Menatap Senja

Menatap Senja
46


__ADS_3

"Bude aku izin ke rumah teman" pinta Lia diakhir pekan.


"Mau ngapain di rumah teman kamu Lia?" tanyaku.


"Temanku ulang tahun Bude" jawab Lia.


"Buat acara? Ini kan lagi pandemi mana boleh buat acara ramai-ramai? Kamu gak takut?" tanyaku pada Lia.


"Gak ramai kok Bude, cuma kami aja beberapa teman dekat saja" sambut Lia.


"Kapan perginya?" tanyaku.


"Nanti sore jam lima" jawab Lia.


"Pulangnya jam berapa?" tanyaku.


"Mmm malam ya Bude. Karena acaranya nanti malam" ungkapnya.


"Kamu pergi naik apa?" selidikku.


"Naik angkot nanti pulangnya diantar teman" jawab Lia.


"Teman apa pacar" tebakku langsung.


Karena beberapa kali aku pergoki ponselnya berdering yang menghubunginya dia beri nama seseorang dan pakai simbol love.


Aku meminta Lia tinggal bersama kami dulu karena ingin membantu mertua untuk menjaganya. Aku melihat riwayat orang tuanya yang putus sekolah sebelum tamat SMU karena lari kawin dengan pacarnya.


Mertua sudah angkat tangan mengurus dia, makanya aku coba untuk memperbaikinya. Mungkin selama ini dia butuh kasih sayang keluarga. Aku coba memberikan kasih sayang itu kepadanya.


Mengingat permintaannya aku teringat dulu waktu aku muda. Kalau dulu Papaku lebih ketat. Saat SMP aku belum boleh keluar malam walau ke rumah teman dekatku.


Tapi tak apalah mengingat anak zaman sekarang kalau terlalu ketat akan lari. Pikirku. Akhinya aku memberinya izin untuk pergi. Biarlah aku coba memberikan kepercayaan kepadanya.


"Baik, Bude izinkan tapi jangan lewat jam sembilan malam ya kamu pulang. Kamu itu perempuan dah belum cukup umur. Seharusnya kamu tidak boleh keluar malam tapi karena kamu bilang hanya teman dekat saja dan acaranya juga di rumah teman kamu gak apa - apa. Kali ini Bude kasih kepercayaan kepada kamu. Tapi tolong jaga kepercayaan Bude ini dengan baik. Jangan kamu langgar lagi karena Bude tidak akan memberi kamu izin lagi" tegasku.


"Iya Bude" sambutnya.


"Ingat Lia tetap jaga jarak dan protokol kesehatan" ucapku mengingatkan.

__ADS_1


"Baik Bude" sambut Lia.


Aku memberikan ongkos dan uang jajan kepada Lia. Sekitar jam lima kurang dia sudah pergi berjalan keluar komplek. Aku tidak tau apakah dia benar - benar pergi naik angkot atau ada orang lain yang menunggunya di depan komplek.


Saat ini malam minggu seperti biasanya Mas Fadil pulang malam karena saat weekend begini pesanan ojek banyak. Setelah motor Mas Fadil selesai keluar dari bengkel Mas Fadil lebih giat bekerja.


Sekitar jam sembilan malam aku mencoba menghubungi Lia tapi pesanku tak sampai dan teleponnya mati.


Aku mulai panik bercampur marah. Apakah terjadi sesuatu padanya atau ini memang dia sengajakan agar aku tidak bisa menghubunginya. Akhirnya aku menghubungi adik iparku yang tinggal di rumah mertua.


"Tari, Lia ada di sana gak?" tanyaku.


"Gak ada Mbak, dari pagi Lia gak ada ke sini. Emangnya dia kemana?" Tari balik bertanya.


"Tadi siang dia izin pergi ke rumah temannya karena ada yang ulang tahun. Mbak izinkan dengan catatan jam sembilan dia harus pulang. Tapi sampai sekarang dia belum juga kembali. Mbak takut ada terjadi sesuatu padanya" jawabku.


"Waaah kumat lagi Mbak penyakitnya. Dulu kan di sini seperti itu, sampai Mamak dan Ayah kesulitan menjaganya" sambut Tari.


"Iya Mbak tau makanya Mbak ajak tinggal di sini. Mbak pikir kalau dia tinggal sama kami, dia tidak akan berani berbuat itu lagi" ucapku.


"Dia itu udah punya pacar Mbak, ini kan malam minggu makanya gak betah di rumah terus. Sudah tiga bulan dia tinggal di rumah Mbak pasti dia udah gak tahan lagi pengen keluar" sahut Tari.


"Anak ABG seperti dia mana ada Mbak mikirin bahaya. Taunya cuma mau enak - enakan aja. Ngumpul sama teman - teman" jawab Tari.


"Ya Allah dia perempuan, keluar malam mau ngapain aja. Mana Mas Fadil belum pulang. Kalau nggak sudah kami cari dari tadi. Ponselnya juga gak aktif" ucapku khawatir.


"Paling di rumah temannya yang bernama Dea. Memang selama ini dia sering ke situ Mbak. Rumahnya dekat dengan rumah kontrakan Mbak dulu" sambut Tari.


"Ya sudah biar Mbak hubungi Mas Fadil dulu ya" aku kemudian menutup telepon dan langsung menghubungi Mas Fadil.


"Ada apa Bun, ayah lagi antar orderan makanan nih" sahut Mas Fadil.


"Mas, Lia belum pulang sampai sekarang" ucapku.


Aku menjelaskan kepada Mas Fadil kalau Lia tadi minta izin ke rumah temannya.


"Ya sudah Bun tunggu aja sebentar lagi. Mungkin dia lagi di jalan pulang" ujar Mas Fadil.


"Ponselnya mati Yah" sahut ku.

__ADS_1


"Mungkin habis baterai kali" jawab Mas Fadil.


"Ya sudah deh, Ayah hati - hati ya" balasku.


Aku mengakhiri telepon dan gelisah di rumah menunggu Lia pulang. Bagaimana pun dia masih tanggung jawab kami karena tinggal bersama kami.


Kalau ada apa - apa dengan dia bagaimana aku mempertanggung jawabkan dia kepada kedua mertuaku.


Aku membayangkan hal yang tidak - tidak dengan dia. Langsung aku istighfar untuk menahan keresahan hatiku.


Jam sebelas malam Mas Fadil pulang. Anak - anak sudah pada tidur sedangkan aku tidak bisa tenang dari tadi.


"Mas Lia belum pulang sudah jam sebelas malam" aduku.


"Lho belum pulanh juga dia? Anak itu memang bandel. Persis Mamaknya dulu, setiap malam minggu pasti tidur di rumah temannya. Ayah dulu yang paling sering mencarinya kerumah teman - temannya. Bahkan dulu Ayah pernah sampai memukul Mamaknya karena tidak mau mendengarkan omongan orang tua" sambut Mas Fadil.


"Kemana kita harus mencarinya Yah?" tanyaku.


"Ayah mandi dan makan dulu Bun laper banget. Tadi gak sempat makan banyak orderan" ujar Mas Fadil.


Satu jam kemudian aku dan Mas Fadil hendak bersiap - siap mau ke rumah mertua untuk membicarakan perihal keadaan Lia.


Tiba-tiba kami mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Kami mendengar suara perempuan sedang berbincang - bincang dan tertawa lebar.


"Ya Allah Mas itu pasti Lia yang pulang. Apa dia gak malu sama para tetangga, anak perempuan jam segini masih ketawa - ketawa di luar. Dan apa dia gak takut sama kita, bisa - bisanya masih tertawa seperti itu bukannya malah langsung masuk ke dalam rumah" ucapku sambil emosi.


Aku paling kesal melihat sikap seorang anak seperti ini, apalagi dia perempuan. Kalau di keluargaku semua harus disiplin. Papa selalu memberikan jam malam dan gak boleh telat pulang.


Seketika tanganku bergetar karena menahan emosi.


"Yaaah biarkan aku tenang malam ini, kalau aku ketemu dia aku takut akan bertindak kasar kepadanya. Bunda mau tenangkan diri saja di kamar. Ayah aja yang nasehati dia dulu. Besok setelah Bunda tenang baru Bunda nasehatin dia. Tapi syukurlah Bunda sudah lebih tenang. Setidaknya dia masih hidup. dari tadi Bunda memikirkan hal terburuk terjadi padanya" ucapku pada Mas Fadil.


"Ya sudah Bunda masuk ke kamar saja. Biar Ayah yang membukakan pintu padanya" sambut Mas Fadil.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2