Menatap Senja

Menatap Senja
83


__ADS_3

Seminggu kemudian kondisi luka Wati semakin membaik. Walau Wati belum sadar tapi menurut doker kondisi Wati sudah stabil.


Mas Fadil datang ke Rumah Sakit untuk mengurus kepindahan Wati dari ruang ICU. Setelah Wati dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Seorang perawat datang membawa alat untuk menyedot dahak Wati.


Mas Fadil tak tahan melihat kejadian itu, dia langsung pergi keluar.


Ya Allah apakah ini semua hukuman untuk Wati. Berilah dia kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepadaMU ya Allah. Doa Mas Fadil dalam hati.


Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran Mamak mertua mengurus Wati. Dia membersihkan tubuh Wati dengan tisu basah sambil menangis.


"Tak pernah aku bayangkan aku akan mengurusmu lagi seperti kau bayi Wati. Aku pikir kelak aku lah yang akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari anak - anakku. Ternyata aku harus menghadapi kenyataan ini" ucap Mamak Mertua sambil menangis.


Aku memegang bahu Mamak mertuaku mencoba untuk menenangkannya.


"Sakit kehilangan orang tua, ternyata lebih sakit kalau harus kehilangan anak. Melihatnya tak berdaya seperti ini rasanya badanku remuk dan tak bertenaga. Tapi kalau bukan aku siapa lagi yang bisa mengurusnya" ucap Mamak mertua.


"Sabar ya Mak.. semua ada hikmahnya. Semoga Wati cepat sadar" sambutku.


"Kata Dokter Wati harus sering - sering diajak bercerita Mak untuk memancing dia cepat sadar" kata Tari.


"Iya.. aku akan sering mengajaknya bercerita" jawab Mamak mertua.


Dengan telaten Mamak mertua membersihkan tubuh Wati.


"Wati ini mamak naaaak... Mamak disini ya. Kamu tidak sendiri. Ada hari juga di sini temani Mamak" ucap Mamak mertua.


Air menetes dari sudut mata Wati.


"Mak dia menangis" ucap Tati takjub.


"Bagus Mak berarti ada reaksi dari Wati. Mudah - mudahan semakin baik. Tapi Mamak jangan cerita yang sedih - sedih nanti dia menangis lagi" pesanku.


"Iya" sahut Mamak mertua.


"Wati ini Mbak Anggi ada Tari juga.. Wati yang kuat ya, yang semangat biar kita bisa kumpul kembali" ucapku memberi semangat.


Tari menangis sambil mengelus pipi Wati.


"Mbaaaak kami semua sayang Mbak. Mbak harus kuat, Mbak wanita hebat, pasti kuat" sambung Tari.


Air mata Wati kembali mengalir. Karena suasana pandemi tidak boleh banyak orang yang berkunjung. Kami langsung pamit pulang.


Saat kami pulang ternyata Kakaknya Dana mantan suami Wati datang menjenguk.


Hari yang ada di kamar langsung mereka pertemuan mereka. Saat Kakak ipar nya menyentuh tangan Wati, Wati bergerak seperti ingin menarik tangannya.


Dada Wati juga bergemuruh, terlihat jelas dadanya turun naik dan air matanya kembali menangis.


Kami yang masih dalam perjalanan dari rumah sakit langsung menghubungi Hari.


"Ya Bukde" ucap Hari.


"Hari usir saja Kakaknya Dana, lihat Mamak kamu sepertinya tidak suka dengan kedatangannya. Dia memberi reaksi yang berlebih. Bergerak dan menarik tangannya seperti tidak suka di pegang. Kalau dia terlalu lama di situ bisa - bisa membahayakan bagi Mamak kamu" ucapku.


"Iya Bude, nanti aku akan bilang sama Nenek" sahut Hari.


"Berarti Mamak sudah mulai merespon sentuhan dan suara. Terus mengaji di dekat Mamak Hari biar Mamak mendengarkan suara orang mengaji. Biar pikiran Mamak kamu tidak kosong dan ingat pada Allah" perintahku.


"Iya Bukde" jawab Hari.


"Kalau kalian tidak bawa Al-Quran kan bisa download aplikasi di ponsel kamu. Percuma punya ponsel kalau hanya digunakan untuk game online saja. Lebih baik banyak - banyak mengaji dan berdoa meminta kesembuhan Mamak kamu" ucapku.


"Baik Bude" balas Hari.

__ADS_1


"Ya sudah ya Bukde tutup dulu Assalamu'alaikum" ucapku mengakhiri telepon.


"Wa'alaikumsalam" jawab Hari.


"Kurang ajar, begitu kita pergi mereka datang. Kenapa gak ketemu ya.. seperti sudah direncanakan. Jangan - jangan mereka mengintai kita di rumah sakit" tebak Mas Fadil.


"Gimana kalau kita balik lagi Mas" ajak Syahrul.


"Coba tanya Hari dulu masih ada tidak mereka di situ?" perintah Mas Fadil.


Aku kembali menghubungi Hari.


"Har.. masih ada Kakaknya Dana di sana?" tanyaku.


"Baru aja pulang Bukde di usir Nenek" jawab Hari.


"Sudah pulang Mas" ucapku pada Mas Fadil.


"Ya sudah kalau begitu kita pulang saja" jawab Mas Fadil.


****


Tanpa terasa sudah seminggu Wati pindah kamar dan kondisinya semakin membaik.


Hari mengirimi kami video dimana jari - jari Wati sudah mulai sering bergerak. Kami menyambut bahagia kabar seperti itu.


"Coba bawa anak - anaknya Tari ke rumah sakit. Minta tolong sama Syahrul pakai mobilnya. Siapa tau dengan kedatangan anak - anaknya dia jadi semangat dan sadar" ucapku.


"Tapi apa boleh anak - anak masuk rumah sakit Mbak. Apalagi masih pandemi" sambut Tari.


"Tapi jumlah covid lagi menurun ini. Mudah - mudahan bisa dapat keringanan. Dokter mengerti upaya kita untuk membuat Wati sadar" balasku.


"Coba nanti aku bicarakan sama Mamak ya Mbak dan aku bilang juga sama Syahrul kapan dia punya waktu bisa jemput kami" sahut Tari.


Dua hari kemudian Tari menjalankan ideku. Dia bersama Lia dan empat adiknya berangkat ke Rumah Sakit di jemput Syahrul.


Pihak Rumah Sakit memberi izin asalkan tidak ribut dan tidak lama. Hari mengambil video pertemuan Wati dengan semua anak - anaknya.


"Maak.. Maaaak... ini Lia Mak" ucap Lia.


"Ini Rajaq"


"Aku Sasa Mak"


"Ada Naya dan Dapi juga Mak. Kami semua ada di sini untuk melihat Mamak. Kami rindu Mamak, cepat sembuh ya Mak. Aku selalu ada disamping Mamak. Aku akan jaga adik - adik Mak. Mamak fokus saja untuk sembuh ya" ucap Hari.


Tangan Wati bergerak - gerak. Sasa menggenggam tangan Wati.


"Mamak aku pegang ya tangan Mamak. Aku kangen Mamak" ucap Sasa yang baru berumur delapan tahun.


Semua orang yang menyaksikan pertemuan mereka menangis haru. Lihatlah apalah yang akan terjadi pada mereka kalau Wati tidak ada.


Ooooh sungguh masa depan yang suram tanpa kasih sayang seorang ibu lagi. Walau selama ini juga hidup mereka susah tapi setidaknya mereka masih bahagia masih punya Mamak.


Pelan - pelan Wati membuka matanya dan kemudian menutup kembali.


"Nek.. mata Mamak terbuka" teriak Rajak.


Mamak mertua, Hari dan Lia yang sudah dewasa memperhatikan tubuh Wati.


"Iya, tadi aku juga lihat" ucap Sasa.


"Coba putar ulang videonya Hari" perintah Tari.

__ADS_1


Hari menghentikan videonya dan memutar ulang hasil rekamannya.


"Ih benar Bulek.. mata Mamak terbuka" ucap Hari senang.


"Cepat tunjukkan kepada perawat" perintah Tari lagi.


Hari buru - buru pergi menemui perawat dan menunjukkan videonya kepada perawat.


"Alhamdulillah Bu Wati memberikan reaksi yang lebih baik lagi. Mudah - mudahan dalam waktu dekat dia sadar. Saya akan laporkan pada Dokter nanti saat berkunjung" sambut Perawat.


Hampir semua perawat sudah tau kisah hidup Wati. Mereka juga memberikan empati saat merawat Wati. Alhamdulillah semua perawat baik - baik mengurus Wati.


Oleh karena itu mereka memberikan izin masuk untuk anak - anak Wati.


"Tapi sebaiknya jangan lama - lama Mas nanti Bu Wati capek. Ditambah lagi suasana saat ini kan masih pandemi. Kalau terlalu banyak dikunjungi orang - orang bahaya. Imun tubuh Bu Wati masih lemah. Akan sangat mudah tertular penyakit. Bu Wati sangat kita pantau kondisinya. Dia tidak boleh demam dan tekanan darahnya harus stabil. Kalau dia bersedih dah banyak menangis bisa mengakibatkan tekanan darahnya naik" pesan Perawat


"Baik Suster saya mengerti. Saya akan kembali ke ruangan Mamak saya dan bicara pada keluarga" jawab Hari.


Hari kembali ke kamar.


"Bulek kata perawat Mamak tidak boleh terlalu lama dikunjungi. Nanti mamak lelah dan terlalu lama menangis juga tidak baik untuk Mama. Tekanan darah Mamak bisa naik. Lebih baik Bulek dan adek - adek pulang" ungkap Hari.


"Baiklah yang penting anak - anak sudah lepas kangen sama Mamak kalian" sambut Wati.


"Ayo Lia bawa adek - adek kamu keluar, kita pulang" ajak Wati.


Lia, Rajak dan adik - adiknya berpamitan dengan Mamak nya.


"Mama kami pulang ya. Lain waktu nanti kami datang lagi jenguk Mamak" pamit Lia.


"Mamak cepat sembuh ya.. kami ingin berkumpul dengan Mamak lagi" sambut Rajak.


"Mbak kami pulang ya.. aku akan bawa anak - anak kamu pulang ke rumah Mamak. Semua anak - anak kamu sudah berkumpul dan tinggal di rumah Mamak. Aku yang urus dengan bantuan Lia. Jadi jangan khawatirkan anak - anakmu ya. Mereka semua sehat - sehat" ungkap Tari.


Tari, Lia dan yang lainnya berjalan satu persatu keluar dari kamar. Kini hanya tinggal Mamak mertua dan Hari yang menjaganya.


Hari ini perkembangan Wati semakin membaik setelah dijenguk anak - anaknya. Dokter memuji semangat hidup Wati.


"Ibu ini hebat. Perjuangan untuk hidupnya benar - benar tinggi. Dia sangat kuat. Saya saja tidak menyangka bisa secepat ini. Bahkan sejak awal saya pesimis mengingat peluang selamat beliau hanya tiga puluh lima persen saja. Tapi perlahan - lahan semuanya naik lebih baik" puji Dokter.


"Ibuk jangan mikir yang macem - macem ya.. pikiran saja bagaimana agar cepat bangun. Biar bisa lihat anak - anaknya lagi" ucap Dokter.


Jari - jari Wati bergerak.


"Jarinya bergerak Dok" ucap Mamak mertua.


"Kalau Ibu dengan ucapan saya tolong angkat jarinya ya" perintah Dokter.


Wati mengangkat jarinya. Dokter tersenyum senang. Mamak mertua terus berdoa dalam hati.


"Hebat Ibu bisa mendengar suara saya. Saya yakin dalam waktu dekat Ibu akan segera sadar" ucap Dokter.


Lagi - lagi Wati mengangkat jarinya.


"Sudah Bu jangan terlalu dipaksa ya, nanti Ibu lelah. Cukup obrolan kita hari ini. Sekarang Ibu istirahat kumpulkan tenaga untuk bangun nanti" pesan Dokter.


"Alhamdulillah ya Allah" ucap Mamak mertua bersyukur. Wati semakin baik perkembangannya.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2