
Berlalu sebulan puasa. Hasil dari jualan minuman kekinian hanya habis untuk membayar upah harian Tama dan mengembalikan modal awal Mas Fadil.
Walau modal sewa kios memang masih belum kembali, tapi setidaknya kami tidak merugi. Ramadhan kali ini lebih banyak hujan sehingga kami sering merugi. Jualan tidak laku sama sekali.
Lelah berjualan sebulan rasanya tidak berbalas tapi sudahlah anggap saja ini adalah pelajaran paling berharga buat kami. Karena ini adalah kali pertama pengalaman kami membuka usaha seperti ini.
Lebaran tahun ini kami tidak bisa pulang kampung. Lagi - lagi karena pandemi. Padahal rencananya tahun ini adalah lebaran besar di keluarga kami.
Jadi ada tradisi di keluargaku yang ada di kampung. Ketepatan memang disana adalah keluarga Mamaku. Mamaku adalah anak paling besar.
Jadi sejak orang tuanya Mama meninggal Mama dan Papalah yang jadi orang tua bagi adik - adiknya Mama. Setiap dua tahun sekali kami akan berkumpul.
Adik - adik Mama yang berada di luar kota akan pulang ke kampung untuk merayakan lebaran bersama. Tahun semalam semua berlebaran dikeluarga pasangan mereka masing - masing.
Termasuk kedua adik ku yang berlebaran di rumah mertua mereka. Tahun lalu hanya aku saja yang pulang kampung. Alasannya karena rumahku dekat dengan mertua jadi setiap hari sering bertemu sedangkan Papa dan Mamaku hanya tinggal berdua dikampung.
Aku juga anak paling besar, suami dan mertuaku tidak keberatan kalau kami pulang kampung. Jadi tahun lalu hanya aku, suami dan anak - anak yang temani Papa dan Mama lebaran di kampung.
Semua rencana kumpul lebaran batal. Tidak ada yang bisa pulang kampung. Tahun ini juga kali pertamanya Papa dan Mama hanya lebaran berdua saja di kampung.
Sedih rasanya setiap mengingat mereka di sana tapi mau bagaimana lagi keadaannya sekarang memang seperti ini.
Ini lebaran pertama kali dengan cara virtual. Mengingat korban covid semakin banyak, kami yang satu kota saja tidak saling mengunjungi.
Maaf - maafan hanya bisa dilakukan secara virtual. Sebelum shalat Ied kami melakukan panggilan video call group keluarga.
"Selamat Idul Fitri ya Pa, Ma.. maaf kan atas semua salah dan dosa anak - anakmu ini. Maaf kami tidak bisa berkumpul bersama kalian dikampung" ucapku melalui panggilan video call.
"Iya, Papa dan Mama juga sama ya. Maaf lahir batin, selama ini mungkin ada kata - kata kami yang menyinggung perasaan kalian mohon dimaafkan. Tidak ada hati kami ingin menyakiti kalian, sebagai orang tua sudah tugas kami mengingatkan anak - anaknya jika ada yang kami rasa tidak sesuai dengan hati kami" sambut Papa.
Aku menangis melihat Papa dan Mama hanya duduk berdua saja di rumah. Adik - adikku juga mengucapkan kata yang sama. Selamat Idul Fitri dan memohon maaf atas semua salah dan dosa.
"Mama masak apa?" tanyaku.
"Mama tidak masak apa - apa. Mama hanya pesan sama tetangga untuk dimasakkan lontong. Mama tidak berani belanja ke pasar karena katanya rame sekali. Walau pandemi masyarakat tidak perduli" ungkap Mama.
__ADS_1
"Iyalah Ma, yang penting kita harus lebih hati - hati. Sebisa mungkin jangan berjabat tangan ya dengan para tetangga. Bermaaf - maafan kan bisa dilakukan tetap dengan jaga jarak" pesan Arif adikku yang bekerja di bidang medis.
Ditambah pengalaman mertuanya yang lebih dulu terkena covid membuat kami sekeluarga jadi lebih takut dengan virus tersebut.
Biarlah orang berkata kami terlalu berlebihan yang penting tetap saling menjaga.
"Gimana hasil jualanny?" tanya Mama.
"Belum ada untung Ma, tapi setidaknya gak rugi" jawabku.
"Ya gak apa - apa namanya juga baru merintis. Lagian memang selama Ramadhan lebih sering hujan. Begitulah derita penjual es. Mau menolak hujan tapi hujan adalah anugerah. Pasti ada hikmah di balik semua ini" pesan Mama.
"Iya Ma, hikmahnya emang harus lebih bersabar" sambungku.
"Minumannya udah enak kok Mas. Pakai resep siapa tuh?" tanya Arif yang sering mampir di kios untuk membeli.
"Iya anak - anak di kantor juga bilang enak" sambut Rahmat.
Rahmat juga sering membawa teman - teman kantornya singgah untuk beli minuman berbuka, ketepatan kantor mereka jaraknya tak jauh dari kios kami.
"Tapi kios nya suka banjir kalau hujan deras. Ada lima kali kami tidak jualan karena airnya naik sampai ke lutut" laporku.
"Lho kok bisa begitu? Dari awak apa tidak diperiksa waktu mau bayar sewa?" tanya Rahmat.
"Waktu itu kami lihatnya malam hari dan transaksinya memang terburu - buru karena yang punya mau pulang kampung" Jawab Mas Fadil.
"Coba aja Mas dipikirkan lagi gimana cara mengatasi banjirnya" ujar Arif.
"Iya" sahut Mas Fadil.
"Pesanan bakso dan nuget kamu banyak kemarin Gi menjelang Ramadhan. Pada jemput ke rumah kata mereka enak" lapor Mamaku.
"Alhamdulillah, iya mereka juga pada bilang begitu Ma. Tapi jualan seperti itu juga ada masanya Ma. Harus bisa intip moment yang pas. Kalau Ramadhan kan ibu - ibu muda seperti kami suka masak makanan yang praktis Ma. Nuget tinggal goreng, bakso bisa dimasak teman mie instan atau sop ayam" ujarku.
"Iya, yang penting kalian tetap semangat. Percayalah semua tidak akan sia-sia" sambung Mama.
__ADS_1
"Ya sudah ya Ma, Pa.. kami mau shalat ke Mesjid" ujarku.
"Hati - hati, tetap jaga jarak" pesan Mama
"Iya.. Mama Papa juga disana jaga diri ya" jawabku.
Kami saling berpamitan dan langsung bersiap - siap untuk shalat ke Mesjid.
Shalat Ied kami lakukan di halaman Mesjid tentu saja dengan tetap memakai masker. Itu memang salah satu siasat untuk suasana pandemj seperti ini. Kalau di ruangan terbuka langsung menghirup udara lepas. Kalau shalat di dalam diruangan tertutup dan memakai AC akan lebih memudah penularan virus.
Disamping itu diluar juga terkena sinar matahari. Sangat baik untuk tubuh apalagi masa - masa seperti ini. Rasanya sangat haru sekali lebaran tahun ini. Semuanya berbeda.
Banyak yang terlihat meneteskan air mata saat mendengarkan khutbah shalat Ied.
Setelah shalat Ied kami berkunjung ke rumah mertua untuk saling bermaaf - maafan. Tapi tidak seperti biasanya. Setelah itu kami langsung pulang ke rumah, sarapan lontong yang dimasak mertua kemudian tidur.
Biasanya lebaran pertama seperti ini pasti ramai sekali. Suasa komplek juga sepi, seperti kota mati.
"Bunda bosan banget di rumah terus, biasanya kan kita jalan - jalan kalau lebaran" ujar Rayyan.
"Sabar ya sayang, untuk saat ini kita lebih aman tinggal di rumah. Nanti kalau pandemi sudah berlalu baru kita jalan ke kampung dan ketemu Opa dan Oma ya" bujukku.
"Benar ya Bunda... " tagih Shifa.
"InsyaAllah, do'ain kita semua sehat - sehat, Ayah dan Bunda dapat rezeki. Pasti kita akan berangkat ke kampung" tegasku
"Asiiiik..." teriak mereka girang.
Melihat senyum kalian saja sudah membuat hati Bunda senang Nak.. Walau keadaan kita sedang sulit seperti ini, hanya kalian lah penghibur hati Ayah dan Bunda. Batinku pilu.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1