Menatap Senja

Menatap Senja
94


__ADS_3

Aku sedang WFH di rumah karena masih pandemi. Setelah selesai membersihkan rumah aku duduk santai di ruangan TV untuk mulai mengetik novel.


Aku buka aplikasi novel.


"Bismillah" ucapku ingin memulai pekerjaan sampinganku.


Tiba - tiba aku sangat terkejut mendapat pesan bahwa mereka tertarik ingin mencetak novel ku menjadi sebuah buku.


Aku langsung sujud syukur dan tak henti berterimakasih kepada Allah. Ya Allah inikah awal kebangkitan keuangan kami? ucapku dalam hati.


Aku langsung mengirim bukti pesan mereka ke group keluarga.


Anggi


Alhamdulillah Anggi dapat tawaran untuk cetak novel ke tiga Anggi.


Mas Fadil


Alhamdulillah ya Allah. Hebat Bunda 😍


Rahmat


Alhamdulillah semangat Kakak, semoga sukses terus.


Arif


Semangat Kakanda kami mendukungmu. Maju terus, mudah - mudah bisa di filmkan. Nanti kalau butuh peran dokter jangan lupakan adikmu ini 😘


Linda


Alhamdulillah selamat kak, semoga semakin sukses ya.


Tia


Alhamdulillah.. wah hebat banget kak. Nanti aku minta novelnya satu ya.

__ADS_1


Anggi


Tenang nanti akan kakak kasih satu - satu ya plus tanda tangan asli dari penulisnya 😁


Mama


Alhamdulillah ya Nak.. Mama selalu mendoakan anak - anak Mama semuanya sukses.


Aku diminta untuk perbaiki isi novel ku dan merapikan tata bahasa dan penulisnya. Dibantu dengan editor khusus yang membimbing aku akhirnya setelah satu bulan novel ku selesai di cetak.


Aku promosi ke keluarga, teman - teman dan sosial media open order untuk novelku. Untuk keluarga dan teman - teman dekat mereka meminta tanda tangan aku langsung.


Di kantor semua teman - teman kantor sibuk membicarakan keberhasilanku ini.


"Akhirnya sengsara membawa nikmat ya Mbak Anggi" ucap kepala cabang kantorku saat aku sedang meminta tanda tangannya untuk sebuah berkas klaim.


"Iya Pak, bukan saya tidak berterimakasih pada perusahaan ini. Di perusahaan ini saya berkembang dan dewasa tapi beberapa tahun ini perusahaan ini juga memberikan kekecewaan bahkan luka di hati saya. Hingga luka itu meninggalkan bekas sampai sekarang. Jujur Pak saya sudah tidak bisa lagi bekerja dibawah tekanan. Kalau ada peluang untuk PHK tolong Pak tulis nama saya di urutan paling atas " pintaku.


"Ah Mbak Anggi, itu karena Mbak Anggi sudah punya pekerjaan lain yang lebih menjanjikan" sambut Bapak Kepala Cabang.


"Saya bisa mengerti perjuangan Mbak Anggi. Beberapa bulan berjuang berobat ke dokter jiwa. Mbak Anggi wanita hebat bisa bangkit saat terpuruk" puji Kepala Cabang.


"Semua karena saya masih ingat anak - anak Pak. Mereka lah kekuatan saya dan yang paling utama, Allah masih sangat sayang kepada saya Pak. Saat saya jatuh, DIA tidak pernah sekalipun meninggalkan saya. Saya selalu di tuntun untuk terus ingat kepadaNYA. Sehingga saya tidak berputus asa" jawabku.


"Baiklah kalau memang ada penawaran dari manajement saya akan ingat pesan Mbak Anggi. Yang saya dengan memang akan ada Pengerimpingan karyawan. Karena manajemt tidak sanggup membiayai semua jumlah karyawan kita se Indonesia" ujar Pak Kepala Cabang.


"Saya dengar seperti itu juga Pak makanya dalam kesempatan ini saya meminta kepada Bapak untuk memasukkan nama saya jika ada kesempatan" sambutku


"Tapi Mbak Anggi masih muda lho, masa pensiunnya masih lama. Apa gak sayang?" tanya Pak Bambang.


"Tidak Pak dari pada saya hidup dalam tekanan dan mati muda. Lebih baik saya hidup sederhana tapi bahagia Pak. Di sini saya sangat merasa bersalah setiap kali berhadapt dengan para nasabah. Apalagi kalau mereka sudah menangis meminta hal mereka Pak. Hati saya sangat sakit Pak. Saya juga berada di titik yang sama sepy mereka, hidup sederhana dan sangat butuh uang. Rasanya sakit sekali tidak bisa menikmati uang yang saya tabung bertahun - tahun untuk masa depan saya dan anak - anak saya. Saat masuk asuransi pasti tentunya kita punya tujuan Pak untuk apa dananya nanti digunakan saat habis kontrak. Eeh ternyata diluar prediksi, uangnya gak keluar bertahun - tahun lamanya hingga sampai putus harapan" ungkap ku.


"Benar Mbak Anggi, mungkin karena Mbak Anggi perempuan terlalu memasukkan semua itu ke dalam hati sehingga berakibat pada kesehatan Mbak Anggi sendiri" sambung Pak Bambang.


"Saya sudah berdiskusi dengan suami dan keluarga. Mereka menerima keputusan saya ini asalkan saya sehat dan bahagia Pak" ujarku.

__ADS_1


"Baiklah Mbak Anggi akan saya ingat pesan Mbak Anggi tadi. Oh iya kapan Novelnya terbit, saya mau donk satu" pinta Kepala cabang.


"Serius Pak, saya rasa Bapak gak hobby baca begituan?" tanyaku.


"Ya gak apa nanti akan saya pampang di sini. Kalau ada yang tanya, dengan bangga saya akan katakan kalau junior saya di kantor ini penulisnya" jawab Pak Bambang bangga.


"Saya jadi malu Pak, saya masih penulis amatir Pak" elakku.


"Dimulai amatir dulu baru lama kelamaan jadi lebih berpengalaman" sambung Pak Bambang.


"Baik lah Pak, nanti kalau novelnya sudah tiba saya akan kasih Bapak satu" jawabku.


Bapak Kepala Cabang tersei menatapku.


"Saya pamit dulu Pak" ucapku.


Aku keluar dari ruangan Kepala Cabang.


Satu bulan kemudian Novel yang sudah dipesan oleh para teman, sahabat dan keluarga tiba. Aku dikasih bonus sepuluh novel untuk aku sendiri.


Dibagian depan tak lupa aku bubuhi tanda tangan ku dan ucapan terimakasih kepada para pembaca yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca novelku.


Aku menatap buku itu sangat lama. Aku tidak menyangka diusia menjelang empat puluh tahun aku mempunyai cita - cita dan impian baru dan Allah bukakan jalanNYA aku untuk meraih keberhasilan.


Aku berjalan ke Gramedi* di Kotaku. Ada novelku terpampang di rak buku - buku novel romantis.


Ya Allah aku masih tidak percaya, semua masih seperti mimpi. Tanpa sadar air mataku jatuh. Ku pegang buku itu dan kubelai bagian depannya.


Mungkin para pengunjung toko buku ini tidak tau kalau akulah pengarang novel ini. Tapi jangan ditanya bagaimana perasaanku saat ini.


Aku sungguh sangat bahagia.. Bahagia sekali. Terimakasih ya Allah atas semua rezeki yang telah KAU berikan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2