperti Lili.
Untuk pencegahan dan tidak mau ambil resiko yang besar. Kalau Rahmat dan Lili mereka sama - sama bekerja di kantor BUMN. Kalau terkena covid perusahannya mengcover kesehatan para karyawan.
Tidak seperti perusahaan kami yang sudah diambang kehancuran. Bantuan covid seperti pengukur suhu, hand sanitizer atau anti septic saja tidak ada.
Kami seperti pasrah berperang melawan pandemi ini. Kalau ada teman yang terkena covid hanya orang yang bersangkutan yang tidak masuk kerja, yang lain tetap bekerja.
Kami pulang lebih cepat dari rumah Rahmat. Sesampainya di rumah kami menunggu kabar dari Rahmat tentang hasil pemeriksaan mereka.
Aku mengirim pesan di group keluarga.
Anggi
Mat bagaimana hasil pemeriksaan kalian?
Rahmat
Mas Fadil
Semoga semua baik - baik saja.
Arif
Ada apa? Siapa yang sakit?
Rahmat
Mas dan Mbak Lili
Arif
Sakit apa?
Rahmat
Demam
Arif
Periksa yang lengkap Mas, Mbak Lili jan lagi hamil. Semoga bukan penyakit yang sedang semarak saat ini ya... cepat sembuh.
Anggi
Aamiin
Mas Fadil
__ADS_1
Aamiin
Sekitar sepuluh menit kemudian.
Rahmat
Kak Aku, Lili dan Bibik positif. Hanya Elda yang negatif.
Seeer... jantungku berdebar sangat kencang.
"Yaaah sudah baca pesan group?" teriakku pada Mas Fadil.
"Belum ada apa?" Mas Fadil balik bertanya.
"Mereka semua positif covid kecuali Elda" jawabku.
Aku langsung membalas pesan Rahmat.
Anggi
Bagaimana dengan kami ?
Arif
Kakak sakit juga?
Anggi
Alhamdulillah Kakak dan Mas Fadil baik - baik saja tapi kami tadi malam menginap di rumah mereka.
Arif
Aduh... kalian harus swab juga Kak. Mas Fadil dan Mbak Lili bagaimana? Apakah isolasi di Rumah Sakit?
Rahmat
Kami isolasi di rumah saja karena gejalanya ringan. Tapi Elda bagaimana? Dia sendiri negatif. Dia pasti gak mau pisah dari kami
Mama
Apa perlu Mama datang untuk jaga Elda?
Arif
Jangan.. nanti semakin banyak yang tertular. Sebaiknya kalian di rumah tetap pakai masker dan jangan memakai alat makan yang sama dengan Elda. Kalau tidur juga sebaiknya Elda tidur di kasur yang berbeda. Semangat InsyaAllah semua bisa dijalani. Elda masih anak - anak, covid tidak begitu berbahaya untuk anak - anak
Rahmat
Baik dek
Arif
Kakak dan Mas Fadil secepatnya swab
Mas Fadil
Iya Rif
Aku dan Mas Fadil saling tatap.
Ya Allah cobaan apa lagi ini? Kuatkan kami ya Allah. Doaku dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1