Menatap Senja

Menatap Senja
25


__ADS_3

Keesokan harinya aku berangkat ke Rumah Sakit sambil membaca cake buatanku. Rencananya hari ini aku akan berpamitan dengan dokter. Anggaplah ini sebagai perpisahan dan rasa terimakasihku karena selama dua bukan dokter sudah menjadi teman, guru dan dokter bagiku.


Perasaan di hatiku campur aduk, ada rasa ldhay, senang, sedih berbaur jadi satu. Sebenarnya ingin terus bertemu dengan dokter ini tapi bisa gak sebagai teman saja bukan sebagai pasien.


Setiap minggu pamit di kantor untuk berobat ke Rumah Sakit rasanya punya beban sendiri kepadaku. Setiap kali pulang dari rumah sakit dan bertemu dengan teman - teman di kantor aku melihat pandangan yang berbeda - beda dari mereka.


Bahkan ada yang terang - terangan bertanya padaku.


"Lho Gi belum sembuh gerotnya?" ucap mereka yang suka berkelakar.


Walau aku tau itu sambil bercanda tetap saja hatiku sakit. Tapi dari pada jadi penyakit aku balas saja dengan candaan.


"Belum Mas masih betah dia menghampiri" jawabku.


Aku pernah mendengar kata - kata lucu di sosial media yang isinya.. 'Terkadang hidup yang penuh dengan kegilaan ini harus ditanggapi dengan kegilaan juga'.


Kata - kata itu akhir - akhir ini memang sering aku lakukan. Pesan dokter beberapa waktu yang lalu memperkuat aku untuk mengeluarkan semua yang aku pendam di dalam hati.


Sekarang aku lebih sering bicara ceplas ceplos, teman - teman kantor mungkin menanggapinya karena otakku sedikit terganggu sehingga mereka tidak tersinggung.


"Anggia Permata" panggil perawat.


"Ya saya" jawabku.


Aku dan suami masuk ke dalam ruangan praktek dokter.


"Selamat pagi Bu Anggi... sepertinya hari ini ceria sekali" sapa Dokter ketika melihat senyuman di wajahku.


"Iya Dok, Alhamdulillah saya merasa seperti terlahir kembali" jawabku.


"Waaah hebat.. cerita donk" bujuk Dokter.

__ADS_1


Seperti biasa Dokter selalu mempunyai banyak cara untuk membujuk aku agar mengeluarkan cerita - ceritaku tanpa aku sadari


"Alhamdulillah selama dua bulan ini penyakit saya tidak pernah kumat dan berangsur-angsur membaik. Walau mungkin memang belum bisa sembuh total tapi saya berjanji akan melanjutkan pengobatan ini sendiri Dok" ungkapku.


"Oh ya? Waaaah saya yang sedih donk gak bisa dengar cerita - cerita Mbak Anggia lagi" sambut Dokter sambil berpura - pura sedih.


"Ah dokter, masak dokter mau saya gak sembuh - sembuh sih" jawabku.


"Hahaha.... " tawa dokter pecah.


"Dua bulan ini saya lihat perkembangan Bu Anggia memang membaik dengan pesat malah mengalahkan target saya. Awalnya saya kira tidak secepat ini lho penyembuhannya tapi Mbak Anggia memang punya semangat yang kuat untuk sembuh. Saya salut dengan Mbak Anggi, mungkin karena masih muda kali ya" puji Dokter.


Aku langsung tersipu malu, mungkin saat ini wajahku memerah.


"Ini Dok saya bawa salah satu karya masakan saya yang saya jual. Di situ juga ada nomor ponsel saya siapa tau dokter butuh sesuatu saat ada acara di rumah boleh hubungi saya. Pelan - pelan saya sudah punya kesibukan yang sangat positif, juga menghasilkan uang. Selain merintis lumayan pendapatannya bisa untuk tabungan masa depan" ucapku.


"Syukurlah" dokter menyambut dengan senyuman.


"Hebat... Banyak banget kebahagiaan yang Bu Anggia dapatkan. Sekarang jadi lebih semangat dan optimistis menjalani hidup" ujar Dokter.


"Berhubung ini juga akhir tahun dan sebentar lagi akan masuk awal tahun yang baru.. mudah - mudahan membawa sesuatu yang baru bagi kami. Tadi malam saya juga sudah melepaskan salah satu beban yang saya simpan lama di hati saya. Saya bicara dengan kedua orang tua saya. Saya katakan saya akan bahagia dengan cara saya sendiri walau mungkin hidup saya berbeda dengan adik - adik saya yang lain. Walau saya belum bisa membanggakan mereka tapi saya berjanji tidak akan menjadi beban mereka di hari tua. Saya sudah dewasa, saya bertanggungjawab dengan hidup saya sendiri. Saya tidak akan menyerah dalam hidup ini" ungkapku.


Dokter tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Saya sangat bahagia melihat Ibu seperti ini. Pasti cakenya enak sekali ini ya... Jadi ini sebagai perpisahan kita ya? Padahal rujukan dari klinik tidak ada batas waktunya lho. Kalau besok - besok Bu Anggia mau datang lagi untuk berobat silahkan datang dan bertemu saya lagi" pesan Dokter.


"Terimakasih Dok, tapi kalau boleh pertemuan kita berikutnya jangan sebagai pasien donk Dok, malu ah lama banget sembuhnya. Lebih asik kan kalau kita ketemunya gantian, dokter sebagai pelanggan saya yang suka order makanan hasil karya saya" balasku.


"Pasti, nanti saya pasti akan pesan sama Mbak Anggia" sambut Dokter.


"Berarti saya gak perlu kasih resep ya hari ini. Mbak Anggia nya sudah sembuh" sambung Dokter.

__ADS_1


"Iya Dok, hari ini tujuan saya datang memang untuk berpamitan dan mengucapkan terimakasih yang sangat banyak kepada Dokter karena sudah membantu saya untuk sembuh" ucapku sungguh - sungguh.


"Itu memang sudah menjadi tugas saya Mbak Anggia.. Dan akhir seperti ini yang sering membuat saya sedih sekaligus bahagia. Datangnya sebuah perpisahan, tapi saya harap ini bukan perpisahan tapi awal pertemuan kita selanjutnya" ucap Dokter.


"Aamiin.. saya tunggu pesanan Dokter ya" sambutku.


"Terimakasih Dok sudah memotivasi istri saya untuk sembuh, dia sekarang sudah jadi pribadi yang berbeda dan pastinya lebih baik. Dia merasa seperti terlahir kembali. Saya tak henti - hentinya bersyukur memiliki istri kuat seperti dia" ucap suamiku pada Dokter.


"Bapak juga suami yang hebat dan setia. Tetaplah berada di sisi Bu Anggia dalam keadaan apapun. Karena teman hidup memang selayaknya harus saling menguatkan" jawab Dokter.


"Kalian berdua memang pasangan yang hebat. Terkadang saya sebagai seorang Dokter bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup kalian. Saya hanyalah penonton dalam hidup rumah tanga kalian. Bapak dan Ibu adalah pemeran utamanya. Happy atau sad ending diakhir cerita itu kalian yang menentukannya. Sekali lagi selamat untuk kalian, selamat memasuki rumah dan kehidupan yang baru ya. Saya doakan kalian berdua sukses" ucap Dokter.


Aku dan Mas Fadil saling berjabat tangan kepada Dokter. Hari ini aku memang benar - benar sangat bersyukur dan merasa telah lahir kembali.


Saat aku keluar dari ruangan praktek dokter aku terus menggenggam tangan suamiku dengan erat. Tangan inilah yang sering menggenggam, menjaga dan menemaniku melewati semua ini.


Anggia Permata, aku lahir kembali diusia tiga puluh delapan tahun. Bimbing aku ya Allah sebagai manusia yang lebih baik lagi kedepannya. Aamiin..


Doaku dalam hati yang mengiringi langkahku keluar dari Rumah Sakit ini.


"Yah singgah ke Restoran XXX ya, Bunda mau beli nasi kotak buat dibagi - bagi sama teman - teman dikantor" ucapku.


"Bunda mau syukuran ya" tebak suamiku.


"Iya Yah.. hari ini Bunda sangat senang sekali, gak ada salahnya kan berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang punya beban dan tekanan kerja yang sama dengan Bunda. Mudah - mudahan perjalanan hidup Bunda bisa jadi pelajaran juga buat teman - teman kantor" ungkapku.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2