Menatap Senja

Menatap Senja
70


__ADS_3

Mas Fadil dan Ridwan keluar dari ruangan dokter.


"Mak, Yah.. Wati akan di operasi. Kita harus siapkan berkas - berkas Wati. Ayo Hari kita ke rumah kalian" ajak Mas Fadil.


"Gimana kata dokter tadi Yah?" tanyaku.


"Seperti sebelumnya tingkat keberhasilannya hanya tiga puluh lima persen tapi seperti kata Arif kita tidak punya pilihan selain melakukan operasi. Kalau tidak dilakukan segera malah lebih fatal" jawab Mas Fadil.


"Hati - hati Fad" ujar Bapak mertua.


Mas Fadil dan Hari pergi ke rumah kontrakan Wati untuk mengambil surat - surat penting.


Dua polisi datang ke rumah sakit untuk bertanya kepada perawat. Aku memperhatikan dari luar UGD. Kemudian salah seorang polisi keluar.


"Mana keluarga Ibu Susilawati?" tanya Polisi.


"Kami Pak" jawabku.


"Ibu siapanya?" tanya Pak Polisi.


"Saya Kakak iparnya Pak. Suami saya anak paling besar. Susilawati anak nomor tiga" jawabku.


"Suaminya mana?" tanya Polisi.


"Suaminya pergi Pak, katanya sudah menikah kali" jawabku.


"Apa status Ibu ini?" selidik polisi.


"Janda Pak tapi masih secara agama. Kalau secara negara setau saya belum ada sidang" jawabku.


"Berapa anaknya?" tanya Pak Polisi.


"Enam orang Pak" jawabku.


"Wah banyak ya" wajah polisi terlihat terkejut dan prihatin.


"Adik ipar saya ini menikah dua kali Pak. Pernikahan pertama anaknya tiga orang setelah itu dia menikah lagi dan punya anak tiga orang lagi" jelasku.


"Ibu sudah dengar penjelasan dokter? Katanya kemungkinan selamat hanya sedikit. Bagaimana nanti nasih enam anaknya? Sebaiknya segera hubungi keluarga dari suaminya. Bagaimanapun anak - anak ini kan masih punya orang tua. Masih punya Bapak, Bapaknya lebih berhak mengurus anak - anaknya apalagi saat ibunya dalam keadaan seperti ini" ujar Pak Polisi.


"Adik ipar saya ini saat menikah yang kedua kalinya sebenarnya kami tidak setuju Pak, karena suami keduanya ini suka melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Tidak punya kerja dan tidak bertanggung jawab. Terakhir yang kami dengar suaminya lari dan menikah dengan seorang janda yang tinggal di luar kota" ungkapku.


"Bajinga* juga pria itu. Hanya mau enaknya saja, tidak lihat perjuangan istrinya membesarkan anak - anaknya sampai seperti ini jadinya" komentar Polisi.


"Karena itulah Pak makanya kami tidak setuju mereka menikah. Dulu mereka sempat cerai satu tahun kemudian rujuk lagi. Sejak itu hubungan keluarga dengan adik ipar ini renggang. Dia sepet menjauh dari keluarga, bahkan saya saja tidak tau dimana dia tinggal. Tapi kalau sudah seperti ini mana mungkin kami setega itu Pak meninggalkannya" ujarku.


"Yah itulah namanya keluarga Bu" sambut Polisi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan biaya rumah sakit Pak? Terus terang keadaan kami hanya pas - pasan. Terlebih mertua saya Pak, disamping itu mertua juga terpaksa mengurus ke enam orang anaknya" tanyaku.


"Kalau biaya rumah sakit Ibu dan keluarga tidak perlu khawatir. Semua akan ditanggung jasa raharja setelah limitnya habis akan disambung oleh BPJS ketenagakerjaan. Karena kejadiannya saat Ibu Susilawati pulang dari kerja, itu masih dalam tanggung jawab BPJS ketenagakerjaan " jawab Dokter.


Aku menarik nafas lega.


"Tinggal lengkapi berkas - berkas kelengkapannya Bu" sambung Polisi.


"Iya Pak, suami saya sedang mengambil surat - surat penting di rumah adik ipar saya ini. Bagaimana dengan pelaku penabrakan Pak?" tanyaku.


"Itu akan sangat sulit Bu. Karena pelakunya lari apalagi menurut informasi saksi truknya masuk ke tol. Sulit kita untuk mengeceknya" jawab Pak Polisi.


"Dari nomor platnya Pak?" tanyaku penasaran.


"Sulit Bu dilacak. Kalau di tengah jalan mereka ganti platnya gimana kita mau mencarinya Bu?" jawab Polisi.


"Gak bisa segera hubungi setiap pintu tol Pak?" tanyaku.


"Sudah lama berlalu Bu, kejadiannya kan sekitar jam lima sore, sekarang sudah jam setengah sembilan malam. Pasti truknya sudah jauh" jawab Polisi.


Oh ya Allah apa seribet ini berurusan dengan pihak berwajib? Apa karena kami hanya warga lemah yang tidak punya kekuatan uang dan jabatan sehingga dapat perlakuan seperti ini? Tanyaku dalam hati.


"Baiklah Pak mau gimana lagi kalau seperti penjelasan Bapak. Yang penting biaya rumah sakit adik saya ini aman. Karena terus terang kami tidak sanggup untuk membayar biayanya secara pribadi" ujarku.


"Lengkapi segera berkasnya Bu. Yang penting tindakan operasi segera dilakukan untuk menyelematkan nyawa Ibu Susilawati" ucap Polisi.


"Baik Pak" sambutku.


"Baik Pak" jawabku.


Dua polisi berlalu dari hadapanku dan pergi meninggalkan rumah sakit. Tak lama kemudian Mas Fadil dan Hari datang.


"Bagaimana Fad?" tanya Bapaj mertuaku.


"Tidak ada berkas apapun Yah. Kata Hari Kartu Keluarga, KTP dan kartu BPJS ketenagakerjaan yang asli ada di tangan rentenir karena Wati meminjam uang" jawab Mas Fadil.


"Oh ya Allah" potongku.


"Bodoh sekali anak ini. Untuk apa dia pinjam uang pada rentenir. Untuk suaminya yang brengsek itu?" ucap Bapak mertua geram.


"Yaaaah kita tidak bisa mengalahkan dia dalam keadaannya yang seperti ini. Tetap doakan dia yah" potong Mamak mertua.


"Yang penting sekarang Wati harus selamat setelah itu besok baru kita fikitkan" sambutku.


Bapak mertua terlihat makin bingung.


"Sudah Yah sana temui perawat" aku menyuruh Mas Fadil.

__ADS_1


Karena mertuaku dulunya tidak sekolah dalam hal seperti ini dia tidak mengerti administrasi disamping itu dia juga bingung dan panik melihat keadaan Wati. Mas Fadil sebagai anak paling besar harus bisa mengambil alih mengurus semua ini.


Mas Fadil masuk ke dalam UGD dan menemui perawat. Sepuluh menit kemudian dia keluar.


"Bagaimana jadinya Yah?" tanyaku penasaran.


"Sudah, mereka minta KTP ayah sebagai penjamin" jawab Mad Fadil.


"Bagaimana kalau mereka nanti menagih biaya Fad?" tanya Bapak mertua panik.


"Yaaah tadi perawat sudah jelaskan kepada kita, barusan juga Bapak Polisi bilang yang sama. Semua ditanggung BPJS ketenagakerjaan" jawabku.


"Teman - teman Wati kan sudah bilang tadi Yah. Mereka bersedia membantu urusan Wati ini di kantor besok. Ayah tenang dulu yang penting Wati selamat saat ini" timpa Mas Fadil.


Sekitar jam sembilan malam Wati masuk ke dalam ruangan operasi. Hanya dua orang yang boleh masuk ke dalam ruangan tunggu.


"Mamak dan Ayah yang menunggu di dalam ya" ujar Mas Fadil.


"Ayah gak bisa Fad, ayah gak sanggup. Ayah tunggu di sini saja sama Ridwan" jawab Bapak mertua.


"Ya sudah Mamak sama Hari saja ya. Aku dan Anggi harus pulang besok Anggi harus bekerja. Kamu temani Ayah ya Wan, nanti kalau ada apa - apa mereka butuh tanda tangan perwakilan keluarga kita" perintah Mas Fadil.


"Iya Mas, anak dan istriku kan sedang di kampung. Jadi aku bisa temani Ayah dan Mamak di sini" jawab Ridwan.


Kami menunggu operasi berlangsung. Sampai jam dua belas malam operasi belum juga selesai. Menurut informasi dari perawat operasi akan berlangsung selama empat sampai lima jam.


Sekitar jam dua belas malam karena malam sudah semakin larut aku dan Mas Fadil pamit pulang.


"Yah kami pulang ya" ucap Mas Fadil.


"Ya sudah hati - hati ya kalian" sambut Bapak mertua.


"Motorku aku tinggal di sini untuk Hari dan Mamak, siapa tau butuh kendaraan untuk membeli sesuatu. Besok aku akan datang lagi ke sini. Malam ini aku, Anggi, Tari pulang dulu" ucap Mas Fadil.


"Wan kalau sudah selesai atau ada kabar terbaru hubungi kami ya" pintaku pada Ridwan.


"Iya Mbak" jawab Ridwan.


Tari pulang bareng temannya naik mobil temannya sedangkan aku dan Mas Fadil pulang naik motorku. Satu jam perjalanan menuju rumah akhirnya kamu sampai di rumah sekitar jam satu malam.


Tak lama saat kami sudah sampai di rumah Ridwan mengirim pesan ke group keluarga.


Ridwan


Alhamdulillah operasi Mbak Wati berhasil.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2