
Satu bulan kemudian...
Keadaan Wati sudah semakin stabil. Dokter menyarankan Wati untuk dibawa pulang. Dokter meminta untuk bertemu dengan perwakilan keluarga.
Mamak mertua meminta Mas Fadil datang ke Rumah Sakit untuk mendengarkan penjelasan dokter.
"Dok bagaimana adik saya bisa dibawa pulang sedangkan selang oksigen dan selang di lehernya masih terpasang?" tanya Mas Fadil.
"Itu memang sudah ketentuannya Pak, jika kondisi pasien sudah stabil maka tinggal rawat jalan" ucap Dokter.
"Tapi Dok rumah kami jauh, kalau harus rawat jalan dengan keadaan Wati seperti itu kami sangat khawatir kalau keuangan kami tidak akan sanggup. Sementara kalau Wati tetap di rawat kan biayanya di tanggung BPJS Tenaga Kerja" ungkap Mas Fadil.
"Benar Pak semua memang ditanggung pemerintah tapi Ibu Wati tidak bisa berlama - lama di sini karena kondisinya semakin membaik. Begini saja Pak kami akan kenalkan dengan beberapa yayasan amal yang bisa membantu Bu Wati. Dia harus tidur di tempat tidur khusus, harus pakai tabung oksigen dan harus membelit alat untuk menyedot dahak di lehernya. Setidaknya seminggu sekali harus disedot agar bersih" perintah Dokter.
Keputusan Dokter ini sangat memberatkan dan membingungkan kami. Tapi tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan Wati tetap di rawat di rumah sakit.
"Kalau kami memikirkan pemasukan Pak, kami lebih suka Bu Wati terus di rawat di sini karena dana pemerintah akan terus mengalir tapi prosedurnya salah. Nanti kami bisa di black list" ungkap Dokter.
Mas Fadil menarik nafas panjang.
"Baiklah akan saya bicarakan dengan keluarga saya dulu Dok" jawab Mas Fadil.
"Paling la satu minggu ya Pak kami beri waktu" ucap Dokter.
"Baik Dok" balas Mas Fadil.
Setelah keputusan dari dokter seperti itu kami mencari informasi dari banyak orang. Alhamdulillah kami mendapatkan yayasan amal yang menyediakan tempat tidur pasien yang sakit.
Walau tidak semewah dan selengkap tempat tidur rumah sakit tapi sangat mencukupi untuk tempat tidur Wati. Kami memberikan uang DP sebesar Dia juta lima ratus ribu rupiah.
Nanti kalau tempat tidur tidak diperlukan lagi kami bisa mengembalikan tempat tidurnya dan uang DP akan kembali enam puluh persen.
Begitu juga dengan tabung oksigen. Kami DP uang dua juta lima ratus ribu rupiah tabung dipinjamkan. Kami hanya perlu membeli selang oksigen yang untuk di hidung Wati. Nanti kalau oksigen habis kami tinggal isi ulang.
Kalau tabung nya tidak diperlukan lagi kami bisa mengembalikannya dan uang DP kembali lima puluh persen.
Mas Fadil dan Ridwan mencari alat berupa mesin penyedot dahak untuk leher Wati. Setelah tanya sana sini akhirnya ketemu.
Harganya sekitar tiga juta tujuh ratus ribu rupiah. Walau mahal tapi alat itu harus dibeli karena memang sangat dibutuhkan.
Mamak mertua mengambil uang sepuluh juta untuk keperluan awal menyambut kepulangan Wati ke rumah.
Karena ini musim pandemi kamar Wati harus steril dan terpisah. Hans sanitizer dan masker juga sarung tangan juga harus dipersiapkan.
__ADS_1
Tari dan Lia mengosongkan satu kamar untuk tempat tidur Wati. Ayah mertu bersama Syahrul teman Tari pergi menjamin tempat tidur dan tabung oksigen.
Semua berbagi pekerjaan, sedangkan Mamak mertua dan Hari mempersiapkan administrasi yang dibutuhkan untuk kepulangan Wati.
"Pakde biaya ambulance sebesar lima ratus ribu rupiah, mereka bilang biayanya tifak termasuk dalam daftar tanggungan. Harus bayar pribadi" lapor Hari lewat telepon.
"Ya mau bagaimana lagi Ha, bilang sama nenek bayar aja, karena memang harus" jawab Mas Fadil.
Besok sorenya sekitar jam tiga sore Wati sudah keluar dari rumah sakit. Kami menyambutnya di rumah. Para tetangga ikut menyaksikan kepulangan Wati dan memberikan semangat.
"Untuk kepulangannya saja kita sudah mengeluarkan uang sekitar hampir sepuluh juta" ucap Mas Fadil pada Mamak mertua.
"Kata dokter setidaknya seminggu sekali dia harus kontrol" ucap Mertua.
"Ya Allah Mak naik ambulance sudah kena lima ratus ribu. Sampai mana kekuatan kita?" tanya Mas Fadli.
"Ya sudah Mas sampai batas kita sanggup saja. Kalau sudah tidak sanggup lagi mau bagaimana lagi. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin" ucapku.
Menyaksikan semua ini perutku rasanya sakit. Bukan murah biaya merawat Wati di rumah. Pesan dokter Wati tidak boleh demam. Karena bisa merangsang rusaknya otaknya.
Anak - anak Wati yang masih kecil - kecil belum mengerti keadaan. Mereka tidak mengert apa yang sedang di khawatirkan orang dewasa saat ini. Bagi mereka saat ini sedang berbahagia karena Mamaknya sudah bisa pulang ke rumah.
Aku sudah menyiapkan pampers, tisu basah hand sanitizer, sarung tangan dan masker untuk Wati.
"Luka kakinya yang terlalu lama kering. Itu yang harus kita bawa cek up ke Rumah Sakit. Dokter menyarankan untuk mencari perawat dekat rumah yang bisa mengganti perbannya" ucap Mamak mertua.
Sementara Wati sedang tidur dengan tenang. Untuk sesaat semua sudah lega karena Wati pulang dengan selamat.
Malam harinya Mamak mertua menghubungi kami di rumah.
"Bang Wati ngamuk" lapor Mamak mertua.
"Ngamuk bagaimana Mak?" tanya Mas Fadil.
"Dia marah - marah dan mengeluarkan kata - kata kotor. Sudah satu jam tidak berhenti" jawab Mamak mertua.
Aku dan Mas Fadil langsung berangkat ke rumah mertua. Dari luar kami sudah mendengar suara Wati berteriak - teriak.
"Anjin*... anjin* sakiiit... lepaskan tanganku anjin* Mamak" teriak Wati.
"Astaghfirullah... " ucapku terkejut.
"Sudah satu jam Mbak begitu terus. Dia memaki - maki Mamak karena tangannya di ikat. Kalau di lepas dia akan menarik selang yang ada di lehernya juga menggaruk luka kakinya" ucap Tari pada kami.
__ADS_1
Saat ini semua sedang panik dengan kondisi Wati seperti ini.
"Yah coba telepon Arif" ucapku.
"Iya Bun sebentar" jawab Mas Fadil.
Mas Fadil menghubungi Arif adikku. Mas Fadil melakukan panggilan telepon agar Arif bisa melihat keadaan Wati.
"Assalamu'alaikum Rif maaf mengganggu malam - malam" ucap Mas Fadil.
"Wa'alaikumsalam.. iya tidak apa - apa Mas. Ada apa ya Mas?" tanya Arif.
"Lihat Rif keadaan Wati sekarang, kami bingung mau bagaimana menghadapinya" jawab Mas Fadil sambil menunjukkan keadaan Wati kepada Arif lewat telepon.
"Coba lihat obat - obat yang dikasih dokter Mas?" tanya Arif.
Mamak mertua langsung memberikannya kepada Mas Fadil.
"Ini Rif" ucap Mas Fadil.
"Mas berikan aja obat yang berwarna biru itu setiap malam" perintah Arif.
"Ini obat penenang Rif?" tanya Mas Fadil.
"Iya Mas berikan agar Mbak Wati bisa tenang. Nanti dia akan mengantuk sangat tidur" jawab Arif.
"Obat ini dulu yang dikasih dokter untuk Kakak Rif tapi kamu larang" potongku.
"Iya Kak. Kalau Kakak kan saat itu keadaannya masih ringan tapi Mbak Wati memang sangat butuh obat itu untuk saat ini. Nanti kalau ke Rumah Sakit lagi untuk kontrol ceritakan saja semua pada dokternya ya" ucap Arif.
"Baik Rif terima kasih" jawab Mas Fadil. Lalu telepon terputus.
Mas Fadil masuk ke kamar Wati.
"Mas tolong aku, lepaskan tanganku" ucap Wati begitu melihat Mas Fadil datang.
"Kamu mau sembuh kan? Minum obat dulu ya, nanti pasti gak sakit lagi" bujuk Mas Fadil.
Wati diam dan manut. Mamak mertua membantu meminumkan obat untuk Wati. Tak lama kemudian Wati perlahan tenang dan tidur.
Ya Allah ada apa dengan Wati? Mengapa dia mengeluarkan kata - kata kotor dan memaki orang tuanya? Oh ya Allah jauhkan dari kami sifat seperti itu. Apakah ini balasan untuknya karena dulu saat sehat tak pernah mendengar pesan orang tua. Naudzubillah.. jauhkan dari kami sifat seperti itu ya Allah. Dan jangan lah hukum kami atas dosa itu. Wati cukup menderita saat ini ya Allah, jangan kasih lagi dia cobaan yang lebih berat lagi. Doa ku dalam hati.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG