Menatap Senja

Menatap Senja
49


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Aku pulang ke rumah tapi rumah dalam keadaan tertutup.


"Lho kok gak ada orang yah?" tanyaku pada Lia.


"Ke rumah Mamak mungkin" jawab Mas Fadil.


"Lho kok mereka ke sana lagi? Aku kan sudah bilang sama Lia, shifa sudah mau ujian kok malah di ajak ke rumah Mamak. Di sana anak - anak gak akan belajar Yah, malah pada main karena ramai" ucaku kecewa.


Baru tiga hari yang lalu aku nasehati Lia tapi dia melakukannya lagi. Berarti dia tidak mendengar nasehatku dan ingin melawan peraturanku.


Aku menarik nafas panjang. Dadaku terasa berat dan perutku mulas.


"Sepertinya asam lambung Bunda naik yah" ucapku sambil membuka pintu rumah.


"Bunda tadi telat makan siang di kantor?" tanya Mas Fadil.


"Nggak.. lagi ada beban pikiran yang tak bisa Bunda cari jalan keluarganya" jawabku.


"Masalah apa, kok kayaknya berat banget?" tanya Mas Fadil.


"Tentang Lia.. baru tiga hari yang lalu Bunda larang ke rumah mamak. Bukan Bunda melarang yang seperti apa, Bunda hanya ingin mendisiplinkan Lia. Jangan sedikit - sedikit karena Bunda tegur dia lari ke rumah Mamak. Bisa bahaya hubungan Bunda sama Mamak kalau di laga terus. Bunda tau Mamak itu neneknya, kapan saja dia boleh pergi ke sana. Tapi masalahnya shifa kan harus belajar. Kalau mereka perginya dari pagi berarti Shifa gak ikut daring donk. Hp yang Shifa pegang kan gak ada paketnya yah, sedangkan di rumah Mamak gak ada wifi. Sebentar lagi Shifa mau ujian. Dan satu lagi yang Bunda tidak suka, Lia melanggar peraturan yang Bunda buat untuk dia" ungkapku.


Mas Fadil tampan sedang berpikir.


"Ya sudah semua terserah Bunda. Sejak awal kan Ayah tidak ada meminta pada Bunda untuk membawa Lia ke rumah ini. Walau dia anak adek Ayah sendiri tapi Ayah tau gimana karakter dia. Persis sama sama seperti Mamaknya. Bunda yang ingin mendidiknya, ya silahkan. Ayah tidak mau adanya Lia menambah masalah dalam rumah tangga kita. Akhir - akhir ini masalah kita sudah banyak. Ayah gak mau Bunda sakit lagi" sambut Mas Fadil.


"Tapi kalau gak ada Lia siapa yang jaga anak - anak di rumah? Kan sama - sama butuh Yah. Kita butuh teman anak - anak di rumah sedangkan Lia kan kita kasih fasilitas di sini. Ada Wifi dan tempat tinggal" jawabku kecewa.

__ADS_1


Mas Fadil terdiam sesaat.


"Padahal Bunda suruh dia, kita kan gak selamanya hidup seperti ini. Nanti kalau Ayah sudah kerja, Bunda sudah banyak buat perencanaan untuk anak - anak termasuk Lia. Sekarang kita kan lagi susah. Dia juga penyebab kita jadi seperti ini karena dia yang hilangin motor Bunda. Kok setega itu sih dia sama Bunda" sambung ku.


"Bunda dia itu lagi masa puber. Dia tidak akan memikirkan perasaan orang lain. Yang penting perasaan dia, apa yang dia mau dan bertindak sesukanya. Waktu malam dia pulang telat kemarin sebenarnya Ayah sudah ancam dia untuk memulangkan dia kepada Ayahnya. Karena Ayahnya masih hidup, dia lebih berhak mendidik Lia. Tapi dia minta tolong sama Ayah untuk tetap membiarkan dia tinggal disini. Tapi lihat apa yang dia buat sekarang. Dia gak mau ikut peraturan Bunda kan?" ujar Mas Fadil.


Kini gantian aku yang terdiam. Berbagai pemikiranku tentang Lia dan anak - anak. Terlebih Lia, rasanya sangat disayangkan kalau dia salah mengambil jalan hidup.


Ada perasan masih ingin menolongnya, walau Mas Fadil sebagai Pakde nya sendiri sebenarnya sudah menyerah.


"Nanti coba Bunda tanya Mamak dulu ya Yah. Apa alasan Lia kali ini ke rumah Mamak" ujarku.


Keesokan harinya sepulang kerja aku dan Mas Fadil langsung singgah ke rumah mertuaku untuk mencari tau apa alasan Lia ke rumah mertuaku kemarin.


"Mak kemarin Lia bawa anak - anak dari jam berapa?" tanya Mas Fadil.


"Lho berarti Shifa gak ikut belajar online Mak?" tanyaku.


"Itulah semalam Mamak marah juga, akhirnya Shifa pakai Hp Tari itu apa namanya gak ngerti Mamak. Kirim sinyal ke ponsel Shifa" jawab Mamak ku.


"Oh pakai hotspot" sambung Mas Fadil.


"Jadi kenapa Lia ke sini Mak? Anggi udah bilang sama dia kalau mau ke rumah Mamak hari sabtu atau minggu saat Anggi libur" tanyaku.


"Katanya dia mau daftar masuk SMK" jawab Mertuaku.


"Alaaaaah Mak alasan aja itu. Daftar SMK kan secara online. Di sini gak ada Wifi. Mamak lupa kemarin dia minta uang untuk isi paket datanya?" sambar Tari.


Aku terdiam mendengar ucapan Tari.

__ADS_1


"Aku sudah malas Mbak bilangin Lia. Mamak tu yang suka belain dia. Padahal perbuatnya salah. Harusnya suruh pulang, kan ada Ayah yang antarin mereka pulang. Kasihan Shifa belajar nya jadi terganggu karena banyak anak - anak di sini" ujar Tari.


"Yah dia kan cucuku. Sama seperti yang lain. Kalau dia mau ke rumah ini masak aku larang?" sambut Mamak mertua.


"Masalahnya Lia kan sudah tinggal di rumah Mas Fadil dan Mbak Anggi. Harus ikut peraturan mereka. Kalau Mamak Bela itu nanti yang buat dia membangkang sama perintah Mbak Lia dan Mas Fadil. Buktinya jelas, sekarang setiap aku menasehati dia tidak pernah di dengar. Dia anggap omonganku seperti angin lalu. Lia itu perlu sosok orang yang dia takuti atau segani. Kalau tidak dia akan berbuat seenak hati" ucap Tari.


Sebenernya aku juga ingin berkata seperti itu pada mertuaku tapi rasanya gak sopan kalau menantu yang bilang seperti itu.


"Masalahnya dia juga gak mau kasih kabar ke Anggi. Dia kan bisa kirim pesan yang mengabarkan kalau dia dan anak - anak pergi ke rumah Mamak. Apa sih beratnya kasih kabar. Kan gak kena biaya karena di rumah ada Wifi?" ucapku.


"Dia takut gak dikasih izin Mbak. Makanya pergi begitu saja gak bilang - bilang. Tadi malam aja capek Ayah nyuruh dia pulang. Makanya diantar Tama pulang ke rumah Mbak" jawab Tari.


Mertuaku terdiam.


"Maak maaf ya kalau kata - kata Anggi menyinggung perasaan Mamak. Anggi tau Lia itu cucu kesayangan Mamak karena dari kecil Mamak urus dia seperti anak sendiri. Tapi niat Anggi mengambil dia karena Anggi lihat Mamak sudah kesulitan menghadapi sikap dia. Serahkan pada kami saja Mak. Biar kami coba untuk mendidik dia ya Mak. Mudah - mudahan usaha kami berhasil dan Lia jadi anak yang baik" pintaku kepada Mertuaku.


Tampak mertuaku menarik nafas panjang.


"Ya sudah terserah kalian saja. Mamak ikut apa yang kalian ucap" jawab mertuaku.


"Kalau begitu kami pulang dulu ya Mak. Ingat kalau Lia datang ke sini suruh aja pulang jangan mamak biarkan dia berlama - lama di sini" ujar Mas Fadil.


"Kami pulang ya Mak. Assalamu'alaikum" ucapku.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2