
Seperti biasa Mas Fadil menjemputku di kantor.
"Bunda kenapa kok lemas?" tanya Mas Fadil.
"Kumat Yah asam lambung Bunda" jawabku.
"Kok bisa? Telat makan siangnya?" tanya Mas Fadil terkejut.
"Nggak. Tadi ada ada masalah di kantor" jawabku.
"Masalah gak dimana aja ada Bun. Belajar donk terapi agar gak mudah panik" sambut Mas Fadil.
"Tadi Bunda hampir terjebak oleh pengacara. Untung aja Bunda langsung tersadar. Bunda bawa Pengacaranya ke ruangan Kepala Cabang" ungkap ku.
"Iya, kalau Bunda gak kuat kasih aja sama atasan Bunda. Tugas Bunda sebagai bagian klaimkan menerima berkas, selebihnya itu urusan atasan. Apalagi tugas Kepala Cabang kalau bukan menyelesaikan masalah" ujar Mas Fadil.
"Bunda gak bisa lempar begitu saja Yah.. Rasanya seperti melepaskan tanggung jawab" ungkap ku.
"Lho itu kan juga bukan tanggung jawab Bunda. Bunda hanya terima berkas klaim" sambung Mas Fadil.
"Setidaknya saat nasabah datang Bunda terima dulu mereka. Bunda lihat dulu tingkatkan masalahnya, kalau berat baru Bunda ketemukan dengan Kepala Cabang" ujarku.
"Ya sudah tapi janji jangan dihadapi sendiri" balas Mas Fadil.
"Iya Ayaaaah.. Singgah ke apotik ya Yah beli obat asam lambung" pintaku.
"Sudah habis obat Bunda?" tanya Mas Fadil.
"Sudah" jawabku.
"Ya sudah kita singgah ke apotik" ucap Mas Fadil.
Sebelum pulang ke rumah kami singgah terlebih dahulu ke Apotik. Sesampainya di rumah aku langsung minum obat dan makan malam.
Kalau kumat asam lambung seperti ini aku mencoba untuk cepat tidur. Karena kalau tidak pikiranku akan melayang entah kemana ditambah dengan bisikan setan membuat aku semakin merasa cemas dan seperti orang ketakutan.
Aku tidak mau penyakit lamaku kambuh. Dalam keadaan pandemi seperti ini kalau aku sesak nafas sudah dibilang covid padahal karena asam lambung.
Satu lagi kalau asam lambung kumat seluruh badan akan terasa tidak enak. Badan seperti hangat tapi tak demam, tenggorokan juga kering dan panas. Mungkin karena gas dari dalam perut.
Mas Fadil sudah tau kebiasaanku kalau lagi kumat. Lampu kamar dimatikan dan aku putar murrotal alquran. Aku ikut mengaji dalam hati, lama kelamaan hatiku tenang dan mataku mengantuk. Lalu aku tertidur dengan nyenyak.
*****
Seminggu kemudian.
"Bagaimana keadaan Wati Yah?" tanyaku karena seminggu ini asam lambung ku kumat terus. Sepulang kerja aku langsung pulang ke rumah.
"Alhamdulillah sudah bisa panggil Mamak" jawa Mas Fadil.
"Gimana ingatannya Yah?" tanyaku.
__ADS_1
"Bagus, dia ingat kok. Waktu Ayah datang dia panggil. Walau suaranya serak karena lehernya masih dikasih alat" jawab Mas Fadil.
"Syukurlah, Bunda kira ada dampak dari operasi kepalanya" sambutku.
"Tapi dia gak betah, sering mau dia tarik akhirnya tangannya diikat perawat" ungkap Mas Fadil.
"Oh ya Allah.. ngilu Bunda bayanginnya Yah" ucapku.
"Besok Bunda mau ikut lihat Wati?" tanya Mas Fadil kepadaku.
"Bolehlah" jawabku.
Keesokan harinya aku ikut Mas Fadil ke rumah sakit. Dengan hati yang berdebar aku masuk ke kamar rawat inap Wati. Karena kondisi Wati yang lumayan berat, Wati ditempatkan di kamar yang hanya ada satu pasiennya.
Ini dilakukan karena pasien lain pada keberatan kalau harus satu kamar dengannya. Aku saja yang melihat keadaan Wati serem campur ngilu. Gimana orang lain.
Saat aku masuk rupanya Wati sedang tidur. Perban dikepalanya sudah dibuka. Kepalanya yang botak kini sudah mulai tumbuh rambut.
"Kalian dari rumah?" tanya Mamak mertua.
"Nggak Mak, dari kantor Anggi tadi" jawabku.
Mamak mertua sedang merapikan selimut Wati.
"Gimana keadaannya hari ini Mak?" tanyaku.
"Tangannya lasak, suka tarik - tarik selang yang ada di lehernya. Dia juga suka garuk kakinya yang masih belum kering lukanya" jawab Mamak mertua.
"Lho masih basah Mak? Katanya kemarin waktu keluar dari ruangan ICU udah kering?" tanyaku.
"Mamak gak bilang sama dokter?" tanya Mas Fadil.
"Sudah, tadi perawat sudah kasih obat dan saleb di kakinya Wati" jawab Mamak mertua.
"Makannya gimana Mak?" tanyaku.
"Makannya masih pakai selang. Wati masih makan bubur, nanti dimasukkan di suntik besar ini baru dimasukin ke selang" ungkap Mamak Mertuaku.
Aku menatap wajah Wati yang terlihat semakin segar.
"Tapi wajahnya sudah lebih segar. Gak sepucat kemarin terakhir aku lihat" ucapku.
"Iya, kata Dokter perkembangan kesehatan dia semakin baik. Wati gak boleh demam, jadi kata dokter siapa yang jenguk dia harus benar - benar sehat. Takut Wati tertular" jawab Mertuaku.
"Iya Mak, namanya imun tubuhnya sedang menurun" sambutku.
"Suaranya jelas Mak?" tanya Mas Fadil.
"Nggak, mungkin karena masih ada selang di leher" jawab Mamak mertua.
"Andai bisa di tanya padanya. Apa yang terjadi dengannya selama satu bulan koma? Apakah dia bisa melihat dengan jelas sebuah kematian? Apa dia sudah sempat bertemu dengan malaikat pencabut nyawa?" gumamku.
__ADS_1
"Iya kalau dia bisa berpikir normal Bun. Saat ini dia kan masih proses pemulihan. Kita belum bisa berharap lebih" sahut Mas Fadil.
Tiba - tiba mata Wati membuka. Jantungku berdetak kencang. Apakah dia mengingatku? tanyaku dalam hati.
"M.... baaaaa An... gi.... " panggilnya terbata - bata.
"Alhamdulillah... " aku bernafas lega.
"Dia ingat Bun" sahut Mas Fadil.
"Iya Waaat... semangat ya" ucapku.
Wati langsung menangis, dadanya bergemuruh dan air matanya mengalir dari sudut matanya.
"Udah Wat jangan nangis" ucapku.
"Lho kok nangis? Kita kan udah janji gak boleh nangis. Nanti tekanan darah kamu naik" ucap Mertuaku kepada Wati.
Rupanya Wati sudah diperingatkan sebelumnya. Mungkin itu juga pesan dari dokter yang menangani Wati.
"M.. baaa.. maa.. aaaf" ucap Wati lagi kepadaku.
Aku juga tak bisa menahan air mataku. Mengingat bagaimana dulu dia saat bekerja di rumahku membantu mencuci pakaian kami dan menyetrika. Hingga akhirnya dia berhenti karena mulai mengenal Dana suami ke duanya.
Dia sering meminjam uang padaku, sering tidak datang dengan berbagai alasan dan puncaknya dia menjelek - jelekkanku pada Mas Fadil karena Mas Fadil melarangnya berhubungan dengan Dana.
Menurutnya mungkin aku yang mengadu pada Mas Fadil dan mempengaruhi nya.
"Sudah Mbak maafkan semuanya Wati. Yang penting kamu sehat dan kita bisa berkumpul lagi. Jangan pikirkan apapun, ingat saja kepada Allah. Setiap merasa sakit, sedih ingatlah hanya kepada Allah" sambutku.
"I... yaaaa" jawabnya.
Aku menuntut tangannya karena dia mencoba menyentuhku. Rupanya dia ingin mencium tanganku.
"M.. baa... se... haaaat?" tanyanya lemah.
"Alhamt sehat, seperti yang kamu lihat. Kamu yang kuat ya.. semua ini hanya cobaan. InsyaAllah kamu pasti kuat. Allah sayang sama kamu Wat" ucapku.
"I.. ya.. M.. baaa" balasnya.
"Maaa ... s... a.. ku.. min.. ta .. ma.. af.. " ucapnya pada Mas Fadil.
Aku dan Mas Fadil saling tatap. Mengapa Wati minta maaf lagi bukannya kemarin mereka sudah bertemu. Kata Mas Fadil Wati saat itu juga minta maaf.
"Lho kok minta maaf lagi? Kan kemarin sudah?" tanya Mas Fadil.
"Memang begitu Dil. Seperti kata dokter, semua pasti ada efek sampingnya. Dia suka bertanya berulang - ulang" jawab Mamak mertua.
"Oh ya Allaaaah... "
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG