
Besok paginya Mas Fadil pergi kerja setelah sarapan pagi. Aku melirik ke kamar Lia aku lihat dia masih tidur. Anak - anak tadi malam tidur di kamarku karena takut tidur hanya berdua saja.
Aku mengelus dadaku mencoba untuk menenangkan hatiku. Sudah tiga bulan dia tinggal disini aku tidak pernah berkata kasar kepadanya. Aku selalu mengajak dia shalat berjamaah saat shalat Maghrib dan Isya.
Kalau subuh aku selalu membangunkannya untuk shalat subuh. Tapi ya seperti itulah kalau tidak dibangunkan bisa sampai siang dia tidur. Padahal anak perempuan tapi kelakuannya seperti ini.
Terkadang aku berpikir apakah ajaran mertuaku yang salah sehingga dia bisa bersikap seenaknya seperti ini. Atau memang karena dia hidup tanpa kasih sayang orang tua.
Tapi siapa yang mau disalahkan. Seandainya boleh ditanya, dia mungkin tak ingin lahir dari Bapak dan Ibu yang tak bertanggung jawab seperti itu.
Apakah aku harus terus mentolerir semua perbuatannya yang salah dan harus memaklumi nasibnya yang terlahir dari keluarga brokenhome. Tidak.. ini tidak bisa dibiarkan.
Aku harus mengubah sifat buruk nya ini. Selama dia tinggal di rumah ku, peraturan di rumah ini yang harus dia ikutkan.
"Lia bangun.. sudah jam sembilan" ucapku.
Dia bangun dan langsung ke kamar mandi. Aku lihat wajahnya sedikit takut menatapku. Entah karena rasa bersalah atau takut kena marah.
Setelah dia selesai mandi aku ajak dia duduk di depan meja makan. Anak - anak aku biarkan main diluar rumah.
"Lia mau pilih makan dulu atau kita bicara?" tanyaku berusaha tenang. Padahal tanganku sudah berhetar menahan emosi.
__ADS_1
"Kita bicara saja Bude" jawabnya.
"Baiklah kalau begitu. Lia pasti udah bisa menebak mengapa Bude mengajak Lia bicara seperti ini kan?" tanyaku.
Dia hanya menundukkan wajahnya.
"Selama ini Bude berusaha menganggap Lia sebagai anak Bude sendiri, tidak ada membeda - bedakan Lia dengan anak - anak Bude. Apa yang Bude beli, apa yang dimakan anak - anak Bude itu juga yang Lia makan. Bude tidak pernah berkata kasar, selama ini Bude menahan amarah kepada Lia. Bahkan anak - anak Bude aja sering Bude marahin kalau mereka salah tapi terhadap Lia Bude bersikap berbeda. Karena menurut Bude Lia sudah dewasa. Diajak komunikasi dan berteman sudah bisa. Sekarang Bude tanya Lia, apakah Lia menganggap Bude ini sebagai orang tua Lia?" tanyaku.
Dia menganggukkan kepalanya tapi masih tetap menunduk.
"Kalau Lia anggap Bude ini sebagai orang tua harusnya Lia bisa bersikap lebih bijaksana. Saat Lia tidak bisa pulang Lia kabari Bude bukan malah ponselnya dimatikan" sambung ku.
"Po.. ponsel Lia habis baterai Bude" jawabnya.
Dia kembali terdiam dan menunduk.
"Lia sudah berapa kali Bude bilang pada Lia. Anggap Bude dan Pakde ini Bapak dan Ibu kamu. Bude sudah berusaha mengetuk hati Lia dengan kasih sayang. Sering Bude ajak cerita bareng, shalat, masak bareng. Tujuannya apa agar kita dekat. Agar Lia bisa menyayangi Bude seperti Ibu Lia sendiri. Dengan begitu pasti Lia akan menjaga perasaan Bude. Tapi apa? Lia seperti membangun benteng di hati Lia. Sampai kapanpun kalau begini kita tidak akan bisa dekat. Kalau Bude tau isi hati Lia, Bude pasti akan percaya dengan Lia apapun itu. Manfaatnya untuk Lia sendiri. Apapun kegiatan Lia diluar sana Bude akan izinkan. Bude juga dulu pernah muda seperti Lia. Siapa teman - teman Bude, Bude kenalkan sama Opa dan Oma. Apa kegiatan Bude, Bude ceritain pada mereka. Semua teman - teman Bude kenal dengan Opa Oma. Opa Oma juga tau siapa mereka, keluarga mereka. Akhirnya setiap kali Bude mau pergi pasti mendapat izin. Lia kan sudah dewasa bisa berpikir mana yang baik dan tidak. Apa pantas anak perempuan pulang malam selarut itu? Bude tidak tau Lia pulang sama siapa tadi malam. Sudah telat pulangnya bukan langsung masuk ke dalam rumah. Malah tertawa dan ngobrol - ngobrol lagi di depan rumah. Lia gak malu dilihat tetangga anak perempuan pulang jam segitu? Lia gak ada keinginan untuk menjaga nama baik Lia, Bude dan Pakde?" tanyaku.
Tidak ada jawaban dari Lia. Aku menarik nafas panjang berusaha mengambil keputusan terbaik untuk Lia dan diriku sendiri.
"Bude kasih Lia kesempatan sekali lagi. Bude masih buka pintu kasih sayang selebar - lebarnya kepada Lia. Bude masih ingin Lia jadi anak yang berhasil, anak baik - baik. Agar hidupmu kelak lebih baik dari nasib Mamakmu. Yang buruk jangan dicontoh tapi belajarlah dari kesalahan orang tuamu. Jangan juga membenci mereka karena berkat mereka Lia bisa terlahir di dunia ini" pesanku.
__ADS_1
"Janji Lia mau berubah?" tanyaku.
Dia menganggukkan kepalanya.
"Kasih Bude nama teman - teman Lia. Agar kalau terjadi kejadian ini lagi, Bude bisa mencari kamu. Bude tau siapa yang bisa Bude hubungi untuk bicara dengan kamu. Mau?" tanyaku lagi.
"Iya Bude. Nanti akan Lia kirim nomor ponsel teman - teman Lia" jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu makan sana. Satu lagi bangun pagi jangan tunggu dibanguni. Kamu kan bisa buat alarm di ponsel. Shalat subuh dan kamu kan bisa bantu - bantu Bude di dapur. Namanya anak, wajarkan kalau membantu Ibunya di rumah? Lia bukan anak kos yang bisa pulang dan pergi sesuka hati Lia. Kapan Lia lapar, Lia makan dan makanan sudah tersedia di dapur. Lia sudah besar sudah menanggung dosa sendiri. Bude punya kewajiban untuk menasehati Lia agar Lia tau tanggung jawab Lia kepada Allah juga tugas Lia sebagai seorang anak" pesanku.
"Sabar Bude dan Pakde tak selamanya hidup seperti ini. Nanti kalau kehidupan Pakde dan Bude sudah mulai naik. Banyak kok rencana kami untuk kalian semua. Tapi untuk saat ini kita sama - sama sabar. Sama - sama saling bantu dalam keadaan sulit. Tapi walau begitu kita masih tetap bersyukur karena kita masih bisa makan jauh lebih enak dari orang - orang susah diluar sana. Harusnya dengan kisah hidup dan latar belakang Lia. Lia tumbuh dengan dewasa. Mengerti bagaimana kehidupan Lia dan tau batas pergaulan Lia. Kita bukan orang kaya dan juga belum waktunya untuk Lia bersenang-senang. Saat ini waktu Lia adalah belajar dan membangun masa depan dengan baik agar nanti kelak hidup Lia juga baik. Dengar pesan Bude ini" ucapku terakhir.
"Iya Bude" jawabnya cepat.
"Ya sudah sana makan dulu, setelah itu bantu Bude beres - beres rumah" perintahku.
Dia langsung berjalan ke dapur untuk makan. Aku hanya bisa menarik nafas lega. Aku sudah bisa mengalahkan godaan setan yang ingin sekali tadi aku marah kepada Lia.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG