
Hari seninnya aku dan suami berangkat ke Bank untuk penandatangan akad kredit pengambilan rumah subsidi kami. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar.
Kami dijelaskan beberapa point yang tidak boleh kami lakukan selama beberapa tahun pertama. Itu adalah syarat agar kami tetap mendapatkan cicilan subsidi.
Salah satunya rumah tidak boleh dirombak bagian depan. Tidak boleh dibuat bertingkat. Kalaupun ingin membangun dapur bangunannya tidak boleh lebih tinggi dari bangunan utama.
Kalau cat rumah, pemasangan kanopi dan pagar rumah masih diperbolehkan. Tetapi yang disebutkan sebelumnya belum boleh minimal tiga tahun pertama.
Alhamdulillah akad kredit kami kali ini berbeda peraturannya dengan sebelumnya. Kami mendapatkan subsidi yang lebih besar dari pemerintah.
Cicilan awal yang kami ketahui adalah satu juta tiga ratus ribu rupiah perbulan selama sepuluh tahun. Tapi rumah kami mendapat keringanan.
Tahun pertama cicilan satu juta seratus ribu rupiah. Tahun kedua satu juta dua ratus ribu rupiah dan tahun ketiga sampai selesai satu juta tiga ratus ribu rupiah. Ada keringanan di tahun pertama dan kedua.
"Alhamdulillah banget ya Yah kita bisa dapat cicilan lebih ringan" ucapku.
"Semakin terbuktikan Bun Allah tidak akan menyia - nyiakan hambanya yang sabar. Lihat saja akad kredit kita lama banget keluar tapi akhirnya berbuah manis" sambut suamiku lega.
Aku tersenyum bahagia.
"Iya yah, gak nyangka rezeki kita" sahutku.
"Cuma lima orang lho" ujar suamiku.
Kami sempat berkenalan dengan calon tetangga kami yang juga mengambil rumah yang sama dengan kami. Ada sepasang anak muda yang masih pacaran. Mereka mengambil rumah untuk masa depan mereka.
Aku duduk tepat disamping si gadis, sementara yang laki - laki bersama dengan suamiku sedang tanda tangan berkas.
"Suami istri?" tanyaku awalnya.
"Nggak Mbak. Masih pacaran" jawabnya.
"Oh.. siapa namanya?" tanyaku ramah.
Aku memang suka bosan kalau menunggu, untuk menghilangkan rasa itu aku berkenalan dengan wanita disebelahku.
"Indah. Mbak?" tanya nya balik.
"Anggi" jawab ku.
__ADS_1
Aku menatap gadis itu, sungguh sangat berani gadis ini. Belum pasti hubungan mereka dimasa yang akan datang tapi mereka sudah berani untuk membangun masa depan bersama
"Kapan menikahnya?" tanyaku.
"Belum tau Mbak. Ayah belum kasih izin sebelum saya selesai kuliah" jawab Indah.
"Waduh kamu berani ya merencanakan masa depan seperti ini. Jodoh siapa yang tau. Bisa aja lho nantinya kalian tidak berjodoh sementara sudah sampai begini perjuangannya" ujarku.
Mungkin aku terlalu ikut campur kali ya urusan orang lain. Tapi aku tidak bisa menaham rasa penasaranku.
"Kami hanya berusaha dan berdoa Mbak. Kedua orang tua kami semua sudah setuju tapi syaratnya memang harus selesai dulu kuliahnya" jawab Indah.
"Kapan selesainya?" tanya ku ingin tahu.
"Ini lagi nyusun skripsi. Mungkin enam bulan lagi kalau tidak ada halangan" jawab Indah.
"Kalau minta nikah aja dulu gimana? Sayang lho kalau nanti pacarnya digaet orang. Apalagi masih muda, ganteng dan sudah mapan punya rumah sendiri" ujarku.
Indah tersenyum kepadaku malu - malu.
"Gak apa - apa deh Mbak, saling percaya dan jaga saja. Selebihnya terserah Allah" balas Indah.
Yah tiap orang masing - masing pasti punya pemikiran sendiri dan juga rencana masa depan sendiri. Mungkin mereka begitu pemikirannya.
Belum lagi godaan dari orang ketiga yang sangat berpotensi untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka. Tapi itu adalah keputusan mereka, aku bukanlah siapa - siapa. Itu bukan urusanku.
Tak lama suamiku datang menghampiriku.
"Udah selesai Bun, yuk balik" ajak Mas Fadil.
"Ayo Yah. Dek Indah kami duluan ya.. semoga cepat wisudanya ya biar bisa langsung nikah dan pindah ke rumah baru. Biar kita jadi tetangga secepatnya" ujarku pada Indah.
"Makasih ya Mbak" balas Indah ramah.
Aku dan suami berjalan menuju parkiran motor.
"Kita makan dulu yuk Bun sebelum balik ke kantor. Udah siang, nanti kalau Bunda telat makan kumat lagi asam lambungnya" ajak suamiku.
"Boleh, yuk Yah" jawabku.
__ADS_1
Akhirnya kami makan di rumah makan langganan suamiku. Disana ada menu ikan belut sambel ijo. Suamiku tau kalau itu adalah menu favoritku.
Dia memesan dia porsi belut ijo untuk menu makan siang kami. Lalu kami duduk di depan meja yang paling pojok.
"Besok jadwal ke Dokter kan?" tanya suamiku.
"Iya Yah tapi Bunda gak enak kalau tiap hari izin keluar" sahutku.
"Sekali - sekali kan gak apa - apa Bun. Emang semuanya penting. Hari ini kan kita memang akad kredit bukan mau main - main, besok apa lagi. Bunda mau ketemu dokter untuk berobat. Pasti atasan Bunda mengerti" sambut suamiku.
"Iya deh nanti sebelum pulang Bunda izin lagi" jawabku.
Akhirnya setelah selesai makan suamiku mengantarkan aku kembali ke kantor. Kemudia Mas Fadil melanjutkan pekerjaannya di lapangan.
Hari ini aku kedatangan seorang wanita yang sudah berumur. Dia hendak mengurus asuransinya yang sudah selesai masa kontraknya.
Saat aku menjelaskan kepadanya keadaan perusahaan dia sangat terkejut karena selama ini dia tidak dikasih informasi oleh agentnya.
Aku sangat memaklumi ketidak tahuan Ibu itu karena sudah pasti dia tidak tau informasi dari sosial media yang sangat gencar membahas tentang perusahaanku.
Agentnya juga mungkin takut memberikan informasinya. Walau aku sebenarnya sangat menyayangkan hal itu. Harusnya agent lebih terbuka kepada para nasabah mereka tentang informasi terbaru perusahaan agar menghindarkan hal - hal yang tidak diinginkan seperti ini.
Ini juga yang membuat pekerjaanku semakin berat, karena aku harus menjelaskan satu persatu kepada para nasabah keadaan perusahaan yang sudah goyang. Semua pembayaran asuransi sudah mulai melambat.
Ibu itu menangis meratapi nasibnya. Mungkin dia tidak sanggup lagi marah kepadaku.
"Naaak tolong laah keluarkan uang saya.. uang itu sudah saya tabung dari dulu. Hasil saya berjualaj es lilin di depan sekolah. Tahun depan saya akan berangkat haji jadi saya harus melunasi kekurangan uang untuk pembayaran haji. Suami saya sudah sakit - sakitan, sekarang saja sudah sangat sulit berjalan. Kata pihak hajinya kalau kami tidak bisa melunasi ongkos haji kami akan kembali antrian berangkat haji. Diundur lima belas tahun lagi Nak. Kami pasti tidak sanggup lagi berangkat selama itu. Tolong lah naaak" pinta Ibu itu sambil menangis.
Oh Ya Allah... betapa jahatnya aku mendzolimi orang yang sangat membutuhkan. Tapi apa dayaku, aku hanyalah pegawai rendahan di Perusahaan ini. Tapi hati nuraniku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Sangat tidak adil bagi Ibu itu. Apa yang harus aku lakukan.
Melihat Ibu itu menangis mataku juga ikut berkaca - kaca melihat kesedihan Ibu tersebut.
"Bu maaf ya kalau saya sudah membuat Ibu sedih tapi itu adalah tugas saya untuk menyampaikan kepada Ibu kebenarannya. Walaupun begitu saya akan berusaha membantu, saya akan sampaikan pada atasan saya agar sebisa mungkin membantu Ibu. Mohon bantuan doanya ya Bu, selebihnya kami akan memperjuangkan hak Ibu" hanya itu yang bisa aku katakan pada wanita itu.
"Terimakasih Nak, semoga Allah membalas kebaikan kamu" sambut wanita itu.
Ya Allah bantu aku. Doaku dalam hati.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG